
Di hati Daniel, kini timbul benih-benih rasa cinta, namun untuk mengungkapkanya, masih terasa sulit. Karena situasi yang kurang mendukungnya, atau mungkin karena gengsinya yang terlalu kegedean. Ia hanya bisa mengungkapakanya lewat perbuatan dan tingakah yang mungkin membuat Dani semakin benci kepadanya.
“Maafkan aku Dani, aku telah membuat kamu menderita, pada awalnya aku merasa sangat benci kepadamu, namun semakin hari seiring berjalanya waktu, entah kenapa hati ini semakin terpaut sama kamu. Tapi mungkin ini sudah terlambat. Aku hanya bisa menyesalinya dan hanya bisa menahan semua rasa cemburuku setiap kali aku melihatmu bersama Nathan. Dani..., apa yang harus aku lakukan..” gumam Daniel yang duduk menunggui Dani di sampingnya. Daniel memberanikan diri memegang tangan Dani, saat tanganya bersentuhan dengan tangan Dani, ada getar terasa merasuki jiwanya. Wajah yang putih, dan bulat itu, kini terpampang jelas di hadapanya. Bagai tersihir, perlahan Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Dani yang masih tak sadarkan diri. Hampir satu inchi jarak wajahnya dengan Dani, terdengar suara Dani mengigau.
“Nathaan, aku takut...” suara igauan Dani sangat jelas dan membuat Daniel terkejut. Dadanya serasa sesak. Dalam keadaaan tak sadarkan diri pun Dani menyebut nama Nathan.
Sedalam itukah perasaan kamu kepadanya? Dani, jangan kau berikan perasaan kamu kepadanya, aku akan berubah untukmu.
Setelah mengigau, kembali Dani tak sadarkan diri. Setelah setengah jam, Dani tersadar. Perlahan ia membuka mata dan mendapati dirinya di kamar Daniel, dan ia tak mendapati siapa-siapa di situ. Ia hanya sedirian.
“Awwww....” gumam Dani yang berusaha bangun dan memegangi kepalanya karena pusing.
“Kalau masih pusing, tiduran saja, nih aku bawain air putih untukmu..” seru Daniel yang tiba-tiba muncul di kamar itu.
“Mas Daniel..?" gumam Dani lirih melihat siapa yang datang. Daniel membawa sebuah nampan berisi segelas air putih dan di letakan di meja, dekat ranjang.
“Nih, minum dulu, pastinya perut kamu nggak enak, karena kemasukan air tadi.” imbuh Daniel yang menyodorkan air minum itu kepada Dani.
“Terima kasih..” jawab Dani menerimanya.
Dengan pelan, Dani meneguk air yang di bawakan oleh Daniel hingga habis. Ia merasa memang perutnya nggak enak. Rasanya mual seperti ingin muntah. Daniel yang menunggui Dani, menatap gadis itu. Ada sejuta rasa yang ia rasakan saat menatapnya. Rasa menyesal, kasian, marah dan rasa bersalah semua bercampur jadi satu.
“Nggak usah bagun, sini in gelasnya, biar aku saja yang balikin.”
“Biar Dani saja mas, Dani juga mau ke kamar Dani. Oh ya, terima kasih untuk air putihnya..” ucap Dani lalu menyibakan selimutnya. Betapa ia sangat kaget melihat ia tak lagi memakai pakaian yang ia pakai tadi. Kini ia telah berganti dengan piyama. Mulutnya menganga dan menatap ke arah Daniel. Seolah mengerti dengan ekspresi wajah Dani, langsung saja lelaki itu menjelaskan.
“Tenang saja, kamu nggak usah kaget dan khawatir. Tadi aku minta tolong bi Marta untuk ganti in baju kamu, aku tidak berbuat macam-macam sama kamu kok..”
Setelah mendengar Daniel berkata seperti itu, Dani merasa lega. Ia menghembuskan nafas dengan pelan.
“By the way, kamu nggak bisa renang ternyata..” ucap Daniel yang kini sudah duduk di ranjang dan tepat di hadapan Dani.
__ADS_1
“Udah tau kan Dani gak bisa renang, mau ngeledek?” seru Dani yang memanyunkan bibirnya.
“Enggak. Ngapain aku ngeledek kamu, gak ada untungnya tau..!!”
“Hueeekkk...!!! Hueekkkk...!!” Dani memuntahkan air yang berada di perutnya. Sontak saja hal itu membuat Daniel terkejut, dan mengotori karpet lantainya.
“Kamu kenapa, Dani..?” Aneh. Daniel sedikitpun tidak merasa jijik. Ia malah menghampiri Dani dan memijit tengkuknya. Beberapa kali muntah, membuat badan Dani lemas.
“Perut rasanya mual, nggak enak..” jawab Dani terengah-engah, karena habis muntah. Selesai mengeluarkan semua air kolam yang tertelan, ia bermaksud beranjak dari tempat tidur untuk membersihkanya.
“Kamu mau kemana?” tanya Daniel yang menahan tangan Dani.
“Dani mau bersihin ini mas, ini kan kamar mas Daniel, maaf Dani telah mengotorinya..” ucap Dani yang membuat hati Daniel tersentuh.
“Udah, kamu tiduran saja, biar bi Marta yang bersihin. Mas ambilin air jahe mau..?” ucap Daniel yang membuat Dani membelalakan mata karena tak percaya.
“Mas Daniel..?”
“Jangan sampai kebaikan mas berubah lagi ni ya..?” kata Daniel yang berdiri lalu meninggalkan Dani. Gadis itu masih terbengong melihat tingkah dan sikap suaminya.
Tak berapa lama setelah Daniel keluar, bi Marta masuk dengan membawa kain pel dan tak lupa pengharum lantai.
“Bibi, maaf bi, Dani merepotkan bibi..” Bi Marta tersenyum.
“Gak papa non, non istirahat saja..”
“Tapi bi...”
“Udah non...”
Dani tak bisa berbuat apa-apa selain duduk dan melihat bi Marta membersihkan lantai dan mengganti karpet lantai yang ada di kamar Daniel. Setelah selesai, bi Marta segera pamit.
__ADS_1
“Bibi permisi dulu non, karena udah selesai..”
“Iya bi, terima kasih..”
“Sama-sama non..”
Bibi keluar, dan gantian Daniel yang masuk membawa secangkir air jahe yang hangat.
“Ini di minum dulu, biar badan sama perut kamu enakan..” ucap Daniel menyodorkan air jahe kepada Dani.
“Terima kasih, mas Daniel..” Dengan pelan, Dani meneguk air jahe yang di berikan Daniel. Di rasakan sangat hangat, dan membuat badanya agak enakan.
“Sekarang kamu tidur saja. Aku nggak akan usik kamu, dan akan tidur disofa itu, biar kamu nyaman istirahatnya..”
“Eh, enggak usah mas, biar Dani tidur di kamar Dani sendiri saja..” tolak Dani dengan halus.
“Enggak Dani, selama ini mas telah berbuat kasar sama kamu, terlebih lagi kejadian tadi, yang di lakukan oleh Anyelir, mas benar-benar minta maaf, sejahat-jahatnya mas, mas masih punya hati nurani..” Dani terdiam.
Benarkah yang berdiri di depanku ini mas Daniel. Kali ini, ia sangat berbeda sekali. Andai kamu bersikap seperti ini sejak pertam kita menikah mas, hati Dani tidak akan mungkin berpaling ke orang lain. Tapi semua sudah terlambat. Mungkin Tuhan merencanakan sesuatu yang indah kepada kita. Entah itu apa, itu adalah rahasia dari-Nya.
“Hellooooo..., kenapa malah bengong? Atau kamu mau mas tidur di luar saja, biar kamu percaya sama mas..?”
“Oh, eh, anuuu...., enggak kok mas, Dani percaya, mas tidur di sofa saja..”
Dengan rasa antara percaya nggak percaya, Dani perlahan membaringkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan Daniel beranjak membaringkan tubuhnya di sofa dengan satu bantal yang ia bawa. Hari sudah larut malam, namun Dani tak bisa memejamkan mata. Ia masih takut dan was-was, kalau Daniel akan berbuat sesuatu kepadanya. Ia memberanikan diri melirik ke arah Daniel.
Whaat, mas Daniel udah pules? Wah, bener-bener udah kaya kebo aja, baru nyium aroma bantal dikit aja udah tepar.
Di saat itulah, Dani merasa ingin buang air kecil. Dengan pelan dan hati-hati ia turun dari ranjang, supaya tak membangunkan Daniel. Kakinya berjingkat menuju kamar mandi. Setelah selesai, Dani keluar dan melihat Daniel meringkuk seperti kedinginan. Tak tega melihatnya, ia mengambil selimut di dalam almari, lalu menyelimuti tubuh Daniel dengan hati-hati.
Tak berkata apa-apa, Dani lagsung kembali ke tempat tidur, untuk kemudian segera tidur karena badanya kurang enak juga. Tanpa di sadari Dani, sebenarnya Daniel belum tidur, ia hanya pura-pura tidur. Perlahan menyibakan selimutnya dan melihat Dani sudah tertidur dengan pulasnya. Kini gantian Daniel yang menghampiri Dani. Di tatapnya wajah yang polos dan bulat itu dengan lekat.
__ADS_1
“Gadis bodoh. Kenapa kamu bisa mengalahkan Anyelir dan secara perlahan tapi pasti telah mengisi ruang di hatiku Dani, kenapa..?" gumam Daniel dengan lirih.
BERSAMBUNG