Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 56


__ADS_3

Ken segera melaksanakan perintah tante Ema. Ia tak mempedulikan bajunya yang basah kuyup. Ia menghubungi Daniel. Namun tak diangkat. Beberapa kali ia mencobanya, namun hasilnya nihil. Lalu Ken mencoba menelfon Dani, karena tak berhasil menelfon Daniel.


Tuuuuuttt tuuuutttt


Dani menghentikan langkahnya yang akan keluar dari rumah, karena ponselnya berdering. Ia mengerutkan dahi ketika melihat siapa yang menelfonya.


“Kak Ken? Tumben, ada apa ya..?” gumam Dani lalu segera menyambungkanya.


“Halo kak Ken, ada apa? Tumben telefon Dani?” Nenek Eliza dan Nathan yang mendengar Dani menerima telefon, menunggunya di dalam mobil.


“Maaf non, sebaiknya non cepat le rumah sakit, tuan besar baru saja di bawa ke sini..”


“A...apa kak, papa masuk rumah sakit..?” Dani terkejut dengan kabar yang di sampaikan Ken barusan.


“Iya non, dari tadi saya hubungi mas Daniel, namun tak juga di angkat. Non Dani sekarang di mana?”


“Ya Tuhan, di mana mas Daniel saat seperti ini..? Baiklah Kak Ken, saya akan segera ke sana, tolong kakak kasih tau alamatnya yachh..?” Ken segera mengatakan alamat rumah sakit di mana tuan Wijaya di rawat. Dan segera saja Dani menutup telefonnya. Dani menghampiri nenek dan Nathan dengan wajah cemas.


“Nenek, Dani mohon maaf, acara ke desa kita tunda dulu ya, soalnya baru saja Dani dapat kabar, kalau papa masuk rumah sakit..”


“Masuk rumah sakit?” ucap nenek terkejut.


“Iya nek, baru saja. Penyebabnya apa, Dani juga kurang tau..”


“Sebaiknya kamu segera menyusul ke rumah sakit saja, ke desanya di tunda dulu saja, lebih penting papa kamu Dani.” Tutur nenek Eliza dengan bijaksana.


“Tapi beneran nenek gak papa kan?” tanya Dani yang takut membuat neneknya kecewa.


“Iya Dani sayang, nenek gak papa, kamu cepetan gih ke rumah sakit.”


“Baiklah nek, Dani berangkat dulu, nenek hati-hati di rumah ya..?” ucap Dani yang memeluk neneknya sebentar, sebelum ia berangkat.


“Nathan permisi dulu nek..?”


“Iya nak Nathan, hati-hati ya bawa mobilnya, jangan tergesa..” Nathan mengangguk menjawab ucapan nenek, tak lupa ia tersenyum kepada nenek Eliza. Setelah berpamitan, Dani dan Nathan segera berangkat ke rumah sakit. Kini Dani di liputi kecemasan. Dalam perjalanan, ia berinisiatif menelfon suaminya Daniel. Karena tadi, Ken berkata kalau ia susah menghubungi Daniel. Ia mulai memencet nomor Daniel, dan benerapa saat tersambung namun belum di angkat.

__ADS_1


Di hotel


Anyelir keluar dari kamar mandi. Tubuhnya begitu menggoda sekali saat ia memakai baju haram, membuat Daniel berkobar-kobar naluri kelaki-lakianya.


Saat ia melewati meja di mana tempat Daniel meletakan ponselnya, ia melihat ponsel itu bergetar karena notifikasi panggilan. Ia melihat sebentar.


Dani..? Ada urusan apa dia menelfon Daniel.


Gumam Anyelir dalam hati. Sesaat ia menunggu telfon itu mati.


“Sayang, ngapain sih berdiri di situ? Cepat kemari, aku kangen nih sama kamu..?” ujar Daniel yang terlihat nggak sabar.


“Bentar yank, mau pake parfum dulu, kamu sabar dikit yach..?” jawab Anyelir bohong.


“Jangan lama-lama.” seru Daniel, dan Anyelir mengangguk ke arahnya. Ia segera menjalankan aksinya, membalas pesan kepda Dani dan mengatas namakan Daniel.


“Ada apa..?” pesan yang di kirim Anyelir menggunakan ponsel Daniel.


“Mas, cepat ke rumah sakit, baru saja papa di bawa ke sana..” Balas Dani.


Waduhh, papa Daniel masuk rumah sakit. Ah bodo amat. Karena dia, aku gak jadi nikah sama Daniel, anaknya.


“Aku mau ke sana, tapi kamu jemput aku dulu..”


Rasain kamu Dani, bentar lagi kamu akan melihat adegan yang membuatmu panas dingin.


Anyelir merasa sebentar lagi ia akan menang.


“Mas di mana?” Balas Dani dengan cepat.


Anyelir memberitahu Dani di mana Daniel berada, dan di kamar nomor berapa. Tak lupa ia menyuruh Dani langsung masuk saja kalau ia sudah sampai. Anyelir tersenyum menyeringai. Ia merasa sangat puas sekali. Lalu kembali meletakan telefonya.


“Nathan, kita ke hotel dulu yach, jemput mas Daniel, katanya aku di suruh jemput dia dulu di sana..” ucap Dani tanpa menaruh rasa curiga.


“Baiklah, non..”

__ADS_1


Aneh, aku merasa curiga. Jangan-jangan dia merencanakan sesuatu yang jahat kepada Dani, hmm...aku akan selalu di sampingmu Andani Putri.


Mobil yang di bawa oleh Nathan segara melaju menuju ke hotel tempat Daniel dan Anyelir memadu kasih. Dua sejoli yang benar-benar gila.


“Yaaank, lama amat sih..?” ucap Daniel.


“Iya yank, aku ke situ, diam dulu ya..?” Anyelir bukanya berjalan ke arah Daniel, malah ke arah pintu dan sengaja tidak menguncinya. Dengan perlahan, ia mendekati Daniel. Dengan lembut memberikan cumbuan yang membuat Daniel serasa terbang melayang, ke awang-awang. Suasana mulai memanas, ketika Anyelir dengan ganas mendaratkan ciumanya di wajah, dan tubuh Daniel, membuat laki-laki itu memejamkan matanya, menikmati sensasi setiap sentuhan lembut bibir dan jemari Anyelir.


“Oh, rupanya mas Daniel di hotel ini?” seru Dani yang baru saja sampai di hotel tersebut.


“Nathan, aku masuk dulu yach..?”


“Eh bentar non, saya ikut sama non Dani..” Dani mengiyakan. Setelah memarkirkan mobil, keduanya memasuki hotel tersebut dan langsung mencari kamar tempat Daniel berada. Tanpa ada kesulitan, Dani menemukan kamar yang ia cari, yang bertuliskan kamar nomor 9.


“Hmm, ini dia.” gumam Dani dengan senangnya.


“Nathan, aku masuk dulu, kamu tunggu si sini yach..?” pinta Dani lagi.


“Baiklah, non Dani..” Dani segera membuka gagang pintu tersebut, dan memasuki kamar itu dengan pelan. Sedangkan Nathan, menunggu di luar. Tanpa merasa curiga, ia terus melangkah. Bagai di sambar petir di siang bolong, ia tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Langkahnya seketika terhenti, lidahnya kelu dan seolah dunia menghimpitnya.


Ia melihat Daniel dan Anyelir sedang memadu kasih. Anyelir yang tahu Dani sudah berada di kamar itu, sengaja membuat Daniel mendengus dan mengerang tiada hentinya. Daniel tak sadar kalau Dani berdiri menyaksikan semua itu. Rasanya kedua kaki Dani terpaku. Tak sanggup ia beranjak dari tempat itu.


Daaagggggg


Ponsel Dani terjatuh ke lantai. Karena seluruh tubuhnya tak bertenaga.


“Dani...!!?” teriak Daniel yang sudah menyadari hal itu. Namun Anyelir masih saja membuatnya melayang dan semakin menggila. Tanpa komando, air mata Dani jatuh setetes demi setetes membasahi pipinya.


“Kok lama sekali? Ngapain sih non Dani di dalam? Perasaanku kok gak enak?” gumam Nathan yang kepikiran oleh Dani.


“Masuk? Enggak? Masuk? Ahh masuk sajalah, filling gua gak enak..” Dengan pelan, Nathan membuka pintu dan mencari keberadaan Dani. Betapa ia geram sekali dengan apa yang di saksikanya.


“Benar-benar tak punya hati..!?” ucap Nathan dengan geram, dan menutup kedua mata Dani dengan telapak tanganya. Natham membalikan badan Dani seraya merengkuh ke dalam pelukanya. Air mata Dani terus saja mengalir, menetes di dada Nathan. Dada Nathan bergemuruh, seolah ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Dani.


“Nathan..!!?” Daniel mendorong tubuh Anyelir, hingga menyingkir dari atas tubuhnya. Daniel marah, melihat Dani di peluk oleh Nathan seperti itu.

__ADS_1


“Sebaiknya kita pergi dari sini non, mata non terlalu suci untuk melihat adegan itu, dan tempat ini gak pantas non Dani pijak, sangat kotor, begitu juga dengan kedua orang yang tengah berada di atas ranjang itu..” Dani tak dapat berkata apa-apa. Ia begitu syock. Nathan membimbing majikan mudanya keluar dari kamar itu, menuju mobilnya kembali. Orang-orang yang berpapasan dengan Dani dan Nathan, heran melihatnya, dalam benak mereka timbul beribu pertanyaan.


BERSAMBUNG


__ADS_2