
Dani mendengarkan semua nasehat dan doa neneknya. Nenek Eliza tak tahu saja, kalau cucunya di perlakukan semena-mena oleh cucu menantu yang ia banggakan.
“Sudah sekarang kamu cepat pulang, hari sudah sore, suami kamu sebentar lagi pulang..” tutur nenek Eliza kepada Dani.
“Baik nek, Dani pamit dulu?”
“Iya sayang, hati-hati, cepat kabari nenek kalau sudah sampai..”
Nenek Eliza memeluk Dani sebelum cucunya itu pergi meninggalkan tokonya.
“Mba Risa, Dani pulang dulu yach?” ucap Dani sambil memeluk asisten neneknya yang sangat setia itu.
“Iya non, jaga diri baik-baik yach?” ucap Risa yang menganggap Dani sudah seperti adiknya sendiri.
Sore itu, Dani kembali ke rumah Daniel, dengan menaiki taksi. Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul keinginan mampir ke gramedia untuk membeli sebuah buku novel, untuk mengisi waktu luangnya di rumah Daniel.
“Pak, ke gramedia yach..?” kata Dani kepada pak sopir.
“Iya, Non..”
Sang sopir melajukan ke tujuan sesuai perintah sang penumpang. Tak berapa lama, sampailah Dani ke sebuah toko buku yang lumayan besar di kota tempat tinggalnya. Setelah membayar taksi, Dani segera masuk. Sepasang kakinya dengan perlahan berjalan memasuki toko gramedia itu. Dani benar-benar di buat kagum ketika berada di dalam toko buku tersebut. Sebuah bangunan dengan ruangan yang sangat luas sekali dan terdiri dari dua lantai dengan ribuan bahkan berjuta buku teesaji dan memanjakan mata Dani. Ada yang di tata di rak susun, ada yang di tata di meja, dan beberapa di pajang di etalase kaca.
Dani melangkah ke area rak dinding yang menampakan banyak judul novel. Mulai dari horor, komedi, petualangan hingga love story.
Beberapa kali bibirnya berdecak kagum. Semua yang ada di gramedia benar-benar memanjakan penglihatanya. Rasanya ia ingin berlama-lama di toko tersebut.
Dani mulai menyisir setiap buku yang ia lihat. Dari ujung ke ujung, dari satu ke rak yang lainya, hingga akhirnya langkahnya terhenti dan pandangan matanya tertuju pada sebuah buku kisah cinta.
Dani mengambil buku yang berjudul 'Arti Cinta'
“Hemm, melihat judulnya saja aku udah suka, ambil ini saja..” gumam Dani yang langsung membalikan badan dan bermaksud akan membayar ke kasir.
Duuggghhhh
Dani bertabrakan dengan seseorang hingga buku yang ia pegang jatuh ke lantai. Begitu juga dengan orang yang bertabrakan dengan Dani, beberapa buku yang ia pegang jatuh ke lantai.
“Maaf, maaf..”
Dani berkata sambil membantu memungut buku orang tersebut.
“Maaf..” ucap orang tersebut dan mengambilkan buku Dani. Lalu memberikanya kepada Dani.
“Sekali lagi maaf nona, saya tak sengaja..” kata orang tersebut yang rupanya seorang lelaki muda dan tampan.
“Oh, ga papa kok, ini buku anda..” jawab Dani. Lalu keduanya saling bertukar buku karena terjatuh tadi.
“Saya permisi..” ucap Dani.
“Oh, silakan nona..”
Dani bergegas pergi dari tempat itu, dan segera membayar buku tersebut di bagian kasir. Lalu segera mencari taksi untuk kemudian segera pulang.
__ADS_1
“Berapa semuanya mbak..?” tanya lelaki muda yang tak sengaja menabrak Dani tadi. Setelah membayar, ia pun segera bergegas pergi dari toko gramedia tersebut.
“Non Dani sudah pulang?” tanya bi Marta yang melihat Dani memasuki rumah.
“Iya bi, tadi mampir ke toko buku sebentar. Mas Danielnya ke mana bi?”
“Mas Daniel pergi ke hotel non, tadi pagi sesudah non berangkat, tak lama mas Daniel juga keluar bersama non Anyelir...”
“Ooo.., begitu..?” jawab Dani sambil manggut-manggut.
Tinn Tiinn..!!
Suara klakson mobil mengagetkan Dani dan bi Marta.
“Mas Daniel udah pulang non, tuh bunyi klakson mobilnya..”
“Iya bi, Dani mau mandi dan ganti baju dulu..”
“Mau ke mana..!?” Suara Daniel tiba-tiba saja sudah di belakang Dani.
“Mas udah pulang?” tanya Dani yang kini menghadap ke arah Daniel.
“Baru pulang kamu? Cepat siapkan air hangat, aku mau mandi..!!” ucap Daniel dengan ketus.
“Iya, Mas..” Dani bergegas menyiapkan apa yang di minta Daniel.
Di mana Anyelir? Kenapa mas Daniel sendirian..? Ah, biarin saja, aku nggak akan kepo.
“Mas, sudah siap, mas Daniel tinggal mandi saja..”
“Hemm...” jawab Daniel tanpa menoleh sedikit pun kepada Dani.
“Saya permisi..” Lanjut Dani yang akan melangkah pergi meninggalkan Daniel.
“Mau kemana? Main pergi saja! Saya belum selesai bicara..!” Dani menghentikan langkahnya. Kemudian berbalik menghadap Daniel.
“Kenapa lagi mas? Saya sudah siapain apa yang mas mau..”
“Kamu cepat mandi, dan bersiap-siap, sebentar lagi kita ke rumah papa..!”
“Ke rumah papa Wijaya...?”
“Gak usah banyak nanya!”
“Baiklah..”
Huhh, manusia paling menyebalkan, andai saja kamu bukan suamiku, udah aku jitak pala kamu, hhiiiiihhhh....!!! Mengalah Dani, mengalahlah, mengalah demi sebuah kemenangan.
Dani pergi sambil mengumpat dalam hati. Ia menuju ke kamarnya yang berada di samping kamar bi Marta.
“Malam non Dani..?” sapa Nathan yang menyeduh kopi di dapur.
__ADS_1
“Nathan? Malam juga? Lagi ngapain..?”
“Ini non, buat kopi.”
“Ooo, silakan di lanjut, saya permisi dulu, bi Marta, Nathan..”
“Silakan, Non..” jawab bi Marta sebelum Nathan sempat menjawabnya.
Dani pergi meninggalkan bi Marta dan Nathan. Ia segera bergegas mandi, sesudah meletakan novel yang ia beli di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
“Semakin ke sini, non Dani semakin tegar, bibi salut, sekaligus kasian sama dia...”
“Iya, bik...” jawab Nathan irit. Lalu permisi untuk menikmati kopi buatanya dan menuju teras belakang.
Tiiiinnnggggg
Satu pesan masuk ke ponsel Nathan.
“Kapan lu ambil motor kamu Nath...? Di mana lu sekarang?” Rupanya pesan dari Adam, teman Nathan.
“Besok gua ambil, sory bro, kemarin-kemarin belum sempat. Gua lagi kerja.”
“'Kerja...?” balas Adam seperti keheranan.
“Ahh, lu jangan banyak nanya dulu, besok-besok gua jelasin, oke..?”
"Terserah lu aja...”
Pesan dari keduanya berhenti. Selama ia sakit sampai sembuh dan bekerja di rumah Daniel, Adamlah yang merawat motor Nathan. Mereka sudah berteman akrab sejak dari kecil. Dan masing-masing sudah mengenal watak satu sama lain.
Malam itu, Daniel dan Dani pergi ke rumah papa Wijaya tanpa Nathan, karena sudah seharian Nathan mengawal Daniel di hotel tempat ia bekerja, sekarang Daniel lah yang menyetir mobil sendiri.
“Tar kalau di rumah papa, jangan berbuat atau bicara macam-macam, mengerti?” ucap Daniel saat dalam perjalanan.
“Iya..” jawab Dani singkat.
Tak lama mereka sampai di kediaman papa Wijaya. Setelah memarkirkan mobil, Daniel dan Dani turun dan melangkah memsuki rumah yang sangat luas dan megah itu.
“Selamat malam, mas Daniel, non Dani, mari silakan masuk, tuan sudah menunggu di dalam...” ucap Ken yang menyambut kedatangan keduanya.
“Iya, Ken..”
“Permisi kak Ken..?” ucap Dani yang melangkah mengikuti Daniel di belakanganya. Ken tersenyum dan membungkukan badanya.
“Malam paah?” sapa Dani kepada papa mertuanya yang telah menanti kedatangan mereka.
“Malam Dani, duduklah..”
“To the point saja, ada apa papa memanggil kami ke mari..?”
“Begitukah cara kakak berbicara kepada orang tua...?” ucap seseorang yang suaranya tak asing di telinga Daniel. Ia membalikan badan dan melihat Evan sudah berdiri di belakangnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG