Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 103


__ADS_3

“Aaahhh...!!!! Kamu diam saja, Mon..!!! Aku yang berkuasa di sini, dan berhak melakukan apapun. Aku harap kamu jangan banyak bicara, paham..?”


Dengan lagak yang begitu sombongnya, ia berkata kepada Ramon. Bisa saja Ramon membantah ucapanya, namun kembali kepada perasaanya, ia terlalu menyukai Anyelir yang sedikitpun tak peka terhadap perasaanya. Sungguh ironis.


“Ya sudahlah, terserah kamu saja. Toh aku cuma orang suruhan, nggak lebih...”


“Apa maksudnya ucapan kamu...?”


“Enggak, nggak ada maksud apa-apa. Aku cuma capek, mau istirahat..”


“Sana! Tidur saja di kamar sebelah, udah di bersihkan tukang bersih-bersih..”


Ramon mengangkat kedua bahunya, lalu membalikan badan menuju kamar kosong yang di tunjuk Anyelir dan di siapkan khusus untuknya.


Sedang Anyelir sendiri, ia bergegas ke sebuah ruangan, di sebelah kamar tempat Dani di sekap.


Cekkllleeekkk


Bunyi gagang pintu kamar yang di buka, mengejutkan seseorang yang tengah berbaring di ranjang dengan posisi terikat tangan dan kakinya. Ia adalah Daniel. Lelaki yang menjadi alasan seorang Anyelir membenci dan sampai nekat menyekap Dani.


“Selamat malam Daniel sayang, apa kabar cintaku, emmuachhh...”


Anyelir berkata dan berjalan mendekati Daniel.


“Kamuu...!!! Apa maksud semua ini..? Lepaskan aku Anye...!!”


“Oooowwhhh, nggak tau ya maksud aku apa..? Coba tanyakan kepada diri kamu sendiri Daniel Permana Wijaya..!! Kenapa aku sampai seperti ini kepadamu...!!”


“Jangan buat aku semakin benci kepada kamu Anyelir...!!”


Bentakan Daniel yang sangat keras di sertai mata yang melotot kepada Anyelir tak membuat Anyelir gentar sedikitpun. Justru sebaliknya, ia semakin bersemangat memancing emosi lelaki yang terikat di hadapanya itu.


“Aku semakin bersemangat saja membuat kamu dan gadis sialan itu menderita, Daniel...”


Kaget Daniel mendengar ucapan Anyelir. Ia sudah dapat menebak maksud kata-katanya.


“Jangan sentuh Dani. Kalau kamu ingin marah, lampiaskan saja kepadaku, jangan sangkut pautkan Dia...!!”


Anyelir tersenyum menyeringai. Telunjuknya dengan sangat erotis menari menulusuri setiap inchi wajah Daniel. Dengan kasar, Daniel memalingkan wajahnya, bermaksud menghindari sentuhan Anyelir.


“Namun sayang sekali Danielku sayang, Dia juga ada di sini, nggak lengkap dong kalau nggak ada Dia, permainan akan semakin menarik kalau ada dia, hahaha.....”


Tawa Anyelir terdengar sangat puas sekali.


“Kamu sudah gila Anye..!!! Kamu bener-bener sudah gila..!! Kamu bukan Anyelir yang aku kenal lagi...”


“Diam kamu Daniel...!!”

__ADS_1


“Emmmmmmmfffffff....” Sebuah ciuman mendarat di bibir Daniel. Anyelir dengan sangat bernafsu mencium bibir Daniel, menguncinya agar tidak terlalu banyak berbicara.


“Ciiihhhhh...!!!! Jangan kira aku akan masuk ke dalam permainanmu Anyelir..!! Maaf, aku sudah tidak ada perasaan sama kamu..!!”


Dengan sangat kasar, Daniel memalingkan wajahnya sehingga ciuman Anyelir lepaslah. Begitu geramnya Anyelir mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Daniel, sehingga membuatnya naik darah. Setan yang merasuki dirinya membujuknya untuk menampar Daniel dua kali.


Plaaakkk plaaakkk


“Coba kamu ulangi lagi...!!” Bentak Anyelir dengan sorot mata yang begitu mengerikan. Baru kali ini Daniel melihat sisi lain dari seorang Anyelir.


“Jangan kira aku nggak bisa berbuat kasar sama kamu..!!! Berbuat lebih dari ini pun aku juga bisa..!!”


“Aku nggak takut gertakanmu..!!! Apalagi hanya seperti ini..!!”


Anyelir menyeringai. Dalam fikiranya sudah terbersit ide cemerlang. Ia bangkit dari atas ranjang dan keluar dari kamar. Ia menuju kamar sebelah yang di mana Dani sedang meringkuk di sana.


“Anyelir...?” gumam Dani pelan, saat ia mendekatinya. Dengan tersenyum sinis, Anyelir mulai mencengkeran baju Dani, lalu membawa Dani dengan menyeretnya.


“Ayo ikut aku..!!”


Dengan paksa, Anyelir menyeret Dani keluar dari kamar. Ia tak peduli saat Dani berteriak kesakitan.


“Anyelir, sakit..!! Lepaskan aku..!!”


Anyelir tak menggubrisnya. Ia membawa Dani masuk ke kamar sebelah lalu mendorong Dani ke lantai tepat di hadapan Daniel yang berada diatas ranjang.


“Mas Daniel..?”


Plok plok plok


Anyelir bertepuk tangan senang sambil mengitari Dani yang juga kaget melihat Daniel.


“Waaauuwww...!!! Begitu senangnya aku mempunyai dua mainan baru, hahaha...!!”


“Anyelir...!! Jangan kamu sentuh dia...!! Awas saja kamu...!!”


“Diam..!! Sekali saja kamu bicara, aku akan merusak wajah wanita ini...!!” ucap Anyelir sambil menjambak rambut Dani ke belakang.


“Awww.., sakit...!!”


“Lepaskan dia..!!” teriak Daniel


Plaakkk plaakkk


Dua tamparan mendarat di pipi kiri dan kanan Dani. Dani menahan sakit walupun sebenarnya ia ingin menangis, namun ia tak mau membuat Daniel tambah khawatir. Kembali darah keluar dari ujung bibirnya. Melihat hal itu, Daniel sangat marah. Ia nekat turun dari ranjang walaupun jalan dengan merayap di lantai.


Dengan sekuat tenaga, ia berhasil mendekati Anyelir yang tengah jongkok di depan Dani, lalu mendorongnya dengan kedua kaki yang masih terikat.

__ADS_1


Duuuggghhh


Anyelir tersungkur. Naas. Kepalanya membentur tembok. Sesaat ia terasa pusing. Kesempatan itu tak di siakan oleh Daniel.


“Sayang, kamu tenang, ada aku di sini. Cepat sini in kaki kamu..” ucap Daniel lalu membalikan badanya. Kedua tanganya yang terikat berusaha melepas ikatan kaki Dani. Walau sangat susah akhirnya lepas juga. Bersamaan dengan itu, Anyelir sudah hilang pusingnya. Dengan gusar ia mengambil tali rotan yang ada di hadapanya dan akan mencambukan ke tubuh Daniel.


“Jangan...!!” Dani berteriak dan bangkit dari duduknya bermaksut menghalangi pukulan dari Anyelir yang akan menimpa Daniel.


“Ma...mas Dan...niielll...” kata-kata Dani yang sangat pelan karena tak kuat lagi menahan sakit di punggungnya.


“Daniiiiiiiiiiiiiii..... !!!!” Dani seketika pingsan. Ia terjatuh tepat di pangkuan Daniel. Daniel hanya bisa menangis, meratapi dirinya sendiri yang tak berdaya melihat wanita yang di cintainya tak sadarkan diri di pangkuanya. Saat ia tersiksa, ia hanya bisa melihatnya.


“Aku akan lenyapkan sekalian dia..!!”


“Stoppp Anye...!! Jangan teruskan lagi..!!” teriakan Ramon menghentikan tindakan Anyelir yang akan mencambuk Dani kembali.


“Kamu jangan ikut campur Ramon..!!”


“Aku akan ikut campur, karena kamu sudah keterlaluan Anye..? Ini namanya sudah di luar batas, kamu bisa di penjara seumur hidup..!!”


“Aku tak peduli..!! Karena wanita ini, telah merebut cinta laki-laki yang sudah menjadi kekasihku, kamu tau.!!”


“Kamu, kali ini saja saya mohon, tolong selamat wanita ini, punggungnya terluka...” Daniel menghiba kepada Ramon yang berdiri dan melihatnya.


“Diam kamu...!!” Bentak Anyelir. Ramon terpaksa merangkul Anyelir dan membawanya keluar dari kamar tersebut, agar emosinya sedikit mereda. Walaupun Anyelir sedikit melawan, namun sia-sia.


“Lepaskan Ramon..!! Lepaskan...!!”


“Ok...” Ramon melepaskan rangkulanya. Ia mengangkat kedua tanganya lalu memegang kepalanya sendiri. Sejenak memejamkan kedua matanya, lalu membukanya lagi. Ia benar-benar tak habis fikir. Ia tak menyangka kalau perbuatan Anyelir akan sejauh ini. Di dalam hatinya, ia sungguh sangat menyesal telah membantu Anyelir. Sungguh sangat menyesal sekali.


Namun sudah terlamabat. Semua sudah ia lakukan demi wanita yang ia cintai. Cinta yang sangat membutakan dan menjurumuskanya ke dalam lembah hitam.


“Kenapa...? Kamu menyesal telah membantuku...? Sekarang mau melapaor kepada polisi...?” ucap Anyelir yang melihat gelagat dan ekspresi dari Ramon. Ramon hanya terdiam. Ia masih saja memegang kepalanya dan melihat ke bawah. Mendengar ucapan Anyelir, ia mulai mengangkat kepalanya dan menatap Anyelir dengan tajam.


“Benarkah kamu Anyelir yang aku kenal dulu..?”


“Kamu amnesia..? Apa kamu tidak mengenalku..?”


“Enggak..!! Sekarang aku tidak mengenalmu lagi..!! Kamu bukan Anyelir yang dulu...!! Kamu seperti orang asing bagiku...!! Dan satu lagi, aku menyesal Anye, telah membantumu...!”


“Apa..?! Menyesal..? Hahahah.....!!! Sekarang, apa yang akan kamu lakukan, aku mau lihat...!!”


“Baik, aku akan mengobati punggung gadis itu, mungkin saja ada luka di sana, aku nggak mau mengambil resiko terlalu jauh..” Usai berkata, Ramon hendak membalikan badanya dan akan ke kamar yang ada Dani dan juga Daniel. Namun sangat tidak di duga, tindakan Anyelir sangat mengejutkanya.


“Berhenti..!! Atau aku akan bertindak lebih jauh juga kepada kamu..!!” ancam Anyelir yang menodongkan sebuah benda ke kepala Ramon. Ia tau betul kalau Anyelir tengah memegang pistol. Selangakah lebih maju, Anyelir telah mempersiapkan semuanya dengan sangat rapi sekali.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2