
Sore berganti dengan petang. Dan senja mulai meninggalkan keindahanya mengiring sang malam. Setelah ngobrol santai dengan Dani dan dua keponakanya, tante Ema mengajak Daniel dan Evan bicara serius. Tak lain dan tak bukan mengenai pendapatnya yang akan mengajak pulang kakaknya, dan di rawat di rumah saja.
“Daniel, Evan, tante mau bicara dengan kalian, bisa ke sini sebentar?”
“Baik tante..” jawab Daniel yang beranjak dari duduknya, yang tadinya di samping papanya, kini berpindah ke sofa. Begitu juga dengan Evan, saat Daniel berpindah posisi duduknya, ia pun mengikuti gerak langkah kakak dan juga tantenya. Daniel dan Evan duduk bersebelahan. Sedangkan tante Ema berada tepat di hadapan mereka.
“Daniel, Evan, tante tau, kalian pasti menginginkan pengobatan yang terbaik untuk papa kalian. Di sini, tante mau tanya pendapat kalian berdua. Tadi, setelah di fikir, menurut tante nih ya, bagaimana kalau papa kalian di rawat di rumah saja, tentunya dengan pengawasan dokter, dan seorang suster yang akan merawat papa kalian, jadinya, kalian tidak repot bolak-balik rumah, kantor dan rumah sakit. Selain itu juga, baik tante, Dani dan juga Ken bisa ikut menjaganya. Bagaimana menurut kalian..?” Daniel dan Evan terdiam sejenak, memikirkan ucapan tante Ema.
“Evan sih setuju saja tante, malah Evan ngedukung 100% usulan tante..”
“Kalau kamu Daniel? Bagaimana..?”
“Mmm, kali ini, Daniel sependapat sama Evan, Daniel setuju saja, yang penting yang terbaik buat kesembuhan papa...”
“Berarti kalian sependapat kan sama tante? Kalau begitu tante akan bicara sama dokter yang merawat papa kalian, biar secepatnya kita tau apakah boleh papa kalian di rawat di rumah atau enggaknya...”
Tak lama setelah mereka bericara, seseorang mengetuk pintu.
Tok tok tok
Seorang dokter muda dan seorang suster masuk untuk mengecek kondisi tuan Wijaya.
“Bima...?” ucap Dani kaget. Karena ternyata dokter yang merawat papa mertuanya adalah dokter Bima, teman kuliahnya. Baik Daniel, Evan fan tante Ema saling berpandangan, mendengar Dani mengenal dokter yang merawat papa mereka.
“Loh, Dani? Ternyata tuan Wijaya adalah papa mertua kamu?” tanya dokter Bima tak kalah terkejutnya.
“Wah sungguh suatu kebetulan yach, aku sangat bersyukur sekali, karena kamulah dokter yang merawat papa mertua aku..”
“Begitu juga dengan saya Dani. Tapi maaf, permisi sebentar, saya mau periksa papa kamu dulu..”
__ADS_1
“Oh, silakan dokter Bima..” ucap Dani sedikit berkelakar dan membuat dokter Bima tersenyum simpul.
Daniel yang melihat istrinya sangat akrab dengan sang dokter, menatapnya dengan tatapan penuh selidik.
Ini si gadis bodoh kenal juga dengan dokter yang merawat papa. Apakah sepopuler itu gadis bodoh yang menjadi istriku ini?
“Dokter, bagaimana kondisi papa saya?” tanya Evan yang mendekat setelah dokter Bima selesai memeriksanya.
“Kondisi papa anda berangsur membaik, sebagian syaraf tanganya sudah mulai berfungsi. Ini menunjukan tanda kalau papa anda tidak menyerah dengan sakit struknya.” ucap dokter Bima, yang di barengi dengan memukul pelan tangan tuan Wijaya. memastikan kalau urat syarafnya merespon sentuhan yang di berikanya. Dan memang benar, tangan tuan Wijaya sedikit bergerak ketika tangan dokter Bima sedikit memukul di bagian siku tian Wijaya.
“Dokter, bisa saya bicara sebentar dengan anda...?” Pinta tante Ema dan dokter Bima mengiyakanya.
“Oh, silakan nyonya..” Tante Ema dan dokter Bima duduk di sofa. Dan tante Ema mulai pembicaraanya.
“Begini dok, kami selaku keluarga Wijaya, ingin mengatakan kepada dokter, bagaimana kalau kakak saya di rawat saja di rumah, karena selain kami bisa mengawasi selama 24 jam, itu baik juga untuk proses kesembuhan kakak saya, tentunya kami menginginkan dokter Bima langsung yang mengawasinya, dengan perantara suster yang di tempatkan di rumah kami, untuk merawat kakak saya, bagaimana dokter, apakah dokter menyetujuinya...?” ucap tante Ema penuh harap.
“Oh benarkah dokter?” Dokter Bima mengangguk, lalu sejenak menatap ke arah Dani, dan tersenyum penuh arti.
“Terima kasih dokter, sekali lagi saya ucapkan terima kasih..” ucap tante Ema lalu menjabat tangan dokter Bima.
“Sama-sama nyonya..” Dokter Bima berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
“Untuk mengurus kepulangan serta surat rawat jalanya, bisa di lakukan sekarang juga. Besok juga gak papa...” ucap dojter Bima lagi.
“Benarkah dokter Bima, terima kasih..” ucap Dani.
“Sama-sama nyonya Andani Maharani Putri. Kalau begitu, semuanya.., saya permisi..” Dokter Bima yang tersenyum kepada semuanya, melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
“Ahh, Dani...” Tante Ema memeluk Dani, karena saking senengnya tian Wijaya boleh di rawat di rumah.
__ADS_1
“Dani juga sangat senang sekali tante..” ucap Dani yang masih memeluk tante Ema. Sebentar kemudian, Dani melepas pelukanya. Berganti Dani memegang tangan papa mertuanya yang tidak tidur.
“Papa dengar kan? Sebentar lagi papa akan berada di rumah, di rawat di rumah, dan Dani akan ajak papa jalan-jalan keliling taman di rumah. Tentunya papa udah kangen kan dengan suasana rumah..?” ucap Dani mengajak ngobrol papa mertuanya. Tuan Wijaya juga bahagia. Yerlihat dari sorot kedua matanya yang berbinar.
“Beruntung yach, orang yang menjadi suami kak Dani, sudah cantik baik lagi. Evan berharap, suatu hari nanti, Evan akan mendapatkan seorang pendamping hidup seperti kak Dani..” ucap Evan yang di barengi dengan lirikan ke arah Daniel, kakaknya.
“Aamiin. Tante udah aminin nih. Sekarang tante mau mengurus kepulangan papa kalian. Evan atau Daniel nih yang nemenin tante?”
“Daniel temenin tanye saja..” sahut Daniel tanpa pijir panjang. Karena ia sebel sama adik dan istrinya, dan memilih menemani tantenya.
“Baiklah, ayo sekarang saja..” Daniel dan tante Ema segera mengurus semua surat-surat dan administrasi untuk tuan Wijaya. Syukur urusannya lancar dan di permudah.
Di lain tempat, Nathan yang sudah sampai di rumah yang menjadi fasilitasya, sangat terkagum. Betapa tidak, rumah yang tidak besar namun tidak juga kecil itu, sangatlah bagus, dengan fasilitas dan semua perabot terbilang sangat komplit. Mulai dari ruang tamu, ruang tengah, dua kamar tidur, dapur, kamar mandi sampai garasi, semua sudah di lengkapi dengan perabotan.
Benarkah aku tidak sedang bermimpi? Kenapa mas Evan baik sekali denganku? Ahh, tapi ya sudahlah, mungkin ini rejeki untuku dari Tuhan, lewat perantara mas Evan. Tuhan, terima kasih atas nikmat yang kau berikan kepadaku.
Nathan kini di sibukan dengan menilik dan memeriksa setiap sudut ruangan. Setelah semua ruangan ia periksa, tinggal dapur dan kamar tidurnya yang belum ia periksa.
“Dapur atau kamar tidur dulu? Ah dapur dulu aja deh..” gumam Nathan lalu melangkahkan kakinya menuju dapur yanh letaknya bersebelahan dengan garasi.
“Waahhh, sungguh lengkap sekali. Mulai dari kompor sampai lemari es udah dinsediakan. Barang-barang elektroniknya komplit. Karena haus, Nathanbmembuka lemari es dan mengambil sebotol soft drink. Lalu ia menuju ke kamar tidurnya.
Perlahan ia membuka pintu yang yang kusenya seperti bangunan bergaya eropa itu. Pelan ia memasuki ruangan yang masih gelap itu. Lalu meraba pinggiran pintu dan menemukan saklar lampu. Dengan otomatis, tangan nNathan memencet saklar tersebut.
“Waaoooww...!!” gumamnya kembali tercengang. Karena kamar tidurnya sangatlah mewah, untuk seorang karyawan baru seperti dia. Nathan sangatlah bersyukur.
“Ran, andai saja kamu di sini bersamaku, tentu kamu akan merasa bahagia. Aku tak ingin melewatkan momen bahagia ini bersamamu, tapi apalah daya, waktu belum memihak kepada kita..” gumam Nathan
BERSAMBUNG
__ADS_1