Cinta Nathan

Cinta Nathan
Epidode 87


__ADS_3

Setelah berkata seperti itu, Daniel menarik tangan adiknya untuk keluar dari ruangan Dani. Evan yang melihat sikap kakaknya bingung dan juga tak mengerti, apa yang sebenarnya membuat kakaknya berubah drastis seperti itu. Begitu juga dengan Dani, namun tidak dengan Nathan. Daniel terus melangkah, dan semakin jauh meninggalkan kamar Dani. Evan belum berani bertanya kepada kakaknya. Bahkan ketika keduanya sampai di parkiran, Evan belum juga bertanya, namun rasa ingin tahu, mendorongnya untuk tidak menunda-nunda rasa penasaranya untuk segera mendapatkan jawaban.


“Kak Daniel...?” seru Evan setelah Daniel membuka pintu dan sebelum memasuki mobilnya. Ia mengurungkan memasuki mobil. Dengan senyum menghiasi bibirnya, ia menoleh ke arah Evan.


“Iya Van, ada apa...?” jawab Daniel.


“Udah lama kita nggak ngobrol, kalau kakak tidak keberatan, maukah kakak meluangkan waktu sebentar saja untuk menemaniku duduk di taman itu....” tutur Evan sambil menunjuk taman yang terdapat di rumah sakit tersebut. Daniel terdiam, sejenak melihat taman yang baru saja ia datangi bersama Nathan, lalu beralih menatap adiknya.


“Baiklah, ayo..?” ucap Daniel yang kembali menutup pintu mobilnya, dan berjalan bersama Evan menuju taman yang di tunjuk Evan. Sesampainya di taman tersebut, keduanya duduk di bangku yang tadi juga di duduki Daniel bersama Nathan. Evan tersenyum, dan melihat ke arah kakaknya.


“Rasanya udah lama ya kak, kita nggak duduk dengan santai seperti ini..”


“Iya, udah berapa lama, kakak juga lupa..” Evan menghela nafas.


“Tahu nggak, Evan kangen dengan moment saat kita masih kecil dulu, bermain bersama, bercanda bersama, kakak selalu ngelindungin Evan. Di mata Evan, kakak tetap menjadi yang nomer satu bagi Evan, kakak adalah pelindung Evan, sampai saat ini, kakak adalah kakak terbaik bagi Evan. Tapi akhir-akhir ini, kakak sepertinya menganggap Evan sebagai musuh. Namun itu tak mengurangi nilai kakak sebagai kakak terbaik buat Evan, kakak is the best..” ucap Evan seraya mengacungkan jempolnya ke arah Daniel.


Mendengar ucapan adiknya, hati Daniel semakin bergemuruh. Rasa bersalah dan menyesal kini kompak memenuhi relung hatinya.


Benarkah selama ini aku telah keterlaluan kepada semua orang yang telah menyayangi aku?


Itulah sebait kalimat yang terlintas dalam fikiranya. Ia menatap Evan begitu dalam. Dengan perlahan mengacak rambut Evan, persis seperti dulu saat mereka masih kecil. Kini moment itu sepertinya akan kembali lagi. Evan yang di usap seperti itu, membuat hatinya begitu bahagia, ia sangat terharu. Kini kakaknya sudah seperti dulu lagi. Daniel meluruskan duduknya menghadap lurus ke depan. Menatap sebuah air mancur yang ada di taman tersebut. Dengan perlahan, ia mulai membuka suara.


“Evan, maafkan kakak. Selama ini telah memperlakukan kamu dengan begitu buruk. Jujur, kakak sangat iri kepadamu dan juga benci kepada papa, karena papa lebih menyayangi kamu dari pada kakak. Sekarang kakak sadar, papa tidak pilih kasih...”


“Kakak...” ucap Evan dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


“Anak lelaki jangan cengeng..” seru Daniel ketika menoleh ke arah Evan dan memukul dada adiknya dengan pelan.


Tak bisa menahan air mata bahagia, Evan segera memeluk Daniel. Kedua kakak beradik itu larut dalam keharuan.


“Kapan kak Daniel ajak Evan jalan-jalan lagi, kapan kita bisa bercanda dan tertawa seperti waktu dulu lagi, kak..?”

__ADS_1


“Mulai sekarang, kakak akan luangkan waktu untuk bisa bersama adiku ini, jangan cengeng ah...!” jawab Daniel yang melepas pelukanya, lalu mengusap air mata Evan.


“Bener..?”


“Iya, kakak janji..”


“Terima kasih kakak telah menjadi kakak Evan yang seperti dulu lagi. Terima kasih juga, telah menjadi seorang kakak yang gentle buat Evan. Dengan merelakan kak Dani bahagia, itu membuat Evan semakin bangga sama kakak..”


Daniel tersenyum, walau sebenarnya senyum itu tak benar-benar nyata, namun ia berusaha menyembunyikan hatinya yang sebenarnya mencintai Dani. Namun itulah satu-satunya cara ia menunjukan cinta yang sebenarnya kepada istrinya yang sebentar lagi akan bercerai darinya.


“Evan, jujur dari dalam hati kakak katakan, sebenarnya kakak mulai mencintai Dani. Namun, itu semua sudah terlambat. Itu semua karena kebodogan kakak sendiri. Mengapa dari dulu kakak tidak memberikan kesempatan kepada Dani untuk masuk dalam kehidupan kakak. Malah dengan teganya kakak menyia-nyiakan dia, menyakitinya dan membuatnya menderita. Di saat kakak mulai jatuh cinta denganya, hatinya sudah tertambat ke dalam hati orang lain, dan itu adalah Nathan, mantan pengawal kakak sendiri...”


Sejenak ia berhenti. Evan dengan pelan menepuk punggung kakaknya, menguatkan dan tentunya menyuportnya.


“Terus, bagaiamana sesungguhnya perasaan kak Daniel kepada Anyelir? Maaf kak, kalau Evan lancang bertanya..”


“Anyelir. Semakin ke sini, yang kakak rasakan hanyalah karena *****. Saat kakak berdua dengan Dani, rasanya beda dengan saat kakak berdua dengan Anyelir. Saat dengan Anyelir, kakak seperti di rasuku hawa nasfu yang setiap saat berkobar. Sedangkan dengan Dani, kakak merasa ingin memiliki dia seutuhnya, tak rela dia memikirkan pria lain, meminta tolong selain kakak, atau sekedar saling bersapa dengan pria lain. Jujur kakak katakan, itu sangat membuat hati kakak cemburu dan marah. Tapi sekarang, semua sudah terlanjur. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Kakak hanya bisa merelakanya bahagia bersama Nathan, karena Dani juga berhak bahagia kan? Kakak nggak mau egois..”


“Evan salut. Evan sangat bangga kepada kak Daniel. Nah, begitu dong, cuuuupppp..!!”


“Hiiiihhhhh....!!! Apa-apaan sih kamu..? Tar kalau ada orang yang liat, kita di kira gay tau..!! Dasar bocah bandel...!!”


“Biarin aja. Kan kita kakak beradik. Lagian, udah lama juga, kakak nggak nyium kepala Evan. Kangen tau...!!”


“Aaaahhh..!! Sudah.., ayo kita pergi saja dari sini..” Ajak Daniel yang berdiri dari duduknya, lalu segera berjalan meninggalkan Evan.


“Kak..!! Tungguin dong..?” seru Evan yang juga segera berdiri mengejar Daniel.


“Kak, Evan nebeng dong sama kakak, bolehkan?” Rengek Evan yang berjalan di samping Daniel.


“Boleh. Tapi dengan satu syarat..”

__ADS_1


“Apaan si kak..? Jangan yang susah-susah ya..?”


“Enggak. Cukup kamu temeni kakak makan saja...”


“It is a good idea. I like it...”


Daniel tersenyum melihat tingkah Evan kali ini seperti anak kecil. Udah lama ia tak melihat adiknya seperti itu. Semenjak ia menanam kebencian kepadanya. Hari itu sungguh merupakan hari yang sangat membahgiakan buat Daniel. Ia mengajak Evan makan di restoran, tempat paling favourit keluarga wijaya saat mengadakan makan bersama.


Sementara di rumah sakit, Dani yang sedang berdua dengan Nathan, di kejutkan dengan kedatangan nenknya dan juga mbak Risa, asisten neneknya.


Tok tok tok


Nathan berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, bermaksud untuk membukanya.


“Nenek...?” seru Nathan ketika nenek Eliza sudah berdiri di depan pintu bersama Risa.


“Nak Nathan..? Kamu juga di sini?”


“Iya, Nek. Mari silakan masuk. Mabk Risa, silakan...” Dengan sopan sekali, Nathan mempersilakan masuk keduanya. Risa hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mengikuti nenek Eliza masuk ke dalam.


“Nenek..?” seru Dani begitu girang melihat neneknya datang. Dengan hangat, nenek Eliza meneluk Dani yang tengah terbaring lemah.


“Siapa yang memberitahu nenek kalau Dani lagi sakit..” Nenek Eliza melepas pelukanya.


“Nak Daniel. Dia menelfon nenek, dan memberitahu kalu kamu di sini. Mendengar kamu di rawat di rumah sakit, nenek segera kemari..”


“Oh, mas Daniel ya...?” jawab Dani pelan.


“La sekarang, suami kamu di mana? Kok hanya Nak Nathan yang di sini...?”


“Mas Daniiiiiieeeel........” Dani akan menjawab. Namun belum lengkap ucapanya, Nathan menyahutnya terlebih dahulu.

__ADS_1


“Mas Daniel baru keluar sebentar nek. Ada urusan di hotel. Dan Nathan d suruh menjaga non Dani..” jawab Nathan dan menatap Dani dengan penuh arti. Mengerti dengan maksud ucapan Natahan, Dani hanya tersenyum membalas Nathan, dan nenek berhenti menanyakan Daniel.


BERSAMBUNG


__ADS_2