
“Iya juga sih, benar juga apa kata kamu, Nathan.”
“Rani, sekarang aku tidak takut lagi untuk mencintai kamu, karena sepenuhnya hati aku telah menyayangi kamu..”
Genggaman tangan Nathan semakin erat di rasa oleh Dani. Gadis itu kini haru bercampur bahagia, karena saat ini, ia telah di pertemukan dengan pelabuhan cinta terakhirnya.
“Nathan, jujur aku takut..” ucap Dani menundukan kepalanya.
“Takut kenapa..?” Tangan Nathan mengangkat dagu gadis itu. Menatap wajah yang teramat manis dan sayang untuk menyia-nyiakan gadis seperti dia. Tak lepas kedua mata Nathan memandangnya.
“Aku takut di katakan pendosa. Karena aku wanita bersuami dan sekarang menjalin hubungan dengan pria lain.” Kedua bola mata gadis itu benar-benar menunjukan kalau ia benar-benar takut dengan omongan orang yang akan membicarakanya apabila tahu tentang hubunganya dengan Nathan.
“Rani, dengarkan aku, kamu bukan pendosa, sebab suami kamu yang lebih dahulu dengan terang-terangan berselingkuh dengan mantan pacarnya, baru itu di katakan pendosa. Di sini kamu sebagai wanita yang tersakiti, wajar bila kamu membutuhkan seseorang yang bisa menjaga hati kamu, dan melindungi kamu. Sekali lagi, kamu bukan pendosa, Rani..”
“Nathaan...” Kedua mata Dani berkaca-kaca mendengar ucapan lelaki yang ada di hadapanya. Tak tahan melihat gadisnya menangis, Nathan merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.
“Kamu jangan takut, bila kamu tak ingin orang mengetahui hubungan kita, aku akan mencintai kamu secara diam-diam. Aku akan menjaga perasaan kamu dan apa pun akan aku lakukan untuk bisa membahagiakan kamu, Rani..”
“Benarkah..? Nathan, jika suatu saat kita tidak bisa bersatu, apakah kamu akan tetap memperjuangkan aku..?”
Nathan terhenyak mendengar ucapan Dani. Ada sedikit makna kekhawatiran dan minta untuk tetap mempertahankan di balik ucapanya. Nathan menatap Dani sesaat. Lalu ia melakukan sesuatu yang tak di duga oleh Dani. Ia terlihat mencari-cari sesuatu.
Nathan mencabut jarum infus yang menancap di tanganya. Darah keluar dari bekas cabutan jarum tersebut. Dengan penuh kemantapan hati, ia mengucapkan janji kepada Dani.
“Jika suatu saat nanti kita tidak bisa bersatu, aku akan memperjuangkan kamu sampai titik darah penghabisan. Dan jika sampai aku berpisah dengan kamu karna ada wanita lain, aku bersumpah tidak akan mencintainya. Aku memilih tidak menikah seumur hidupku jika tidak menikah dengan kamu, Andani Maharani Putri. Itu sumpahku..” Usai mengatakan itu, Nathan mengoleskan darah yang mengalir di tanganya ke rambut Dani menggunakan jari jempolnya. Membuat gadis itu membelalakan kedua bola matanya.
“Ssssttttt...” Jari telunjuk Dani menutup bibir Nathan.
“Kamu tidak harus bersumpah seeprti itu, tak baik...”
“Karena aku ingin gadis yang aku cintai percaya kepadaku, karena aku tak pernah main-main dengan perasaan wanita, kamu paham, Raniku...?” Dani kembali di buat membelalakan kedua bola matanya.
“A....apa tadi kamu bilang Nathan..? Raniku..?”
“Iya. Raniku, memang kenapa? Apa tak boleh aku memanggilmu dengan sebutan yang menegaskan bahwa kamu adalah kesayanganku?” Dani di buat tersipu malu oleh ucapan Nathan barusan. Bunga dan bintang seolah kini bertebaran di atas kepalanya. Indah dan ohh....tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Baru kali ini Dani merasakan cinta yang sebenarnya. Nikmatnya di cintai seseorang yang benar-benar tulus dan membutuhkan kita.
__ADS_1
“Bo...boleh kok..” jawab Dani terbata karena gugup melanda. Nathan tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Dani yang begitu merah merona jadinya.
“Mulai sekarang saat aku bersama kamu, boleh kan aku sedikit manja dengan kamu..? Panggil kamu dengan sebutan Raniku, itu hukumnya wajib bagiku saat kita berdua seperti ini, dan kalau ada kesempatan, aku mau ajak kamu jalan-jalan naik motor. Apa kamu mau kalau aku ajak naik motor...?” Dani mengangguk sambil tertunduk. Campur aduk yang ia rasakan, antara malu dan bahagia.
Dani tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk dan menunduk. Menahan rasa yang kian hebat mendera jiwanya. Sebuah rasa yang bisa membuatnya berbunga-bunga dan bahagia. CINTA.
Kruuuuuukkkkk
Bunyi perut Nathan membuat Suasana yang dramatis berubah menjadi gelak tawa. Dani yang tadinya tersipu malu, kini bisa tertawa, namun ia tahan. Sedangkan Nathan, yang berada di hadapanya hanya cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala.
“Nathan, bentar yach, aku panggil suster dahulu..?”
“Eh, mau ngapain, Rani? Jangan tinggalin aku sendiri dong..?” Nathan mulai mengeluarkan manjanya kepada Dani, membuat gadis itu balik melirik manja kepadanya.
“Bentar saja kok..” Dani keluar kamar memanggil suster, tak lama berselang masuklah Dani bersama seorang suster.
“Sus, tolong benerin infusnya, karena tadi banyak gerak jadi lepas deh..?” ucap Dani yang tersenyum simpul.
“Masnya, kalau gerak jangan terlalu aktif ya, tar infusnya lepas lagi..”
“Sus, hari ini saya boleh pulang kan, saya udah nggak ngerasa sakit lagi kok...”
“Benarkah? Syukurlah..” ucap Nathan dan terlihat bahagia sekali. Begitu juga dengan Dani, ia tak kalah bahagianya.
Setelah suster tersebut selesai membenarkan jarum infus kembali, ia segera pergi dari kamar tersebut.
“Sekarang kamu makan dulu, tadi perutnya kan udah protes tuh, nih nasinya...” ucap Dani menyodorkan nampan yang berisi makanan untuk Nathan.
“Bolehkah aku minta satu permintaan?”
“Iya, apa itu..?”
“Rani, tolong suapin aku dong, aku gak bisa makan sendiri nih..?”
“Hmm, banyak maunya ya..? Malu tau..?” celetuk Dani.
__ADS_1
“Kenapa mesti malu, aku mau pokoknya, kalau nggak di suapin, aku nggak mau makan..!” Ancam Nathan sambil melengos ke kanan.
“Iya, iya, baiklah..”
“Maunya pakai tangan ya, jangan pakai sendok, karena suapan yang nikmat itu dari tangan orang yang kita sayangi..”
Ulalaaaa, alamaaakkk..., kenapa aku jadi panas dingin begini?
Dani hanya mengangguk, lalu segera mencuci tanganya terlebih dahulu. Nathan yang melihat Dani, tersenyum senang. Tak berapa lama, Dani sudah kembali. Dengan perlahan ia mulai mengepal nasi dengan jarinya dan mulai menyuapkan kepada Nathan.
“Aaaa....” suara Nathan sambil membuka mulutnya. Dani senyum-senyum sendiri melihat kelakuan lelaki di hadapanya itu.
“Mmm, nikmatnya di suapin Raniku ini..” Celetuk Nathan sambil mengunyah makanannya.
“Kalau makan jangan bicara, nanti tersedak..”
Kebahagiaan kini tengah menyelimuti hati kedua insan itu. Entah bagaiamana kelanjutanya esok, mereka tak memikirkanya. Yang penting, apa yang mereka jalani hari hari ini.
_
_
“Mmmmhhhh...” Daniel menggeliat. Dia merasa ada sesuatu yang menopang di lenganya dan membuat tanganya kesemutan. Ia menolehkan kepalanya dan melihat Anyelir masih pulas di atas lenganya.
Dengan pelan, ia menggeser kepala gadis itu.
“Ssshhh...” Daniel meringis kesakitan, karena lengan kirinya mati rasa. Agak lama ia memulihkanya. Ia pun bangkit dari tidurnya dan beranjak pergi ke kamar mandi. Suara gemericik air di kamar mandi yang berasal dari kucuran air kran, membuat Anyelir terbangun. Ia menggeliatkan badanya dengan penuh kenikmatan yang hanya berbalut dengan selimut itu. Ia berusah membuka matanya dan mengerjap sebentar. Melihat di sampingnya, dan Daniel sudah tidak ada. Karena mendengar suara berisik di kamar mandi, ia tersenyum. Kini muncul ide gila di benaknya kembali. Perlahan ia beranjak dari tempat tidurnya mendekati pintu kamar mandi.
Tok tok tok
Anyelir mengetuk pintu kamar mandi agak keras. Pintu pun terbuka. Terlihat Daniel dengan rambut basahnya. Tak menyiakan kesempatan itu, Anyelir menerobos masuk.
“Anye....” Pekik Daniel kaget. Tanpa menutup pintu, Anye kembali memberikan berbagai macam bentuk cumbuan kepada Daniel, membuat lelaki itu merem melek.
***
__ADS_1
“ Lelaki yang berkelas adalah dia yang tak ikut marah jika wanitanya sedang marah, adalah dia yang tak mencari wanita lain saat merasa sudah bosan, dia yang tak menceritakan keburukan wanitanya kepada wanita lain, dan dia yang setia kepada satu wanita "
BERSAMBUNG