Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 44


__ADS_3

Kedua kakak beradik itu saling bertatapan mata dengan sengit.


“Sudah mas Daniel, mas Evan, non Dani sedang tak sadarkan diri, tolonglah...?” ucap Nathan yang melerai keduanya.


Evan membuang pandanganya. Berusaha mengendalikan emosinya. Setiap bertemu kakaknya, entah itu hal kecil atau apa pun, selalu memicu pertengkaran di antara keduanya. Evan memutuskan pergi meninggalkan rumah Daniel. Sebelum pergi, ia sempatkan menjenguk Dani di kamarnya.


“Kak Dani, cepat sadar yach? Maafkan Evan yang menyebabkan kak Dani jadi begini. Bi Marta, tolong jaga dia sampai siuman ya..?”


“Baik mas Evan, bibi akan menjaganya..”


Evan beranjak pergi dan segera meluncur dari rumah itu. Rasa bersalah kini menghantuinya. Kini, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian tadi.


“Semua ini gara-gara aku. Kalau saja aku tidak memprovokasi kak Daniel, pasti kak Dani tidak akan seperti ini. Benar-benar bodoh..!! Bodoh sekali aku..!!” gumamnya sambil memukul-mukul stir mobilnya sendiri.


“Bagaimana keadaanya? Sudah sadarkah..?” tanya Daniel.


“Belum mas, non Dani masih belum siuman.”


“Ya sudah, saya mau ke kantor, tolong katakan sama bibi untuk menjaganya..”


“Baik, mas..”


Daniel pergi ke kantor tanpa menjenguk keadaan Dani yang masih pingsan karena kena bogem mentahnya. Di benaknya, sampai saat ini belum bisa memikirkan Dani, Anyelir masih berkuasa di dalam sana.


Nathan pergi ke kamar di mana Dani terbaring.


“Bibi, tolong jaga non Dani, sampai ia siuman..”


“Jangan khawatir, bibi akan menjaganya..”


“Saya pergi dulu, bi..” Bibi mengangguk membiarkan Nathan pergi. Karena tugasnya memang mengawal Daniel, ke mana pun ia pergi, kecuali kalau ia minta tak di temani, baru Nathan bebas dari tugas.


Hati Nathan tak tenang. Fikiranya di penuhi dengan Dani, Dani dan Dani.


Non, Nathan nggak bisa tenang kalau harus ninggalin non seperti ini, Nathan ingin selalu mengawasi non Dani, apalagi dalam keadaan seperti ini


Nathan terus saja bergumam dalam hati. Memikirkan majikan mudanya sekaligus gadis yang di sukainya itu.


“Nathan, apa jadwal hari ini?” Nathan masih diam. Ia tak mendengar saat Daniel mengajaknya bicara. Fikiranya masih mengembara tentang Dani.


“Nathan...??” Panggil Daniel dengan suara agak keras. Nathan tersentak.


“Ohh, iya mas, ada apa mas Dsniel..?”


“Kamu ngelamunin apa sih? Dari tadi aku ajak bicara cuma diam saja..?”

__ADS_1


“Nggak negelamunin apa-apa mas. Tadi mas nanya apa..?”


“Jadwal aku hari ini apa..?”


“Ohh, nanti malam ada acara makan malam bersama papa mas Daniel...” ucap Nathan yang fokus nyetir.


Ndreettt ndereett ndreeetttt


Ponsel Daniel bergetar. Ia pun mengambilnya dari saku baju, dan muncul nama Ken di sana. Ia pun mengangkatnya.


“Iya, hallo Ken, kenapa?”


“Mas, nanti jangan lupa, tar malem tuan menyuruh mas Daniel ke rumah utama, ada tamu spesial...”


“Siapa sih Ken tamu spesialnya, bikin penasaran saja...”


“Nanti mas Daniel juga tau. Pesan tuan, jangan telat. Oke kalau begitu saya tutup dulu telfonya, selamat bekerja mas Daniel...”


“Ken.., ken...?”


“Huhh..!!! Main tutup saja..! Siapa sih tamunya, sampai main rahasia-rahasia segala...?” ucap Daniel dengan bibir yang di manyunkan dan jidat yang mengkerut.


Nathan menggelengkan kepala melihat tingkah majikanya. Lelaki yang berstatus suami Dani itu, terkadang bertingkah seperti bocah, terkadang menjengkelkan sangat luar biasa dan membuat Dani menangis.


Di rumah utama


Tuan Wijaya masih harus mengistirahatkan badanya. Mengingat saran dari dokter keluarga, dan jantung yang sangat lemah. Karena penyakit jantungnya, sekarang ia tidak di perbolehkan terlalu capek dan harus banyak beristirahat. Minum obat dan minum obat. Kewajiban yang harus di lakukan oleh tuan Wijaya setiap harinya. Tiada hari tanpa minum obat.


“Paahh, sudah minum obatnya..?” tanya Evan yang sudah sampai di rumah papanya, dan menghampiri lelaki paruh baya itu.


“Kamu dari mana Van..?”


“Dari rumah kak Daniel, Pah. Ken, papa udah sarapan?”


“Sudah mas, baru saja..”


“Oh ya Van, jangan lupa kamu jemput tamu spesial kita, jam 16.00 WIB di bandara...”


“Tenang saja pah, Evan nggak lupa kok..”


Tuan Wijaya meminta Evan menemaninya jalan-jalan di sekitar halaman rumahnya yang sangat luas dan terdapat sebuah taman kecil lengkap dengan kolam ikanya, yang sampai sekarang masih terawat. Tempat di mana ada kenangan dia dan Daniel kakaknya sewaktu masih kecil. Daniel yang begitu menyayanginya dan selalu menuruti apa pun kemauanya.


Tapi sekarang semua telah berubah, seiring berjalanya waktu dan kini mereka sudah sama-sama dewasa. Apalagi saat Daniel tau kalau Evan bukan adik kandungnya, ia berubah drastis, yang awalnya menyayangi kini berubah menjadi benci.


Rasanya Evan ingin kembali ke masa-masa itu. Masa di mana kepolosan masih menjadi perhiasan di antara persaudaraan. Ia termenung menatap taman kecil yang membuatnya teringat akan memori masa lalunya yang teramat menyenangkan dan sulit di lupakanya itu.

__ADS_1


“Kenapa, Van..?” tanya tuan Wijaya yang mengagetkan Evan.


Evan tersenyum, “Nggak papa kok pah, cuma inget masa kecil Evan bersama kak Daniel. Evan rindu, Evan kangen saat kak Daniel menggendong Evan, membalut luka Evan karena jatuh dari sepeda...”


“Sekarang dia telah berubah. Bukan Daniel yang papa kenal dulu. Entah apa yang membuat kakakmu seperti itu..”


Keduanya melanjutkan jalan-jalannya dan duduk di bangku yang ada di sudut taman tersebut. Ayah dan anak itu kini terlibat obrolan yang asyik. Mengenang masa lalu dan tak jarang tuan Wijaya terlihat menyunggingkan senyuman di bibirnya.


“Aiiissshhh.....” Suara Dani lirih yang sudah mulai siuman dari pingsanya. Gadis itu memegangi pelipisnya yang kini terlihat sedikit memar.


“Non jangan bergerak dulu, pasti masih sakit kan?”


“Dani nggak papa, Bi. Mas Daniel udah berangkat?” ucap Dani yang masih sempat menanyakan suaminya.


“Sudah dari tadi, Non. Ini di minum dulu Non, supaya rasa nyerinya sedikit hilang..” Bi Marta menyodorkan secangkir air putih dan obat penghilang nyeri kepada Dani.


“Terima kasih, Bi.”


Dani segera minum obat tersebut setelah menerimanya dari bi Marta.


“Bi, Dani mau mandi, badan Dani rasanya udah lengket.”


“Silakan, Non..”


Dani bangun dari tidurnya dan buru-buru mengambil peralatan mandinya, lalu menuju kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Ia melihat bayangan wajah yang sedikit lebam. Begitu keras bogem dari Daniel mengenai pelipisnya, hingga nyeri yang ia rasakan sampai sekarang belum hilang. Dani mulai membasahi badanya dengan air. Saat membersihkan bagian pelipis, ia sangat hati-hati sekali.


Kriiingg kriiing kriiingi


Bunyi telefon yang terpasang di dapur begitu nyaring bunyinya. Bibi segera mengangkatnya.


“Hallo, ini siapa..?”


“Nathan bi, bagaiamana keadaan non Dani, bi?”


“Oh, Nathan? Non Dani sudah siuman, dan sekarang lagi mandi.”


“Syukurlah bi, Nathan senang mendengarnya. Ya sudah, Nathan tutup dulu bi telfonya..”


Bibi mengiyakan ucapan Nathan, dan kini telefon sudah terputus. Setelah mendengar penjelasan bibi, kini Nathan bisa bernafas dengan lega. Walau tak langsung, namun perhatianya nyata untuk majikan yang ia sukai, walaupun tidak kentara.


Waktu terus berjalan. Pagi berganti siang dan siang beranjak sore. Daniel pulang dari hotel agak awal, karena ia ada janji dengan papanya untuk makan malam di rumah utama, rumah tuan Wijaya.


“Nathan, kita pulang sekarang..” ucap Daniel kepada Nathan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2