
Hawa dingin yang berasal dari hembusan Ac, membangunkan Anyelir yang tertidur karena kelelahan sehabis bergulat dengan Daniel. Dengan berat, perlahan ia membuka mata. Menyapukan pandanganya ke seluruh kamar hotel. Seluruh badanya serasa remuk. Baru kali ini ia merasakan permainan Daniel sangatlah ganas sekali. Sambil meringis menahan sakit di seluruh badan, ia mulai bangkit.
“Kurang ajar kamu Daniel, kamu berani memperlakukan aku seperti pelacur murahan...!! Awas saja, tunggu pembalasanku..!!” gerutu Anyelir yang melihat tubuh bugilnya, dan tanpa sehelai pakaian menutupinya. Suasana kamar itu begitu hening dan ia menggeliatkan badanya dengan pelan. Tiba-tiba pandangan matanya tertuju ke arah di mana Daniel melemparkan segepok uang di sampingnya.
“Kamu lelaki brengsek Daniel. Tapi tak apa, dengan uang ini, aku akan tunjukan bagaimana aku akan membalas kamu, dan kamu akan merasakan sakit yang lebih dari aku..!! Itu janjiku...!!”
Anyelir perlahan bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Dengan langkah tertatih, ia memasukan uang itu ke dalam tasnya, lalu segera mandi. Saat ia berada di depan kaca yang terdapat di kamar mandi tersebut, kedua matanya terbelalak karena terkejut. Karena di tubuhnya banyak tanda merah.
“Pantesan badanku sakit semua. Kamu meninggalkan banyak tanda rupanya..” ujar Anyelir dengan pelan.
Rupanya Daniel telah meninggalkan tanda bekas dari bibirnya. Tak hanya satu atau dua, ada puluhan bekas tanda bibirnya dan berwarna merah agak kehitaman. Anyelir memeriksa di sana, di sini dan masih banyak lagi.
Anyelir benar-benar merasa jenkel. Dengan geram, ia memukul kaca wastafel dan sekali hentakan, kaca itu retak. Tanganya sedikit terluka, namun ia masih kuat menahanya.
Setelah membersihkan tubuhnya dan kembali rapi, Anyelir segera bergegas keluar dari kamar tersebut. Saat ia membuka pintu, ia di kejutkan dengan seorang pelayan hotel yang sudah berdiri di depan kamar tersebut.
“Siang, nona...?” sapa sang pelayan dengan senyum ramahnya.
“Siang..” Balas Anyelir agak sinis, lalu begitu saja ngeloyor pergi setelah kembali menutup pintu kamar tersebut. Sang pelayan hanya geleng-geleng kepala melihat Anyelir yang sudah menjauh darinya.
Kemudian, pelayan kepercayaan Daniel tersebut masuk ke dalam kamar hotel pribadi Daniel. Sesaat ia menelfon teman-temanya. Dan tak berapa lama, beberapa orang temanya datang untuk membantunya membereskan kamar Daniel. Dengan cekatan sekali mereka bekerja. Mereka mengganti semua perabot dan letak tata ruang kamar itu. Karena sesuai pesan dari Daniel, kamar itu harus di renovasi desainya, ia tak mau desain lama, karena akan membuatnya teringat dengan Anyelir. Daniel telah memutuskan, tidak akan berhubungan denganya lagi, namun sebelum itu, ia akan mengatakan kepada Anyelir dengan baik-baik.
Akhirnya sore hari pun tiba. Proses renovasi kamar hotel pribadi Daniel selesai sudah. Kamar yang tadinya di cat berwarna biru, kini di ubah menjadi warna krem, sesuai dengan warna kesukaan Dani. Dengan tata letak ruangan yang sangat berbeda sekali dengan sebelumnya. Karena diam-diam selama ini Daniel memperhatikan Dani. Mulai dari warna kesukaan, bagaimana ia menyukai tata letak yang minimalis namun terlihat rapi dan elegant. Satu lagi, dalam kamar hotel Daniel, kini ada sebuah aquarium yang memang khusus di letakan di kamar tersebut. Dengan di isi berbagai macam bentuk dan warna ikan koi, kesukaan Dani.
“Hallo pak Daniel, kamar anda sudah selesai di renovasi, apakah anda ingin melihatnya untuk meneliti kembali di mana letak kekuranganya yang mungkin saja pak Daniel menghendakinya untuk di rubah lagi..?” ucap sang pelayan kepercayaan Daniel.
__ADS_1
“Baiklah, saya akan segera ke sana untuk mengeceknya...” jawab Daniel.
Selesai dari salon siang tadi, Daniel sengaja pulang ke rumah kaca. Ia mengistirahatkan badan dan fikiranya yang sedang tidak baik-baik. Setelah mendapat telefon dari pelayan hotelnya, ia bergegas pergi tanpa mandi terlebih dahulu. Sesaat, ia telah berada di dalam mobilnya dan sudah meliuk-liuk di jalan yang sangat ramai bahkan bisa di katakan padat arus lalu lintasnya. Dengan gesit dan dalam setengah jam saja, ia sudah sampai di hotelnya.
Dengan cepat Daniel segera turun. dan langsung menuju kamar pribadinya.
“Sore pak, cepat sekali anda sampai ke sini..?”
“Iya, pakai jurus ngebut, takutnya nggak keburu, soalnya nanti malam ada acara keluarga...”
“Oo..begitu, baiklah mari saya temani bapak melihat kamar bapak..” ujar sang pelayan, lalu mengiringi langkah Daniel melihat kamar pribadinya.
Betapa sangat tercengangnya Daniel saat ia melihat desain terbaru kamarnya, sungguh sangat amazing. Kamar yang tadinya berkesan remang-remang dan di penuhi aura ***** begituan, kini berbalik 180°. Sekarang suasanaya sangat ceria dan membuat si penghuni betah berlama-lama di kamar tersebut. Daniel menghempaskan tubuhnya di kasur dengan sprei bermotif daun, seperti kesukaan Dani. Ia menghela nafas puas, karena kerja sang pelayan sangat memuaskanya.
“Sangat puas dan senang sekali. Saya sangat berterima kasih padamu. Benar-benar sesuai keinginan saya. Kamu memang bisa di andalkan. Sekali lagi terima kasih. Oh iya, sebelum saya meninggalkan kamar ini, saya ingin kunci kamar hotel ini di ubah. Saya nggak mau pakai kunci manual lagi. Saya mau kunci pintu kamarnya memakai alat otomatis seperti yang ada di hotel-hotel korea. Memakai kunci digital, jadi otomatis yang tau kata sandi membukanya hanya saya saja..”
“Begitu..? Baiklah jika itu yang bapak inginkan, saya akan melaksanakanya...” jawab si pelayan. Setelah memeriksa dan menilik seluruh ruangan, Daniel segera pergi dari kamar tersebut. Sebelumnya ia mengucapkan banyak terima kasih kepada sang pelayan tersebut. Dan tentunya, Daniel memberinya sejumlah uang sebagai tanda terima kasihnya.
Sekarang, mobil Daniel meluncur menuju rumah utama, yaitu rumah papanya, di mana Dani juga berada di sana. Dengan bibir yang terkembang sebuah senyuman, ia memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah itu. Saat itu hari sudah menunjukan pukul 19.00 WIB, ketika ia sampai di rumah papanya. Dengan langkah yang tenang, ia memasuki rumah mewah tersebut.
“Malam kak Daniel, dari mana ini..?” sapa Evan yang berpapasan denganya saat melewati ruang tengah. Dengan hanya memakai kaus oblong dan celana training warna abu muda, membuat Evan bak oppa-oppa korea.
“Malam Van, dari rumah kok. Papa sama kak Dani di mana...?”
“Tuu, mereka ada di teras samping, lagi ngobrol apa Evan juga nggak tau. Kakak ke sana saja sendiri.” tunjuk Evan memberi tahu Daniel.
__ADS_1
“Baiklah, kakak ke sana dulu..”
Evan duduk di sofa sambil memangku laptopnya, sedangkan Daniel langsung bergegas menuju tempat yang di tunjukan Evan, di mana Dani dan papanya sedang ngobrol.
Di teras samping, Dani lagi asik ngobrol dengan papa mertuanya. Walau bicaranya masih belum lancar, namun tuan Wijaya bisa menjawab dengan baik dan jelas walau kadang terbata.
Saat Daniel melihat Dani, ia tengah tertawa bersama papanya. Entah kenapa hatinya terasa adem dan damai sekali. Tak ingin mengganggu momen indah itu, ia hanya berdiri melihatnya dari balik pintu kaca. Tanpa sadar, bibirnya ikut tersenyum mengikuti irama senyuman di bibir gadis itu.
“Ehh.., mas Daniel...?” suara Dani membuyarkan keasikan Daniel yang ikut tersenyum.
“Kenapa bengong mas, sini....” Dengan ramah, Dani mengajak Daniel bergabung. Sebenarnya agak canggung sih, namun selanjutnya Daniel mengikuti perkataan Dani.
“Malam pah, Dani..”
“Malam mas. Mas dari hotelkah..?”
“Iya, mas dari hotel. Papa apa kabar hari ini? Apakah Dani merawat papa dengan baik. ? Dani tidak menyusahkan papa kan..?”
Dani yang mendengar perkataan suaminya yang juga sedikit meliriknya, mulai nyengir. Tuan Wijaya yang melihatnya, tersenyum senang. Karena anak dan menantunya bisa di bilang romantis.
“Tenang saja mas, Dani merawat papa dengan baik kok, nggak seperti yang mas pikirkan. ” jawab Dani dengan wajah sewot.
“Mas tau kok, mas suka kalau kamu sewot begini, hehe...” ujar Daniel terkekeh.
BERSAMBUNG
__ADS_1