Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 31


__ADS_3

Daniel melihat bagaimana Nathan menenangkan Dani, istrinya. Sungguh perlakuan seoarang lelaki sejati dan seperti kekasihnya saja. Ada sedikit, lebih tepatnya secuil kepingan rasa marah di hatinya, melihat keakraban mereka.


Haiiisshhh...!! Aku nggak akan menyukai kamu gadis kampungan. Cintaku hanya untuk Anyelir. Hanya Anyelir seorang.


Gumam Daniel dalam hati yang menepis rasa amarah yang muncul di hatinya. Kemudian ia melangkah mendekati Nathan dan Dani yang masih duduk berjongkok.


“Nathan..., aku takut..”


“Iya non, sekarang sudah aman, penjahat tadi gak akan ganggu non lagi. Besok kita sudah pulang kok..” ucap Nathan yang menenangkan majikan mudanya.


Aneh. Jantung Nathan berdegup dengan cepat, saat ia menatap kedua bola mata yang indah nan teduh milik nona mudanya itu. Ada rasa yang tak bisa ia pahami.


Kemudian, Ia pun membantu nona mudanya untuk segera berdiri untuk beranjak dari tempat itu. Saat mereka membalikan badan, Nathan dan Dani terkejut, karena Daniel dengan sorot mata yang tajam menatap Dani.


“Sudah puas membuat semua orang panik..!? Di bilangin jangan misah malah kelayapan sendiri. Bagini kan akibatnya..!?” Bentak Daniel dengan keras, yang berdiri di hadapan mereka bersama Anyelir.


“Ma..maaf mas Daniel, saya salah..”


“Maaf, maaf! Ayo kembali ke hotel..!” ucap Daniel dengan kasar lalu menarik tangan Dani, dan membawanya ke mobil yang ia sewa tadi. Anyelir dan Nathan heran dengan sikap Daniel. Kebengongan melanda Anyelir. Sedangkan Nathan merasa kasihan melihat Dani di perlakukan seperti itu. Mereka lalu mengikuti Daniel dari belakang


“Masukk...!!”


Perintah Daniel dengan kasar dan sedikit mendorong tubuh Dani untuk masuk ke mobil. Dani patuh dan mengikuti perintah Daniel. Dengan posisi merangkul kedua lututnya, ia duduk di dalam mobil.


Kini posisi duduknya, Dani dan Daniel berada di bagian tengah, sedangkan Nathan dan Anyelir duduk di belakang.


Sebenarnya Anyelir nggak terima, karena Daniel moodnya lagi buruk, ia pun mengerti dan mengalah.


Daniel menyuruh sopir segera melajukan mobilnya. Suasana dalam mobil hening. Dani menatap keluar jendela dengan masih sedikit gemetaran kalau mengingat kejadian tadi. Ingin rasanya ia menyandarkan kepalanya dan menceritakan segala keluh kesahnya, namun kepada siapa? Sedangkan ia jauh dari neneknya. Suaminya saja tak menghiraukanya.


Sejenak ia memejamkan mata. Begitu tenang dan damai hanya dalam beberapa detik saja.


“Bangun...! Udah sampai..!” ucap Daniel yang menyentuh bahu Dani. Ia pun terperanjat karena kaget.


“Begitu saja kaget. Aku bukan penjahat..” suara Daniel masih sangat ketus sekali.


“Iya, maaf..”


Mereka segera turun. Dengan langkah tertatih, Dani berjalan memasuki hotel. Anyelir dan Daniel lebih dahulu memasuki hotel, tak menghiraukan Dani.


Nathan dengan setia menemani Dani. Dengan sabar, Nathan berjalan di belakang Dani dengan pelan. Kalau saja ia bukan istri majikanya, Nathan sudah membantu Dani untuk segera bisa sampai ke kamarnya.


“Terima kasih Nathan....” ucap Dani saat ia sampai di depan kamarnya.

__ADS_1


“Sama-sama, Non..” jawab Nathan.


Kemudian masuklah Dani ke dalam kamarnya. Nathan segera masuk ke kamarnya setelah Dani menghilang di balik pintu.


Rasa lelah yang menghinggapinya, membuat Dani melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Rasa segar ia rasakan, bersamaan dengan guyuran air yang mengucur dari shower di atas bathtub yang ia gunakan untuk berendam.


Ahhhhhhhh.......


Seru Dani yang mengingat kejadian tadi. Peristiwa itu muncul kembali di benaknya. Dengan segera, ia menyelesaikan mandinya, setelah itu mengenakan baju yang ia bawa. Tanpa memikirkan perutnya yang dari tadi protes minta di isi, langsung saja ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Menutupi tubuhnya dengan selimut hingga lehernya.


Tuhan, apa aku sudahi saja pernikahan yang seumur jagung ini. Baru kemarin saja sudah membuat hatiku lelah.


Gumam Dani yang belum memejamkan mata. Saat ia tengah melamun, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


“Siapa...?”


Tak ada jawaban. Kembali pintu kamarnya di ketuk lagi. Dengan terpaksa Dani beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu kamarnya.


“Mas Daniel...?”


Seperti kemarin, tanpa menjawab sapaan Dani, Daniel langsung nyelonong masuk begitu saja. Kali ini Dani tetap berdiri di depan pintu, tak mengikuti Daniel yang berjalan dan duduk di sofa di dalam kamar Dani.


“Apa kamu akan berdiri sepanjang malam di situ?” tanya Daniel yang menatapnya.


“Tenang saja, aku nggak akan berbuat macam-macam sama kamu.”


Dani dengan takut mulai beranjak dan melangkah ke arah Daniel.


“Apa kamu baik-baik saja...?” tanya Daniel yang membuat Dani terkejut.


Kenapa dia berubah lagi? Kali ini, apa aku nggak salah dengar? Bertanya dengan suara pelan seperti ini? Kalau begini kan terlihat baik juga dia.


“Di tanya malah bengong?” suara Daniel membuyarkan angan-angan Dani.


“I...jya mas Daniel. Saya gak papa kok..”


Tak berapa lama, seorang pelayan hotel mengetuk pintu, dan membawakan makanan pesanan Daniel. Setelah pelayan tersebut menyajikan hidangan di hadapan Daniel dan Dani, ia pun segera keluar dari kamar tersebut.


“Mas Daniel, ini ada apa kok mas pesen makanan..?”


“Duduk dan temani saya makan...”


“Apa...?” seru Dani yang lagi-lagi di buat kaget.

__ADS_1


“Kamu nggak mau?” seru Daniel dengan kedua mata yang mendelik.


“Iya, saya akan temani mas Daniel..”


Mulailah Dani menemani makan Daniel. Selama makan malam bersama, keduanya tak mengeluarkan suara. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring.


Tampan sekali saat kamu makan mas, apakah nggak bisa kamu memperlakukan aku seperti ini selamanya. Tapi..., kamu sudah cacat di hatiku. Sampai kapan pun, aku tak akan mau tidur sama kamu, karena kamu selalu bersama kekasihmu


Gumam Dani yang melirik ke arah Daniel. Sedangkan Daniel bersikap tenang saja.


Makan malam ini sebagai penebus kesalahanku sama kamu gadis bodoh. Aku tak ingin saja kamu menceritakan ini kepada papa.


“Kejadian tadi jangan sampai terulang lagi. Dan kamu jangan pernah bercerita kepada siapa pun. Kamu mengerti?” ucap dani setelah selesai makan.


“Saya mengerti...” jawab Dani.


“Sekarang tidurlah, besok biar pelayan hotel yang membereskan semua ini..” ucap Daniel yang akan melangkah pergi. Namun ia mengurungkanya. Ia berhenti dan membalikan badanya. Melangkah ke arah Dani. Tiba-tiba Dani terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Daniel. Dengan spontan ia memeluk Dani. Kali ini Dani terdiam.


Baru pertama ini kamu memeluku mas...


Pelukan Daniel di rasakan sangat hangat sekali. Namun ia tak berkata apa pun.


Ternyata kamu enak juga di peluk gadis bodoh. Namun aku nggak akan terbawa suasana. Ini hanya sekedar penebus kesalahan.


“Sekarang kamu bisa beristirahat. Besok kita harus kembali.” Dani hanya mengangguk menjawab ucapan Daniel. Ia masih belum bisa mengerti dengan perubahan sikap Daniel. Ia menatap punggung laki-laki yang berstatus suaminya itu berjalan meninggalkan kamarnya.


Makan tuh rasa baper kamu.


Gumam Daniel saat ia berada di luar kamar Dani, dan segera masuk ke kamarnya.


Buggg


Sebuah bantal besar terlempar tepat di wajah Daniel.


“Sayang..? Kenapa marah-marah..?”


“Kenapa pakai acara makan malam bersama dia..!!!” teriak Anyelir yang mengamuk.


“Tenang dulu sayang, aku akan jelasin..?”


“Aaaaggggrrhhhh...!!! Siiittttt.....!!!”


Melihat wanitanya marah seperti itu, Daniel segera memeluknya, agar Anyelir bisa reda dari amarahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2