
Dani menyodorkan masing-masing satu omelet kepada bibi dan Nathan.
“Waah, dari baunya sudah kelihatan kalau omelet non Dani enak...”
“Ah yang bener Nathan? Kamu nggak lagi menghibur aku kan..? Tadi aja tuan kamu bilang nggak enak..”
“Nih lihat non, saya makan ya..??”
Dani tersenyum melihat Nathan dengan lahap menyantap omelet buatanya.
“Ehhmmmm, top deh. Omelet non Dani juara..” ucap Nathan yang mengunyah sambil mengacungkan jempolnya kepada Dani.
“Kok bisa seenak ini ya? Dari mana non belajar...?”
“Emmm, bibi, kedua orang tua dan nenek Dani kan punya toko roti bi, dan sekaligus ada koki yang khusus membuat roti sendiri di toko Dani, jadi sedikit-sedikit Dani tau resep membuat aneka roti ataupun omelet..”
“Oh begitu ya, Non? Kapan-kapan mau dong bibi di ajak ke toko roti non..”
“Tenang saja bi, nanti ikut Dani saja, Dani mau berkunjung ke rumah nenek..”
“Tapi, apakah mas Daniel mengijinkanya, Non..?”
“Bibi tenang saja, nanti biar Dani yang ngomong sama mas Daniel..”
“Terima kasih non Dani..?”
“Sama-sama bibi..” ucap Dani yang tersenyum lebar kepada bibi dan bergantian tersenyum kepada Nathan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, mau mandi bi, badan Dani udah bau acem..”
“Silakan, Non..?”
Dani melangkah meninggalkan meja makan. Langkahnya begitu ringan, menuju kamar di mana Daniel dan Anyelir berada di dalamnya.
“Nathan seneng bi, melihat non Dani bisa tertawa seperti tadi.”
“Sama Nathan, bibi juga merasakan hal yang sama..”
Tok tok tok
Dani mengetuk pintu kamar Daniel.
“Masuk..” sahut Daniel dari dalam.
Perlahan Dani membuka gagang pintu tersebut, dan melangkah masuk. Di lihatnya Daniel tengah duduk dan Anyelir di pangkuanya.
Kamu kuat Dani, kamu bisa. Buat Daniel bertekuk lutut dan menyesal suatu hari nanti.
“Mas, Dani mau minta ijin, hari ini Dani mau ke rumah nenek, Dani kangen sama beliau, boleh..?” ucap Dani dengan kuat hati.
__ADS_1
“Pergi saja. Aku nggak peduli kamu mau pergi ke mana.”
Dasar....
Umpat Dani dalam hati.
“Eits, tunggu dulu..! Sini kamu..!”
Daniel menyuruh Dani mendekatinya.
“Bentar, aku akan kasih ijin kamu ke rumah nenek kamu, asalkan kamu pindah kamar ke kamar yang kamu tempati tadi, bagaimana? Apa kamu setuju...?” Dani diam dan berfikir sebentar.
Gak papa, mengalah bukan berarti kalah, sekarang mas Daniel boleh tertawa, tersenyum bahagia bersama dia, tapi lihatlah nanti kekuatan Dani, yang akan merubah semua yang mas lakukan ke Dani saat ini..
“Baiklah, nggak masalah..” jawab Dani tersenyum sinis.
Daniel heran, bukanya protes atau marah, Dani malah menerima persyaratanya. Dani segera mengemasi barangnya.
“Saya permisi mas...”
Daniel tak menjawab.
“Berarti aku boleh dong tinggal di kamar ini?” ucap Anyelir dengan kedua tangan memegang lembut wajah Daniel dan menghujaninya dengan kecupan kecil nan lembut.
“Tentu sayang. Sekarang kamar ini boleh kamu tempati sesuka hati kamu, cuuppp”
Dua manusia tak berhati itu dengan senyum puas memandang kepergian Dani keluar dari kamar tersebut. Ia membawa semua pakaianya ke kamar di mana tadi malam ia tidur dengan nyenyaknya.
“Saya pindah kamar bi...”
Bibi heran mendengar penjelasan nona mudanya.
“Pindah? Kenapa, non...?” Bibi semakin ingin tau.
“Sudah bi, gak papa, bibi jangan bertanya lagi ya? Dani malah seneng, bisa dekat dengan bibi dan bisa ngobrol ini itu bersama bibi..”
“Ye elah non, harusnya non Dani tegas dong, non Anyelir kan bukan istri mas Daniel, kenapa malah dengan leluasa berkeliaran di rumah ini? Non istri sah mas Daniel...”
“Memang bi, itu benar, tapi cinta mas Daniel hanya untuk Anyelir, saya hanyalah istri bayangan saja. Lagian, dia kekasih mas Daniel dan itu sudah terjadi jauh sebelum Dani di jodohkan sama mas Daniel. Di sini Dani yang hadir di tengah-tengah mereka.” Dani berkata dengan wajah yang murung.
“Bibi jadi ikut nggak ke rumah nenek Dani?” imbuh Dani kemudian.
“Maaf non, lain kali saja ya? Bibi janji pasti akan ke sana kapan-kapan. Sekarang kerjaan bibi banyak banget non...”
“Iya bi, nggak papa..”
“Non pergi sama siapa?” tanya bibi lagi.
“Sendirian, bi..”
__ADS_1
“Oh, hati-hati ya non kalau berangkat..?”
“Iya, bi..”
Dani bergegas mandi. Ia menggunakan kamar mandi yang juga selalu di gunakan bi Marta untuk mandi. Entah apa yang di pikirkan dan di rencanakan gadis itu. Ia menyetujui pindah kamar dengan rela tanpa melakukan perlawanan apa pun. Selesai mandi dan bersiap, Dani segera berangkat naik taksi. Karna tadi ia sudah pamit kepada Daniel, ia tak lagi mengulangi pamit kepadanya.
Taksi yang membawa Dani terus melaju menyusuri padatnya jalan raya. Beberapa lampu merah telah ia lalui dan akhirnya taksi berhenti tepat di depan toko rotinya.
Dani turun dengan wajah berseri dan bersemangat sekali saat memasuki toko.
“Non Dani??” pekik Risa yang melihat Dani memasuki toko tersebut.
“Mab Risa..?” sahut Dani lalu keduanya saling menghambur untuk kemudian berpelukan.
“Kangen banget deh sama non Dani, gimana kabarnya, Non..?” tanya Risa setelah melepas pelukanya dari Dani.
“Seperti yang mbak Risa lihat, Dani sehat tak kekurangan suatu apa pun.” ucap Dani yang sempurna sekali menutupi semuanya.
“Nenek di mana, mbak..?” tanya Dani.
“Kenapa yang di peluk Risa duluan...?” ucapan nenek membuat Dani terkejut, dan serta merta Dani berjalan ke arah nenek yang sudah berdiri di belakangnya.
“Nenek...?? Dani kangen...?”
Dani memeluk nenek Eliza. Saking kangenya, Dani sampai menangis.
“Nenek juga kangen kok sama cucu nenek yang paling cantik ini..”
“Hiks....hiks...hiks...” Dani terisak di pelukan neneknya. Setelah mereka puas kangen-kangenan dan saling bercengkerama, Dani dan nenek Eliza ngobrol di ruangan tempat untuk nenek Eliza selalu beristirahat.
“Mana suami kamu sayang? Kenapa sendirian...?” tanya nenek Eliza yang tak melihat Daniel mengantarkan Dani.
“Maaf nek, mas Daniel ada rapat penting, jadi dia tak bisa mengantar Dani ke sini..?” jelas Dani dengan bohong.
“Oo..begitu rupanya. Baiklah, nenek mengerti. Pesan nenek, jadilah istri yang baik ya sayang, apa pun perintah suami kamu, jangan membantahnya, selagi ia berada di jalan yang benar..”
“Iya nek, Dani akan selalu ingat nasehat nenek...”
“Nenek, bolehkah Dani menginap di rumah nenek semalam saja..?” ucap Dani penuh harap. Namun jawaban nenek di luar dugaan Dani.
“Sayang, kamu boleh nginep kok, tapi saat kamu bersama suami kamu. Kalau kamu sendirian begini, nenek tak mengijinkan, kamu harus pulang ke rumah suami kamu..”
“Tapi nek, Dani masih kangen sama nenek..?”
“Nenek tau sayang, kalau kamu masih kangen, besok-besok kamu bisa nengokin nenek bersama suami kok, dan kalian bisa nginep, Dani mengerti..?”
Dani mengangguk mengerti. Namun di hatinya ia memendam kesedihan, tapi tak ingin ia perlihatkan kepada neneknya. Hari itu, Dani memuaskan diri melepas kangen dengan nenek, mbak Risa, dan semua karyawan toko rotinya. Tak terasa hari sudah menjelang sore.
“Nenek, Dani pamit pulang dulu, jaga kesehatan nenek yach, jangan sampai sakit..?”
__ADS_1
“Iya sayang. Dani juga begitu ya, rukun selalu sama suami, nenek doain semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek dan nenek...”
BERSAMBUNG