Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 42


__ADS_3

Daniel benar-benar sudah keterlaluan. Ia tak punya hati sama sekali. Sedikit pun ia tak menanyakan apa yang terjadi kepada istrinya hingga ia sampai berjalan tertatih seperti itu. Sungguh suami yang benar-benar jahat.


Kau kenapa?


Kata itulah yang saat ini ingin ia dengar dari mulut suaminya. Namun ia sadar, itu tak akan pernah di katakanya. Karena sedikitpun Dani tak pernah menaruh rasa kepadanya. Ibarat pepatah, bagaikan pungguk merindukan bulan.


Dani mencoba sekuat tenaga, menahan sesak di dadanya. Di katakan bodoh, atau apalah, ia tak tak peduli. Ia hanya memikirkan kebahagiaan neneknya dan mencoba bersabar menjadi istri Daniel, dan bagaimana cara membalas semua perbuatan Daniel.


Selesai menyiapkan air untuk suaminya, Dani keluar dan seperti biasa, ia pamit terlebih dahulu kepada Daniel, untuk pergi ke kamarnya.


“Hehh..!! Kenapa kakimu?” tanya Daniel sebelum Dani keluar dari kamarnya.


Akhirnya kamu menanyakan itu, mas.


“Buat apa mas menanyakanya..?” Dani berdiri di tempatnya tanpa menoleh ke arah Daniel.


“Ah sudahlah, nggak penting juga. Udah sana keluar..!!”


Makian dan umpatan. Itulah setiap hari yang Dani terima dari Daniel. Entah sampai kapan ia akan bertahan. Dengan tertatih Dani berjalan keluar dari kamar itu, menuruni satu demi satu anak tangga menuju kamarnya yang ada di belakang.


Lelah yang teramat sangat ia rasakan, akibat insiden tadi, yang kalau difikir, penyebab dari semua itu adalah Daniel. Kalau saja ia tak meninggalkan Dani, tak mungkin kejadian naas itu menimpanya.


“Non, gak papa kan?” tanya bi Marta saat Dani melewati dapur.


“Engga papa kok bi, Dani permisi dulu bi, mau istrirahat..”


“Iya non, silahkan..”


Beruntung, di rumah itu Dani di kelilingi orang-orang baik, kecuali Daniel. Gadis itu memasuki kamar yang tidak semegah kamar Daniel. Perlahan mengganti baju, dan mengobati luka yang ada di leher dan betisnya.


“Perih sekali...” Keluh Dani saat ia membersihkanya. Setelah selesai, dan menutup lukanya dengan plaster luka, ia pun membaringkan tubuh lelahnya.


“Mama, papa, Dani kangen, tapi Dani nggak bisa bertemu dan merasakan kasih sayang kalian lagi. Dani lelah mah, lelah sekali...” gumam Dani lirih.


Tak terasa air mata Dani jatuh membasahi pipinya. Tanpa komando dan tanpa permisi mengalir begitu saja. Seiring dengan kesedihan hati yang ia rasakan dan ia pendam sendiri. Kini, ia terisak kecil.


Samar-samar, Nathan yang baru saja keluar dari kamarnya, mendengar isak tangis dari kamar Dani. Ia melihat situasi kanan dan kiri, tak ingin ada yang melihatnya, dan setelah di rasa aman, ia mendekati kamar Dani. Benar, rupanya gadis yang ia sukai tengah meluapkan kesedihanya di kamar itu. Lalu ia menyandarkan tubuhnya tepat di dinding kamar Dani


Apa yang harus aku lakukan, saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggui kamu di depan pintu kamarmu seperti ini. Kuatlah non Dani, kuatlah. Aku akan selalu ada untukmu.


Lama Nathan berdiri di depan kamar Dani. Selama itu pula, bi Marta tidak mengetahuinya, karena lelah ia sudah tertidur. Malam kian larut. Lama-kelamaan suara isak tangis Dani kian mereda dan perlahan mulai menghilang. Lega hati Nathan, setelah beberapa saat, dan memastikan Dani sudah tidur, ia masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Dan ia pun lelap dalam mimpi yang indah.

__ADS_1


***


Pagi pun kembali tiba. Saatnya kehidupan di muka bumi ini di mulai, dan penderitaan Dani akan kembali di laluinya.


Tingg tooong


Suara bel pintu pagi itu membuat bi Marta, wanita paruh baya itu menghentikan pekerjaanya, dan bergegas membuka pintu untuk sang tamu.


“Non Anyelir...?” ucap bi Marta.


“Danielnya ada, bi...?”


“A..ada non, masih tidur di kamarnya...”


“Baiklah, saya akan ke kamarnya. Permisi, bi..?”


Bi Marta bengong, belum juga ia menjawab, Anyelir sudah nyelonong masuk sendiri, dan berjalan ke kamar Daniel.


Cekleeekkk


Suara khas pintu yang terbuka, menandakan ada orang yang akan keluar atau masuk. Anyelir tersenyum, melihat kekasihnya yang tidur dengan bertelanjang dada. Timbul ide nakalnya untuk sekedar intermezo di pagi itu. Anyelir pelan-pelan mendekati Daniel. Di pandangnya wajah kekasihnya yang tampan itu dari jarak dekat.


“Kamu jail ya...?” ucap Daniel.


“Abisnya, kamu belum bangin sih? Aku kangen kamu yank.., cup cup cup..” tiga kecupan mendarat di bibir Danie, membuat naluri kelaki-lakianya bangkit pagi itu.


Baru saja Daniel akan memulai aksinya, Anyelir dengan spontan menahanya.


“Sayank, tahan dulu. Aku ke sini karena ada urusan penting sama kamu...?”


Daniel mengeryitkan dahi, dan menyipitkan kedua matanya.


“Urusan? Apa itu sayang? Tumben-tumbenan?” sahut Daniel yang kini melepaskan Anyelir dari dekapanya.


Anyelir berdiri, dan memposisiskan duduknya di kursi malas yang ada di ruangan Daniel. Sedangkan Daniel, beranjak dari tempat tidurnya, dan memakai kaus.


Anyelir berdiri lagi dan memeluk Daniel dari belakang.


“Sayang, aku butuh uang untuk membeli perlenkapan salon, biar lebiih lengkap dari salon lain sayang. Aku nggak mau, kalau salon aku sampai kalah saing...” Daniel tersenyum mendengar penjelasan Anyelir.


“Berapa yang kamu butuhkan, sayang?” kata Daniel yang membalikan badanya dan menghadap Anyelir.

__ADS_1


“Emmm, 30 juta, yank..?” Daniel melepaskan Anyelir, dan berjalan menuju meja yang terdapat dua laci. Ia menarik salah satunya yang berisi cek, dan menuliskan nominal di atas cek teesebut. Lalu memberikanya kepada Anyelir.


“Yannkk....?” Anyelir kaget dan membelalakan mata.


“Kenapa sayang..?”


“Sebanyak ini, yank?”


Anyelir melihat angka yang tertulis diatas cek tersebut sejumlah 50 juta. Angka yang jauh lebih besar dengan yang ia minta tadi.


“Itu belum seberapa. Untuk kamu, apapun dan berapa pun uang yang kamu minta, aku pasti akan berikan..”


“Ooohhh love u sayang...” ucap Anyelir yang kembali memeluk erat Daniel.


“Bentar yank, aku mau panggil gadis bodoh itu..”


“Mau ngapain, yank?” tanya Anyelir agak sewot.


“Cuma mau aku suruh siapin air hangat untuk mandi.” Anyelir manggut-manggut.


Daniel keluar dari kamar dan berdiri di ambang anak tangga seraya berteriak.


“Dani..!! Danii...!! Cepat kemari...!!” teriak Daniel gak ada sopan-sopanya.


Bi Marta yang mendengar teriakan majikanya, segera memanggil Dani ke kamarnya. Untung saja Dani sudah bangun, kalau tidak bisa mencak-mencak.


Tok tok tok


“Iya bik, kenapa..?”


“Non Dani, mas Daniel teriak-teriak tuh manggil non..”


“Iya bik, Dani denger kok, Dani ke sana dulu, bik..”


“Iya, non. Ehh, tunggu non, ada nenek lampir di kamarnya mas Daniel, non ati-ati..” Dani tersenyum serta mengangguk dan berjalan ke arah sumber suara.


“Kamu tuli ya..!! Di panggil berulang kali gak muncul-muncul..!! Cepat siapin air, aku mau mandi...!!” Bentak Daniel yang melihat Dani mulai berjalan menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar Daniel, ia melihat Anyelir tengah di peluk oleh suaminya begitu mesra. Ada secuil rasa sesak di dada Dani, melihat mereka seperti itu. Ia hanya bisa menahan semuanya.


Tunggu saja, saat-saat kalian akan merasakan seperti aku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2