Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 120


__ADS_3

Malam pun menjelang. Keluarga Nathan sudah siap pergi ke rumah Dani. Mama dan papa Nathan sudah rapi. Tak terkecuali Johan, sepupu Nathan yang juga ikut dalam acara tersebut. Malam itu, Nathan sungguh sangat tampan. Dengan kemeja motif batik asli dari solo, Batik Danar Hadi yang sudah sangat tersohor itu sangat sempurna membalut tubuhnya yang berdada bidang. Begitu juga dengan mama dan papanya, sangat elegant memakai batik coupelan yang sengaja di siapkan untuk acara lamaran putranya.


“Apakah semua sudah siap Juna, dan pastikan semua hantaran sudah masuk ke dalam mobil..” tukas mama Nathan ketika hendak berangkat.


“Semua sudah siap mah, tinggal ke sana saja...” jawab Nathan.


Tepat pukul 18.30 WIB, Nathan bersama keluarganya berangkat menuju rumah Dani. Hati yang sudah mantab dan tak tergoyahkan oleh apa pun lagi, dalam hitungan menit akan segera melamar pujaan hatinya, Andani Maharani Putri.


Senyum bahagia menghiasi di kedua sudut bibirnya sesekali. Nyonya Felix ikut tersenyum yang melihat putranya melalui kaca spion, yang sesekali tersenyum sendiri.


Sementara di rumah Dani, baik Dani, nenek dan Risa, semuanya tampak sibuk. Menata cemilan dan hidangan yang akan mereka sajikan sebagai jamuan untuk tamu kehormatan. Kini semua sudah siap di atas meja. Aneka makanan ringan dan cemilan dalam toples, sudah tertata dengan rapi di meja ruang tamu dan saatnya semua bersiap-siap untuk menyambut kedatangan tamu mereka.


“Kamu cantik sayang dengan pakaian batik itu...” kilah nenek Eliza ketika melihat cucunya keluar dari kamar.


“Terima kasih, nek...”


Dani tersipu malu mendapat pujian dari neneknya. Tapi di sisi lain ada rasa bangga yang terselip dalam hatinya. Mendapat pujian seperti itu. Ketika ia melewati cermin di ruang tengah, ia berhenti sejenak. Mengamati wajah dan seluruh bentuk tubuhnya sendiri.


“Cantik juga aku, hehe...” gumam Dani yang beberapa kali memutar badanya.


Risa dan nenek Eliza yang melihat tingkah Dani, sempat menggelengkan kepala, karena gadis kecil yang nenek rawat sejak Dari orok, kini menemukan kebahagiaanya lagi.


Tepat pukul 19.00 WIB, rombongan keluarga Nathan datang. Beberapa pelayan di rumah tuan felix di ajak, karena bertugas membawakan hantaranya.


“Nek, keluaga Nathan sudah datang...” ucap Risa yang masuk ke dalam memberitahu nenek.


Nenek beranjak dari duduknya untuk menyambut tamu istimewa mereka. Sementara Dani yang mendengar kalau keluarga Nathan sudah datang, ia buru-buru masuk ke kamar. Ada rasa gugup, deg-degan dan takut yang mendera dirinya saat ini.


Berkali-kali ia mondar-mandir di depan cermin riasnya. Berkaca dan menatap bayanganya sendiri. Baru kali ini ia mengalami nervous yang hebat, sampai-sampai tanganya berkeringat.


“Dani, jangan gugup!!” gumamnya sendiri. Ia berusaha menenangkan dirinya, menaruh kedua telapak tanganya di depan dadanya. Nafasnya menjadi tidak teratur.


“Selamat malam tuan dan nyonya, silahkan masuk....” sambut nenek Eliza dan Risa dengan ramah. Dengan sopan kedua orang tua Nathan masuk ke dalam rumah. Semua sudah duduk di ruang tamu. Nathan terlihat gelisah, karena gadis pujaanya rupanya belum menyambutnya.


“Risa, tolong panggilkan Dani...” bisik nenek Eliza.


Risa mengangguk lalu segera ke kamar setelah membungkukan badanya kepada tamu. Nenek dan kedua orang tua Nathan terlibat obrolan hangat, walaupun mereka baru saja bertemu, namun suasana akrab sudah mulai mengental. Nathan sudah gelisah. Hal itu di saksikan oleh sepupunya, Johan.


“Bro, santai saja kenapa...? Kok gelisah amat..?” ledek Johan pelan.


“Alaahhh, diem lu...!!”

__ADS_1


“Non, mari keluar, keluarga Nathan sudah menunggumu...”


Degggg


Jantung Dani berdegup semakin kencang.


“Aduh-aduh, bagaimana ini...? Iya mbak....”


Dani melangakah membuka pintu kamar. Mbak Risa sudah berdiri di depan pintu menunggunya.


“Ayo kita keluar...”


“Tapi mbak, Dani deg-degan, bagaimana ini mbak...?”


Risa tersenyum menggelengkan kepala. Ia mengeeti perasaan Dani, walaupun ia belum mengalaminya.


“Sekarang non tarik nafas dan buang secara perlahan tiga kali, itu akan membantu perasaan non menjadi tenang...”


Dani mengangguk lalu melakukan apa yang di katakan oleh Risa. Benar juga, kini ia sedikit lebih tenang dari semula. Keduanya melangkah menuju ruang tamu.


Aiiihhhh, cantik banget kamu Rani, sudah sering kita bersama, namun hari kamu cantik sekali


“Malam tante, om...?” sapa Dani dengan ramah, membuat kedua orang tua Nathan tersenyum.


“Dani...?” ucap nyonya Felix lalu berdiri dan memeluk calon mantunya. Di peluk mama Nathan, Dani kaget tapi ada rasa bahagia, karena tanda kalau keluarganya welcome kepadanya.


“Tante tak menyangka, kamu secantik dan semanis ini...”


“Terima kasih tante....”


Keduanya kembali duduk. Dani duduk di antara nyonya Felix dan neneknya. Secara langsung berhadapan dengan Nathan.


Pertemuan dua keluarga untuk pertama kalinya dengan tujuan mengikat hubungan keluarga satu sama lain. Jini tiba waktunya papa Nathan mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah Dani.


“Nyonya, maksud kedatangan kami kemari, tentunya sudah nyonya ketahui. Pertama silaturahmi, dan kedua kami mau melamar Dani untuk Juna, putra sulung kami...” ucap tuan Felix membuka pembicaraan.


“Juna...?” Nenek Eliza agak bingung karena tuan Felix menyebut nama Juna bukan Nathan. Tuan Felix yang menyadari bahwa nenek Eliza kebingungan, segera menjelaskan bahwa Juna tak lain adalah Nathan.


“Oh jadi Nathan Felix Arjuna to nama lengkapnya..” kilah nenek Eliza sembari manggut-manggut. Hal yang sama terjadi juga sama Dani, karena yang ia tau selama ini hanya nama Nathan saja, tidak nama lengkapnya.


“Jadi bagaimana nek, apakah nenek menyetujui maksud dan tujuan kami datang kemari...?” Tuan Felix dengan antusias menanti jawaban dari nenek Eliza.

__ADS_1


Nenek Eliza menyunggingkan senyuman, lalu menatap Dani yang malu dan menundukan kepala.


“Tentang di terima atau tidaknya, saya akan menanyakan kepada cucu saya terlebih dahulu tuan...?”


“Nak, nenek mau bertanya, kamu juga sudah tau dan mendengarnya bukan, tentang maksud baik keluarga tuan Felix datang kemari, maukah kamu di lamar oleh nak Juna...?”


Dani malu-malu. Tapi dalam hatinya ia sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan neneknya. Nathan yang berada di hadapan Dani, menanti jawaban kekasihnya dengan harap-harap cemas, walaupun ia sudah tau jawabanya.


“Baiklah nek, om dan tante, saya akan menjawabnya. Saya, Andani Maharani Putri menerima lamaran Nathan Felix Arjuna...”


Semua yang mendengar jawaban Dani merasa lega dan bahagia. Terutama Nathan, wajahnya tampak berbunga-bunga. Ia mamandang Dani dengan penuh hangatnya. Dani yang di tatap kekasihnya seperti itu, tersipu malu-malu.


Setelah berbicara serius, kini saatnya Nathan menyematkan cincin lamaran yang resmi. Posisi tempat duduknya kini berpindah di samping Dani. Dengan hati-hati ia memasukan sebuah cincin berlian yang sangat indah ke jari manis Dani. Begitu sebaliknya Dani. Ia memasukan cincin ke jari manis Nathan.


“Naahh, karena sudah saling memakai cincin, berarti kalian sudah terikat satu sama lain. Ingat Juna, kamu tidak boleh larak-lirik sama cewek lain...” jelas tuan Felix yang membuat Nathan salah tingkah.


“Ahhh papa, kaya nggak kenal anak papa saja. Juna kan sudah punya satu bidadari, jadi tak mau yang lain lagi...”


Dani mencubit kecil paha Nathan, hingga membuat cowok itu mengaduh manja. Perbincangan mereka semakin serius. Tak lupa nenek menyuruh bibi menyuguhkan teh hangat sebagai teman ngobrol mereka.


“Tuan, nyonya, mari di cicipi hidangan ala kadarnya ini, maaf jika kurang berkenan di hati tuan dan nyonya....”


“Ini sudah lebih dari ala kadarnya nyonya Eliza, maaf telah merepotkan nyonya sekeluarga..”


-


-


Acara lamaran malam itu berjalan lancar. Setelah menikmati cemilan, acara selanjutnya yakni makan bersama. Semua sudah menempati kursi yang mengelilingi meja makan, dan siap menikmati hidangan yang nenek suguhkan. Kelezatan akan cita rasa masakan nenek, tak perlu di ragukan lagi. Karena saat menikmati hidangan, tak henti nyonya Felix mengeluarkan kata pujian.


Usai sudah acara lamaran malam itu. Saatnya keluarga Nathan untuk pamit pulang.


“Nyonya, karena acara sudah selesai dan kami sudah mendapat jawaban dari cucu nyonya, kami mohon pamit, terima kasih atas jamuan makannya, sungguh sangat luar biasa lezatnya....«


“Sama-sama tuan, saya juga mengucapkan terima kasih karena tuan dan nyonya sudah mau main ke gubug kami....”


“Aku pulang dulu calon istri...” bisik Nathan saat mendekati Dani tak mau melewatkan menggoda calon bininya.


“Ihhh.....” Dani mencubit pinggang Nathan dan membuatnya mengaduh dengan manja.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2