Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 107


__ADS_3

Suasana hening mencekam di depan ruang operasi. Baik Dani dan semua orang yang berada di situ, terdiam dengan fikiran masing-masing, namun tetap bermuara kepada keadaan Daniel. Sesekali Evan terlihat mondar-mandir. Menggambarkan kecemasanya akan keadaan kakaknya yang tengah memperjuangkan kata, yaitu antara hidup dan mati. Di antara kedua kata tersebut, manakah yang akan menghampirinya.


Nathan melemparkan pandangan ke arah Dani. Gadis itu terlihat sangat letih sekali. Di hari pertama perceraianya, ia di sambut dengan penculikan yang di lakukan oleh Anyelir, hingga hampir merenggut nyawa mantan suaminya. Namun takdir Tuhan berkata lain, Daniel masih bisa terselamatkan walau sudah kehilangan banyak darah. Dan melalui Dani, Tuhan menyambung lagi hidup Daniel.


Sungguh malang sekali kamu Ran, tapi semuanya sudah berlalu. Aku berjanji akan membuatmu bahagia


Nathan bergumam sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ingin rasanya ia memeluk gadisnya. Memberikanya rasa ketenangan. Namun ia tak dapat melakukanya karena banyak orang di sana.


“Nek, sebaiknya nenek pulang saja, Dani nggak mau nenek capek...”


“Enggak sayang, nenek mau memastikan apakah operasi Daniel berhasil, sampai dokter yang memberi tahu, barulah nenek akan pulang...”


“Baiklah nek...” ucap Dani yang kembali membenarkan posisi duduknya.


Tiiing


Akhirnya lampu yang sejak dua jam menyala di depan ruang operasi mati. Beberapa saat dokter keluar.


“Dokter bagaimana kakak saya...?” tanya Evan dengan cemas.


“Operasinya berhasil. Kakak anda sedang dalam perawatan dan kini akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Tuhan berkehendak lain, dan takdir baik masih berpihak kepadanya, walaupun kehilangan darah sangat banyak, namun ia mampu bertahan dan berhasil melewati masa-masa kritis, selamat yach..?”


“Ooohh, syukurlah.., sekali lagi terima kasih dok, lewat tangan dokter anak saya bisa terselamatkan...”


“Ohh, iya. Maaf, kalau nggak salah anda tuan Wijaya Permana kan..?” ucap sang dokter saat melihat tuan Wijaya.


“Benar sekali dokter. Anda mengenal saya..?” jawab tuan Wijaya yang agak heran, karena dokter itu mengenalnya.


“Siapa yang tidak tahu donatur tetap di rumah sakit ini. Sekali lagi selamat tuan Wijaya, putra anda sekarang dalam kondisi baik. Dan saya permisi dahulu, mari semuanya...?” ucap sang dokter dengan sopan dan sedikit membungkukan badanya.


Tak berapa lama, keluarlah Daniel yang terbaring dengan selang infus menancp di tanganya. Dua orang suster membawanya menuju kamar rawat yang tentunya berkelas VVIP.


Semua berjalan mengikuti ke mana arah dua orang suster tersebut membawa Daniel. Setelah berada di kamar rawat, suster berpesan bahwa hanya dua orang saja yang bisa menunggunya. Semua mengerti. Mula-mula tuan Wijaya dan tante Ema yang masuk untuk melihat Daniel.


Cuuuupppp


Tuan Wijaya mencium kening putranya.


“Papa senang nak, kamu bisa melewati masa kritis kamu. Kamu anak papa yang sangat hebat. Walau kadang papa marah sama kamu, tapi di lubuk hati papa yang paling dalam, papa bangga sama kamu nak, papa sayang sama kamu anaku, Daniel...”

__ADS_1


Sambil berkata, tuan Wijaya menggenggam tangan putranya. Dalam diri sesosok Wijaya Permana, ada juga sisi lemahnya. Ia sedikit berkaca-kaca saat duduk di samping Daniel yang tengah terbaring dan belum sadarkan diri, dengan jarum infus menghiasi tanganya dan badan yang di balut dengan perban dan tanpa memakai baju. Hanya memakai celana panjang saja.


“Mas....” Tante Ema memegang bahu kakaknya dari samping. Pegangan tanganya mengartikan bahwa ia menguatkan kakaknya.


“Sebaiknya kita keluar, biarkan Daniel beristirahat...” Ajak tante Ema dan di ikuti oleh kakaknya. Tubuh rentanya berjalan tertatih di temani tongkatnya yang selalu setia menemaninya ke mana-mana.


Di luar ruangan, Dani, nenek Eliza serta yang lainya masih duduk menunggu giliran untuk menjenguk dan melihat keadaan Daniel.


“Tuan apakah saya bisa melihat keadaan nak Daniel sebentar..?” tutur nenek Eliza dengan lembutnya.


“Silahkan nyonya Eliza, Daniel akan sangat senang jika ia di jenguk oleh anda..”


Nenek Eliza tersenyum. Kemudian masuk di temani oleh Risa. Sedangkan Dani, ia hanya duduk, karena ia merasakan badanya kurang enak. Kepalanya agak pusing dan perut seperti di bolak-balik.


“Rani, kamu nggak enak badan..?” tanya Nathan yang sudah tak sabar, yang sedari tadi menahan berdekatan dengan gadisnya itu.


Tersenyum Dani dengan Nathan yang tepat berjongkok di hadapanya.


“Aku nggak papa Nathan..” suara pelan Dani semakin membuat hati Nathan ingin segera merengkuhnya ke dalam pelukanya, namun lagi-lagi dapat ia tahan.


Akhirnya, nenek Eliza yang selesai menjenguk Daniel, kini berpamitan untuk pulang. Dani yang di ajak pulang oleh neneknya, menolak dengan halus, karena ia akan menunggui Daniel. Hutang nyawa yang saat ini berada di benaknya dan membuatnya ingin menginap satu malam di rumah sakit. Tuan Wijaya beserta tante Ema, juga pulang ke rumah. Karena kondisinya yang semakin bertambah usia, ia tak di ijinkan oleh Evan untuk tetap berada di rumah sakit. Kini yang tinggal hanyalah Evan, Nathan dan juga Rani.


“Tidak Van, kakak akan di sini. Menginap satu malam, kakak mohon jangan larang kakak yach..?”


Kalau sudah seperti itu, Evan tak bisa berkata apa-apa.


“Maaf Nath, Van, saya permisi mau masuk ke dalam, mau melihat keadaan mas Daniel...”


“Mau aku anter, Ran..?” tawar Nathan yang segera bangkit dari duduknya begitu melihat Dani berdiri dari duduknya.


“Nggak usah Nath, saya bisa sendiri kok..” ucap Dani sambil tersenyum. Nathan menuruti apa mau Dani. Namun baru saja Dani berdiri, mendadak pandanganya kabur dan untuk kemudian terasa gelap.


Bruuuuukkkkkkk


“Ran...!!” teriak Nathan yang dengan sigap menahan tubuh Dani yang telah lunglai, tak berdaya. Evan yang melihat hal itu segera meminta bantuan suster. Lalu Nathan membopong tubuh Dani dan membawanya mengikuti langkah suster mengajaknya. Tubuh Dani segera di baringkan di ruang periksa. Lalu sang suster mengecek kondisinya.


“Sus, apa yang terjadi dengan pacar saya...? Apakah kondisinya baik-baik saja...?”


“Tenang mas, pacar anda hanya kelelahan dan karena lapar juga. Mohon maaf, apakah dia belum makan sama sekali...?”

__ADS_1


“Apa..? Karena lapar sus...?”


“Iya mas, cuma itu saja, selebihnya semua baik-baik saja. Maaf, tolong di perhatikan pola makan pacar mas juga yach, ini saya kasih infus, setelah kondisnya membaik, mas bisa bawa pulang pacar mas ke rumah..” ucap sang suster yang tersenyum kepada Nathan.


“I...iya sus...” jawab Nathan yang tersenyum malu.


“Ya sudah, saya permisi dulu, mari...”


Sepeninggal suster, Nathan merasa bersalah. Ia duduk di dekat Dani, dan menggenggam tanganya. Berulang kali mengecup pungging telapak tangan gadis itu, dan membelai rambutnya.


Tulalit tulalit


Bunyi handphone Nathan berdering beberapa kali. Ia melihat layar ponselnya.


“Ada apa sih si tengil ini telefon..” gumam Nathan lalu segera mengangkatnya.


“Ehh kunyuk, ke mana aja lo. Pinter banget lo sembunyi. Gua capek tau terus-terusan di suruh om nyari in lu. Balik nggak lo, atau nggak gua hajar lo pas nanti ketemu...” sahut seseorang di seberang sana.


“Bentar lagi. Gua udah nemuin princess gua, bentar lagi gua boyong ke rumah, gak sabaran amat sih..?”


“Udah tau gua gak sabar, lo masih aja bikin ulah...”


“Iya sob, santuy dikit napa, gua sengaja ngilang, karena gua mau nyari cinta sejati gua..., hehehhhh....” Nathan terkekeh dengan si penelfon.


“Aaaaiiissshhh.., pokoknya lu cepet balik,, mamah lo udah kangen banget sama lo, anjay...”


“Iyaaa. Ya udah salam buat mama papa, beberapa hari lagi gua pulang kok, eemmuuaachhh...”


“Huuu, dasar kutu kuprett. Iya deh...”


Nathan tersenyum setelah menutup telefon dari Johan, sepupunya yang sudah seperti saudara baginya. Nathan kembali masuk ke ruangan dan melihat keadaan Dani yang sudah siuman.


“Sayang, kamu udah sadar...?” ucap Nathan yang buru-buru mendekati Dani.


“A....akuuu...akuuuu....”


“Ssssttttt, udah kamu istirahat saja. Sekarang kamu mau makan apa...?” tanya Nathan dengan telunjuknya yang menempel di bibir Dani.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2