
Dengan gusar Anyelir bangkit dari tempat tidur, setelah ia memakai pakaian lengkap, dan menghampiri keduanya. Karena hatinya saat ini sedang di bakar cemburu dan amarah. Betapa tidak, saat Daniel berada di pelukanya, dan melihat Dani, dengan agak kasar, Daniel mendorong tubuhnya.
“Daniel sayang, kamu sedang tidak menguji kesabaranku kan..?” celoteh Anyelir yang kini menggelayut di lengan Daniel.
“Anye...?” ucap Daniel lirih dan melihatnya.
Dani membalikan badan seraya berkata kepada keduanya.
“Mas Daniel, Anyelir.., maaf bila dengan kehadiran aku dalam kehidupan mas Daniel sudah mengganggu hubungan kalian. Percayalah, aku tidak akan lebih jauh lagi masuk dan ikut campur terlalu dalam lagi. Karena di hati aku, sedikitpun aku tidak mencintai mas Daniel. Dia hanya milikmu seorang, Anyelir. Setelah papa Wijaya sembuh, aku akan minta cerai mas Daniel..”
“Sombong sekali kamu. Kamu denger sendiri kan Daniel sayank, betapa angkuhnya gadis yang berstatus istri kamu itu..?” Anyelir dengan bibir nyinyirnya memprovokasi Daniel. Daniel hanya terdiam. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dunia seakan hampa, kosong, setelah ia mendengar penjelasan isi hati Dani. Baru kali ini, ia merasakan apa yang namanya nyesek. Sungguh baru seorang Andani bisa membuat dunianya jungkir balik.
“Bukanya sombong atau angkuh. Rasa cinta yang pernah susah payah aku bangun, namun dengan mudah mas Daniel menghancurkanya berkeping-keping. Hingga kepinganya susah untuk di satukan lagi. Kesempatan itu sudah hilang, dan mas Daniel sendiri yang melenyapkanya. Kini, hati Dani sudah terisi oleh seseorang yang mampu membuat Dani nyaman, dia selalu ada saat Dani dalam keadan duka..”
“Nathan kah??” ucap Daniel menahan geram.
“Dengan berat hati, Dani katakan iya. Ia adalah sosok yang selalu menguatkan Dani, membuat Dani kembali bangkit saat keterpurukan melanda hati Dani. Dani harap, bila nanti papa udah sembuh, mas Daniel akan melepaskan Dani dan membiarkan Dani hidup bahagia denganya. Dani juga akan mendoakan mas Daniel dan Anyelir hidup bahagia.”
“Diam...!!! Jangan sebut nama dia di depan ku Dani..!!” teriak Daniel yang mencengkeram dan mengguncang bahu Dani dengan keras, hingga membuatnya kesakitan. Anyelir yang melihatnya, berusaha menarik Daniel agar melepaskan Dani. Sial sekali, Daniel menyikut Anyelir hingga ia jatuh tersungkur.
“Aku tidak akan melepaskan kamu!! Kamu harus tetap menjadi istriku, aku tidak rela jika kau bahagia dengan Nathan!! Kamu mengerti..!!??”
“Sakit mas Daniel..?? Lepaskan Dani...?” Kedua mata Dani berkaca-kaca. Ia terus memohon agar Daniel melepas cengkeramanya. Namun kedua tangan lelaki itu terlalu kuat.
“Oowh, aku tau, agar kamu tak meminta cerai, aku harus melakukan sesuatu kepada kamu..!!” Daniel menyeret Dani dan membawanya ke tempat tidur dengan sangat kasar sekali. Nampan yang di bawa Dani jatuh ke lantai dan mangkuk supnya sampai pecah berkeping-keping. Daniel tak peduli dengan itu.
“Mas Daniel lepaskan..!! Hentikan mas Daniel..!! Anyelir tolong aku..?” teriak Dani yang menghiba sambil menangis.
“Daniel lepaskan dia..!! Kamu hanya miliku, kamu tak boleh tidur dengan dia..!! Danieeellll...!!” Anyelir bangun dan berusaha menahan Daniel sekuat tenaga. Namun kali ini Daniel seperti kerasukan iblis. Ia menepiskan tangan Anyelir dengan kasar dan keras sekali. Anyelir sampai terhuyung, dan naas, saat ia terpelanting, keningnya membentur tembok. Ia jatuh terduduk karena pusing sekali. Sementara Daniel, berhasil melempar tubuh Dani ke atas tempat tidur. Gadis itu berusaha bangun, menghindari Daniel yang sudah melepas pakaianya. Dengan cepat ia mengunci tubuh Dani. Gadis itu meronta sekuat tenaga. Air matanya jatuh berderai. Hal itu membuat Daniel semakin beringas saja.
Anyelir yang melihat hal itu, dan masih sedikit pusing, berusah bangun, dan mengambil handphonenya. Lalu tanpa sepengetahuan Daniel ia menelfon Evan.
__ADS_1
“Hallo, siapa ini..?” jawab Evan yang heran karena nomor yang masuk ponselnya tanpa nama.
“Hallo Van, ini Anyelir, tolong kasih tau nomor Nathan sekarang, cepat Van..!!” ucap Anyelir sedikit berteriak.
“Hallo, itu suara kak Dani ya..?” tanya Evan yang mendengar jeritan Dani, kakak iparnya.
“Cepat Van, tolong kasih tau nomor Nathan..!!”
“Ini sebenarnya ada apa sih..!!?” tanya Evan yang tanpa pikir panjang lagi ke ruang Nathan dan memberikan ponselnya kepada lelaki itu.
“Ada apa mas..?” tanya Nathan yang bingung karena Evan memberikan telfonya dan mengode untuk bicara kepada sang penelfon.
“Hallo, ini Nathan, dengan siapa saya bicara...?” ucap Nathan yang menyahut telefon Anyelir.
“Nathan, kamu cepat kemari, ini Anyelir, Dani sedang dalam bahaya, di rumah Daniel. Cepattt....!!”
“Apaa....!!?” Spontan Nathan berteriak dan berdiri dari duduknya. Cemas, panik dan khawatir menyelimutinya.
“Mas Evan, maaf, saya ijin ke rumah mas Daniel sebentar, ada urusan penting..!!”
“Aku ikut...!” Nathan mengangguk dan keduanya dengan cepat ke rumah Daniel. Karyawan hotel yang melihat mereka berdua agak heran, karena keduanya berlari untuk menuju mobil mereka.
“Ada apa dengan pak direktur, dan sekertarisnya..?” tanya pelayan hotel yang hampir saja tertabrak Evan kalau saja ia tak cepat menghindar, sambil memasang wajah linglungnya.
Dengan cepat mobil yang di naiki Evan dan juga Nathan meluncur ke rumah Daniel. Nathan yang memegang stir mobil, merasa tak tenang. Ia kepikiran terus dengan Dani yang sedang di rumah Daniel. Pikiranya kacau balau. Evan yang duduk di samping Evan, bisa merasakan kekhawatiran di hati lelaki itu. Sebenarnya ia tahu, kalau ia dan Dani kakak iparnya telah terjadi satu hubungan, namun ia hanya diam dan mendukungnya, sebab kelakuan Daniel juga tak baik kepada Dani.
“Nathan, hati-hati, jangan tergesa. Tenangkan fikiran kamu..”
“Iya mas Evan..”
Ahh, biarkan saja mas Evan tau, kalau aku menyukai non Dani, lambat laun *semuanya ju*ga akan terungkap, karena beginilah adanya perasaanku kepada Rani..
__ADS_1
“Mas Daniel, tolong hentikan, toloong maaasss....??” Dani terus memohon dan menghiba, namun Daniel tak menghiraukan permohonan Dani. Malah dengan kasar, ia merobek baju yang di kenakanya. Kancing yang mengait baju Dani rontok sudah. Badanya kesakitan saat Daniel dengan kasar merobeknya tadi.
“Daniel..!! Hentikan..!!” teriakan Anyelir pun tak di hiraukan oleh Daniel. Ia kesetanan, dan mendorong tubuh Anyelir, hingga jatuh lagi. Saat Daniel akan membuka seluruh pakaian Dani, entah ia mendapat kekuatan dari mana, gadis itu mendorong tubuh Daniel hingga menyingkir dari tubuhnya. Secepatnya ia melompat dari tempat tidur. Namun lagi-lagi Daniel bisa menghalanginya yang berdiri di samping tempat tidur. Dengan pakaian yang sudah robek-robek, Dani berusaha menutupinya dengan tanganya.
“Jangan mendekat mas Daniel, berhenti..!!” teriak Dani saat Daniel mendekatinya lagi.
“Kamu harus di kasih pelajaran, agar tidak sombong, Dani..!!” Dan ia terus mendekat ke arah Dani.
Sementara Evan dan Nathan sudah sampai di depan rumah Daniel. Mobil mereka tak dapat masuk karena terhalang taksi yang masih menunggu Dani.
“Bapak nungguin siapa..?” tanya Evan yang menghampiri sang sopir taksi.
“Nona yang tadi naik taksi saya, katanya cuma mau ambil barang, tapi sampai sekarang nggak keluar..”
Evan segera tahu kalau yang naik taksi adalah Dani. Lalu ia membayar sang sopir dan mengatakan kalau ia akan menjemput nona yang naik taksinya. Sementara Nathan, segera berlari memasuki halaman rumah Daniel.
“Nathan..?”
“Di mana non Dani, bi..?”
“Tadi nganterin sup ke kamar mas Daniel..” Tanpa pikir panjang lagi, ia berlari menuju kamar Daniel.
“Kalau mas Daniel tak mau mundur, Dani akan nekat..!!” Ancam Dani karena tangan kananya telah memegang pulpen tinta yang ujungnya lancip sekali.
“Coba saja kalau berani..!” Ucapan Dani tak main-main. Ketika Daniel nyaris menyentuh tubuhnya, secepat kilat ia menusukan pulpen yang ia pegang ke perutnya.
Cleeepppp
Seiring dengan bunyi pulpen yang menancap di perutnya, tubuh Dani roboh dan terduduk di lantai. Darah segar mengalir membasahi bajunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1