Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 59


__ADS_3

“Mas Daniel..?” sapa Nathan seperti biasa. Seolah barusan tidak terjadi apa-apa.


“Hmm..” jawab Daniel seenak jidatnya, tanpa menoleh atau menatap kepada Nathan.


Seorang lelaki paruh baya, berjalan dengan tenang di ikuti oleh pengawalnya. Kira-kira umurnya setengah abad, namun ia masih terlihat tampan. Tak sengaja melihat Daniel saat berjalan melewati ruang IGD tersebut.


“Daniel Permana Wijaya? Anda anak dari tuan Wijaya Permana kan?” sapa lelaki itu dengan sopanya mendekati Daniel.


“Tuan Felix..?” sahut Daniel menanggapi sapaan lelaki itu, yang rupanya Daniel juga mengenalnya.


“Sedang apa anda di sini?” tanya tuan Felix lagi.


“Papa saya sedang berada di dalam..” jawab Daniel menunjuk ruang IGD.


“Tuan Felix sendiri sedang apa, kalau boleh saya tau?” ujar Daniel begitu hormat sekali.


Tuan Felix Carrington. Seorang direktur utama perusahaan terbesar se Asia. Dalam waktu dekat, perusahaanya akan merambah dunia internasional. Sebuah perusaahan merk jam terkenal, dengan nama Diamond grup. Mempunyai dua anak laki-laki. Yang satu agak kurang penurut dan seenaknya sendiri. Dan yang satu lagi saat ini sedang di Itali untuk menjalankan perusahaan cabang milik ayahnya.


“Istri saya juga di rawat di rumah sakit ini. Kalau boleh tau, tuan Wijaya sakit apa..?” tanya tuan Felix antusias.


“Oh, istri anda sakit? Doa terbaik untuk istri anda tuan. Sebuah musibah menimpa papa saya.”


“Terima kasih. Saya harap kamu berbesar hati dan sabar.”


“Terima kasih tuan Felix..”


“Do'a terbaik untuk papa kamu, dan semoga cepat di beri kesembuhan. Kalau begitu, saya permisi dulu..” ujar tuan Felix kepada Daniel dan semua yang ada di situ.


Baik tante Ema, Dani, Evan dan Nathan mengangguk dengan hormat, setelah tuan Felix mengucapkan pamit. Setelah kepergian tuan Felix, suasana kembali hening. Satu jam kemudian, pintu ruang IGD terbuka. Seorang dokter wanita keluar. Dari garis wajahnya yang tegas, tampak sekali kalau ia berwibawa.


“Dokter, bagaimana keadaan papa saya?” tanya Dani yang segera menghampiri sang dokter.


“Anda anknya?” tanya dokter itu kemudian.


“Iya dokter, saya anaknya..”


“Dengan berat hati harus saya katakan, papa anda saat ini mengalami kelumpuhan total. Dengan jalan pengobatan dan terapi kemungkinanya 80% bisa sembuh, asal telaten dan rutin.”


“Lakukan yang terbaik untuk papa dok, berapa pun biayanya nggak jadi masalah..” sergah Evan.


“Baiklah, saya akan melakukan yang terbaik, sebisa dan semampu saya. Sekarang pasien akan di bawa ke ruang perawatan..” Jelas dokter itu lagi, sebelum akhirnya ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Beberapa saat kemudian, pintu ruang. IGD kembali terbuka. Dua orang suster mendorong ranjang, di mana tubuh lemah tuan Wijaya, terbaring dan tak sadarkan diri. Selang infus terpasang di tangan dan di hidungnya.

__ADS_1


“Mas....” ucap tante Ema lirih seraya menghampiri kakaknya yang tengah di dorong suster. Kedua suster tersebut berhenti, seiring langkah tante Ema yang menahanya.


“Sebaiknya jangan ganggu pasien dulu. Boleh mengikuti, tapi jangan ada suara berisik..” Jelas salah seorang suster.


“Baik suster.”


Tante Ema beringsut menyingkir, dan membiarkan kedua suster itu kembali berjalan. Evan, Daniel, Dani, Nathan dan juga tante Ema mengikutinya dari belakang. Di dalam kamar VVIP, tuan Wijaya di rawat. Setelah di tempatkan dengan nyaman, kedua suster itu pun pergi. Kini tinggal mereka berlima yang berada di ruangan itu.


Tante Ema duduk menunggui kakaknya. Menatap wajah yang kini terlihat sangat lelah, dan ingin beristirahat.


“Mas Daniel, mas Evan, non Dani, tante Ema, saya permisi keluar sebentar..” ucap Nathan.


“Silakan Nathan..” jawab Dani dan yang lain mengangguk. Kecuali Daniel, ia menatap Nathan dengan tatapan sinis. Tak lama Nathan keluar dari ruangan itu. Karena tak ingin melewatkan kesempatan, Daniel segera menyusul Nathan.


“Nathan...?” Panggil Daniel.


“Iya mas, ada apa?” jawab Nathan yang membalikan badanya.


“Kita ke belakang gedung rumah sakit ini sebentar, saya mau bicara dengan kamu..”


“Ada apa mas kalau boleh saya tau..?”


“Ikuti saja..”


Tanpa banyak bicara, Daniel berjalan di ikuti oleh Nathan. Di dalam hati Daniel, ia sudah tak sabar ingin bertanya kepada pengawalnya itu. Tak berapa lama, sampailah mereka di halaman belakang rumah sakit yang memang agak sepi. Hanya ada tumbuhan yang terawat, dan satu kolam ikan yang sudah lama tidak di pakai. Daniel menghentikan langkahnya. Di ikuti oleh Nathan. Sejenak Daniel terdiam, lalu mulai berbicara.


“Maaf, tentang apa mas?”


“Dani..?”


“Non Dani..?”


“Iya, tentang istri saya..”


Apa masih pantas mulut kotor kamu menyebutnya dengan panggilan istri? Sungguh jijik aku mendengarnya.


“Iya mas, silakan..”


“Apa kamu menyukai istri saya..?” Pertanyaan Daniel begitu menohok, tiba-tiba dan tanpa basa-basi. Langsung to the point.


Waaahhh, bagus sekali pertanyaan kamu manusia laknat. Aku akan jawab dengan sejujurnya, karena ini kesempatan aku.


“Jujur, iya. Saya menyukai non Dani..” jawab Nathan tegas. Bagai di sambar petir di siang hari, membuat kepalanya seolah panas bagai mengepulkan asap. Daniel mengepalkan tanganya, ingin segera membogem wajah Nathan.

__ADS_1


“Sungguh jujur sekali. Sejak kapan?” tanya Daniel yang kini sudah terlihat geramnya.


“Entahlah. Saya juga tidak tahu persisnya, rasa itu begitu muncul sendirinya dan tiba-tiba..” Daniel mendekati Nathan.


Buggghh buggghh


Dua kali bogeman mengarah di perut Nathan, membuat lelaki itu mundur ke belakang sambil sempoyongan. Karena rasa sakit, ia memgangi perutnya.


“Sungguh kurang ajar sekali kamu. Sudah aku kasih kerjaan, inikah balasan kamu!?”


Nathan kembali menyempurnakan posisi berdirinya. Kali ini ia menegakan tubuhnya dan menatap Daniel.


“Memang itu yang saya rasakan. Jangan berkata soal balas budi, karena perbuatan mas Daniel lah yang menyebabkan saya jatuh cinta sama istri anda..”


“Baiklah, jika itu kenyataanya. Kamu tetap bekerja sebagai pengawal saya, dan akan menyaksikan bagaimana saya akan membuatnya menderita. Tentunya itu membuat kamu jauh lebih menyakitkan melihat orang yang kamu cintai meneteskan air mata setiap hari..”


“Mas Daniel..! Jangan keterlaluan..”


“Kamu nggak berhak melarang saya, karna dia istri sah saya, sampai di sini kamu paham? Ingatlah kata-kata saya tadi, camkan itu..!!”


Usai berkata seperti itu, Daniel pergi begitu saja dari tempat itu. Meninggalkan Nathan yang masih memegangi perutnya yang terasa sakit akibat bogem nyasar dari Daniel.


***


Sore menjelang. Tak terasa sebentar lagi malam. Ken bersiap ke rumah sakit, untuk menggantikan menjaga tuanya. Sementara di rumah sakit, Evan, Dani dan juga Daniel duduk di sofa menunggui papanya. Sedangkan tante Ema, masih dengan setia duduk di samping ranjang kakaknya. Beda lagi dengan Nathan, ia lebih memilih duduk menyendiri di luar ruangan menunggui majikanya yang berada di dalam.


“Kak Dani, sebaiknya kakak pulang saja, biar Evan yang nungguin papa, dan juga tante Ema, tante istirahat saja, besok pagi, tante boleh ke sini lagi..”


“Tapi Van, tante masih ingin di sini..”


Evan tersenyum, “Baiklah kalau itu mau tante. Tapi untuk kak Dani, sebaiknya kakak pulang saja, besok kakak ke sini lagi.”


“Iya, kita pulang saja. Ayo..!?” ucap Evan yang mengajak Dani dengan paksa.


“Tante, Daniel pulang dulu, titip papa, kalau ada apa-apa, cepat hubungi Daniel..”


“Iya Daniel, jangan khawatir, tante akan segera hubungi kamu jika ada apa-apa dengan papa kamu..”


“Dani permisi dulu Tante, Van..?”


“Iya kak..”


“Hati-hati, sayang..”

__ADS_1


“Papa, Dani pulang dulu, besok Dani ke sini lagi buat nungguin papa..” ucap Dani yang mencium lembut kening tuan Wijaya. Tante Ema yang melihat apa yang di lakukan Dani, semakin sesak saja dadanya. Sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2