Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 51


__ADS_3

“Kakak masih bisa menyebutnya dengan sebutan kakak ipar..?” Evan tersenyum kecut setelah berkata sepetri itu.


“Yang menjadi pertanyaan Evan, masih pantaskah kata-kata itu keluar dari mulut kak Daniel..?”


Emosi Daniel memuncak mendengar perkataan Evan yang sangat memprovokasi hatinya itu. Hatinya memanas, sepanas otaknya yang kini penuh dengan amarah, pagi itu.


“Sudah..! Sayank.., aku pulang saja!! Situasi ini begitu membuatku sangat muak..!" ucap Anyelir yang begitu saja ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu.


“Anye..? Kamu mau ke man?” tanya Daniel yang tak di hiraukan oleh Anyelir, namun sedikitpun Daniel tak beranjak dari tempatnya untuk mengejar kekasihnya.


“Semua keributan ini gara-gara kamu..!” ucap Daniel yang akan mengarahkan bogemnya kepada Evan.


“Sudah..!! Aku bilang cukup..!!" Suara Dani begitu keras, hingga membuat Nathan yang berada di halaman belakang berlari menuju ke arah sumber suara. Sedangkankan Daniel refleks menghentikan tanganya yang sudah mengayun di udara.


“Evan, sebaiknya kamu pulang ya? Please, saya mohon..” ucap Dani dengan tatapan mata penuh iba. Tak tega melihat Dani seperti itu, namun Evan lebih menghormati ucapan Dani.


“Baiklah, demi kak Dani, Evan akan pergi dari sini, Evan permisi kak Dani..” EVan berlalu meninggalkan Dani dan Daniel.


Kenapa aku merasa marah melihat Dani di bela Evan seperti itu. Kenapa juga hatiku merasa sakit seperti ini? Apakah ini yang namanya cemburu? Apa aku cemburu...? Tidak, ini tidak benar..


Evan segera meluncur menuju Beverly Hill's Hotel. Mobil Mercedes Benz warna maroon melaju dengan cepat dan meliuk-liuk di jalan. Menyelip di antara mobil dan motor yang ia lalui saat itu.


Dalam hati, ia tak habis fikir dengan jalan fikiran kakaknya. Kenapa setega itu kepada kakak iparnya, yang terang-terangan membebaskan kekasihnya keluar masuk rumahnya dengan seenaknha, sedangkan ia sadar, kalau ia sudah menikah dengan gadis pilihan papanya.


“Huhhhhh...!! Sebenarnya kakak itu manusia atau bukan sih..?” gumam Evan dengan gusar.


Mobil yang ia bawa terus melaju dan akhirnya sampai di hotelnya. Setelah menghentikan mobilnya tepat di depan hotelnya, ia masuk ke ruang ke dalam menuju ruanganya. Sedangkan mobilnya, di urus oleh sopir pribadinya yang sudah stand by di hotel tersebut.


Dengan langkah panjang, Evan berjalan menuju ruanga tempat ia mengerjakan setiap kerjaanya.


“Pagi, pak Evan..?”


Begitulah sapaan setiap karyawan yang berpapasan denganya dengan sangat hormat sekali.


“Pagi...” jawab Evan yang tak kalah ramah menanggapi sapaan mereka.


Kini langkah Evan sampai juga di dalam ruanganya. Ruangan yang cukup besar, dan terkesan ellegant. Ia duduk menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, yang bisa memutar dengan fleksibel. Seorang wanita cantik menghampiri Evan yang sudah nyaman menyandarkan punggungnya.


“Pagi pak Evan, hari ini, pukul 11.00 WIB, ada jadwal meeting penting dengan klien bapak..” ucap Larasati, sekertaris Evan yang masih muda dan bisa di katakan sangat cantik sekali. Tubuhnya yang langsing, padat dan berisi, membuat setiap lelaki yang melihatnya tergiur. Namun Evan sedikitpun tak tertarik pada Laras, panggilan akrab sekertarisnya itu.

__ADS_1


Semakin membuatku tertantang saja untuk menaklukan kamu lelaki es batu.


Gumam Laras yang yang berdiri di samping Evan.


“Oh ya, baiklah. Ada lagi?” tanya Evan biasa saja.


“Masih ada pak, nanti malam ada jamuan makan malam dengan direktur The Lila Hotel. Sudah itu saja pak.”


“Baiklah, terima kasih Laras, kamu bisa kembali ke meja kamu..”


“Baik pak, saya permisi dulu..” Laras beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Ia kembali duduk di mejanya. Sedangkan Evan, kini sibuk dengan laptopnya.


-


-


Daniel yang melihat pembelaan Evan kepada istrinya tadi, kini semakin di bakar apai cemburu. Entah kapan rasa itu muncul, saat ini itulah yang ia rasakan. Niat hati tadi ingin membuat Dani cemburu, malah Evan datang dan membuatnya cemburu balik.


“Heeehhh gadis bodoh..!! Senang ya kamu di bela sama Evan..?”


“Silakan berkata sepuas hati, mas. Dani capek memdengar semua tuduhan mas.”


“Mau ke mana kamu?” teriak Daniel yang melihat Dani pergi meninggalknaya. Dani tak menjawab. Ia melangkah meninggalkan ruangan itu.


Mau ngapain si Daniel?


Gumam Nathan yang melihat dari jauh.


Daniel melangkah mendekati Dani. Berhenti tepat di depanya. Kedua pasang mata mereka saling beradu pandang.


“Jangan besar kepala dulu kamu..!! Mentang-mentang ada yang membela..!!”


“Saya juga tak mengharapkan pembelaan dari siapa pun. Cukup Tuhan saja yang tau dan akan menolong saya..”


“Waah.., wah.., wah..., sekarang udah nyangkut-nyangkut nama Tuhan segala...?”


“Sebenarnya apa mau mas..?” Daniel tersenyum menyeringai. Dengan satu jari telunjuk, Daniel mengangkat Dagu Dani, dan membuat gadis itu mendongakan wajahnya.


“Aku? Hahahahahaha....” Tawa Daniel memekakan telinga Dani.

__ADS_1


“Kamu mau tau apa mau aku?” Sejenak berjalan memutari Dani yang masih berdiri mematung di tampatnya.


“Aku mau kamu menderita, gadis bodoh..!!” ucap Daniel dan dengan pelan mendorong kening Dani hingga membuat kepalanya sedikit bergerak kebelakang.


“Baiklah, jika itu mau kamu mas. Silakan membuat aku menderita, sesuka dan sepuas hati mas. Tapi bila tiba saatnya, mungkin mas akan menyesal, karena terlambat menyadarinya, dan tepat saat itu, aku akan pergi dari sisi mas Daniel..”


“Benarkah? Yacchh kita tunggu saja. Apa yang kamu ucapkan hari ini, udah aku ingat.”


“Silakan saja. Dani nggak peduli, Dani capek..!!!” Daniel membelalakan mata mendengar Dani berucap seperti itu. Sama sekali di luar fikiranya.


“Apa kamu bilang? Kamu capek..?” ucap Daniel geram dan spontan memegang tangan kiri Dani yang masih memakai perban.


“Aww..!! Sakit, mas..” Rintih Dani yang meringis menahan sakit.


“Aku senang kalau kamu merasakan sakit begini, apalagi kalau kamu menderita, aku akan lebih senang lagi..”


“Dasar suami jahat..!!” ujar Dani sambil melayangkan tangan kananya yang akan menampar Daniel. Namun dengan cepat Daniel berhasil menangkapnya terlebih dahulu. Dengan tatapan sengit, kedua mata Daniel memandang Dani. Seolah sedang menatap musuh bebuyutan dan akan membunuhnya.


“Huhhh...!!” Daniel melepas tangan Dani yang ia pegang, dan pergi meninggalkanya. Tanpa meminta maaf keluar dari mulutnya.


“Non Dani nggak papa..? Mana yang sakit Non?” ucap Nathan yang menghampirinya begitu melihat Daniel meninggalkanya sendirian. Namun tanpa Nathan sadari, Daniel mendengar perkataanya, sebelum ia sampai di kamarnya. Lelaki itu kembali melangkah dan merapatkan tubuhnya ke dinding, mengawasi Nathan bersama istrinya dari lantai atas. Di katakan cemburu, tidak mau, tapi begitu marah ketika Dani di perhatikan oleh pengawalnya.


Kalian mau main-main dengan saya..? Hmmm..memangnya siapa kalian, haaahhh..!!


Umpat Daniel yang kembali di buat geram dengan sikap pengawalnya kepada Dani, istrinya.


“Gak papa kok, aku baik-baik saja..”


“Non nggak baik-baik saja, buktinya perban yang membalut luka non saja sampai berwarna merah kaya gini?” seru Nathan sambil memegang dan memperlihatkan tangan Dani kepada gadis itu sendiri.


Dani tak dapat meneruskan bicaranya, Matanya berkaca-kaca. Melihat gadisnya seperti itu, dengan sendirinya dan secara refleks, Nathan merengkuh Dani ke dalam pelukanya. Dani membelalakan matanya.


“Nathan....?” ujar Dani dan berusaha melepaskanya.


“Biarkan sepeeti ini sebentar saja, non...?” ucap Nathan dan Dani pun menurut.


“Arrgghhhhh...!!! Kurang ajar..!!! Berani sekali gadis bodoh itu berpelukan di hadapan ku dengan pengawalku..” Daniel semakin meradang. Rasanya ia ingin berjalan ke arah mereka. Namun tertahan. Kini fikiran Daniel semakin kacau.


Tak kalah terkejutnya, bi Marta yang melihat kejadian itu, mulutnya mengaga, dan matanya membulat.

__ADS_1


“Nathan..? Apa yang kamu lakukan..?” gumam si bibi yang khawatir dengan perbuatan Nathan. Daniel dan bi Marta sama-sama bengong melihatnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2