Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 113


__ADS_3

Hari itu, setelah selesai mengeringkan rambut Dani, Nathan segera mengantar gadis pujaanya ke rumah sang nenek. Sangat berdebar hati Nathan, karena ia mempunyai satu rencana, dan itu bisa di katakan sebagai surprise atau kejutan utuk Dani dan juga neneknya. Sengaja Nathan tak memberitahu Dani, dan ia ingin melihat ekspresi kebahagiaan terlihat di wajah cantiknya.


Sepanjang perjalanan ke rumah neneknya, wajah Dani terlihat berseri-seri. Rasanya kangen yang menguasai hatinya seolah ingin segera meluap karena beberapa hari tidak bertemu, rasanya seperti sudah satu abad saja.


“Seneng banget ya neng, mau ketemu neneknya..?” kilah Nathan menggoda Dani, sambil sesekali menoleh ke samping, karena ia memegang setir.


“Iya atuh abang, eneng udah kangeeeeeen seribu kali sama nenek eneng..” Ekspresi wajah Dani semakin indah karena senyuman manis juga menghiasi di sana.


“Seribu kali..? Banyak amat atuh neng, abang kagak kebagian dong...?” ujar Nathan yang dengan lihainya memainkan sebelah alisnya.


“Aih..aih, si abang mah cemburu yah..? Jangan khawatir atuh bang, buat abang mah sepuluh ribu kali kangenya, di banding nenek, hehe...”


“Percaya kok neng, abang kagak cemburu, dikit aja masa nggak boleh..?”


“Boleh abang, tapi cemburunya jangan sama nenek, kalau eneng di cemburuin, eneng malah seneng, itu tandanya, abang sayaaaaang sama eneng, bener nggak..?”


“Iya eneng sayang, hehe....”


Canda dan tawa terus menemani sepanjang perjalanan mereka. Dalam hati, Natahan merasa terberkati, merasa beruntung mendapatkan Dani. Ia tak merasa menyesal walau Dani mantan istrinya Daniel, ia tetap mencintai dan menyayangi Dani dengan setulus hati. Menerima dia apa adanya, bagaimana statusnya. Nathan tidak mempermasalahkan semua itu. Baginya, semua itu sangatlah tidak penting.


***


Matahari sudah sangat terik. Bayangan yang di pantulkanya tepat di bawah benda atau orang yang terkena sinarnya. Tandanya udah tepat jam 12.00 siang. Sebuah rumah tampak sepi dari luar dengan pagar yang tertutup rapat. Mobil yang di kendarai Nathan beserta Dani, berhenti tepat di depan pintu pagar tersebut.


“Akhirnyaaaaa....” gumam Dani dengan bersemangat sekali, lalu akan membuka pintu mobil. Namun Nathan segera menahanya.


“Kenapa ayang, kok gak boleh buka pintu...?” ujar Dani dengan wajah bingung.


“Ssssttt, jangan negatif dulu sayaang, aku mau, aku yang bukain pintu buat kamu, jadi kamu diam aja, oke...?”


“Ohhh kirain, iya ayang...”


Nathan segera keluar dan membukakan pintu untuk Dani. Setelah keluar, tak lupa Dani mengucap kata terima kasih kepada Nathan.


Mereka berjalan beriringan mendekati pintu pagar, dan Dani segera memencet belnya. Beberapa detik kemudian, munculah nenek dari balik pintu. Kebetulan hari itu, nenek lagi di rumah,, toko lagi libur. Dengan senyuman yang menghiasi wakahnya, ia menyambut cucunya yang diantar oleh Nathan.


“Dani..? Oh cucuku sayang...”


Dengan langkah yang di bantu tongkatnya, nenek Eliza berjalan untuk membuka pintu pagar.

__ADS_1


“Nenekk...” pekik Dani sembari memeluk nenek Eliza setelah pintu pagar terbuka Keduanya saling berpelukan begitu eratnya, sampai-sampai lupa kalau Nathan berdiri di belakang Dani dan ikut tersenyum melihat moment di depanya.


“Dani kembali ke rumah nenek lagi, apakah boleh nenek..? Aku menjadi cucu manja nenek lagi...”


“Kamu ngomong apa sih, kamu adalah cucu tersayang nenek, dan ini adalah rumah kamu. Kamu nggak boleh ngomong seperti itu lagi...”


“Iya nek, maafin Dani..”


“Eh, nak Nathan ayo masuk...?”


Nathan segera tersenyum dan meraih tangan nenek Eliza. Dengan sopan ia memberi salam kepada orang tua tersebut dengan mencium punggung telapak tanganya.


Ketiganya segera masuk. Dengan penuh kehangatan, nenek Eliza menyambut cucunya dan juga Nathan.


“Silakan duduk nak Nathan, Dani buatkan nak Nathan secangkir teh hangat..”


“Baiklah nek, Nathan maaf aku tinggal dulu..”


“Aduh jadi ngerepotin nenek dan juga Dani...”


“Enggak kok nak. Ngomong-ngomong kalian dari mana, kok dari abis sidang, Dani baru pulang sekarang..”


Waduh, Nathan mau jawab apa..?


“Kemarin abis sidang, Dani mendadak di hubungi temanya nek, tepatnya teman SMA nya, karena ada reuni dadakan dan harus nginep pula. Nenek tenang saja, karena berangkatnya di antar oleh mas Daniel kok, karena pulangnya ga bisa jemput, jadinya Nathan deh yang suruh jemput...”


“Iya nek, maafkan Dani, karena ga sempat hubungi nenek, dan maaf juga telah membuat nenek khawatir...” sahut Dani meyakinkan neneknya atas jawaban Nathan. Dani dan Nathan saling bertatapan penuh arti, senyum simpul lalu kembali ngobrol dengan nenek Eliza.


Ketiganya saling mengobrol dengan asyik. Membicarakan ini itu, yang membuat suasana semakin hangat. Sesekali tawa kecil terdengar dari bibir ketiganya. Mulai dari membicarakan masa kecil Dani, yang membuat gadis itu tersipu malu. Nathan dengan antusias mendengarkan dan terus saja mengorek tentang bagaimana masa kecil gadisnya itu. Hingga akhirnya, sampailah ia yang gantian berbicara.


“Ternyata masa kecil kamu sungguh lucu yach..?”


“Jangan meledek ahh...?” kilah Dani.


“Enggak kok, hahaha...”


“Tu kan...? Nenek siiihhh..?” Bibir Dani semakin manyun. Justru itu semakin membuat Nathan semakin gemes saja. Sedangkan Dani menggelayut manja di bahu neneknya.


“Baiklah, nenek sekarang Nathan mau berbicara kepada nenek dan juga Dani...”

__ADS_1


“Silahkan saja, nak..”


Dani sedikit heran dan juga penasaran. Ia yang tadinya senderan pada neneknya, kini mulai menegakan punggungnya. Tatapanya kepada Nathan seolah ia ingin tahu terlebih dahulu apa yang akan di bicarakanya. Namun Nathan hanya membalasnya dengan senyuman manis.


“Nenek, maksud kedatangan saya kemari, selain mengantar Dani, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada nenek, dan juga kepada Dani..” Nathan diam sejenak. Menatap Dani dengan penuh keyakinan. Nenek eliza sepertinya sudah tau arah pembicaraan Nathan.


Dani semakin penasaran. Tatapan matanya semakin menuntut, ingin segera tau apa yang akan di sampaikan kekasihnya.


“Baiklah nak, lanjukan saja..”


“Nenek, dengan segala kerendahan hati, saya memohon ijin kepada nenek, saya ingin melamar cucu nenek menjadi calon istri, pendamping hidup saya dan menjadi ibu dari anak-anak saya. Apakah nenek memberi ijin serta merestui saya...?”


Mendengar hal itu, Dani kaget bukan main. Ia tak menyangka akan secepat itu di lamar oleh Nathan. Mantan pengawal suaminya yang kini telah berani melamarnya.


“A...apaaaa....?” Dani terhenyak. Kaget, senang, tak percaya campur aduk jadi satu kesatuan yang membuat tubuhnya seperti terkena demam. Diam tak bergerak.


“Iya Dani, hari ini saya melamarmu, tentunya aku meminta ijin dahulu kepada nenek...”


Nenek mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskanya secara perlahan. Membenarkan posisi duduknya dan perlahan mulai beebicara.


“Nak Nathan, nenek akan menjawab permohonan nak Nathan. Tapi tentunya nak Nathan harus menjawab pertanyaan dari nenek dahulu....”


“Iya nek, silahkan nenek bertanya..”


“Pertama apakah nak Nathan sudah memikirkan matang-matang, tentang lamaran ini, mengingat status Dani. Kedua, apakah Dani sudah pasti di terima oleh kedua orang tua nak Nathan. Nenek tidak mau cucu satu-satunya nenek akan menderita untuk yang kedua kalinya..”


Nenek Eliza mengusap rambut Dani dengan penuh kasih sayang, sedangkan Dani hanya menundukan kepala. Memang benar perkataan nenek, kini statusnya adalah janda. Janda dari Daniel Permana Wijaya. Ada guratan kesedihan di wajahnya.


“Semua itu tidak berlaku untuk saya nek. Saya mencintai cucu nenek, Andani Maharani Putri dengan tulus. Soal di terima oleh keluarga saya, saya bisa jamin, dan bertanggung jawab kalau Dani di terima, karena yang menikah saya nek, bukan kedua orang tua saya. Karena yang menemani hari tua saya adalah istri saya, bukan orang tua atau anak. Anak kalau sudah menikah, sudah pasti mempunyai kehidupan masing-masing, hanya istrilah belahan jiwa yang akan selalu setia...”


Dani berkaca-kaca, mendengar penuturan Nathan. Ingin rasanya menghambur dan memeluknya, namun situasi tidak memungkinkan.


“Setelah mendengar jawaban nak Nathan, hati nenek lega. Sekarang tinggal kamu Dani, apakah kamu mau dan menerima lamaran dari nak Nathan...?”


Dani terdiam sebentar. Lalu perlahan menganggukan kepala.


“Iya Nathan, saya mau menerima lamaran kamu..”


“Aaahhhh, lega rasanya....”

__ADS_1


Nathan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke hadapan Dani.


BERSAMBUNG


__ADS_2