
“Karena nanti malam, Nathan mau ke sini sama mama papanya nek, nenek siapin ya segala sesuatunya..”
“Ohh, iya sayang, nenek akan siapin semuanya. Kira-kira nanti jam berapa keluarga Nathan mau ke sini...?”
“Sekitar jam 19.00 WIB, nek...”
“Baiklah. Selamat sayang, akhirnya kamu menemukan kebahagiaan kamu....”
Dani tersenyum bahagia memeluk neneknya. Nenek Eliza terharu. Sekarang ia merasa lega. Di usianya yang sudah mulai renta, ia tidak akan risau lagi sewaktu-waktu Tuhan memanggilnya. Karena kini Dani berada di tangan orang yang tepat.
“Ya sudah, kamu mandi dulu, bau acem. Nenek mau nelfon mbak Risa dulu, biar ke sini bantu semuanya..”
“Oke oke nenek...”
Dani berjalan dan setengah berlari kecil menuju kamarnya. Kamar mandi adalah tujuan utamanya. Sedangkan nenek Eliza, bersama bi Inah, segera sibuk di dapur menyiapkan segala sesuatunya untuk menjamu tamu istimewanya.
Sementara itu, Nathan yang sudah memakai pakaian rapi, kemeja putih dan di lapisi dengan jas moca, sudah sampai di kantor Evan. Lelaki muda itu pagi ini terlihat sangat tampan dengan wajah yang berseri.
Setelah memarkir mobilnya, ia memasuki kantor dan berjalan menuju kantornya. Langkah kakinya pelan namun pasti menuju ruanganya. Sepanjang ia menuju ruang kerjanya, ia sesekali membungkukan badan dan melempar senyum setiap berpapasan dengan sesama karyawan lain.
Sangat di sayangkan, pagi ini Nathan akan berpamitan dengan Evan, kalau ia akan mengundurkan diri dari Beverly Hill's Hotel.
“Selamat pagi Nath, tumben pagi-pagi udah sampe ke sini...” sapaan lembut dari Larasati, sekertaris Evan yang telah jatuh hati kepada bosnya.
“Pagi Laras, iya nih, ada hal penting yang mau aku bicarakan sama pak Evan..”
“Oo, begitu rupanya. Paling bentar lagi nyampe pak Evanya...”
Nathan mengangguk, dan menuju meja kerjanya. Baru saja sekitar sepuluh menitan ia duduk, yang di tunggu sudah nampak dari luar ruangan. Senyum yang selalu menghiasi bibirnya, yang selalu Evan berikan kepada semua karyawanya ketika mereka berpapasan.
“Pagi pak Evan...?” sapa Nathan kepada bos mudanya.
“Pagi juga Nath...?” jawab Evan yang meletakan tas kerjanya di meja. Setelah menunggu beberapa menit, dan Nathan merasa kalau ini waktu yang tepat, ia melangkah mendekati Evan.
“Pak Evan, boleh saya duduk...?”
“Silahkan Nath, apakah ada hal penting yang mau kamu bicarakan...?” jawab Evan dengan wajah tenang.
“Ada pak...”
Evan membanarkan posisi duduknya dengan enak. Terlihat santai namun lebih ke formal. Lalu Nathan mengawali membuka suara.
“Begini pak Evan, saya mau menyampaikan sesuatu kepada bapak. Yang mana, dengan sangat berat hati, saya mau mengatakan kalau saya akan mengundurkan diri dari hotel bapak. Karena sesuatu hal yang membuat saya terpaksa melakukan ini pak. Saya mohon dengan sangat bapak tidak keberatan dengan keputusan sepihak dari saya. Untuk itu sebelum dan sesudahnya saya ucapkan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya...”
Evan menarik nafas panjang dan menghembuskanya secara perlahan. Tanpa di duga Nathan, Evan tersenyum kepada Nathan.
“Jika itu sudah keputusan dari kamu, saya bisa berbuat apa, saya tidak akan memaksa kamu, kalau memang ada sesuatu yang sangat penting, dan saya sangat menghargainya. Saya ucapkan terima kasih juga telah berpartisipasi di hotel ini, sehingga sekarang semakin maju....”
“Terima kasih pak, bapak begitu bijaksana sekali. Tidak salah bapak memimpin hotel ini, dan sekarang semaju ini..”
“Jangan panggil pak dong, kaya saya tua banget...”
“Saya nggak enak, soalnya di perusahaan pak. Oh ya pak, kalau bapak tidak keberatan, mulai besok lusa, saya off dari hotel ini...”
__ADS_1
“Kapan pun itu terserah kamu Nath...”
“Terima kasih pak. Kalau begitu saya permisi pulang dulu, soalnya ada hal penting yang harus saya selesaikan. Soal kerjaan, saya sudah meminta Laras untuk menghandlenya...”
“Iya Nath, silahkan...”
Nathan dan Evan saling berjabat tangan. Sungguh sebagai seorang direktur, Evan sangat bijaksana sekali. Dengan semangat, Nathan berjalan keluar dari ruangan. Ia tak sabar akan menemani mamanya membeli hantaran yang akan ia bawa ke ruamah kekasihnya.
Dengan pelan ia menyetir mobilnya. Siulan-siulan kecil sesekali terdengar keluar dari bibirnya. Betapa ia tak bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini. Mobil terus melaju dan sampailah di rumah papanya lagi. Dengan cepat ia keluar dari mobil setelah memasuki halaman dan memarkirkanya.
“Maaah, mama sudah siap....?” ucap Nathan yang menjumpai mamanya di ruang tengah.
“Udah dari tadi, Jun. Kita berangkat sekarang saja...”
“Pertama kita mau kemana dulu mahh...?”
“Langsung ke toko temen mama saja. Soalnya tadi malem, mama sudah hubungi dia dan memesan semua yang akan kita bawa ke rumah Dani. Kita tinggal terima beres. ”
“Baiklah, kita berangkat sekarang...?”
“Ayo, udah siang juga soalnya...”
Anak dan mama itu pun segera berangkat. Bahagia yang di rasakan Evan saat ini. Nyonya Felix dapat melihat akan hal itu di wajah Evan.
Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Sebuah toko yang berada di kawasan plaza yang menjual dan melayani aneka barang perlengkapan pernikahan.
Pemilik toko tersebut tak lain adalah temen nyonya Felix. Nathan dan mamanya segera memasuki toko tersebut. Sebuah senyuman ramah menyambut mereka. Seorang perempuan paruh baya namun masih terlihat awet muda menyalami keduanya lalu memeluk nyonya Felix.
“Bagaimana jenk, apakah semua pesanan saya sudah siap...?”
“Ngomong-ngomong, ini calon pengantinya....?”
“Iya tante....” jawab Nathan ramah.
“Hemm, gantengnya...”
“Makasi tante...”
Nathan dan mamanya berbincang sebentar dan berbasa-basi tentang ini itu.
“Berapa semuanya jenk....?” tanya nyonya Felix.
Si pemilik toko mengatakan nominal yang harus di bayarkan. Transaksipun selesai, lalu keduanya mohon pamit. Beberapa pelayan membantu membawakan pesanan nyonya Felix ke dalam mobil. Setelah di rasa sudah lengkap, mereka bedua segera pulang. Nathan membawa mobilnya menuju rumah papanya lagi.
Rasanya tak sabar ia mau ke rumah Dani nanti malam.
“Bi sena, tolong bantuin bawain barang-barang ini ya...?" pinta nyonya Felix sesampainya di rumah.
“Iya nyonya...”
Bi Sena dan beberapa pelayan, membawa dengan hati-hati semua barang yang ada di mobil tersebut. Nathan membawa salah barang itu juga, karena ia bukan tipe tuan muda yang sombong.
Semua barang tersebut di taruh di ats meja besar yang ada di ruang tengah.
__ADS_1
“Maah, terima kasih ya, mama dan papa sudah menyetujui dan merestui hubungan Juna dengan Dani...” ucap Nathan tiba-tiba setelah meletakan barang yang ia bawa di atas meja. Dia memeluk mamanya dengan erat.
“Sama-sama Jun, apa yang membuat kamu bahagia, itu juga membuat mama sama papa bahagia....”
Nyonya Felix sangat sayang kepada kedua anaknya. Ia tidak pernah membedakan satu sama lain. Sejak kecil hingga kedua putranya dewasa, kasih sayangnya tetap sama kepada keduanya.
Hari sudah siang. Sebentar lagi sore akan menjelang.
“Sebaiknya kamu istirahat dulu, Jun...”
“Oh iya mah, cincinya nggak lupa, kan...?”
“Tenang saja, papa sudah atur kok. Kamu nggak usah khawatir...”
Juna mengangguk. Lalu mohon pamit ke kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, ia teringat akan sepupunya Johan. Ia bermaksud akan mengajaknya ke rumah Dani. Kini ia telah memegang ponselnya dan mengutak atik layarnya untuk mencari nama Johan.
“Hallo Jo, nanti malam ikut aku yach...?”
“Kemana..? Tumben lo ajak-ajak gua...”
“Ke rumah calon bini gua...”
“Ngapain....?” tanya Johan heran.
“Ya ngelamar lah, masak mau nginep sana...”
“Heheehe, iya...., akan aku usahain. Jam berapa sih...?”
“Jam 19.00 WIB...”
“Oke, siaap...”
“Thank you man...”
Setelah menutup telfon, Nathan merebahkan tubuhnya. Ia membayangkan Dani.
“Sedang apa ya dia...?” gumamnya tersenyum.
Sementara itu, di rumah Dani, semua orang yang berada di rumah itu terlihat sangat sibuk. Nenek, bi inah, Dani dan juga Risa sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari makanan sampai menata ruang tamu agar enak di lihat.
Nenek membuat bebrerpa hidangan. Mulai dari hidangan pembuka sampai penutup. Semua di buatnya dengan resep sendiri untuk tamu spesialnya nanti.
“Dan, ruang tamu sudah bersih...?” tanya nenek memastikan.
“Sudah donk nek...” jawab Dani dan nenek mengacungkan jempolnya.
Lalu kembali ke dapur untuk mengecek apakah Risa dan bi Inah sudah beres pekerjaanya.
“Ris, kalau sudah selesai nanti kamu tata di meja makan yach, pastikan semua lengkap dan tak ada yang terlupakan..”
“Baik nek, Risa akan atur semuanya....”
Setelah selesai semuanya, Risa menata hidangan tersebut sesuai perintah nenek eliza.
__ADS_1
BERSAMBUNG