
Setelah Dani menutup telefonya, Dani bersiap akan pergi ke mall. Ia akan membelikan sesuatu sebagai hadiah yang akan ia berikan untuk Daniel. Dengan hanya memakai kaus yang agak longgar, celana pensil, dan rambut yang di kuncir bun, tas selempang kecil, ia keluar dari kamar.
“Tante, Dani ijin keluar sebentar, mau cari sesuatu..”
“Iya Dani, silakan. Hati-hati ya?”
“Ken...?” Panggil tante Ema.
“Iya nyonya, ada apa?” jawab Ken berjalan ke arah tante Ema.
“Tolong kamu anterin non Dani, dia mau keluar sebentar..”
“Eh, engga usah tante, biar Dani sendiri saja.”
“Eitz, ga bisa. Pokoknya Ken yang harus anterin kamu..”
“Baiklah, tante..”
“Mari, non..?” ajak Ken kemudian.
“Iya. Tante, Dani berangkat dulu..”
“Iya sayang..”
Dani dan Ken bergegas berangkat.
“Kita ke mana non..?”
“Emm, ke R&D mall aja, kak Ken..”
“Siaaaappp, non...?”
Ken teesenyum dan melajukan mobilnya menuju ke tempat yang di maksud Dani. Sepanjang perjalanan, Ken dan Dani berbincang dengan akrabnya. Tak heran jika sesekali terdengar gelak tawa serta canda mereka. Persis seperti kakak dan adik saja. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di R&D mall. Suasana sangat ramai sekali. Banyak pengunjung yang lalu lalang di mall tersebut.
“Kak Ken, Dani masuk dulu yach..?”
“Ken anter non, Ken nggak mau di salahkan kalau terrjadi apa-apa dengan non Dani”
“Baiklah kak Ken, ayo...”
Dengan hati riang gembira, karena di temani oleh Ken, Dani memasuki area mall tersebut. Kedua bola matanya yang indah mulai menyapukan pandanganya. Mencari-cari sesuatu yang cocok di berikan kepada Daniel. Langkah Dani berhenti di sebuah toko yang menyediakan perlengkapan baju untuk pergi ke kantor.
“Kak, kita masuk ke situ yuk..?” Ajak Dani.
“Iya, non..”
Ken menemani Dani masuk. Banyak baju dan dasi yang bagus-bagus di sediakan di toko tersebut. Dani melihat-lihat dasi. Banyak warna dan aneka pilihan di sediakan, dan membuat Dani bingung.
“Aduh, banyak pilihan, mana ya yang cocok..?” gumam Dani dengan raut wajah kebingungan.
“Dasi buat siapa, non..?”
“Untuk mas Daniel, kak..”
Dani mulai melihat dengan cermat lagi. Akhirnya pilihan Dani jatuh pada model klasik namun terlihat sangat elegant. Dengan motif garis miring.
__ADS_1
“Mbak, saya mau yang ini dua ya, satu warna merah dan navy..”
“Dengan motif yang sama ya, kak..?” jawab si mbak pelayanya.
“Iya mbak. Oh ya, di bungkus sekalian mbak, soalnya untuk hadiah..”
“Oke mbak, tunggu bentar yach..?” Si mbak pelayan segera mengambil dan membungkusnya. Setelah menyerahkan kepada Dani, dan Dani membayarnya, Ken dan Dani keluar dari toko tersebut.
“Kak, temenin makan es krim yuk..?”
“Es krim...? Emm, baiklah...”
Dani bersemangat sekali menuju salah satu food court. Ia segera memesan dua es krim durian dengan toping coklat serut dan buah cery. Sungguh sangat membuat hatinya bahagia, bisa menikmati es krim kesukaanya. Dia dan juga Ken menunggu di sebuah meja yang memang di sediakan untuk para pengunjung yang ingin menikmati makanan pesananya di situ.
“Silahkan..”
“Terima kasih. Yeeeaayy..” seru Dani seperti anak kecil.
Dengan hanya menikmati es krim saja, membuat non bahagia seperti ini.
Gumam Ken dalam hati. Kedua sudut bibirnya mengembangkan senyum.
“Emmm, enak sekali, kak Ken..” seru Dani saat menyeruput sesendok es krimnya.
“Iya non, abisin..”
Hari itu, menjadi hari anak bagi Dani. Bagaimana tidak, ia bisa menikmati es krim bersama Ken, orang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Selesai menghabiskan es krim, Dani dan Ken pergi meninggalkan mall tersebut.
***
“Sudah pak, semuanya sudah siap, para tamu yang di undang juga sudah saya hubungi semua..”
“Oke.”
Hemm, bagaimana nanti malam, aku sudah nggak sabar. Gadis bodoh itu akan tau, akibatnya berani melawan saya.
Daniel menyeringai. Ia tersenyum penuh kepuasan. Ia membayangkan Dani akan malu dan bertekuk lutut di hadapanya, di depan semua orang.
“Baiklah Clara, kembalilah ke meja kamu..”
“Baik, pak..”
Pesta Daniel yang akan di langsungkan nanti malam bertempat di hotelnya sendiri. Semua persiapan sudah matang, dan tinggal pelaksananya.
“Nathan, nanti malam ikut yach, ke pesta ulang tahun kakak saya, kamu harus mendampingi saya..” ucap Evan saat ia mendatangi Nathan di ruang kerjanya.
“Saya pak?”
“Iya, kamu..”
“Tapiii...”
“Karena kamu sekertaris pribadi saya, kamu harus ikut ke mana pun saya pergi..”
“Baiklah pak Evan..”
__ADS_1
“Jangan lupa nanti malam, jam 20.00 WIB tepat..”
“Baiklah..”
Setelah selesai memberi tahu Nathan, Evan kembali ke ruanganya. Lelaki itu tak mengajak Laras. Selain kurang sreg, ia lebih suka mengajak Nathan di banding Laras.
Akhirnya tiba waktunya. Acara peringatan hari lahir Daniel. Lelaki itu tidak pulang, melainkan mandi dan bersiap dari hotelnya sendiri.
“Hallo sayang, aku sudah di hotel kamu. Kamunya di mana?” ucap Anyelir yang sudah tiba satu jam sebelum acara.
“Aku di kamar pribadi aku, kamu ke sini aja..” jawab Daniel. Tanpa di komando lagi, Anyelir bergegas ke kamar yang di beritahukan Daniel, setelah menutup telefonya.
Tiinggg toonggg
“Sayaaaang...” ucap Daniel setelah membuka pintu dan melihat Anyelir berdiri di depanya.
Cuuuupppp
“Happy birthday sayang, semoga sehat selalu, panjang umur dan di murahkan rezekinya..” ucap Anyelir setelah melayangkan kecupan mesranya di bibir Daniel.
“Terima kasih sayang, ayo masuk dulu..”
Anyelir melangkah masuk. Saat ia melangkah, tiba-tiba muncul ide nakal di benaknya. Saat Daniel membuka piyamanya, dan akan memakai jas, tiba-tiba Anyelir memeluknya dari belakang. Gadis itu melayangkan ciumanya di tengkuk dan punggung Daniel. Membuat gairah lelaki itu naik. Langsung saja adegan mesum kembali terjadi, namun hanya beberapa menit saja, karena bentar lagi pesta akan di mulai.
“Sayang, di lanjutin nanti yach, kamu makin nakal saja..” ucap Daniel yang ngos-ngosan dan berbaring di samping Anyelir.
“Akan aku tunggu nanti, cuuuppp...” Daniel tersenyum melihat kekasihnya. Keduanya segera merapikan baju dan bersiap ke ruang pesta. Suasana sudah ramai. Para tamu undangan resmi sudah berdatangan. Kini saatnya sang punya acara memasuki ruangan. Banyak ucapan selamat berdatangan kepada Daniel dari para tamu undagan. Ia di dampingi oleh Anyelir yang memakai gaun hitam, yang di pesankan olehnya. Sungguh sangat cantik dan seksi. Kebetulan, ruangan tempat pesta Daniel berdekatan dengan kolam renang.
Evan dan Nathan terlihat satu mobil, mereka bersama-sama berangkat ke hotel Daniel. Nathan mengenakan jas warna abu muda, sedangkan Evan mengenakan jas coklat ke emasan. Akhirnya tiba juga mereka di hotel Daniel. Karena sudah tau tempatnya, Evan dan Nathan langsung menuju ke ruangan di mana Daniel sedang berbincang dan bercanda dengan para tamunya.
“Selamat kak Daniel..., Semoga sukses selalu.” ucap Evan saat berada di depan Daniel dan mengulurkan tanganya.
“Terima kasih..” jawab Daniel. Anyelir yang berada di sampingnya tersenyum tipis.
“Selamat, mas Daniel?” ucap Nathan mrnyalami Daniel. Dengan tatapan tanda tanya, Daniel menyambut uluran tangan Nathan. Tahu dengan situasi itu, Evan menyahut.
“Sekarang Nathan menjadi sekertaris aku kak, jadi jangan heran bila dia datang, karena aku yang mengajaknya..”
“Oo, terima kasih..” ucap Daniel dengan pandangan sinis kepada Nathan.
Daniel terlihat celangak-celinguk mencari seseorang.
Kenapa gadis bodoh itu belum datang. Apakah ia tak akan datang?
Baru saja Daniel berhenti bergumam dalam hati, ia di kejutkan dengan peryanyaan Evan.
“Di mana kak Dani, kak..?”
“Belum datang, entah keluyuran di mana itu orang..”
Mendengar jawabn Daniel, Nathan mengepalkan tanganya. Hatinya serasa panas, mendengar gadis pujaanya di jelek-jekelan oleh Daniel.
Tiba-tiba, pandangan semua tamu di kejutkan oleh seseorang yang memasuki ruangan tersebut
BERSAMBUNG
__ADS_1