
Daniel mengejar Dani ke kamar. Dengan penuh emosi, ia mendekati Dani yang tengah duduk di depan meja riasnya. Semakin geram saja ia melihat Dani.
“Hai gadis matre..!!? Jangan sok polos..!! Aku tau, ada niat tersembunyi di balik sifat sok polosmu itu..!!” ucap Daniel
Daniel masih belum reda emosinya. Dengan gusar ia luapkan semuanya kepada Dani. Daniel berdiri dengan kedua tangan ia letakan di atas meja rias itu, dengan kedua mata menatap tajam ke arah Dani.
“Sekarang papa sudah tau, apa gunanya kamu bertahan..!”
Mendengar ucapan suaminya, Dani menoleh ke arahnya. Membalas tatapan matanya yang menyeramkan itu.
“Aku akan ber...ta...han..!! Mas Daniel dengar itu?”
“Silakan saja. Bila kamu sudah siap dengan semua perlakuan yang akan kamu terima. Yang jelas, aku tidak akan mencintai kamu dan sampai kapan pun walau dunia akan kiamat, aku tidak akan pernah menyukai kamu!! Camkan itu...!!”
Daniel berbicara dengan melotot, kemudian meninggalkan Dani. Dengan langkah cepat, ia keluar kamar dan menyambar jaket kulit miliknya. Entah lelaki itu mau pergi kemana. Dani hanya diam. Lidahnya serasa kelu. Otaknya campur aduk berisi sejuta kata-kata yang sulit untuk ia lampiaskan. Hanya menahan. Itulah saat ini yang di lakukan olehnya.
***
“Aaaggghhhh...., satu botol bir lagi...” ucap Daniel yang rupanya pergi ke bar. Di sana ia tumpahkan semuanya, dengan minum minuman yang memabukan.
“Sudah Daniel, kamu sudah mabuk berat..” kata Ega teman Daniel.
“Gua belum mabuk, aagghhh...” Racau Daniel yang sudah mabuk berat.
“Hallo, Anye.., lu datang kemari, tuh si Daniel mabuk berat..” kata Felix yang langsung menghubungi Anyelir.
“Di mana?” tanya Anyelir yang menyambungkan telefonya.
Felix pun memberikan alamat, dan Anyelir segera meluncur ke tempat Daniel berada. Ia sudah terkapar dan tak sanggup mengangkat kepalanya yang ia rebahkan di meja bar tersebut.
Tak berapa lama, Anyelir datang.
“Terima kasih semua telah menjaga Daniel, saya akan bawa pulang dia sekarang..” ucap Anyelir yang memapah Daniel di bantu Ega menuju taksi yang tadi mengantar Anyelir.
“Bagaimana dengan mobil Daniel...?” tanya Ega setelah Anyelir berada di dalam taksi.
“Bawa saja dulu, besok biar mas Daniel ambil di tempat kamu..” Jelas Anyelir dan Ega pun mengangguk mengerti.
“Hati-hati yach...?” ucap Ega usai Anyelir masuk ke dalam taksi. Anyelir tersenyum lalu taksi pun segera meluncur meninggalkan bar tersebut.
“Jangan pergi dari sisiku, Anye...” Racau Daniel yang memeluk Anyelir dengan erat. Bau alkohol tercium dari mulut Daniel.
“Uuugghhh...!! Bau sekali sih mas...” ucap Anyelir yang menutup hidungnya.
__ADS_1
Anyelir mengantarkan Daniel pulang ke rumahnya. Taksi yang ia tumpangi berhenti tepat di depan rumah Daniel. Nathan yang di telfon oleh Anye, segera keluar membukakan pintu gerbang untuk tuanya.
Dengan segera ia membantu Anyelir yang susah payah memapah tubuh Daniel yang terasa berat. Mereka membawanya masuk ke rumah.
“Kenapa dengan mas Daniel..?” tanya Dani yang kebetulan keluar kamar dan melihat mereka masuk saat akan menuju dapur.
“Mas Daniel mabuk..” jawab Anyelir. Nathan dan Anyelir membawa Daniel ke kamar, Dani mengikutinya. Tubuh Daniel kini sudah terbaring di ranjang.
“Jangan pergi...!” kata Daniel saat Anyelir akan melangkah pergi. Tangan Daniel begitu erat menggenggam tanganya.
Dani terpaku, melihat kelakuan suaminya. Ia pun membalikan badan tanpa sepatah kata pun.
“Non Dani...?” Panggil Nathan mengikuti Dani yang keluar dari kamar. Sementara Anyelir, dengan pelan melepas satu persatu baju Daniel untuk menggantinya. Anyelir melihat tubuh Daniel yang begitu atletis, sehingga naluri kewanitaanya muncul.
Bukanya segera mengganti, dengan bernafsu sekali ia mencumbui Daniel, sehingga membuat suami Dani itu kembali kalap, dan terjadilah adegan mesum kembali. Hubungan yang harusnya di lakukan pasangan yang sudah menikah, mereka lakukan berulang kali. Tanpa memikirkan perasan Dani sedikit pun. Mereka pun tertidur setelah kelelahan. Dalam keadaan mabuk pun, Daniel melakukan perbuatan itu dengan sangat sempurna. Membuat Anyelir sampai merem melek di buatnya.
Dani terlihat pergi ke taman samping. Ia duduk di bibir kolam. Mendekap kedua lututnya. Nathan yang mengikutinya dari belakang, tak tega melihat gadis itu.
Kenapa tak kau sudahi saja pernikahan yang seperti neraka ini?
Perlahan Nathan melangkah mendekati majikan mudanya itu.
“Bagus ya bintang malam ini?” ucap Nathan yang ikut duduk di samping Dani.
“Tidak bagus berbuat seolah-olah non merasa kuat dan tegar..” Dani menunduk mendengar ucapan Nathan.
“Menangislah non, jika itu membuat hati non merasa lega. Jika non malu karena ada saya, saya tak akan melihatnya, saya akan memejamkan mata..”
“Bolehkan aku pinjam punggung kamu?”
“Boleh non..”
Segera Natha membalikan badanya. Dani menyandarkan tangan sebagai alas kepala di punggung Nathan. Ia menumpahkan semua yang membuat dadanya serasa sesak. Isak tangis mulai terdengar. Hati Nathan merasakan perih ketika mendengar majikan mudanya menangis. Namun untuk saat ini ia hanya bisa meminjamkan punggungnya, sebagai sandaran kepala Dani. Kejadian itu tak berlangsung lama.
“Nathan terima kasih..” ucap Dani yang sudah berhenti dari menangisnya lalu mengusap air matanya.
“Mau jalan-jalan malam bersama saya?”
Dani menoleh heran ke arah Nathan.
“Non Dani belum pernah kan jalan-jalan menghirup udara segar di malam hari...?” Dani menggelengkan kepalanya.
“Mari Non, wajib di coba....?” ucap Nathan yang kini berdiri. Dani pun mengikutinya berdiri.
__ADS_1
Kini berdua mereka keluar dari rumah tersebut. Menyusuri jalan yang agak lengang malam itu. Udara malam yang dingin dan tidak banyak polusi, karena hanya sedikit mobil yang lalu lalang di malam hari.
“Aahhhh....” ucap Dani lirih.
“'Benar kan non, ucapan saya..?” seru Nathan menoleh ke arah Dani.
“He'em. Makasi Nathan, beban fikiranku sedikit berkurang..”
“Non Dani sangat tertekan ya..? Jangan di paksakan non, jika hati non tidak bahagia..”
“Aku hanya memikirkan nenek. Beliau begitu bahagia melihatku menikah dan menjadi istri Daniel yang menurutnya baik..”
“Tapi apa kenyataanya? Non di perlakukan begini kan?”
“Iya Nathan. Tapi entah mengapa, aku ingin memberi pelajaran sama dia. Biar dia tau apa arti cinta yang sebenarnya. Tau bagaimana rasanya kehilangan..”
“Nathan selalu di samping non Dani kok. Kita berteman?” ucap Nathan yang menunjukan jari kelingkingnya di hadapan Dani. Tersenyum Dani melihatnya.
“Teman...” jawab Dani seraya menyambut kelingking Nathan, lalu keduanya saling mengaitkan. Senyum Dani malam itu begitu manis menurut Nathan.
Kenapa jantungku jadi berdebar-debar begini? Tuhan, apakah aku telaaaahh....
Nathan segera melepaskan kelingkingnya. Ia tidak tahu dengan apa yang di rasanya saat ini.
“Maaf non Dani kalau saya telah lancang..”
“Tidak Nathan, karena sekarang kita berteman, aku tidak akan pernah marah sama teman aku..” jawab Dani sambil tersenyum.
Nathan tersenyum. Hatinya begitu bahagia melihat majikan mudanya bisa tersenyum seperti itu.
“Mau makan..?” tanya Nathan.
“Makan apa malam-malam gini..?”
“Udaah, non ikut saja. Mari...?” Dani berjalan mengikuti Nathan. Langkah Nathan berhenti di warung tenda yang menjual makanan seafood di pinggir jalan.
“Kamu sering ke sini?” tanya Dani yang melihat suasana di warung tersebut.
“Sering non, dulu waktu belum bekerja sama mas Daniel...”
“Oohhh...” Dani membulatkan bibirnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1