
Kejadian hari itu benar-benar membuat Dani dan Daniel terkejut. Mereka tak menyangka akan balik menerima kabar yang sangat membuat hati mereka syok. Sungguh di luar dugaan. Kini lengkaplah sudah rasa bersalah Daniel. Kesalahan papanya di masa lalu, ia tak yakin apakah Dani bisa memaafkanya. Melihat setelah Dani mendengar kebenaranya, ia langsung memilih pergi dari hadapan papanya.
Di makam pun, ia tak sampai hati, melihat gadis itu menangis tersedu-sedu dan bersimpuh di depan pusara kedua orang tuanya. Tetes demi tetes terjatuh membasahi batu nisan di hadapanya. Ingin rasanya Daniel berlari dan memeluknya, namun ia tak bisa melakukanya. Ia hanya bisa menatapnya dari jarak yang tak begitu jauh dari tempat Dani bersimpuh. Karena memberikan ruang kepada gadis itu untuk mengelurakan serta meluapkan semua isi hatinya.
Agak lama juga Dani bersimpuh di pusara orang tuanya. Dan selama itu pula, Daniel dengan setia menungguinya. Takut Dani kenapa-kenapa. Akhirnya Dani berdiri dari tempatnya. Air mata yang membasahi pipinya sudah agak mengering dan ia membalikan badanya.
“Mas Daniel...?”
“Udah selesai...? Mari kita pulang..? Maaf mengejutkanmu, aku nggak mau ganggu kamu dan hanya menungguimu...”
“Iya mas gak papa. Mari...”
Dani tak menolak ajakan Daniel. Gadis itu segera masuk ke mobil setelah keluar dari area pemakaman. Sepanjang perjalanan, Dani hanya diam. Pandanganya kosong jauh menatap ke depan. Hal itu membuat Daniel jadi serba salah. Dan ia hanya bisa mengikuti Dani, ikut diam membisu. Suasana hening, hingga akhirnya sebuah dering telefon memecah keheningan.
Tulali tulalit...tulalit tulalit
Handphone Dani berdering, dan ia belum mengangkatnya. Melihatnya saja masih enggan.
“Dani, ada panggilan tuh, angkatlah dulu...”
Dengan berat, Dani meraih handphonenya yang berada di dalam tas, dan segera mengangkatnya.
“Iya hallo, Nathan...”
“Rani, kamu di mana? Sedang apa..? Aku kirim pesan kok nggak kamu balas...?”
“Ma..maaf, akuuu...., aku lagi dari makam..”
“Makam..? Makam mama sama papa kamu...?”
“Iya Nathan...”
“Sama siapa..? Kenapa nggak minta antar aku tadi..?”
“Sama mas Daniel. Kebetulan dia nggak ke kantor hari ini. jadi dia yang anterin...”
“Oo..., sama mas Daniel? Tapi sekarang kamu sudah pulang kan...?”
“Ini dalam perjalanan..”
“Kamu nggak papa kan...?”
“Enggak Nathan. ”
“Jangan bohong. Kamu habis nangis. Ada apa, Rani..?”
“Sungguh aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir Nathan...?”
“Kamu tidak bisa membohongi aku Ran, tolong berikan telefonya kepada mas Daniel...”
“Tapi mas Daniel sedang menyetir Nathan...”
“Sebentar saja, aku cuma mu memastikan saja...”
“Baiklah. Mas Daniel, ini Nathan mau bicara sebentar...” Daniel mengangguk. Lalu Dani menempelkan handphonenya ke telinga Nathan.
__ADS_1
“Hallo, kenapa Nath...?”
“Mas, tolong antarkan Dani ke sebuah tempat, karena saya ingin menemuinya, bisa kan mas..?”
“Baiklah, dimana katakan saja...”
Dengan segera Nathan mengatakan tempatnya dan tanpa Dani ketahui, karena telefonya tak di speaker suaranya. Setelah selesai, Daniel mengikuti permintaan Nathan.
“Dan, sebelum pulang, kita cari makan dulu ya, kamu nggak keberatan kan..?”
“Tapi Dani masih kenyang, mas..”
“Kali ini saja, anggap saja ini makan bareng terakhir kita...”
“Jangan bicara seperti itu mas, Dani nggak suka. Baiklah, Dani akan temani mas makan..”
Mobil melaju menyusuri jalanan yang begitu panas, karena terik matahari yang sangat menyengat. Dan akhirnya. perjalanan mereka sampai di sebuah restorant yang telah di sepakati oleh Nathan dan Daniel.
Baru saja mereka masuk dan mendaratkan pantat mereka, sebuah dering telfon masuk ke ponsel Daniel. Ia enggan mengangkatnya karena nama Anyelir menghiasi layarnya.
“Kenapa nggak di angkat, mas?”
“Biarkan saja. Mas males kalau setiap bicara ujung-ujungnya bertengkar..”
“Jangan begitu, hargailah mb Anyelir mas, walau mas agak sebel sama dia...”
“Baiklah..”
Dengan berat hati, Daniel terpaksa mengangkat telefon dari Anyelir. Itupun karena Dani yang menyuruhnya.
“Hallo, kenapa? Ada apa..?” Dengan ketusnya, Daniel menjawab telefon Anyelir.
“Iyaa, kenapa...?”
“Daniel, aku kangen nih, ketemu yuk, udah kangen berat sama kamu...”
“Lain kali saja. Aku lagi sibuk..”
“Sibuk...? Sibuk apa..? Atau aku ke hotel kamu saja...?”
“Aku lagi di luar, nggak di hotel. Jangan cari aku hari ini Anye, aku lagi tak ingin di ganggu. Aku harap kamu mengerti..”
“Baiklah kalau begitu. Tapi besok kita ketemuan ya..?”
“Iya..”
“Naaah, gitu dong. Ya udah, sampai ketemu besok my love.., emmuachh...”
“Hmmm...”
Tttuuuuuuutttttt
“Danieeelll..!!!! Iiihhh, kok langsung main mati in aja. Bener-bener deh, kamu bikin aku gemes Daniel..!!”
Setelah menjawab singkat, Daniel memang langsung mematikan handphone yang di pegangnya dan meletakan begitu saja di meja. Ia tak peduli kalau Anyelir masih nerocos mengucapkan ini itu. Ia kembali fokus menyetir.
__ADS_1
“Mas kok main mati in aja, kasian tu mbak Anyelirnya...”
“Ah, biarkan saja, mas lagi tak ingin di ganggu hari ini Dan..”
“Emm, kalau mas udah bilang begitu, ya udah lah..”
Sementara Anyelir yang lagi bosen di salonnya, memutuskan untuk makan sendiri. Ia berniat makan di luar. Ia bergegas mengambil kunci mobil dan menyambar tasnya. Lalu dalam sekejap ia sudah berada di dalam mobik, dan menjalankanya perlahan. Di otaknya sudah tergambar, restoran mana yang menjadi tempat tujuanya.
Daniel sengaja memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, supaya bisa melihat pemandangan di luar restauran.
“Dan, kamu mau pesan apa..?” tanya Daniel setelah menggeserkan kursi untuk Dani.
“Apa saja mas, yang penting jangan yang berat-berat..”
“Batu bata kali, yang berat-berat, hehehe....”
“Iiihhh, mas Daniel...” sahut Dani yang agak memanyunkan bibirnya. Keduanya tampak akrab sekali. Daniel memesan dua jus saja. Karena niatnya memenuhi permintaan Nathan.
Ciiiiiiittttt
Bunyi rem mobil mendadak yang terinjak oleh kaki indah Anyelir, karena dari jauh ia bisa melihat Dani dan juga Daniel bercanda dan tertawa di restautan yang ia lewati. Untung jalan yang ia lalui bukan jalan utama, karena kalau jalan utama, bisa terjadi kecelakaan karena ia mengerem mobil secara mendadak dan sembarangan.
“Itu benar Daniel sama Dani..” gumam Anyelir sambil mengernyitkan dahinya.
“Ooohh, ini ya yang katanya kamu tak mau di ganggu!! Baiklah.., kamu jual, aku beli Daniel, kita lihat saja....”
Dengan geram, Anyelir membelokan mobilnya, dan memasuki area parkiran restauran tersebut. Sementara, Daniel tak mengetahuinya. Dengan langkah perlahan tapi pasti, Anye menapakan kaki jenjangnya memasuki restauran. Langsung saja ia menghampiri meja Daniel tanpa basa-basi.
“Ooo.., ini yang namanya sibuk..!!? Nggak taunya...!!” ujar Anye yang sudah berdiri di depan Daniel dengan sangat sinisnya.
“Kamuu...?!”
“Kenapa? Kaget ya.? Nggak usah panik gitu...”
“Anye, aku mohon, jangan membuat keributan di sini, aku janji besok akan meluangkan waktu buat kamu, oke..?”
Anye tersenyum kecut. Ia menatap Dani dengan sorot mata penuh kebencian.
“Tapi sayangnya aku sudah tidak tertarik untuk menunggu besok..!”
“Mbak Anye, Dani mohon, jangan marah kepada mas Daniel. Kalau begitu Dani mohon pamit, silakan mbak Anye duduk saja di sini, menemani mas Daniel makan..”
Dani segera bangkit dari duduknya, dan akan meninggalkan mejanya. Namun secepat kilat Daniel menahan tanganya.
“Kamu tak boleh pergi..!! Tetap duduk di tempat kamu Dani..!” Perkataan Daniel begitu jelas dan keras. Dan ia pun masih menggenggam tangan Dani. Melihat hal itu, Anyelir semakin geram dibuatnya.
“Ta...tapi mas...?”
“Nggak ada tapi-tapian, kamu istri aku, harus nurut semua perkataanku, oke..? Ayo duduk kembali..”
“Baiklah...” jawab Dani dengan pelan, dan memandang Anyelir.
“Maaf permisi...?” ucap seorang pelayang yang membawa dua gelas jus yang di pesan oleh Daniel. Sengaja ia tak memesan makanan, karena Nathan ingin makan bersama Dani. Pelayan tersebut meletakan jus tersebut, lalu pergi. Sedangkan Anyelir masih berdiri mematung.
“Dani, ayo di minum..?” ucap Daniel tanpa memperdulikan Anyelir. Namun apa yang di lakukan Anyelir, membuat Daniel kaget sekaligus marah.
__ADS_1
“Dasar wanita sialan....!!” Anyelir menyiram Dani.
BERSAMBUNG