Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 50


__ADS_3

Hari itu, hati Daniel benar-benar terganggu di buatnya. Kejadian tadi malam yang sempat ia saksikan kini membuat fikiranya terus memikirkan Dani, istri yang tak di harapkan atau di cintainya. Perhatian Nathan kepadanya, sungguh membuatnya tak bisa duduk dengan enak, tidur pun tadi malam nggak neyenyak. Kini, Dani mulai menguasai fikiranya. Ia berdiri di balkon kamarnyanya. Mencoba mencari jawaban atas apa yang ia lihat tadi malam.


Kenapa Nathan bisa seakrab itu sama gadis bodoh itu? Kenapa ia mengusap air matanya? Aaahhhhh....


Geram Daniel yang memukul besi pagar pembatas balkon kamarnya. Ia melempar jauh pandanganya. Sawah nan hijau, yang begitu sejuk di pandang oleh mata tak mampu menjernihkan fikiranya. Ia mengacak rambutnya dengan kasar.


Ting tong


Mendengar bel pintu berbunyi, bi Marta yang tengah memasak di dapur segera menghentikan aktifitasnya buru-buru membuka pintu tersebut.


“Non Anyelir?” sapa bi Marta.


Uuhhh, ngapain pagi-pagi bertamu? Dasar...


Gumam bi Marta yang kurang suka dengan kedatangan Anyelir.


“Pagi bi, Danielnya ada?” tanya Anyelir yang berdiri di depan bi Marta dengan pakaian seksinya.


“Ada non, di kamarnya, mau saya panggilin?” kata bi Marta.


“Ngga usah deh bi, biar saya yang ke kamarnya..”


Huu, dasar wanita gatel.


“Silakan, non?” ucap bi Marta mempersilakan Anyelir. Dan Anyelir segera ngeloyor ke kamar sang kekasih.


“Kasihan non Dani, suaminya dengan terang-terangan main gila sama pacarnya, kalu saya jadi non Dani, uuuuhhh udah saya bejek-bejek dari kemarin..” gerutu si bibi sambil mengulek sambal di cobek.


“Kenapa bi, kok seperti sedang melampiaskan amarah?” tanya Nathan yang kebetulan ke dapur mengambil air minum.


“Itu, si nenek lampir datang lagi..”


“Anyelir..?” tebak Nathan.


“Iya, siapa lagi..”


“Jangan kasih tau non Dani bi, kasihan..”


Aku ga mau kalau kamu sakit hati Andaniku..melihat kedua cecunguk itu bermesraan.


Whaaat...??? Nathan sudah berani memanggilnya Andaniku, walau dalam hati dan sebatas ia dan Tuhan lah yang tahu.


“Iyaah, oke lah kalau begitu.” jawab si bibi mengacungkan jempolnya.


Anyelir yang sudah berada di dalam kamar Daniel, menyapukan pandanganya, mencari keberadaan lelaki yang ia cintai itu. Karena di kamar mandi tak ada, ia pun berinisiatif menengok ke balkon. Dan benar saja, ia melihat Daniel sedang berdiri melamun membelakanginya.


“Oo, rupanya kamu di sini?” gumam Anyelir yang kini mempunyai ide jail. Daniel tak sadar kalau Anyelir sudah berada di kamarnya. Ketika Anyelir akan iseng menelfonya, dan ia sendiri menyembunyikan dirinya di balik tirai jendela kamar yang panjangnya mencapai lantai, ia di kejutkan dengan suara Daniel yang menyebut nama Dani.


“Daniiiiii....” teriak Daniel, namun pelan.


“Dani? Benarkah apa yan ku dengar barusan? Iya menyebut nama gadis itu?” gumam Anyelir lirih. Ia marah dan keluar dari persembunyianya dan berjalan menghampiri Daniel dengan sorot mata yang ingin segera melampiaskan amarahnya.

__ADS_1


“Kamu barusan menyebut nama siapa?" tanya Anyelir yang mengagetkan Daniel.


“Anye sayang? Kapan kamu datang?” tanya Daniel yang kaget dengan kehadiran Anye yang tiba-tiba.


“Apakah kau mulai mencintainya..? Iya..?” ucap Anye yang semakin meradang. Daniel memegang bahu Anye, berusaha menenangkanya.


“Tenang Anye sayang, aku nggak mungkinlah mencintainya, hatiku hanya milik kamu seorang. Kalau kamu tadi dengar aku sebut nama dia, karena aku sedang kesal sama dia..”


“Benarkah? Kamu nggak bohong?”


“Suer..!! Apa mau aku buktikan, kalau aku mencintai kamu?"


“Boleh..”


“Baiklah, kita turu ke bawah..”


“Mau ngapain?”


“Sudah diam saja, tar juga kamu tau..”


Daniel keluar kamar bersama Anyelir. Menuruni anak tangga, dan menuju ruang tengah.


“Daniiii..!! Daniii...!!” teriak Daniel memanggil istrinya. Dani yang mendengar Daniel memanggilnya dan tengah baringan, dengan pelan berjalan keluar dari kamarnya menghampiri Daniel. sedang tanganya saja masih di tutup dengan kain perban.


“Ada apa mas manggil saya..?”


“Cepat kamu siapkan makanan kesukaan Anyelir.”


“Tapi mas, saya kan..”


“Baik mas, saya ngerti, saya harus buatin mbak Anye apa?”


“Pancake Vanila..” jawab Anye tersenyum senang.


“Baiklah, saya permisi..” Dani pergi dari hadapan Daniel. Ia menuju dapur dan membuat apa yang di pesan Daniel.


“Biar bibi saja non yang masak, non nungguin saja, kan mas Daniel nggak lihat..?”


“Nggak papa bi, biar saya saja..” jawab Dani tersenyum. Dengan terampil sekali, ia membuat pancake vanila yang di minta oleh Anyelir. Beberapa saat kemudian, jadilah pancake vanila dengan Aroma yang sangat menggoda. Begitu harum dan terbayang kelezatanya.


“Mas, ini pancake nya udah jadi?” ucap Dani menyodorkan kepada Daniel. Daniel menerimanya, dan memberikan kepada Anye.


“Saya permisi dulu mas?”


“Tunggu dulu, kamu harus tetap di situ sampai Anye selesai makan.” Dani meremas ujung bajunya. Sial sekali ia harus melihat adegan yang membuatnya, kecut itu.


“Sayang, coba di cicipi..?” ucap Danielesra di depan Dani.


Rasain kamu gadis bodoh, salah siapa, kamu akrab dengan Nathan.


Anye mulai menyendok pancake, tersebut dan mengunyahnya.

__ADS_1


“Buuihhh...!!!” Anyelir memuntahkan pancake yang ia kunyah.


“Ini rasa apa? Nggak enak..!!”


“Dani..!!” seru Daniel dengan kerasnya.


“I..iya..”


“Kamu ganti dengan yang baru, dengan yang lebih enak..!! Jika rasanya seperti ini lagi, aku akaaaan...”


“Iya mas, saya akan ganti yang baru..” ucap Dani dengan agak bergetar bibirnya, membalikan badanya hendak melangkah menuju dapur. Tiba-tiba langkahnya terhenti, kala tanganya di tahan seseorang. Dani menoleh dan melihat siapa yang memegang tanganya.


“Jangan pernah lagi menuruti perintah yang tidak masuk akal ini kak Dani, ini bukan tugasmu..!!” ucap Evan yang menatap Daniel juga Anyelir.


“Evan? Kapan kamu datang..?”


“Baru saja, saat kak Daniel marah-marah sama kak Dani..”


“Kamu duduk dulu Van, aku mau buatin pancake dulu..”


“Untuk..?”


“Anyelir..” jawab Dani sambil menunduk.


“Untuk dia..?” tanya Evan yang menunjuk Anyelir.


Evan kembali menatap Anyelir. Sorot matanya tajam menembus jantung hati Anyelir. Perlahan ia melangkah mendekati Anyelir dan Daniel masih dengan memegang tangan Dani.


“Siapa kamu berani menyuruh menantu keluarga Wijaya seenaknya? Seharusnya kamu tau diri dengan posisi kamu, dan sebagai seorang wanita, seharusnya kamu punya malu, walau hanya sedikit saja..”


“Diam!! Berani kamu berkata seperti itu lagi, aku hajar kamu..”


“Silakan, dulu kak Daniel bisa berbuat semau kakak kepada Evan, dulu Evan masih kecil, nggak ada keberanian melawan kakak, tapi sekarang, silakan kalau mau berantem, Evan ladenin kok. Sebagi keluarga Wijaya, tentunya kaka bisa bersikap yang baik dan berfikir yang jernih..”


“Semakin lama, kamu semakin kurang ajar ya..?” ucap Daniel geram.


“Sudah mas Daniel, Evan.. , jangan berantem, Dani mohon..?”ucap Dani dan berdiri di antara tengah-tengah mereka.


“Minggir kamu gadis bodoh..!!”


“Awww!!” pekik Dani menahan sakit saat Daniel meraih tanganya yang di perban dan menghempaskanya untuk minggir.


“Kak Dani?” seru Evan yang melihat Dani karena menahan sakit.


”Ini kenapa tanganya? Jawab aku kak Dani." tanya Evan saat tahu tangan Dani di perban.


“Gak papa, Van..?” jawab Dani yang berdiri di samping Evan.


“Beneran gak papa? Gak ada yang melukai kak Dani kan?” ujar Evan melotot ke arah Dani.


“Kakak curiga dengan sikap kamu? Apa kamu mencintai kakak iparmu..?” kata Daniel tanpa basa-basi lagi. Kepala Evan kini memanas mendengar ucapa kakaknya. Ia menatap Dani. Dani yang di tatap seperti itu, menjadi serba salah. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan situasi yang tengah ia alami itu. Lalu Evan gantian menatap Daniel dan kembali mendekatinya.

__ADS_1


“Barusan kakak bilang apa?” ucap Evan.


BERSAMBUNG


__ADS_2