Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 82


__ADS_3

“Hemm, kayaknya aku harus ke rumah Daniel nih, aku akan memberikan kejutan dan merebut kembali hatinya, Ega maafin aku, walaupun aku mencintai kamu, tapi aku lebih memilih Daniel, karena dia lebih dari segalanya di hatiku..”


Pagi itu, Anyelir berdandan sangat cantik sekali. Ia tak lepas dari pakaian seksinya yang setiap saat bisa membuat Daniel berkobar gairahnya. Dengan tersenyum penuh keyakinan, ia menyetir dan melajukan mobilnya ke rumah Daniel. Sesekali ia bersenandung, menandakan suasana hatinya yang lagi good mod.


***


“Bawel banget sih..!!” sergah Daniel yang berusaha mengelabui Dani, kalau ia sedang melamunkan tentang dirinya.


“Maaf, Dani permisi dulu mas, mau ke rumah papa, mau melihat keadaan papa..”


“Iya, tar siang aku juga mau ke hotel, ada klien yang mau berkunjung..”


“Emang udah sembuh demamnya?” tanya Dani yang hendak melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.


“Agak mendingan sih, dikit..” jawab Daniel.


“Ya terserah mas Daniel saja, kalau begitu saya permisi..”


Daniel diam tak menjawab ucapan Dani. Gadis itu sudah terbiasa dengan itu. langsung saja ia keluar menuju kamarnya yang ada di belakang.


“Non mau kemana..?” tanya bi Marta yang melihat Dani saat melintasi dapur.


“Eeh, bibi.., ini mau siap-siap ke rumah papa, mau lihat keadaanya..”


“Owh, iya non, sok atu, silakan..” jawab bibi yang tersenyum kepada Dani.


Dani segera menuju kamar dan bersiap-siap. Setelah mandi dan berganti baju, dan memoles sedikit wajahnya dengan bedak, ia keluar dan berpamitan kepada bibi. Kalau dengan Daniel ia hanya mendirimkan pesan.


Mas Daniel, saya ke rumah papa, Semoga cepet sembuh.


“Gak sopan banget nih anak, pamit ke sini kek, aku kan juga ingin melihat wajah kamu, gadis bodoh..!!” umpat Daniel yang sewot karena Dani tak pamit langsung denganya.


“Bi, Dani pamit dulu yach..?” ucap Dani.


“Nggak pamit sama mas Daniel, non..?”


“Tadi Dani udah kirim pesan bi, tar siang juga mas Daniel mau ke hotel kok..”


“Oww, baiklah non, non ati-ati yach...?”


Dani mengacungkan jempol dan dan mengedipkan matanya kepada bibi. Gadis itu pergi ke rumah papa mertuanya dengan naik taksi. Ia malas kalau harus menyetir sendiri. Selain bisa santai, pikiranya nggak di buat pusing karena harus fokus nyetir sendiri.

__ADS_1


Taksi yang Dani pesan sudah sampai di depan rumah Daniel. Gadis itu terlihat berlari kecil menuju pintu pagar untuk segera keluar dan memasuki taksi tersebut.


Setelah Dani masuk, ia mengatakan kepada sang sopir alamat yang akan ia tuju. Karena sudah beberapa tahun berprofesi sebagai sopir taksi, sang sopir sangat hafal sekali dengan jalan dan setiap sudut di kota tersebut.


Sementara Anyelir, ia terlihat membunyikan klakson, dan penjaga rumah Daniel membukakan pintu untuknya. Karena Anyelir sudah akrab dan terbiasa dengan semua orang yang berada di rumah itu. Setelah ia turun dari mobil, ia segera menuju pintu dan membunyikan belnya.


“Non Anye..?” sapa bi Marta yang membukakan pintu untuknya.


“Pagi bi, Danielnya udah berangkat kerja..?”


“Belum non, tapi non Dani baru saja pergi ke rumah tuan besar..”


“Ya sudah, Anye langsung ke kamarnya saja, bik..”


Sebelum bi Marta menjawab, Anyelir nyelonong begitu saja melewatinya. Bi Marta hanya menggeleng dan menghela nafasnya. Dalam fikiranya, ia hanya membatin, kok ya ada wanita seperti Anyelir. Setelah menutup kembali pintunya, bi Marta melanjutkan kembali pekerjaanya di dapur.


Anyelir terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar Daniel.


Tok tok tok


Anyelir sengaja mengetuk pintu kamar Daniel terlebih dahulu, lalu langsung ia membuka pintu tersebut dan kemudian memasukinya.


“Ngapain kamu kembali lagi, Dani..?”


“Dani..?”


Suara Anyelir mengagetkan Daniel seketika dan membalikan badanya.


“Anye..? Kenapa kamu di sini..?” ucap Daniel.


“Kamu nggak suka ya, aku datang ke sini? Aku kangen sama kamu sayank, maafkanlah aku atas kejadian tadi malam, aku khilaf..?”


Ekspresi wajah Anyelir di buat sememelas mungkin, dan hal itu tentu saja membuat Daniel meleleh hatinya.


“Sini..?” Pinta Daniel dengan tangan yang menepuk tempat sebelahnya, supaya Anyelir duduk di sampingnya. Dengan senang hati, Anyelir beranjak dan duduk di samping Daniel yang kini bersandar di ranjang.


“Aku kangen kamu tau..?” ucap Anyelir dengan manja lalu merbahkan kepalanya di pangkuan Daniel.


“Iya, sekarang kan udah di sini dan bersamaku kan?” Daniel membelai rambut Anyelir dengan mesra. Ia lupa kalau Anyelir udah berselingkuh di belakangnya dengan Ega temanya sendiri. Entah kenapa, setiap Daniel akan marah sama Anyelir, walaupun marahnya sebesar apapun, jika Anyelir sudah bertingkah dan berkata dengan manja, luluhlah hatinya. Lumer seperti es krim yang terkena panas.


Selalu saja muncul ide nakal di benak Anyelir. Perlahan ia bangun, dan seperti biasanya, ia bermain di bibir Daniel. Suasana semakin memanas.

__ADS_1


Sementara itu, di tengah perjalanan, Dani lupa, akan sup yang akan ia berikan kepada papa mertuanya. Dan alhasil, ia menyuruh pak sopir puter balik lagi ke rumah. Pak sopir segera putar balik, mengikuti perintah penumpangnya.


Tak lama kemudian, taksi yang membawa Dani tiba di rumah Daniel. Dani segera turun dari taksi.


“Bapak tunggu bentar ya, cuma ambil barang, gak lama kok..?” ucap Dani.


“Baik, non...” jawab pak sopir.


Dengan terburu, Dani memasuki halaman rumah Daniel. Dari jauh, Dani melihat mobil siapa yang terpakir di halaman rumah suaminya. Namun itu sudah tak membuatnya heran. Dengan segera ia masuk dan menuju dapur.


“Non balik lagi?” ucap bi Marta yang kaget sekaligus seneng melihat majikan mudanya.


“Iya bi, lupa bawa sup buat papa, ni Dani kembali karena mau ambil..”


“Oww, gitu?”


Aha, bibi ada ide, maaf non, kalau bibi lancang, tapi untuk mengusir wanita itu, non harus ke kamar mas Daniel, soalnya bibi nggak suka dan bibi nggak punya wewenang untuk mengusirnya, sekali lagi maafkan bibi non..


“Non, tadi mas Daniel minta sup lagi, katanya sup buatan non enak, bisa tolong bibi nggak, untuk anterin sup ke kamarnya, soalnya bibi gak bisa ninggalin masakn bibi..” ucap bi Marta sambil cengar-cengir. Dani tau kalau Anyelir pasti ada di kamar suaminya, sedikitpun ia tak bertanya kepada bibi, dan bodo amat.


“Ooo, kalau cuma anterin mah, Dani akan bantu bibi, sini bi..?” Bi Marta memberikan nampan yang berisi semangkuk sup hangat kepada Dani. Segera saja gadis itu bergegas ke kamar suaminya. Dengan hati-hati, ia berjalan agar supnya tidak tumpah. Sesampainya di depan kamar Daniel, Dani terlebih dahulu mengetuk pintunya.


Tok tok tok


“Tak ada sahutan..” gumam Dani dan tanpa berpikir panjang lagi, langsung saja ia membuka pintu dan memasukinya. Saat ia sudah berada di dalam, ia di buat terbelalak dan mulutnya menganga.


Apa yang di lihatnya pagi itu, benar-benar membuatnya malu untuk melihatnya. Spontan ia membalikan badan, karena tak ingin melihat suaminya tanpa sehelai pakaianpun, bergumul dengan kekasihnya. Keduanya bagai bayi yang baru lahir.


“Dani...?” ucap Daniel yang kaget melihat Dani yang berdiri membawa nampan dan membelalakan mata.


“Maaf, saya tak sengaja, kalian lanjutkan saja..”


“Tunggu..!! Berhenti kataku...!!” Daniel berkata dengan keras lalu mendorong Anyelir dari atas tubuhnya. Ia segera memakai piyamanya kembali dan menghampiri Dani yang berdiri terpaku membelakanginya.


“Kenapa kamu malah pergi? Kamu nggak cemburu atau sakit hati..?” ucap Daniel di belakang telinga Dani.


“Maaf, cemburu bukan hak saya, udah sepantasnya kalian bersatu. Sewaktu-waktu mas Daniel ingin bercerai dengan Dani, saat itu juga Dani akan menyetujuinya..”


Daniel tak percaya dengan kata-kata yang barusan di ucapkan Dani. Sedikitpun gadis yang berstatus istrinya itu tak menunjukan sikap cemburunya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2