
Pagi kembali menyapa dengan ceria. Matahari bersinar menampakan dirinya menyembulkan sinarnya, untuk memulai kehidupan di muka bumi ini. Sinarnya yang begitu hangat, perlahan menerobos masuk melalui celah tirai jendela, menggelitik dan mengusik kenyamanan tidur seorang gadis yang bernama Dani. Ia sedikit membuka matanya, dan melihat cahaya yang begitu menyilaukan.
Bau bantal serta selimut yang selalu ia rindukan membuatnya malas untuk bangun pagi itu, mengingat sepuluh hari kemarin ia tidak menghuni kamarnya. Hanya menggeliat sebentar memastikan ia tak lagi berada di rumah sakit, lalu kembali ia bergumul dan menyembunyikan dirinya di balik selimut kesayanganya.
Suara sepasang langkah kaki terdengar mendekat. Tak berapa lama, terdengar pintu kamar Dani terbuka. Nenek Eliza menggelengkan kepala, melihat cucu satu-satunya masih berbalut di dalam selimut. Setelah melihat cucunya masih tidur, kembali nenek Eliza menutup pintu tersebut.
“Inah, kalau nanti Dani bangun, tolong kamu buatkan dia jus alpukat kesukaanya..” Nenek Eliza berpesan kepada bibi yang sudah bekerja lama di rumahnya.
“Iya nyonya, nanti akan Inah buatkan untuk non Dani..”
Nenek Eliza segera berangkat ke toko roti, karena hari sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB.
Di toko roti, Risa, asisten kepercayaan nenek Eliza, sudah terlebih dahulu datang ke tempat itu. Tempat ia mencurahkan seluruh dedikasinya semaksimal mungkin. Dengan beberapa karyawan, ia sudah memulai aktifitas. Semua sibuk dengan kerjaan masing-masing. Ada yang menyiapkan bahan untuk membuat roti, ada yang mengadon, ada juga yang membersihkan terlebih dahulu tokonya sebelum di buka. Bau dari aroma roti yang di panggang mulai tercium, membuat orang-orang yang kebetulan lewat, ingin mampir dan mencicipinya.
Dany's Bakery
Sudah terkenal sejak papa dan mama Dani masih hidup dan mengelola toko roti tersebut. Dengan kata lain, toko roti tersebut adalah rumah kedua bagi mereka. Sawah dan ladang tempat mereka mengais rejeki demi sesuap nasi untuk di berikan kepada anak mereka, Dani. Tuhan telah memberikan mereka rizki yang melimpah melalui toko tersebut. Tidak hanya terkenal karena cita rasanya, namun keramah tamahan sang pemilik toko yang melayani setiap pembeli yang datang.
Kini satu persatu, roti yang sudah dipanggang mulai memenuhi lemari kaca, tempat semua roti itu di pajang dan menarik setiap orang yang melewati toko tersebut untuk membelinya. Ada yang bertopingkan meises, kacang, keju, dan bahkan abon serta daging. Semua komplit di jual dan hasil buatan dari toko sendiri.
Sebuah taksi terlihat berhenti di depan toko tersebut. Nenek Eliza keluar dan terlihat membayar sang supir. Dengan langkah pelan, nenek Eliza memasuki tokonya.
“Pagi nenek....?”
Begitulah sapaan ramah nan hangat yang nenek Eliza terima dari para karyawanya. Semua sudah seperti keluarga sendiri. Suka dan duka yang mereka alami bersama di toko itu menjadikan satu ikatan yang erat di antara nenek Eliza dan para karyawanya.
***
“Hallo sayang, aku mau ke rumah sakit. Hari ini aku nggak jemput kamu dulu ya, gak papa kan..?” Suara Daniel di seberang sana yang tersambung dengan handphone Anyelir.
“Enggak papa, aku bisa berangkat ke salon aku sendiri kok...” jawab Anyelir.
“Love u... ” ucapan manis yang terlontar dari bibir Daniel.
__ADS_1
“Love u to...” sahut Anyelir, lalu keduanya menutup telfon masing-masing.
Daniel segera bersiap, dan segera meluncur dengan mobil kesayanganya menuju rumah sakit. Karena ia akan melunasi semua administrasi biaya perawatan dan operasi Nathan. Karena merasa bertanggung jawab penuh, dengan apa yang sudah Nathan lakukan walaupun ia tak mengharap imbalan apa pun, tetapi Daniel merasa berhutang budi padanya.
Tak berapa lama, mobil mulai memasuki halaman rumah sakit. Setelah terparkir, Daniel turun dan perlahan berjalan memasuki rumah sakit tersebut. Setelah menuju kasir, dan menyelesaikan semua biayanya, Daniel berjalan menuju kamar di mana Ken dan Nathan telah menunggunya.
Tok tok tok
Setelah mengetuk pintu, Daniel masuk tanpa menunggu jawaban dari orang yang berada di dalamnya.
“Mas Daniel...?”
“Nggak terlambat kan? Oh iya, Nathan.., pulangnya biar aku sama Ken aja yang anterin kamu, nggak keberatan kan..?” ucap Daniel yang berjalan mendekatinya.
“Terima kasih, saya bisa naik taksi..” jawab Nathan datar.
“Aku harap, kamu jangan menolak. Apa yang sudah kamu lakukan, itu nggak seberapa di banding dengan yang saya berikan ke kamu..”
Bergegas mereka bertiga segera keluar meninggalkan kamar tersebut. Ketiganya segera masuk ke dalam mobil setelah berada di parkiran, dan Ken lah yang menyetir mobilnya. Sedangkan Daniel dan Nathan duduk di belakang.
“Kamu sudah ijin di tempat kerja kamu kan..?”
Nathan mengerutkan dahinya mendengar perkataan Daniel. Serta merta pandangan matanya penuh ke arah Daniel, lelaki yang duduk di sampingnya.
“Ijin? Tempat kerja..?”
“Iya, waktu kemarin kamu di rumah sakit..”
“Saya belum kerja. Susah nyari kerjaan, udah ke sana ke mari, tapi belum ada lowongan juga..”
“Wah kebetulan. Seandainya aku tawarin kamu kerjaan, apakah kamu mau menerimanya..?”
“Kerjaan..?”
__ADS_1
“Iya. Menjadi pengawal pribadiku. Aku lihat kemarin kamu jago beladiri. Aku lagi butuh orang seperti kamu. Tentang gaji, berapa pun kamu minta, aku akan kasih...”
Hem, mas Daniel mas Daniel..
Gumam Ken yang mendengar ucapan Daniel saat ia sibuk menyetir.
Nathan terdiam. Memikirkan kata-kata Daniel. Kalau ia tolak, saat ini ia sedang butuh pekerjaan. Kelamaan nganggur juga nggak enak, hidup kan juga perlu biaya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya.
“Baiklah, saya terima tawaran anda..”
“Okey. Kapan pun kamu siap, kamu langsung hubungi saya. Ini..” ucap Daniel yang menyodorkan selambar karti nama kepada Nathan.
Daniel Permana Wijaya. Oh penerus Wijaya Grup
Gumam Nathan dalam hati. Mobil pun berhenti di kawasan sebuah kontrakan yang tak begitu ramai. Hanya beberapa penghuni yang mendiami kontrakan tersebut dan salah satunya adalah Nathan. Dan letaknya pun sangat strategis, di pinggir jalan raya, namun bukan jalan utama.
“Terima kasih telah mengantar saya..” ucap Nathan yang keluar dari mobil tersebut, lalu kembali menutup pintunya.
“Sama-sama. Ingat, kapan pun kamu siap, langsung hubungi aku..” Nathan tak menjawab, hanya mengacungkan jempol. Lalu melambaikan tangan kepada Daniel dan Ken. Setelah mobil itu melaju meninggalkan kontrakan, Nathan segera membuka pintu pagar dan masuk menuju kamarnya.
“Nathan, kok gak kelihatan beberapa hari ini, ke mana saja..?” tanya ibu pemilik kontrakan, yang selalu saja genit kepada Nathan. Karena ia janda dan sudah lama di tinggalkan suaminya yang telah meninggal.
“Dari rumah temen bu...” jawab Nathan dengan sopan.
“Iihhh..kok ibu sih? Panggil tante Wina gitu dong...” Sambil mengedipkan mata.
“Iya tante Wina. Maaf saya mau masuk dulu..” ucap Nathan yang segera masuk karena tak ingin berlama-lama meladeni ibu yang punya kontrakan tersebut.
Uhhhh....genitnya minta ampun. Lama-lama ga betah gua di sini, hiiii....
Nathan yang baru saja memasuki kamarnya, segera menhempaskan tubuhnya. Terasa nyaman sekali, setelah sekian hari tak ia tempati.
BERSAMBUNG
__ADS_1