
Entah apa yang membuat Daniel berubah 180° seperti itu. Namun di hatinya kini, tak ada sedikitpun rasa benci kepada Dani. Yang ada hanyalah rasa menyesal dan menyesal. Rasa ingin membuat hati Dani bahagia begitu besar, hingga ia rela melepaskan dia dari sisinya, untuk bahagia bersama orang yang di cintainya, yaitu Nathan. Agak lama Daniel memeluk istrinya. Kenyamananlah yang saat ini ia rasakan. Berbeda dengan pelukan Anyelir, gadis yang telah di pacarinya selama ini, dan selama itu pula, ia telah membuat Daniel mengerang dan mendesah akan kenikmatan sesaat, dan itu adalah perbuatan laknat.
Tak terasa, kedua kelopak mata Daniel berkaca-kaca. Namun ia segera mengusapnya, sebelum melepas pelukanya, dan sebelum Dani mengetahuinya. Perlahan, kemudian ia melepaskan Dani.
“Terima kasih Dani, kau berikan aku kesempatan memelukmu, walau hanya sekejap saja..”
“Mas bicara apa..? Gak papa kok..” jawab Dani sambil mengusap air matanya yang sedikit masih membasahi pipinya.
“Baru kali ini, aku merasakan bahagia yang sesungguhnya. Melihat orang yang ku sayang bahagia..” Seketika Daniel diam dan berhenti melanjutkan kata-katanya.
“Apa mas..?” tanya Dani yang mungkin kurang jelas mendengar ucapan Daniel. Karena ia sibuk mengeringkan air matanya dengan tisu.
“Enggak kok. Bukan apa-apa. Aku hanya ingin melihatmu bahagia..”
“Terima kasih mas Daniel, semoga kelak mas Daniel bahagia bersama orang yang mencintai mas dan tentunya mas mencintainya juga..”
“Terima kasih atas doanya Andani..”
Sementara di luar, Nathan yang berada di belakang Evan, mengira kalau Dani luluh oleh sikap Daniel. Tas plastik yang berisi makanan ringan dan air mineral, lepas dari peganganya. Hal itu membuat Evan kaget dan menoleh ke belakang. Lalu kembali Nathan mengambil tas itu.
“Nathan..? Kau juga melihatnya..?” seru Evan yang masih merasakan haru. Nathan tak segera menjawab. Hatinya serasa sesak sekali. Entah kenapa, melihat Daniel memeluk Dani tadi, ia merasakan sakit.
“Iya, mas Evan.” jawabnya singkat sekali.
“Aku bangga sekali sama kak Daniel Nathan.”
“Bangga..? Karena...?” tanya Nathan heran sekaligus sedikit menahan dongkol.
“Oh iya, Nathan tau kok jawabn mas Evan. ” Evan tersenyum lalu mengajak Nathan masuk.
__ADS_1
“Kak Daniel udah lama..?” tanya Evan basa-basi kepada kakaknya.
“Ohh, kamu Evan..? Nathan..?” jawab Daniel yang menoleh kepada keduanya.
“Baru saja kok..”
“Emm, non Dani, ini air mineral yang non minta, sebaiknya di minum dulu, karena mas Daniel ada di sini, dan juga ada mas Evan, saya permisi dulu..” Tatapan Nathan hanya sekejap saja kepada Dani, lalu meletakan makanan yang ia beli tadi. Karena hatinya kini di penuhi cemburu yang amat sangat, namun ia berusaha menyembunyikanya.
Dani mengetahui gelagat Nathan yang sangat cemburu sekali. Ingin sekali Dani menahanya, namun langkah Nathan sudah mencapai pintu, dan sulit ia untuk menghentikanya. Akhirnya, Nathan menghilang dari pandangan Dani. Lenyap seiring menutupnya pintu kamar rawatnya. Daniel memegang lembut tangan Dani.
“Aku tau, kamu sebenarnya ingin dia di sini kan..?” ucap Daniel yang tak di duga oleh Dani. Seraut wajah yang kini berusaha menyembunyikan risau di hatinya, terpaksa beralasan dan mengelak.
“Mas Daniel ngomong apa sih? Dani nggak ngerti..?”
Nathan, kamu jangan cemburu, Mas Daniel nggak berniat macam-macam, ia hanya ingin menengok Dani dan minta maaf atas kesalahanya.
Hati Dani terus saja bergumam. Karena ia tahu persis, gelagat dan raut wajah Nathan, walau belum lama ia mengenalnya.
“Siaap kak Daniel..” Dengan senang hati, Evan menjaga Dani. Sedangkan Daniel, setelah menepuk bahu Evan, ia buru-buru keluar dari kamar setelah berpamitan kepada keduanya.
Daniel terburu-buru dan setengah berlari. Ia mengejar Nathan yang belum begitu jauh. Beruntung ia melihat Nathan yang masih berada di area koridor rumah sakit.
“Nathan...!!” teriak Daniel agak keras, dan mengejutkan orang-orang yang berada di tempat itu. Nathan menghentikan langkahnya, karena suara Daniel mengejutkanya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Daniel berlari ke arahnya.
“Nathan, bisa kita bicara sebentar..?” ucap Daniel yang sedikit terengah dan berhenti di depan Nathan.
“Mas Daniel? Mau bicara apa..?”
“Udah, kita bicara di sana sebentar saja..” ucap Daniel menunjuk sebuah taman kecil yang berada di rumah sakit tersebut. Nathan mengangguk. Keduanya segera menuju tempat yang di sepakati. Daniel memilih duduk di bangku yang ada di taman tersebut. Sedangkan Nathan, menempatkan dirinya di sebelah Daniel.
__ADS_1
“Apa yang membuat mas Daniel ingin bicara kepada saya..?” tanya Nathan yang makin penasaran. Daniel menghela nafas, lalu mulai berbicara.
“Nathan, aku tau kamu dan Dani saling mencintai. Entah itu terjadi sejak kapan saya nggak tau. Saya berfikir, betapa bodohnya saya selama ini telah menyia-nyiakanya, membuatnya menderita, dan selalu meneteskan air mata. Sungguh saya suami yang bodoh..” Nathan mendengarkan ucapan Nathan dengan heran. Daniel terdiam sejenak, lalu melanjutkanya kembali.
“Nathan, saya telah mengambil keputusan, saya akan menceraikan Dani, agar ia bahagia bersama kamu, karena hanya padamulah ia akan bahagia.”
“Mas Daniel? Mas sadar dengan ucapan mas..?” ucap Nathan yang sangat kaget sekali. Ada apa gerangan seorang Daniel tiba-tiba berkata seperti itu.
“Saya berkata dengan sangat sadar Nathan. Melihat Dani yang begitu nekat menusuk perutnya sendiri, membuat saya sadar, bahwa cinta memang tak bisa di paksakan, walau awalnya saya membencinya, seiring berjalanya waktu, hati ini sedikit demi sedikit mulai mencintainya. Namun sulit bagi saya untuk menunjukan rasa cinta kepadanya, dan malah membuatnya membenci saya..” Daniel berhenti bicara dan menunduk. Jelas sekali di wajahnya menunjukan rasa penyesalan. Nathan hanya diam, tak berkata sedikitpun.
“Dengan berat hati saya katakan, jika suatu saat kalian bersama, dan kamu memiliki dia seutuhnya, tolong jagalah perasaanya, aku titipkan dia kepadamu Nathan, dan hargailah dia. Jangan seperti aku, yang hanya bisa menyisakan penderitaan saja.”
“Mas Daniel...?” Nathan memeluk Daniel. Begitu pula dengan Daniel, ia memeluk Nathan, sambil saling menepuk punggung satu sama lain. Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati Nathan. Beda dengan Daniel, walau hatinya sangat perih, namun itulah satu-satunya cara untuk membuat Dani bahagia, dan menunjukan rasa cinta Daniel yang sesungguhnya. Cinta tak harus memiliki. Melepaskan orang yang di cintai, bersama orang lain, adalah satu kebahagiaan yang sesungguhnya.
“Jadi, jangan salah faham lagi, saya tau, tadi kamu cemburu sama saya kan?” ucap Daniel lalu melepaskan pelukanya.
“Maafkan saya mas Daniel. Saya telah salah paham. Maaf juga mas, karena saya telah berbuat curang kepada mas Daniel, karena telah mencintai non Dani, istri mas Daniel..”
“Bukan curang kok, itu sudah takdir yang di gariskan Tuhan kepada kita bertiga. Dan saya juga rela, jika dia hidup bersama dengan kamu..”
“Sekali lagi maafkan saya mas Daniel, dan juga karena waktu itu saya telah memukul mas Daniel..”
“Sudahlah, nggak usah di ungkit lagi. Sekarang kita kembali ke kamar Dani, tentunya dia cemas, saat melihat raut wajahmu tadi, saya bisa membacanya..”
“Baiklah, mas Daniel..” Dengan perasaan campur aduk, keduanya kembali menuju ke kamar Dani. Entah perasaan apa yang menyelimuti keduanya, karena hal itu sulit di ungkapkan. Di mana perasaan Daniel, berada dalam fase bahagia, ikhlas untuk melepaskan. Dengan langkah pasti, Daniel membuka pintu dan masuk ke kamar Dani bersama Nathan.
“Dani, lihat..siapa yang datang bersamaku..?” ucap Daniel begitu berada di dalam kamar.
“Mas Daniel, Nathan..? Kalian balik lagi..?” ucap Dani yang langsung melihat Nathan yang berada di belakang Daniel.
__ADS_1
“Yuppz, karena Nathan kembali, saya dan Evan permisi saja. Nathan tolong saya kali ini saja, kamu jaga Dani istriku ya, saya dan Evan mau keluar sebentar.” ucap Daniel yang membuat Evan terbelalak, begitu juga dengan Dani yang tak kalah kagetnya.
BERSAMBUNG