
“Aku kenapa, Nath...?” ucap Dani dengan bibir agak gemetar. Tanpa menjawab, Nathan mendelatkan bibirnya di kening Dani.
Cuuppppp
Sebuah kecupan mendarat di kening Dani. Kali ini Nathan tidak bisa menahanya lagi. Ia melayangkan kecupan manisnya di kening wanita yang sangat ia cintai itu. Karena dalam hidup Nathan sekarang, Dani adalah tujuanya.
“Kamu nggak papa Rani sayang, hanyaaa....” ucap Nathan berhenti, lalu kembali tersenyum kepada gadisnya.
“Akuu..., kenapa Nathan...?” tanya Dani yang penasaran akan keadaan dirinya sendiri.
“Kamu hanya lapar, dan sebab itu, kamu menjadi lemas....” jawab Nathan yang kini menyentuh bibir Dani dengan jari telunjuknya.
“Nathan, ini di rumah sakit, malu kalau ada orang yang melihatnya...”
“Biarkan saja. Aku ngak peduli. Saat ini, esok lusa dan seterusnya, aku hanya akan memikirkan kamu, perasaan kamu, dan semua yang berhubungan dengan kamu. Aku nggak peduli dengan orang lain, ingat itu...” kilah Nathan membuat Dani tersenyum bahagia.
“Iya, aku percaya...”
“Sekarang, aku mau keluar sebentar, mau beliin kamu sesuatu, kamu sendiri di sini dulu nggak papa kan...?” tanya Nathan.
“Jangan khawatir Nath, aku yang akan menjaga kak Dani selama kamu keluar sebentar...” Nathan dan juga Dani bebarengan menoleh ke asal suara. Rupanya Evan telah berdiri di depan pintu. Ia tersenyum kepada Dani dan juga Nathan.
“Eh, mas Evan? Sungguh saya sangat berterimakasih sekali kalau mas Evan menjaga Dani sebentar...”
“Udah sana, buruan...” Evan berjalan menghampiri keduanya.
“Ya sudah, titip Dani dulu mas. Eh tapi mas Daniel siapa yang jaga....??” ujar Nathan yang belum melangkahkan kakinya.
“Tenang saja, ada Ken kok, dia balik lagi setelah anterin papa...”
“Baiklah kalau begitu...”
Nathan buru-buru berjalan keluar. Kini di dalam kamar tersebut hanya tinggal Dani dan Evan.
“Kak Dani mau ngapain...?”
“Mau senderan, Van..”
Evan segera membantu Dani bangun dari tidurnya dan kini senderan di di ranjang.
“Van, gimana mas Daniel, aku mau melihatnya...”
“Mas Daniel baik-baik saja kak Dani, jangan khawatir, sekarang fokus kepada diri kak Dani dulu, kakak juga sedang sakit, kak Daniel ada yang jaga kok, dan sekarang udah melewati masa kritis, tinggal menunggu penyembuhan saja. Kalau kondisinya tidak terlalu mengkhawatirkan kok...” jelas Evan.
“Syukurlah. Aku berhutang nyawa sama mas Daniel. Aku merasa bersalah jika terjadi sesuatu dengan mas Daniel, Van..”
“Udah kak Dani, jangan merasa bersalah. Semua ini sudah diatur sama yang di atas. Tau kalau kak Dani akan di culik, Evan akan kawal kalian berdua dengan bantuan polisi...” ucap Evan yang di tanggapi Dani dengan pelototan manja.
“Kamu ihhh...”
“Nah, balik lagi. Rencana Tuhan kan manusia ga ada yang tau. Jadi stop mengucapkan saya bersalah, andai saja dan apalah itu. Karena manusia tiada yang menduganya kan...?”
__ADS_1
“Iya iya, adik iparku ini pinter juga ceramah...” ucap Dani pelan. Keduanya berbincang sangat asik dan begitu hangat.
Di tempat lain, Nathan terlihat keluar dari minimarket dan di tanganya sudah ada dua kantong plastik berisi makanan ringan dan juga minuman.
“Juna....?” Panggil seseorang yang terdengar sangat tidak asing di telinganya. Nathan menoleh ke arah suara. Ia terkejut, dan spontan membalikan badanya.
“Mamaaa....?”
Seorang wanita yang belum begitu tua, tampak berjalan anggun ke arahnya. Ia baru saja turun dari mobil mewah yang di kemudikan oleh seorang sopir.
“Kok ma..mama ada di sini..?” tanya Nathan agak kaget dan juga gugup.
“Kebetulan tadi mama lewat nak, dan tak sengaja lihat kamu. Terus mama nyuruh pak sopir berhenti untuk memastikan apakah benar itu kamu, dan ternyata benar...”
“Mamaaa....” ucap Nathan yang memeluk mamanya setelah meletakan tas belanjaanya. Keduanya saling berpelukan karena rindu.
“Kapan kamu pulang Nak, mama sama papa udah kangen banget sama kamu...”
“Juna bentar lagi akan pulang kok mah, bawa calon mantu mama juga...”
“Apa.., Calon mantu mama? Benarkah..?” Kedua mata Nyonya Carrington berbinar, karena anaknya rupanya sudah mempunyai tambatan hati.
“Secepatnya saja kamu bawa calon mantu mama. Papa pasti sangat senang jika kamu pulang membawanya. Mama juga sudah ingin mendapatkan cucu penerus keluarga Carrington...”
“Iya ma, sabar. Orangnya lagi sakit..”
“Sakit..? Sakit apa..? Boleh nggak mama menjenguknya..?” Pinta Nyonya Carrington.
“Heemm baiklah jika itu yang kamu mau. Ini nih yang mama suka dari kamu nak. Tapi secepatnya bawa pulang yach..”
“Oke mah, sekarang mama pulang dulu, Juna mau bawain makanan buat calon nyonya Juna, soalnya belum makan apapun.”
“Belum makan..? Kamu ya, gak bisa jaga calon mantu mama. Awas ya kalau sampai terjadi apa-apa sama dia, mama jewer kamu...” kilah nyonya Carrington dengan sayang kepada putra sulungnya.
“Iya ma, iya. Don't worry, hehe...”
“Ya udah, cepetan sana bawa makananya ke calon mantu mama. Oh iya, kalau boleh tau namanya siapa, Jun..?”
“Masih rahasia ah, tar nggak jadi kejutan donk, hehe...”
“Hemmm, main rahasia-rahasiaan sama mama ya, oke deh..”
Setelah puas ngobrol dan melepas kangen, walau hanya sebentar, Nathan pamit kembali ke rumah sakit. Sebelum ia sampai, ia menyempatkan membelikan Dani bubur untuk mengisi perutnya yang kosong.
“Juna Juna, akhirnya kamu di takhlukan oleh seorang gadis. Mama jadi penasaran, gadis mana yang sudah berhasil membuat hati kamu jadi luluh Jun..”
Di dalam mobil, nyonya Carrington terus saja bergumam sendiri. Sesekali ia tersenyum. Menampakan suasana hatinya yang bahagia, karena sebentar lagi anak kesayanganya akan kembali pulang dan sekaligus membawa calon mantunya. Rasanya ia tak sabar untuk sampai ke rumah, untuk memberitahu suaminya, Felix Carrington.
Agak lama juga Dani dan Evan ngobrol. Tak lama berselang, Nathan kembali sambil membawa dua kantong plastik berisi makanan.
“Lama nunggunya yaach..?” seru Nathan begitu ia masuk ke kamar rawat Dani.
__ADS_1
“Lumayan Nath, kamu nyasar apa...?” Canda Evan yang membuat Nathan menahan tawa.
“Tadi jumpa dengan kerabat, terus ngobrol bentar...” Nathan berbohong.
“Hmmm, karena Nathan udah kembali, Evan pamit ke kamar kak Daniel dulu kak Dani..”
“Iya Van, makasi udah nemenin...”
“Mas Evan, makasi banyak. Oh iya, ini sekedar buat mengisi perut saja...” Evan memberikan satu buah kantong plastik kepada Evan, yang tentunya berisi makanan serta minuman ringan.
“Oh makasi Nath, repot-repot saja..”
“Ah enggak kok mas, cuma makanan kecil..”
Setelah menerimanya, Evan segera buru-buru kembali ke ruang rawat Daniel. Kini tinggal Dani dan Nathan.
“Ayo sekarang my princess makan dulu, dari kemarin belum keisi kan perutnya..” Ucapan lembut Nathan begitu menyejukan hati Dani. Gadis itu tersenyum sambil mengangguk. Ia tetap bersandar. Sedangkan Nathan segera membuka kotak yang berisi bubur dan segera memposisikan dirinya duduk di kursi tepat di sebelah Dani.
“Sini buburnya...” ucap Dani meminta buburnya.
“Nggak boleh. Hari ini, aku akan suapin kamu. Kamu nggak boleh membantah, karena aku akan marah...”
“Tapi Nath, kalau ada orang atau suster datang kan malu...?” sergah Dani membantah.
“Biarin aja, aku ngak malu kok, justru aku bangga, dan semua orang biar tau, kamu milik aku..”
Dani tersipu malu di buatnya. Segala ucapan dan tindakan Nathan benar-benar membuatnya bak seperti putri raja. Sesendok demi sesendok bubur itu masuk ke mulut Dani dan membuat perutnya kenyang.
“Minum dulu sayang...” Nathan membuka tutup botol mineral dan memberikanya kepada Dani. Lagi-lagi dani terpesona di buatnya.
“Nathan, ter....”
“Ssssstttt...!! Aku nggak mau kamu panggil aku dengan sebutan nama ya..!” ucap nathan dengan telunjuk di bibir Dani.
“Terus aku panggilnya apa dong...”
“Ayaaang...!!”
“Iihhh malu ih...!!” jawab Dani dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Nathan tersenyum seraya membuka tangan yang menutupi wajah kekasihnya.
“Kenapa malu sayang, toh nanti kamu akan terbiasa dengan panggilan itu...”
“I...i..iya. A...ayangg..”
“Apa...? Kamu panggil apa barusan, aku nggak denger...” Nathan menggoda Dani dengan pura-pura tak mendengar apa yang di ucapkanya barusan.
“Ayang ihhhh....”
Cuuuuppppp
BERSAMBUNG
__ADS_1