
“Ini kan dompet mas Daniel...?” gumam Dani lalu memungutnya. Dengan segera, ia berniat memberikanya dan bergegas melangkah keluar kamar.
Dani segera menyusul Daniel ke kamarnya. Ia mencoba membuka gagang pintu kamar Daniel, ternyata tidak di kunci. Dengan pelan ia masuk. Ia mengira tidak ada Anyelir, karena barusan mengajaknya makan malam.
Saat ia memasuki kamar Daniel, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya sedih. Ia yang bermaksud memberikan dompet Daniel yang terjatuh, saat ia makan malam bersamanya di kamar tadi. Dani berhenti menghentikan langkahnya. Kata-kata yang seharusnya tak ia dengar, kini harus terdengar olehnya.
“Kenapa sih kekasihku ini? Cemburu sama gadis bodoh itu...?” ucap Daniel dan terdengar jelas di telinga Dani. Gadis itu diam di belakang mereka.
“Iya lah. Kamu juga sih? Kenapa ajak dia makan malam segala..!” ucap Anyelir dengan ketusnya.
“Bukan apa-apa, aku cuma menebus rasa bersalahku kepada gadis kampungan dan bodoh itu. Sedikitpun aku tak pernah mencintainya, sayang...” jawab Daniel.
“Memang benar aku gadis bodoh dan kampungan..” ucap Dani yang membuat dua sejoli itu terkejut. Keduanya menoleh ke belakang secara bersamaan.
“Kamu..? Sejak kapan kamu berada di situ?”
“Itu nggak penting...!” ucap Dani yang kini mulai meninggikan suaranya di depan Daniel.
“Berani kamu ya berkata dengan suara seperti itu di depanku..? Kamu sadar sedang berbicara dengan siapa..?”
“Aku sadar, saat ini aku sedang berbicara dengan suamiku. Aku manusia biasa mas, yang mempunyai perasaan. Saya memang bodoh, dan lebih bodohnya lagi, saya menerima lamaran papa Wijaya, sebagai istri kamu, Mas. ternyata sesulit ini rasanya menjadi menantu keluarga Wijaya, menjadi istri seorang Daniel. Sekarang, sebelum semua terlanjur, katakan saja mas, apakah aku harus menyudahi pernikahan yang baru kemarin kita jalani, agar mas dan Anyelir bisa hidup bahagia?”
“ Hai...!!! Ngomong apa sih..?”
“Sayang..benar juga apa kata dia, kamu sudahi saja, dan ceraikan dia..”
“Katakan saja mas. Setidaknya, saya bisa hidup dan menghirup udara bebas. Saya tak akan menyesal, bahkan akan merasa sangat berterima kasih kalau mas Daniel melepaskan saya, untuk bisa mewujudkan cita-cita Dani yang tertunda. Saya kemari cuma mau memberikan ini yang terjatuh saat mas Daniel selesai makan malam tadi. Maaf, silakan kalian lanjutkan lagi....” ucap Dani yang meletakan dompet yang ia bawa di telapak tangan suaminya, lalu berjalan keluar tanpa menoleh ke belakang.
“Kenapa diam sih yank..? Kamu mulai ada rasa sama dia..?” ucap Anyelir. Daniel masih saja terdiam. Ia terus saja memikirkan ucapan Dani baru saja. Ia tak menyangka, Dani akan berani berkata seperti itu. Gadis yang ia anggap lemah, bodoh dan kampungan, kini mulai mengepakan sayapnya.
Dengan segera, Daniel mengejar Dani. Hal itu membuat Anyelir cemburu.
“Tunggu...!! Kamu sedang mengancam aku..?” teriak Daniel yang menahan bahu Dani yang nyaris membuka pinti kamarnya.
“Aku tidak mengancam, dari pada menikah tidak saling cinta, dan hanya saling menyakiti, lagi pula saya merasa risih, di anggap perusak hubungan mas dengan Anyelir, lebih baik saya yang mundur secara teratur.” jawab Dani.
“Kalau aku nggak mau bagaiamana..?”
“Tolong mas, biarkan saya memilih jalan hidup saya sendiri, maaf saya, permisi..” ucap Dani melepaskan tangan Daniel.
__ADS_1
Daniel kembali terbengong melihat sikap Dani barusan. Sungguh di luar dugaan.
Setelah masuk ke dalam kamar, Dani berdiri bersandar di pintu kamarnya. Perlahan air matanya mulai jatuh.
Nenek, maafkan Dani..? Dani tak bisa menjadi istri yang baik. Dani....
Terjatuh ia sambil mendekap lututnya. Sangat sulit ternyata menjadi seorang istri yang patuh.
Nathan yang tadinya hampir saja keluar dari kamar, saat Dani dan Daniel sedang berbicara, ia mengurungkan niatnya dan secara tidak sengaja mendengar semua percakapan mereka.
Daniel kembali melangkah ke kamarnya. Begitu jelas kata-kata Dani terngiang di telinganya. Malam itu, malam terakhir mereka menginap di Phuket. Di kamarnya, Dani mempersiapkan dan mengemas pakaianya, agar besok semuanya sudah siap, dan tinggal berangkat. Dan ia pun segera merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
***
Pagi kembali menyapa. Dani dengan bersemangat sekali bangun lebih pagi. Setelah selesai mandi dan semuanya sudah rapi, ia berdiri di dekat jendela kamarnya. Melampar pandanganya jauh ke depan.
“Selamat tinggal Phuket, next time, semoga aku bisa ke sini lagi...” gumam Dani sambil tersenyum. Sengaja ia tak memberi tahu neneknya karena ia ingin memberikan surprise kepada beliau.
Tok tok tok
Dani mendengar suara pintu kamarnya di ketuk. Ia segera melangkah mendekati pintu untuk membukanya.
“Pagi non, nona sudah di tunggu mas Daniel, kita berangkat sekarang. Karena jadwal penerbangan kita paling awal pagi ini...”
Dani pun segera membawa semua barang-barangnya. Nathan dengan sopan membawakan koper dari sang majikan. Rupanya Daniel sudah menunggu di restoran hotel.
“Sarapan dulu..” ucap Daniel tak menyebut nama Dani.
Dani diam. Ia tak menjawab, lalu duduk setelah menggeser kursinya.
“Nathan, kamu duduk saja, kita sarapan bareng..”
“Maaf mas, mas duluan saja...”
Dengan tenang Dani makan. Sepotong roti dan susu telah mengisi perutnya. Sengaja ia mempercepat makanya, biar lebih cepat beranjak dari tempat itu.
Kini semua sudah bersiap, dan segera menuju ke bandara. Tak berapa lama setelah menunggu, akhirnya jadwal penerbangan mereka tiba. Berempat mereka naik pesawat, dengan posisi, Dani berada di samping Daniel.
“Kenapa saya duduk di sebelah mas Daniel..?”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Heran saja. Biasanya kekasih mas yang ada di sini, nggak salah nih?”
“Kamu? Di kasih hati malah ngelunjak..”
“Maaf mas, saya tidak berharap itu..”
Dengan menahan emosinya, karena ada banyak penumpang. Ia terdiam.
Awas saja, lihat pembalasanku gadis bodoh..
Pesawat tujuan Indonesia segera lepas landas. Menembus awan dan melaju di awang-awang. Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di bandara kota tempat Dani tinggal.
“Aaaahhhh leganya....” gumam Dani pelan saat ia sudah turun dari pesawat
“Mari mas Daniel, non Dani...”
Daniel, Dani dan Nathan segera masuk kedalam mobil. Anyelir tak ikut, ia naik taksi sendiri menuju rumahnya.
Mobil yang di kendarai pak Wawan memasuki sebuah rumah yang besar. Melekat dengan sebutan kata mewah. Beberapa penjaga siap siaga di beberapa titik di bebeapa sudut rumah itu. Ya, itu adalah rumah tuan wijaya, papanya Daniel.
“Ada apa pak Wawan membawa kami kemari..?”
“Saya tidak tahu mas, ini perintah tuan..” jawab pak Wawan kektika akan turun dari mobil.
Daniel dan Dani segera turun di ikuti oleh Nathan.
Dari jauh, Ken berjalan dan menyambut mereka.
“Kak Ken..?” seru Dani dengan mata yang berbinar.
“Selamat datang di rumah tuan nona..” ucap Ken yang sedikit membungkuk hormat, lalu tersenyum kepada Nathan. Lalu mempersilahkan majikanya untuk segera masuk.
“Nathan, saya antar ke kamar kamu..” imbuh Ken, dan dengan sopan Nathan mengikuti Ken melangkah menuju kamarnya.
Dani berjalan beriringan dengan daniel memasuki rumah yang sangat mewah itu. Dengan arsitektur dan ornamen yang begitu mewah dan elegant menghiasinya.
“Kalian sudah sampai...?” sapa tuan Wijaya yang menyambut anak dan menantunya.
__ADS_1
“Papa..?” ucap Daniel lalu memeluknya. Begitu juga dengan Dani, mengikuti apa yang di lakukan suaminya.
BERSAMBUNG