
Sore itu Evan terlihat berpakaian rapi. Mobil yang selalu setia menemaninya, sudah bersih dan siap di gunakan oleh sang pemiliknya untuk menjemput seseorang di bandara. Seseorang yang spesial, yang akan menetap di rumah tuan Wijaya.
“Paah, Evan berangkat sekarang..” ucap Evan Sembari mencium tangan papanya.
“Hati-hati Van, jangan ngebut..”
Selalu pesan tuan Wijaya seperti itu, jika Evan atau Daniel berpamitan untuk pergi.
lui Tuan Wijaya sedang bersantai sore itu, didi temani oleh Ken. Mereka sedang menikmati udara sore di teras samping ketika Evan berpamitan denganya.
Perlahan namun pasti, suara mobil Evan menderum dan mulai melaju meninggalkan rumah tuan Wijaya. Melintasi jalan raya dan sesekali mendahului di antara deretan mobil yang di laluinya, dan beberapa kendaraan.
Tepat pukul 17.00 WIB, sampailah Evan di bandara. Segera saja ia memarkirkan mobil, dan berlari kecil memasuki area bandara tersebut. Sangat tepat sekali kedatangan Evan. Tak berapa lama setelah ia sampai, penumpang dari pesawat yang terbang dari Austria mendarat 10 menit kemudian. Evan menunggu seseorang yang datang dari Austria dan berada di antara orang-orang yang tujuanya sama dengan Evan. Menunggu seseorang entah itu keluarga, saudara atau bahkan kekasihnya. Sambil celangak celinguk, Evan memeriksa setiap penumpang yang keluar dari pintu kedatangan.
Akhirnya ia menyunggingkan senyuman, tatkala melihat seorang wanita cantik, umurnya sekitar 40 an, namun ia terlihat masih muda, nggak kelihatan kalau ia sudah kepala empat.
“Tante Ema...” Evan melambaikan tanganya ke arah wanita yyang di panggilnya tante Ema itu.
Tante Ema, adalah adik kandung tuan Wijaya. Bertahun-tahun ia menetap di Austria, karena ikut dengan suaminya, yang bernama George, dan berkebangsaan asli Austria. George adalah kolega bisnis tuan Wijaya, dan secara tak sengaja saat jamuan makan malam, tante Ema dan George bertemu. Keduanya saling jatuh cinta, dan George melamarnya untuk di jadikan istrinya.
begitu sayang George dengan tante Ema. Sampai ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, tak penah sedikitpun ia mengungkit soal anak kepada tante Ema. Ia sangat menjaga perasaan tante Ema, tak ingin membuatnya bersedih.
Karena George, suaminya beberapa bulan lalu telah meninggal, ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Lagi pula ia belum di karunia anak, jadi terasa sepi berada di rumah sendiri, apalagi di negara asing.
“Apa kabar tante..?” Evan memeluk tante Ema. Begitu juga sebaliknya, tante Ema membalas hal serupa.
“Kamu makin gateng aja Van, gimana kabar kamu?” Tante Ema melepas pelukanya.
“Baik, tante. Mari segera saja Evan antara ke rumah..” Tante Ema mengangguk, dan Evan mengangkat koper yang di bawa tante Ema. Memasukanya ke bagasi mobil, untuk kemudian segera meluncur pulang.
“Udah beberapa tahun tante nggak pulang ke Indo, udah banyak perubahan yach?”
“Iya, tante sih nggak pernah pulang..”
“Sebenarnya ingin pulang, karena om George sakit, tante gak bisa meninggalkanya, tante nggak tega. Sekarang om kamu sudah damai di surga, itu jalan terbaik buat om kamu.”
“Yang sabar, tante..”
__ADS_1
Tante Ema tersenyum mendengar ucapan Evan. Wajah yang terlihat sangat kuyu itu menunjukan kalau ia sangat lelah. Serta lingkar hitam di bawah mata seolah menegaskan kalau ia harus banyak beristirahat.
Sepanjang perjalanan, tante Ema di suguhi pemandangan yang membuatnya kagum. Gedung-gedung yang dulu hanya beberapa saja, kini sudah penuh sesak memenuhi kota itu, jalan-jalan yang bersih, rapi serta banyak tanaman yang menghijau menghiasi di sepanjang jalan raya tersebut.
Tante Ema terhanyut akan situasi yang begitu asing baginya, namun menngingatkanya dengan sejuta memori indah yang tak mungkin di lupakanya, karena kota itu merupakan tempat kelahiranya, dan tempat ia di besarkan.
“Ahh, sudah sampai ya..?” Tak sadar tante Ema, mobil yang ia tumpangi ternyata sudah sampai di depan rumah kakaknya.
Tante Ema turun, dan sejenak mengedarkan pandanganya. Menyapu semua tempat dan sudut yang nampak di bagian luar rumah itu.
“Benar-benar tidak berubah sama sekali..” gumam tante Ema, yang kini mulai menapakan kakinya. Selangkah demi selangkah ia berjalan. Menyusuri jalan yang menuju rumah yang sangat besar itu.
“Selamat datang adiku, Ema..” Rupanya tuan Wijaya sudah menunggu kedatangan adik perempuanya di ambang pintu. Tante Ema yang melihat kakaknya berdiri menunggunya, segera berlari ke arahnya.
“Mas..” Tak kuasa lagi, tante Ema memeluk erat tubuh kakaknya. Kerinduan yang selama bertahun-tahun ia pendam, kini meluap sudah. Kembali ia merasakan pelukan hangat seorang kakak, merasakan aroma yang menjadi ciri khas dari kakaknya.
“Sudah, ayo kita masuk dulu..?” Tante Ema mengangguk setelah mereka saling melepaskan pelukan. Evan tersenyum melihat papa dan tantenya sangat rukun dan akrab sekali. Ia pun mengekori mereka untuk masuk ke dalam.
“Gimana kabar mas Wijaya? Sehat..?”
“Ya seperti yang kamu lihat Ema, kakakmu ya beginilah keadaanya..” Obrolan yang asik saat mereka berjalan ke ruang tamu.
“Anak itu di rumahnya. Oh ya, sekarang ia sudah menikah..”
“Sudah menikah? Kenapa mas tak memberitahu Ema sih..?” Tante Ema protes dengan sedikit mendelikan matanya yang bulat kepada tuan Wijaya.
“Jangan marah dulu, duduklah dulu, nanti baru mas jelasin..” Tante Ema menurut. Ia mendaratkan tubuhnya di sofa yang yang ada di ruang tamu tersebut.
“Selamat datang nyonya Ema...” sapa Ken yang muncul dari dalam, dan membungkukan badan kepada adik majikanya itu.
“Ken..? Masih betah saja kamu kerja di sini. Makasih banyak Ken, telah mejaga kakak saya..”
“Sama-sama nyonya..” jawab Ken sambil tersenyum.
Hari itu, menjadi moment istimewa. Moment di mana, tante Ema dan tuan Wijaya melepas kangen setelah sekian lama tidak bertemu. Tak menyiakan kesempatan itu, Evan ikutan nimbrung ngobrol bersama keduanya. Sesekali terdengar candaan dan tawa bahagia dari mereka.
Di rumah Daniel
__ADS_1
Daniel turun dari mobilnya, setelah Nathan memarkirkan dengan rapi di garasi samping rumahnya. Perlahan ia turun dari mobil tersebut. Dengan agak lesu, ia melangkah memasuki rumah, dan segera menuju kamarnya. Ia melepas jas yang ia pakai dan melempar ke sembarang arah. Lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
“Ke mana gadis bodoh itu?” gumamnya lalu mengambil ponselnya dan memencet nomornya yang di namai 'Benalu', karena lagi males berteriak untuk memanggilnya.
Ndreettt ndreettt ndreeetttt
Ponsel Dani bergetar ketika ia sedang duduk membaca novel yang ia beli kemarin.
“Mas Daniel..?” gumam Dani yang menghentikan kegiatan membacanya. Lalu ia pun menyambungkanya.
“Hehhh, kamu cepat ke kamarku..!!” Dengan nada ketus sekali ia memanggil Dani, istrinya.
“Add......”
Tut tut tut
Bunyi ponsel yang di tutup sebelum Dani meneruskan ucapanya. Dani menghela nafas beratnya. Dengan terpaksa ia berdiri dan beranjak keluar dari kamarnya.
“Mau ke mana, Non..?” tanya bibi yang melihat majikan mudanya berjalan melewati dapur.
“Ke kamar mas Daniel, kenapa bik?”
“Gak papa kok non, cuma nanya..” Dani tersenyum lalu kembali melangkah menuju kamar Daniel. Tak lama Dani sudah sampai di depan kamar Daniel.
Tok tok tok
“Masuk...” jawab Daniel dari dalam.
Dengan perlahan Dani masuk, lalu menghampiri Daniel.
“Ada apa mas memanggil saya?”
“Tar malem kita pergi ke rumah papa, untuk makan malam, kamu ngerti kan apa yang harus kamu lakukan..?”
“Makan malam?” tanya Dani heran. Ia teringat akan kejadian kemarin, di mana suami dan papa mertuanya bertengkar, dan ia di tinggalkan begitu saja oleh suaminya.
“Iya, jangan banyak tanya. Sekarang kamu siapin air hangat, aku mau mandi..!”
__ADS_1
BERSAMBUNG.