Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 65


__ADS_3

Evan bersama Dani membawa Nathan ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Daniel pergi mendahului mereka pergi dari rumah tersebut. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Dani sangat terlihat khawatir akan keadaan Nathan. Membuat Evan terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Ah kenapa hatiku terus saja penasaran sih. Kak Dani.., kenapa aku terus saja ingin tau tentang kehidupan kamu. Kamu jangan gila Evan, di kakak ipar kamu..!!


Evan menghardik dirinya sendiri. Kini ia fokus menyetir. Tak berapa lama, sampailah mereka di rumah sakit. Evan segera meminta bantuan kepada suster, dan beberapa suster segera membawa Nathan ke ruang IGD. Dokter segera bertindak, dengan memeriksa dan memberikan pertolongan kepada Nathan.


Dani terduduk lemas di kursi di depan ruang IGD. Matanya masih sembab, basah oleh air mata yang menetes di pipinya. Evan tak tega melihat kondisi Dani. Ia melangkah menghampiri kakak iparnya.


“Semua akan baik-baik saja..” ucap Evan yang melepas jaketnya dan memakaikanya untuk menutupi lengan Dani yang terlihat, karena Daniel merobeknya tadi.


Dani mendongakan kepala. Menatap wajah Evan dengan wajah sedihnya. Sialnya, hati Evan ikut sedih di buatnya, melihat kakak iparnya sesedih itu.


“Van, terima kasih, kalau kamu nggak datang, entah apa yang akan di lakukan mas Daniel..” Evan tersenyum, lalu memberikan pelukan ketenangan kepada Dani.


“Kak Dani jangan khawatir, nanti Evan akan bicara kepada kak Daniel..” Sebenarnya Dani agak terkejut, karena Evan tanpa rasa canggung memeluknya. Namun ia segera menepis buruk sangkanya, mungkin ini rasa sayang adek kepada kakaknya.


Sebelum lebih jauh Dani menduga-duga, Evan berkata kepadanya.


“Jangan berfikir macam-macam kak Dani. Evan cuma ingin kak Dani tenang dan tidak sedih lagi..”


Haduh, kenapa dengan ku? Kenapa tiba-tiba saja langsung memeluk kak Dani. Oh Evan, betapa cerobohnya kamu..!! Semoga saja kak Dani tidak berpikir yang buruk tentangku.


Evan segera melepas pelukanya, karena tak ingin Dani tahu kalau detak jantungnya kini berdegup semakin kencang dan sedikit salah tingkah.


Tak berapa lama, dokter keluar dari ruang IGD. Dani segera menghampirinya.


“Dok, bagaimana keadaan pasien yang berada di dalam? Gak papa kan dok..?” Cecar Dani yang sangat mencemaskan Nathan.


“Nona tenang saja, pasien baik-baik saja, sebentar lagi akan siuman dan akan di pindahkan ke kamar rawat inap..” Dani bernafas lega.


“Terima kasih banyak, dokter...”


“Sama-sama, mari...?” Dokter itu tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Dani dan juga Evan. Sesaat kemudian, Nathan yang belum sadar, di bawa oleh dua orang suster keluar dari kamar IGD menuju kamar rawat pasien. Tanpa bertanya, Dani dan Evan mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Kedua suster itu memasuki sebuah kamar rawat sesuai permintaan Dani. Ruang rawat kelas 1. Setelah memasang jarum infus, kedua suster itu berlalu dari kamar tersebut.


“Kak Dani, sudah jam 02.00 WIB. Sebaiknya kakak tidur di sofa itu, biar Evan yang jaga Nathan.”


“Gak papa Van, aku ingin menunggunya, kamu saja yang istirahat..”


“Tapi kak...”


“Gak papa Van, kakak ingin menunggunya. Pasti kamu ingin menanyakan sesuatu karena kejanggalan yang kamu lihat hari ini. Besok kakak akan menjelaskan semuanya..”


What..?? Kak Dani tau apa yang ada dalam fikuranku? Jadi mau sendiri. Apa kak Dani tau juga ya, kalau aku tadi sempat salting.


“Baiklah kak, kalau begitu Evan mau dududk di sofa itu, kita jagain sama-sama..”


Dani segera mengambil kursi dan dududk di samping Nathan. Evan yang mengawasi dari sofa, semakin penasaran dengan perlakuan Dani yang begitu lain kepada Nathan.


Ada apa sih sebenarnya dengan mereka berdua..?


Semakin Evan penasaran, semakin gundah dan gelisah hatinya. Mungkinkah Evan juga menaruh hati kepada Dani, kakak iparnya yang umurnya sepantaran denganya. Evan mencoba memikirkan yang lain dan membuang jauh tentang kekepoanya terhadap kakak iparnya.


Tak hentinya Dani menyalahkan dirinya sendiri. Kini, semakin kuat hatinya untuk membalas rasa cinta Nathan kepadanya. Sejak kejadian hari itu, ia semakin paham, perasaan Nathan benar-benar tulus kepadanya.


Laaahh, itu..., itu kenapa kak Dani pakai pegang tangan Nathan segala? Semakin besar rasa ingin tahuku.


Evan yang pura-pura memejamkan mata, sedikit mengintip Dani. Namun ia tak berani bertanya langsung, karena Dani sudah mengatakan akan memberitahunya. Yang bisa ia lakukan adalah bersabar menanti jawaban.


Tak terasa, karena kecapekan, Evan dan juga Dani tertidur. Peristiwa yang mereka alami hari ini benar-benar menguras tenaga.


Sementara Daniel, yang tengah emosi menghentikan mobilnya di depan salon Anyelir. Dengan amarah yang masih menyelimuti hatinya, ia menelfon kekasihnya.


Tuuuutttttt ttuuuuuutttt


“Siapa sih malem-malem nelfon? Ganggu orang tidur saja..!” gumam Anyelir yang menggerutu karena dering telfon dari Daniel. Setelah melihat layar ponselnya, ia mengerutkan dahinya.

__ADS_1


“Daniel...? Ada apa telfon malem-malem begini?” Anyelir segera menyambungkanya.


“Hallo, kenapa...?”


“Anye sayang, aku kangen, sekarang aku ada di depan salon kamu...!”


“Apa...?” teriak Anyelir kaget dan melihat ke arah jam dinding.


“Ngapain sih, pagi-pagi ganggu aja..?”


“Cepat bukain pintu, aku kangen sama kamu...” Anyelir beranjak dari tempat tidurnya setelah menutup telfon. Dengan sedikit sempoyongan karena masih ngantuk, ia berjalan keluar kamar dan segera membuka pintu salon yang ia tempati.


“Ada apa pagi-pagi ke sini? Bukankah tadi kamu menyebutku dengan wanita jalang..?” tukas Anyelir dengan sinis dan bersedekap di depan pintu salonya.


“Maafkan aku sayang, aku khilaf...” Rayu Daniel lalu mendekap Anyelir. Tak elak bibirnya menghujani wajah Anyelir dengan ciuman. Hanya dengan begitu, Anyelir pun reda amarahnya. Tak di sia-siakan oleh Daniel, ia menyalurkan hasratnya yang belum kesampaian kepada Dani tadi. Dan kini ia membawa Anyelir ke kamar gadis itu. Daniel membaringkan tubuh kekasihnya di ranjang. Perlahan melakukan pemanasan. Mulai dari mencium seluruh bagian wajah, dan bibirnya, hinga Anyelir kelojotan bagai belut yang di kasih garam.


Cuuupp cuuuppp cuupppp cuuupppp


Segala bentuk ciuman Daniel di leher Anyelir membuatnya merem melek dan meninggalkan bekas merah di sana sini. Semakin memuncak dan memanas, Daniel semakin brutal dan liar. Perlahan ia melepas satu persatu pakaian yang di kenakan oleh Anyelir. Gadis itu hanya diam dan tersenyum tipis melihat kelakuan kekasihnya yang begitu ganas. Kini ia tanpa sehelai kainpun yang menutupi tubuhnya. Polos bagai bayi yang baru lahir. Daniel yang melihatnya sudah tidak sabar. Ia melepaskan pakaianya sendiri, dan segera memberikan berbagai cumbuan kepada Anyelir, membuat gadis itu meracau tidak karuan.


“Aaaagghhhhhh.., Daaannn.....”


Anyelir tak dapat meneruskan kata-katanya saking keenakan. Matanya terpejam, menikmati setiap sensasi sentuhan bibir Daniel yang mendaki di antara bukit kembarnya. Membuatnya menggelepar bagai ikan yang bernafas di daratan. Agak cukup lama Daniel membuat Anyelir terpancing hingga sampai ke ubun-ubun. Melihat kekasihnya sudah tak dapat mengontrol dirinya, Daniel langsung saja pada inti gerilyanya. Dan puncak dari adegan itu adalah erangan yang panjang dari keduanya. Pendakian yang begitu panjang dan melelahkan akhirnya usai sudah. Daniel dan Anyelir sama-sama terkuali lemas, dan terkapar di ranjang.


“Terima kasih Dani sayang..” ucap Daniel tanpa sadar.


“Apa...!!?” teriak Anyelir yang tadinya menatap teduh Daniel, kini berganti menjadi amarah yang berkobar-kobar.


“Dani...!!? Kamu menyebutkan terima kasih kepada Dani? Berarti saat bercinta denganku tadi di benakmu, aku adalah bayangan Dani..? Keterlaluan kamu Daniel!!? Sekarang juga pergi dari sini..!!! Pergiiii...!!”


“Bu..bukan begitu sayang, akuuu..aku nggak sadar saking tadi marahnya sama dia. Maafkan aku sayang, kamu boleh tampar akau..?” ucap Daniel yang memegang wajah Anyelir.


“Ciiihhhh ..!! Pergiii...!!”

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2