
Cinta. Lima huruf yang di rangkai menjadi satu kata dan akan mempunyai sejuta makna, bagi siapa saja yang di hampirinya. Hidup akan lebih berwarna bilamana ada cinta di dalamnya. Cinta kepada keluarga, cinta kepada pasangan dan cinta kepada sesama. Semuanya berhubungan dengan cinta. Bayangkan saja jika hidup kita tanpa cinta. Rasanya pasti hambar, bagai pohon tak berbunga.
Andaikan saja nenek tau, bagaimana sikap Daniel kepada Dani, pasti nenek tidak akan menerima lamaran tuan Wijaya dan tidak akan menyerahkan Dani kepada laki-laki itu. Tapi Dani ikhlas, semua demi nenek. Dani tak sanggup bila nenek bersedih.
“Dani sayang, karena sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Sekali lagi, selamat buat cucu nenek yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri..” ucap nenek Eliza yang memeluk Dani.
“Iya, Dani akan istirahat, nenek juga istirahat yach..?”
Perlahan Dani melangkah menuju kamarnya. Terasa berat. Rasanya ia ingin menolak lamaran tadi. Tapi melihat wajah neneknya yang berbinar, Dani menciut dan mengurungkan niatnya.
“Haaahhhhh...!!” Dani menghela nafas berat. Ia masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan sembarang posisi. Ia telentang dan menatap langit-langit kamarnya.
Kenapa aku tadi gak minta nomor si sombong itu, ahhh...bodoh banget sih..? Eh.., nggak penting juga kali, ngapain aku minta nomor telefon dia, nggak banget...hhuuffftt.
“Aduuuuhhh, kepalaku malah jadi pusing sendiri. Pergi dari fikiran aku..!” Dani mengacak rambutnya sendiri. Bayangan Daniel yang begitu sombong, memenuhi benaknya, hal itu membuat Dani menjadi kesal.
Akhirnya, Dani pun tertidur juga setelah pusing memikirkan persoalan tadi. Begitu berat jika ia pikirkan, namun mau bagaimana lagi, kini ia hanya pasrah. Di mana akan tiba masanya ia akan menjadi nyonya Daniel.
***
Pagi kembali menyapa. Dani masih bermalas-malasan di tempat tidur. Namun teringat akan tokonya, ia segera pergi ke kamar mandi, sekedar cuci muka dan gosok gigi, lalu menuju dapur.
“Pagi nenek, bibi...?” sapa Dani yang ikut membantu kerjaan di dapur.
“Ehhh, calon pengantin jangan capek-capek. Sebaiknya duduk aja. Biar nenek dan bi Inah yang siapain sarapan..”
“Calon pengantin? Ihh.., nenek biasa aja deh, jangan lebay ah...” Canda Dani dan di balas senyuman oleh nenek Eliza.
Sinar matahari pagi itu begitu hangat, sehangat suasana yang tercipta di ruang dapur itu. Setelah selesai menyiapkan hidangan, nenek Eliza dan Dani segera sarapan.
“Dani, nenek bahagia sekali, tak terasa sebentar lagi kamu mau ninggalin nenek..”
“Nenek, Dani nggak akan kemana-keman kok, Dani akan tetap di sini setelah menikah dan menemani nenek..”
__ADS_1
“Looh, nggak boleh begitu. Setelah menikah, kamu harus ikut suamimu, karena gadis yang sudah menikah adalah hak dan tanggung jawab suaminya, jangan membantah apa pun perintahnya, nenek harap kamu jadi istri yang membanggakan bagi suami kamu, jadilah istri yang penurut, selama perintah dan perkataan suami kamu benar, Cucuku..”
Mendengar penuturan neneknya, Dani merasa tidak enak. Pengenya ia tinggal di rumah neneknya, namun saran nenek lebih membuatnya tertekan.
“Ya sudah, nenek duluan ke toko, kamu mandi sana gih, kalau badan kamu masih nggak enak, sebaiknya rebahan di rumah, biar nenek dan mbak Risa saja yang mengurus toko..” Sambil mengusap kepala Dani dengan penuh kasih sayang.
Setelah kepergian nenek, Dani kembali ke kamarnya untuk segera mandi.
**
“Waahhh besar juga rumahnya..” gumam Nathan yang menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Daniel. Ia turun dari motor dan menuju pos jaga.
Teng teng teng
Bunyi pintu pagar yang di ketuk Nathan segera mendapat respon dari pak satpam.
“Selamat siang, mau cari siapa..?” ucap pak Satpam tegas.
“Mas Danielnya ada? Saya sudah buat janji denganya..”
“Silahkan masuk..”
Dengan sendirinya pintu gerbang terbuka. Karena rumah Daniel selain modern, juga menggunakan peralatan yang canggih.
Nathan segera masuk dengan menaiki motornya. Di depan pintu, ia di sambut oleh seorang laki-laki, yang umurnya hampir sama denganya. Dia salah seorang penjaga di rumah Daniel.
Nathan di persilahkan duduk di ruang tamu dan menunggu sebentar. Tak lama, munculah laki-laki dengan pakaian rapi dan ia sangat mengenal orang itu. Dialah Daniel.
“Welcome to my home, Nathan..” Sambil menjabat tangan Nathan.
“Baiklah, kita langsung saja. Dion, kemarilah....!” Laki-laki yang mempersilahkan Nathan masuk tadi rupanya namanya Dion. Salah satu penjaga di rumah Nathan.
Dion mengerti dan segera menjelaskan tugas Nathan.
__ADS_1
“Salah satu tugas kamu adalah selalu mengikuti kemana mas Daniel pergi atau dengan kata lain menjaganya dan bla bla bla...” Dion dengan gamblang dan jelas menjelaskan semua, termasuk gaji yang akan di terima oleh Nathan.
Namun sebelum Nathan benar-benar resmi bekerja, ia terlebih dahulu harus di uji. Yaitu ujian bela diri yang di lakukan oleh Dion dan salah satu penjaga lainya bernama Antoni.
Nathan mengikuti Dion yang membawanya ke sebuah area, tempat para penjaga rumah Daniel sering melakukan aktifitas melatih beladiri mereka. Tak ketinggalan, Daniel ikut menyaksikan juga.
Dion segera menyuruh Nathan menyerangnya. Dan dengan gesit Dion menangkis serangan Nathan. Namun pada satu kesempatan, Nathan dapat melumpuhkan Dion. Begitu juga dengan Antoni. Ia dapat di kalahkan oleh Nathan.
Tepuk tangan dari Daniel untuk Nathan sebagai tanda selamat terdengar. Ia melangkah menuju area di mana Nathan mengalahkan dua penjaganya.
“Selamat Nathan...” ucap Daniel yang mengulurkan tangan. Nathan pun menyambut uluran tangan Daniel. Namun apa yang terjadi. Saat Nathan lengah dan sudah menjabat tangan, dengan gesit Daniel menyerang Nathan. Tapi dasar seorang Nathan, ia selangkah lebih gesit memahami situasi. Dan untuk ketiga kalinya Nathan mengalahakan lawanya.
“Dari pertama aku yakin, kamulah orang yang tepat untuk menjadi pengawal saya Nathan, sekali lagi selamat..” ucap Daniel menjabat tangan Nathan lalu merangkulnya.
Hari itu juga, Nathan mulai bekerja kepada Daniel. Dengan berpakaian jas lengkap ia tampak gagah mendampingi Daniel ke manapun ia pergi. Terpaksa ia menerima dan melakukan pekerjaan itu, karena ia juga butuh biaya hidup.
Hari berganti hari. Seolah waktu akan berlari. Tak terasa tinggal menghitung hari buat Daniel dan Dani untuk melaksanakan acara pernikahan dan melangsungkan pesta resepsinya.
3 hari sebelum hari H
“Daniel, hari ini kamu jemput Dani untuk fitting baju pengantin...” ucap tuan Wijaya di telefon.
“Hari ini?”
“Kamu jemput dia sekarang..”
“Baiklah...”
Daniel segera pergi menuruti perintah papanya dengan di temani Nathan sebagai supirnya.
“Males banget dengan pernikahan ini. Rasanya tak sabar lagi mau menikahi gadis bodoh itu, lalu mencampakan dia di rumah kaca..”
“Kalau dari awal gak berniat, kenapa mas Daniel terus melanjutkanya..?” tanya Nathan sambil melihat Daniel dari kaca spion mobil.
__ADS_1
“Itu dia Than, papa mengancam akan mencoret aku adari daftar ahli waris jika tak menuruti perintahnya, karena kelicikan gadis itu yang pandai mengambil hati papa saya..” jelas Daniel kesal.
BERSAMBUNG