Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 72


__ADS_3

Setelah Daniel menampilkan beberapa contoh gaun, Clara dengan cekatan segera melihatnya, supaya bisa memberikan pendapatnya kepada Daniel.


“Ini bagus, Pak Daniel...” Clara menunjuk gaun putih dengan lengan yang hanya menutup sebagian kecil lengan si pemakainya. Gaun putih itu sangat elegant sekali, dengan aksen mutiara menghiasinya.


“Mmm, bagus juga, tentunya akan sangat cocok di pakai oleh gadis bodoh itu.” gumam Daniel sambil tersenyum. Ia tak sadar kalau ia tak sendirian. Ada Clara, sekertaris yang sedang bersamanya.


“Apa pak? Gadis bodoh? Siapa yang bapak maksud..?” ucap Clara yang mengerutkan dahinya karena heran dengan ucapan Daniel barusan.


“Bukan siapa-siapa kok. Saya ikut pilihan kamu ya, deal!! Tolong kamu pesan ke boutique ini dan tolong ambil sekalian, kamu mengerti kan..?” sergah Daniel dengan hanya satu lirikan mata saja, dan membuat Clara faham akan semuanya.


“Baiklah pak Daniel, saya permisi dulu..”


“Silakan..”


Clara, sang sekertaris segera melaksanakan tugas dari Daniel. Gadis itu dengan cekatan segera menghubungi boutique yang di maksud oleh Daniel. Dengan hanya menyebutkan nama embel-embel Permana Wijaya, pemilik boutique tersebut segera tau, dengan siapa sedang berurusan. Satu buah gaun sudah di pesan. Siang itu juga, Clara segera meluncur ke boutique untuk mengambil gaun yang di pesan oleh Daniel.


Clara berangkat di antar oleh sopir pribadi Daniel. Beberapa saat kemudian, sampai juga Clara ke boutique tempat ia akan mengambil pesanan atasanya. Ia segera turun, sedangkan sopir menunggunya di dalam mobil yang terparkir di depan boutique tersebut.


Suasana boutique siang itu agak ramai dengan beberapa pengunjung. Ada yang baru memesan, sekedar melihat-lihat, bahkan ada yang sedang fitting baju pengantin juga.


“Selamat siang..?” sapa Clara saat memasuki boutique tersebut kepada salah seorang pelayan yang terlihat sedang tidak melayani.


“Siang mbak, ada yang bisa saya bantu?” jawab si pelayan.


“Saya yang tadi memesan gaun, atas nama bapak Daniel Permana Wijaya mbak..” Jelas Clara.


“Owh, pesanan bapak Daniel? Silahkan duduk dulu mbak, saya akan mengambilkanya sebentar..” ucap si pelayan dengan penuh hormat, dan kelihatan sekali kalau ia mengagungkan nama Permana Wijaya.


Clara menunggu pesananya di ambilkan, dengan duduk santai di sebuah sofa yang di sediakan di ruangan itu. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan pun datang. Sang pelayan keluar dari sebuah ruangan, dengan membawa sebuah kotak besar berisi baju.


“Maaf mbak, menunggu lama..”


“Oh, nggak papa kok.”


“Ini pesananya, atas nama Daniel Permana Wijaya..”


“Daniel Permana Wijaya?” gumam seorang wanita yang berada di dekat mereka. Ia tak lain adalah Anyelir, yang kebetulan juga berada di boutique langgananya tersebut. Kini Anyelir penasaran. Karena Daniel kekasihnya, memesan sesuatu di boutique tersebut. Ia menunggu sebentar, sampai sang sekertaris kekasihnya itu pergi, sambil pura-pura menilik-nilik baju.


“Terima kasih mbak. Ini saya bayar pakai kartu..” Clara menyodorkan kartu ATM yang di berikan oleh Daniel tadi. Sebentar kemudian, si pelayan menggesekan kartu di mesin ATM mini yang di sediakan di boutique tersebut. Beberapa saat kemuadian, sang pelayan kembali dan menyerahkan kembali kartu ATM kepada Clara.

__ADS_1


“Karena semua sudah selesai, saya permisi dulu.”


“Terima kasih atas kunjunganya, di tunggu kenjungan selanjutnya..” ucap sang pelayan dengan sangat ramahnya. Clara berlalu dari tempat itu. Anyelir segera menghampiri sang pelayan, begitu Clara sudah keluar dari boutique tersebut.


“Mbak, mbak, bentar deh..”


“Ya mbak, ada yang bisa saya bantu?” jawab pelayan yang berhenti karena Anyelir memanggilnya.


“Maaf, kalau boleh tanya, mbak-mbak tadi pesen apa ya?”


“Maaf mbak, saya tidak bisa mengatakanya, karena itu adalah privasi langganan kami..”


“Owwwhh begitu ya..?” Sungut Anyelir dengan raut wajah kecewa. Sang pelayan segera permisi dari hadapan Anyelir dan meninggalkanya.


Apakah yang di pesan Daniel adalah gaun untuku? Kalau itu memang benar, ahh, betapa senangnya hatiku, xixixi...


Anyelir menebak-nebak dan tersenyum sendiri. Ia tak dapat membayangkan, besok pas ulang tahun Daniel kekasihnya, ia akan menjadi wanita yang paling bahagia, karena Daniel akan menunjukan di hadapan semua tamu dan temanya, bahwa ia lebih dari segala-galanya di banding istri sahnya.


Siang berarak berganti dengan sore. Langit cerah tanpa awan. Sinar matahari masih terlihat membias menyinari permukaan bumi. Daniel bersiap-siap meninggalkan hotelnya dan akan menuju rumah sakit. Begitu juga dengan Evan. Kedua kakak beradik itu mempunyai tujuan yang sama, yakni akan mengunjungi papa mereka ke rumah sakit.


“Nathan, untuk hari ini, cukup sekian dulu, kamu boleh pulang lebih awal. Karena hari ini pertama kali kamu masuk kerja, jadi pulangnya gak usah terlalu sore.”


“Oh ya satu lagi, kamu bisa langsung menempati rumah fasilitas dari hotel ini kok, tau kan alamatnya? Gampang di cari dan letaknya juga strategis..”


“Iya pak Evan, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih atas bantuan pak Evan..”


“Mmm, iya sama-sama. Nathan, kamu boleh panggil saya pak kalau sedang bekerja saja, kalau di luar kerjaan, jangan panggil pak laah, oke?” ucap Evan dengan senyum yang menggoda.


“Iya, iya mas eh, pak Evan.” Keduanya tertawa bersama. Evan sedikit menonjok bahu Nathan.


“Baiklah, saya duluan, soalnya mau langsung ke rumah sakit, jenguk papa..”


“Iya pak, monggo, silakan saja..”


Setelah berkata demikian, Evan segera bergegas meninggalkan ruangan Nathan, untuk segera ke rumah sakit. Dengan mengendarai mobil, Evan segera meluncur ke rumah sakit.


Sedangkan Nathan sendiri, ia segera bersiap meninggalkan ruanganya dan akan langsung meluncur ke rumah, fasilitas dari hotel, seperti yang di katakan oleh Evan tadi.


Sebelum ia meninggalkan ruanganya, ia sempatkan membuka handphonenya dan melihat foto Dani yang tersimpan di galeri handphonenya.

__ADS_1


“Rani, kamu sedang apa? Kenapa hati ini rindu dengan kamu? Tuhan, apakah salah jika aku menyayanginya? Tapi demi dia, aku rela melakukan apa pun dan menanggung semua resikonya.” Setelah bergumam sendiri, Nathan segera berdiri dan beranjak keluar dari ruanganya.


Sesampainya di depan hotel, seorang sopir telah menunggunya.


“Sore mas Nathan, silakan masuk, saya sopir pribadi anda yang akan mengantarkan anda pulang. Dan ini mobil untuk anda, salah satu fasilitas dari pak Evan..”


“Oh, iya pak, terima kasih..”


Busyet dah, mobil mewah begini? Nggak salah nih mas Evan ngasih fasilitas yang super mewah begini?


Nathan masih tak percaya. Ia gamang, karena mobil yang di peruntukan kepadanya, terbilang cukup mewah. Honda jazz warna gold metalix. Sungguh di luar dugaanya. Di tengah kebengonganya,


Hampir dengan waktu yang bersamaan, Daniel dan Evan tiba di rumah sakit. Evan 10 menit lebih dulu tiba daripada Daniel.


Tok tok tok


“Sore tante, kak Dani?” sapa Evan begitu ia membuka pintu dan masuk ke kamar rawat papanya.


“Sore Van?” jawab tante Ema tanpa menoleh, karena ia sedang menyuapi kakaknya.


“Dari hotel, Van..?” tanya Dani yang juga duduk dekat tuan Wijaya.


“Iya kak Dani..” Evan berjalan menghampiri papanya.


“Papa..? Apa kabar papa hari ini? Evan seneng liat papa, begitu bersemangat..” Rupanya tuan Wijaya tengah duduk bersandar dan pandangan matanya tak lepas dari Evan.


Tok tok tok


Dani menoleh ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.


“Mas Daniel..?” Sedikitpun Daniel tak menjawab. Ia hanya diam dan berjalan ke arah papanya.


“Bagaimana papa tante? Apakah udah ada kemajuan?” tanya Daniel yang juga mendekati papanya.


“Hari ini, mas Wijaya menunjukan perkembangan yang begitu pesat, tanganya aja udah bisa di gerakan, walaupun hanya sedikit, mungkin karena ada Dani di sini, dan membuat mas Wijaya senang, secara dia kan menantu kesayanganya..”


“Syukurlah, Evan ikut seneng..”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2