Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 57


__ADS_3

Sepasang kekasih. itulah yang muncul di benak orang-orang yang berpapasan dengan Nathan yang tengah berjalan sambil memeluk Dani. Ia tak membiarkan orang-orang melihat dengan bebas, mata Dani yang sembab. Nathan sengaja menutupi wajah Dani dengan jaket yang ia kenakan.


Sesampainya di parkiran hotel tersebut, Nathan membimbing Dani masuk ke dalam mobil. Tanpa mengeluarkan suara isak tangis, namun air mata Dani terus saja mengalir membasahi pipinya. Jatuh begitu saja tanpa permisi. Nathan segera menjalankan mobil dan melaju meninggalkan hotel tersebut. Mobilnya terus saja melaju, sedangkan Dani masih meneteskan air matanya, membuat hati Nathan merasakan sesak. Sesaat, ia menghentikan mobilnya di sebuah taman yang nggak begitu ramai dengan pengunjung. Hanya beberapa saja.


“Menangislah non, jika itu bisa mengurangi sedikit beban di hati non Dani..” ucap Nathan yang kini posisi duduknya menghadap ke arah Dani. Gadis itu perlahan menggerakan kepalanya, mengarahkan pandanganya ke arah Nathan. Mata yang berlinang air mata, seakan berkata bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


“Kenapa rasanya begitu sakit seperti ini, Nathan..?” Perlahan bibir Dani berucap dan bergetar. Ada secuil perih yang di rasakan. Betapa tidak, ia mencoba mempertahankan pernikahan, namun selalu penderitaan yang ia dapatkan. Tanpa kata, dan tanpa menunggu ijin dari empunya, Nathan spontan memeluk Dani. Tak kuasa lagi, gadis itu menangis, menumpahkan semua sesak di dadanya dalam pelukan Nathan. Tangis yang memecah suasana hening itu mendorong Nathan semakin erat memeluknya.


“Maaf non, saya tak dapat menghibur apa-apa, hanya ini yang dapat saya lakukan untuk non Dani..” Semakin erat saja Nathan memeluk majikan mudanya. Dengan sangat sayangnya, Nathan membelai rambut gadis itu. Dani yang di perlakukan seperti itu, semakin nyaman di buatnya. Hati yang selalu tersakiti, kini seakan terobati.


Di kamar hotel


“Aaaaargggggghhhhh.....!!!” teriak Daniel yang mendengus dengan kasar dan membanting vas bunga yang ada di meja. Ia sangat geram menyaksikan bagaimana Nathan memperlakukan Dani dan dengan beraninya memeluk dia di hadapanya. Sungguh ia tidak dapat menerimanya.


Anyelir yang melihat Daniel seperti itu, heran sekaligus gusar. Ia tak menyangka respon Daniel akan seperti itu.


“Kenapa sih ekspresi kamu seperti itu? Apa sekarang kamu mulai mencintainya? Mulai mencintai gadis bodoh yang sialan itu, haahh..!!?” teriakan Anyelir membuat Daniel bukanya mereda emosinya, malah justru semakin mendidih darahnya. Ia menatap ke arah Anyelir yang masih tanpa busana itu dengan tatapan mata yang sangat tajam.


“Tutup mulut kamu wanita jalang..!!! Jangan pernah lagi berkata seperti itu lagi di depanku!! Dia adalah istriku..!!” Bentak Daniel membuat Anyelir kaget dan beranjak dari ranjangnya. Perlahan ia berjalan mendekati Daniel.


“Apa kamu bilang? Kamu berani mengatai aku wanita jalang?? Benarkah yang aku dengar barusan? Kamu benar-benar kurang ajar Daniel..!! Plaaakkkkkk....plaaakkkkk...!!!” Dua kali tamparan menadarat di pipi Daniel dengan keras dari Anyelir, setelah ia selesai berkata kepadanya.


“Sekarang katakan, terus apa hubungan kita selama ini? Sementara aku telah menyerahkan satu-satunya yang aku miliki, sesuatu yang sangat berharga, dan setiap saat kamu memintanya.Coba katakan, itu apa menurut kamu, haaahh!!?” teriak Anyelir di barengi dengan amukan merusak dan membanting semua barang di dalam kamar hotel tersebut. Daniel sdperti tersadar dari lamunanya. Dengan cepat ia menenangkan Anyelir yang kini seperti kesetanan merusak semua benda-benda yang ada di sekitarnya.


“Cukup sayang, cukup..!! Maafkan aku, maafkan atas ucapanku tadi, aku nggak bermaksud menyakiti kamu..?” ucap Daniel yang kini berhasil memeluk erat tubuh Anyelir dan tak melepaskanya. Anyelir yang kini menangis, seakan tunduk kepada pawangnya, ia berhenti mengamuk dan luluh dalam rengkuhan pelukan Daniel.

__ADS_1


“Ingat ya, aku akan lebih nekat lagi jika kamu mencintai gadis itu, aku bisa saja menyakitinya atau bahkan membunuhnya di hadapan kamu Daniel. Akulah satu-satunya wanitamu, nggak ada yang lain..!!” Sambil terisak, Anyelir mengancam Daniel.


Sialan..!! Tarnyata kamu lebih mengerikan dari apa yang ku bayangkan Anyelir. Menyesal aku telah mencintai kamu. Kenapa juga di saat seperti ini aku mulai merasakan sesuatu kepada kamu Dani? Kenapa?


Batin Daniel terus bergejolak. Menyesal? Mungkin saat ini yang ia rasakan. Namun semua sudah terlambat. Berlian yang dalam sekejap ia genggam, ia lempar dan buang begitu saja. Di saat anganya mengembara jauh di awang-awang sana, ia mendengar ponselnya bergetar. Karena posisi berdirinya, tak jauh dari meja tempat ia berdiri saat ini.


“Bentar sayang, ada telefon..” Perlahan Daniel melepas pelukanya, dan mengambil ponselnya.


“Ken?” Daniel mengerutkan dahinya, karena melihat nama Ken muncul di layar ponselnya. Segera saja ia menyambungkanya.


“Hallo ken, ada apa?”


“Mas Daniel, akhirnya mas mengangkatnya. Dari tadi saya telefon mas Daniel nggak di angkat? Mas di mana?” tanya Ken dengan suara yang panik.


“Ada apa Ken, saya lagi ada urusan, keluar sebentar.” jawab Daniel menutupi kebohonganya.


“Dani?” Daniel terkejut.


Mungkinkah tadi ia akan menyampaikan sesuatu kepadaku? Dan kenapa ia bisa tau kalau aku ada di sini. Mung*ki***nkah itu perbuatan kamu Anyelir?


Daniel mengalihkan pandanganya, menatap ke arah Anyelir yang tengah memakai pakaianya.


Jika benar kamu yang memberi tahu aku berada di sini dan membuat Dani ke sini, aku tidak akan memaafkan kamu Anye.


“Belum Ken, memangnya ada apa?” jawab Daniel kemudian.

__ADS_1


“Papa anda masuk rumah sakit mas, dan sekarang ada di IGD..”


“Apa?? Kenapa dengan papa, Ken?” Kini Daniel berubah panik dan teriakanya di dengar oleh Anyelir. Gadis itu menoleh dan menatap ke arah Daniel.


“Pokonya mas cepat ke sini saja, dan ajak non Dani sekalian, ini saya hubungi gak di angkat-angkat, padahal tadi udah bisa saya hubungi.”


“Baiklah Ken, saya akan segera ke rumah sakit sekarang..” Ken segera mengatakan alamat rumah sakitnya kepada Daniel, lalu keduanya menutup telefon.


“Mau ke mana kamu Daniel?” tanya Anyelir menghalangi langkah Daniel yang akan memakai pakaianya, yang tadi belum sempat ia kenakan seluruhnya.


“Mau ke rumah sakit sayang, papa masuk rumah sakit.”


“Jangan pergi! Aku bilang tetap tinggal di sini!!” ujar Anyelir dengan menyedekapkan kedua tanganya di dada. Daniel tak menduga dengan apa yang di ucapkan oleh kekasihnya itu. Ia seperti tak mengenalinya lagi.


“Apa kamu bilang? Kamu menyuruhku tetap di sini? Sementara papaku, masuk ke ruang IGD dan terbaring di sana? Dia papaku lo? Kamu sadar nggak apa yang kamu katakan tadi?” ucapan Daniel tak menurunkan tatapanya Anyelir kepadanya, malah ia semakin melotot saja.


“Kalau aku bilang tetap di sini ya di sini!! Jangan membantah, Daniel..!!”


“Sungguh, aku tak mengenalimu lagi Anyelir. Kamu bukan yang dulu lagi. Walaupun kamu melarang, aku akan tetap pergi ke sana, karena dia adalah papaku. Sebenci-bencinya aku kepadanya, aku gak akan menjadi anak yang durhaka. Maaf, kali ini aku nggak akan menuruti kata-kata kamu, aku harap kamu mengerti.” ucap Daniel yang mengemas pakaianya, lalu buru-buru pergi dari kamar itu.


“Danieeelll...!!! Aaaggghhh...!!!” teriakan Anyelir begitu keras dan nyaring saat Daniel keluar dari kamar tersebut, namun tetap tak memperdulikanya walau ia mendengarnya. Yang ia pedulikan saat ini adalah papanya.


Sementara itu, Dani yang kini sudah tenang dan berhenti menangisnya, berniat akan pergi ke rumah sakit.


“Nathan, terima kasih. Kamu selalu ada di saat aku sepert.i ini.” ucap Dani setelah melepaskan diri dari pelukan Nathan.

__ADS_1


“Untuk non Dani, saya selalu siap di samping non.” jawab Nathan tersenyum manis.


BERSAMBUNG


__ADS_2