Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 88


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian


Setelah acara makan bersama dengan Daniel, hubungan kakak beradik itu semakin membaik. Hubungan yang sempat retak dan hampir pecah itu, kini selengket lem dan perangko kembali. Tuan Wijaya, yang melihat kedua putranya akur, sangatlah lega. Itu memberikan semangat kepadanya untuk bisa segera sembuh. Dan beberapa hari ini, beliau sudah menunjukan beberapa perubahan. Di antaranya, ia sudah bisa sedikit bicara walau terbata dan kurang jelas. Bisa menggerakan tanganya dan memegang sendok sendiri.


Aneh memang. Rencan Tuhan lebih indah, dari apa yang di bayangkan oleh manusia. Tuhan tidak butuh kisah yang mulus, tapi hati yang tulus. Tuhan tidak butuh orang yang hebat, tapi ia yang selalu taat kepada-Nya.


Sudah dua minggu Dani di rawat di rumah sakit. Selama itu pula, Nathan, nenek Eliza dan juga Daniel menungguinya. Langit yang semula di perkirakan akan kelabu, dan mendung akan menggulung menyelimuti, kini semua sirna. Berganti dengan langit yang cerah. Secerah hati Dani dan juga Nathan. Walau Dani tidak tau yang sebenarnya bagaimana keadaan hati Daniel saat ini. Hampa. Itulah yang kini ia rasakan. Hanya bisa melihat dan memberikan keikhlasan kepada Dani yang sebentar lagi akan di ceraikanya. Hari-hari yang menjadi kesempatanya untuk bisa bercengkerama, bercanda dan bersendau gurau dengan Dani, telah ia lewatkan begitu saja. Kasian. Sebenarnya iya, bagi yang memahami sikapnya. Hari-hari Daniel, kini di isinya dengan berbuat baik kepada Dani. Sering meluangkan waktu untuk menunjaganya di rumah sakit. Hal itu membuat Anyelir cemburu kepada Dani. Sekarang ia di nomor duakan, karena Daniel lebih mementingkan Dani.


Pagi yang cerah. Sebuah mobil mewah, berhenti tepat di depan rumah sakit, di mana Dani di rawat. Karena hari ini, Dani di perbolehkan pulang. Seorang lelaki turun dari mobil tersebut. Dia tak lain adalah Daniel, suami Dani yang akan menjemputnya pulang. Dengan sangat tenang dan dengan langkah panjang namun pasti, ia menuju kamar Dani.


Cekkleeekkkk


“Mas Daniel..? Udah sampai aja, cepet banget Mas ke sininya...?” seru Dani yang sudah siap dan sedang duduk di sofa menunggu Daniel.


“Iya dong. Mas nggak mau kalau kamu sampai nungguin mas terlalu lama, kasian..” jawab Daniel lalu meraih tas yang berisi pakaian Dani, dan tentunya akan di bawa pulang.


“Hehehe, ah bisa aja mas Daniel. Emm, ngomong-ngomong, mas nggak ada kerjaan penting hari ini? Kok nyempetin jemput Dani segala..?”


“Engga Dan, makanya mas bela-belain nyempetin waktu buat jemput kamu. Siapa yang tau umur manusia, mumpung mas masih di beri kesempatan, mas akan berbuat baik kepada kamu, dan juga sebagai penebus rasa bersalah mas selama ini. Kalau pun ada urusan penting, mas juga akan cansel kok, mas rela demi kamu, apa pun itu..”


Deggggg


Hati Dani terhenyak ketika Daniel berkata seperti itu. Yang membuatnya agak kaget sekaligus takut, ketika Daniel bilang ' mumpung masih di beri kesempatan ', seolah-olah, hidupnya tak akan lama lagi.


“Mas ngomong apa sih..? Jangan ngaco ahh..” sergah Dani dengan raut wajah di buat mleyot-mleyot.


“Ahahaha..., lucu juga wajah kamu kalau sedang seperti ini Dan. Kenapa mas tak menyadarinya dari dulu. Kamu sangat manis dan juga baik, ah bodohnya mas tak menyadari semua itu..”


Dani seakan tersihir melihat tawa lepas Daniel yang jarang ia lihat. Ada sisi yang berbeda ketika ia melepaskan senyuman itu. Seolah tanpa beban. Dani melihat Daniel yang sebenarnya.


Ya Tuhan, kenapa hati ini semakin terenyuh mendengar ucapan kamu mas. Dani merasa berdosa, telah berpindah ke lain hati, dan memberikan rasa cinta ini kepada Nathan. Memang benar, kenapa orang dewasa dan anak kecil menulisnya menggunakan alat yang berbeda. Orang dewasa memakai tinta, sedang anak kecil boleh memakai pensil. Karena apa, kini aku tau jawabanya Tuhan. Karena kesalahan orang dewasa tak akan pernah bisa di hapus, sedangkan kesalahan anak kecil masih bisa di hapus dan di maafkan.


Cethuttt cethuuttt


Dua kali jari Daniel mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring di depan wajah Dani. Karena gadis itu asyik melamun.


“Ngelamunin apa sih..?” ujar Daniel membuyarkan lamunan Dani.

__ADS_1


“Ehhh, engg....nggga kok. Ayo mas, kita pulang sekarang..?” Ajak Dani yang terlihat celimpungan.


Daniel tersenyum. Lalu melangkah keluar bersama Dani meninggalkan kamar tersebut.


“Mas, tunggu bentar..!!”


Dani menghentikan langkahnya, dan mengambil dompet di dalam tas selempang miliknya, membuat Daniel mengernyitkan keningnya.


“Kamu mau ngapain sih, Dan..?” tanya Daniel yang terus memperhatikan tingkah Dani.


“Laahh, masak nggak bayar administrasi mas. Emang orang di rawat itu gratis..?” ucap Dani dengan polosnya dan sibuk membuka dompetnya, bermaksud mengambil ATM nya.


“Dasar bodoh. Apa gunanya mas yang masih berstatus suami kamu. Udah mas lunasin semuanya, kamu nggak usah khawatir..” jawab Daniel dengan menjentik jidat Dani dengan pelan.


“Sakit mas...” ucap Dani yang memegang keningnya.


“Maaf, maaf.., becanda kok..” ujar Daniel yang spontan mengusap kening Dani.


Degggg


“Tapi bo'ooooooonnggg....” canda Dani yang menggoda Daniel.


“Hiiiiiihhhhh, kamu ya...?” sergah Daniel yang kini raut wajahnya di buat mleyot oleh tingkah Dani barusan.


“Maaf mas, becanda kok...”


Keduanya tersenyum. Senyum yang selama menikah hingga sekarang baru muncul itu, di rasakan keduanya sangat hangat antara satu sama lainya. Damai. Itulah kata yang mewakili hati keduanya. Setelah sampai di parkiran mobil, Daniel terlebih dahulu membukakan pintu untuk Dani, mempersilakanya masuk, baru kemudian meletakan tas yang berisi baju di jok belakang. Lalu Daniel melajukan mobilnya dengan pelan, karena ingin membuat Dani nyaman duduk di sebelahnya.


“Dan, udah lama kita nggak makan bareng kan? Kamu mau kan kalau mas ajak makan, sekedar ingin menebus kesalahan mas saja..”


“Makan..? Boleh. Tapi Dani yang milih tempatnya yach..?” jawab Dani yang tak sadar muncul manjanya. Hal itu membuat hati Daniel begitu senang melihatnya.


“Boleh. Kamu boleh milih tempat yang kamu suka kok..”


“Di mana saja...?”


“Iya. Dii mana saja, silakan kamu pilih...”

__ADS_1


“Oke...”


Dani terdiam. Ia sibuk memikirkan tempat yang akan ia tuju. Sedikit bingung sih, tapi kemudian ia tersenyum sendiri.


“Yess, udah ketemu..”


“Mau makan di mana, Dan..?” tanya Daniel penasaran melihat tingkah Dani.


“Dani ingin makan di rumah papa. Udah dua minggu nggak makan bareng papa. Bagimana kalau nanti malam saja mas, sekaliyan sama Evan..?”


“Di rumah papa..? Kamu nggak salah ngomong kan..?” tanya Daniel yang belum percaya dengan permintaan sederhan Dani.


“Engak mas, nanti malam saja. Sekaliyan kumpul-kumpul, bolehkan Dani mengundang nenek dan juga mbak Risa..?”


“Boleh kok. Nanti mas juga akan mengundang tamu spesial tentunya...” ucapan Daniel membuat Dani penasaran.


“Tamu spesial..? Siapa mas? Kasi tau dong..?”


“Enggak ah. Itu kan surprise buat kamu. Kalau. mas kasi tau sekarang, namanya nggak surprise lagi dong..”


“Ah, peliitt..!! Ya sudah lah kalau nggak mau kasi tau..!!” jawab Dani sewot. Daniel tersenyum. Entah mengapa, ia semakin senang menggoda Dani, karena ekspresi wajah gadis itu yang sering berubah-ubah, membuat ia semakin ingin berdekatan terus denganya.


***


Sebentar kemudian, sampailah mereka di rumah tuan Wijaya. Papa Daniel juga sekaligus papa mertua Dani.


“Mas, kok pulang ke sini? Nggak ke rumah mas aja..?”


“Enggak Dan. Akhir-akhir ini mas maunya di rumah papa, biar dekat sama beliau, kamu nggak keberatan kan..?”


“Oh, enggak mas. Justru Dani malah seneng, bisa berkumpul sama papa dan juga tante Ema...”


Daniel melangkah bersama Dani memasuki rumah yang megah itu. Pertama yang mereka cari adalah tuan Wijaya. Dan kebetulan, tuan Wijaya sedang duduk bersama tante Ema di teras samping.


“Dani...?” seru tante Ema girang.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2