Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 75


__ADS_3

“ Janganlah menyakiti hati seorang wanita, karena kamu lahir dari rahim seorang wanita juga ”


***


“Gadis bodoh...!!!” umpat Daniel yang melotot kepada Dani yang tengah terlelap tidur. Hampir saja Daniel akan membanting ponsel milik Dani, namun ia urungkan.


Huuuhhh..!!! Kenapa juga aku cemburu. Aku gak mungkin menyukai kamu gadis bodoh. Liat saja, besok kamu akan tau akibatnya, karena kamu telah berani menjalin hubungan dengan Nathan.


Daniel meninggalkan Dani dan masuk ke kamar mandi, untuk buang air kecil. Sementara Nathan, setelah mengirim pesan kepada Dani, ia merasa lega, dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman, dan akhirnya ia terlelap juga.


***


Pagi yang sangat cerah. Secerah sinar mentari yang menerobos di balik celah tirai jendela kamar Daniel. Rupanya Daniel sudah bangun duluan dari Dani. Entah karena apa, semalam ia tak dapat memejamkan mata dengan tenang. Sebentar-sebentar ia terbangun. Pagi itu, ia lari pagi mengelilingi halaman rumahnya. Cukup berlari berkeliling 5 kali putaran saja sudah membuatnya berkeringat. Karena halaman rumah papanya saja luasnya minta ampun.


Aaahhh...!! Sial..!! Kenapa fikiran gua terganggu sama gadis bodoh itu terus..??


Daniel mengumpat dalam hati. Bayangan Dani terus saja mengusik fikiranya. Hanya karena pesan dari Nathan, membuat dadanya serasa meledak-ledak. Hatinya serasa panas. Ia menyudahi lari paginya, dan memutuskan untuk mandi dan segera pergi ke hotel, untuk bekerja.


“Pagi Daniel..? Tumben sepagi ini kamu sudah berolah raga..?”


“Iya tante, tiba-tiba saja kepengen. Papa udah bangun belum tante..?”


“Belum, masih tidur..”


“Owh. Daniel ke kamar dulu tante..”


“Iya.”


Daniel segera ke kamarnya, sambil mengeringkan keringat yang membasahi wajahnya.


“Ehhhhhmmmm....” Suara geliat manjan Dani saat Daniel memasuki kamar.


“Hehh..!! Gadis bodoh, bangun..!!” Suara bentakan Daniel membuat Dani membuka mata.


“Ehh, ngapain mas Daniel di sini..?” ucap Dani yang kaget dan spontan bangun dari tidurnya.


“Sadar woi..!! Ini kamar siapa..? Kamu yang nyelonong masuk ke sini, lalu menguasai ranjangku..!!”


“Apa..??? Ma...mas Daniel ngggaaakkk....” ucapan Dani tak di teruskan. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia membayangkan semalam ia sekamar dengan Daniel, dan mengira kalau Daniel udah ngapa-ngapain dia.


“Aaaa....!!!” teriak Dani sambil memegang kepalanya.


“Kenapa sih teriak-teriak..? Tenang saja, aku tidur di sofa. Lagian aku nggak minat sama kamu..!!”


“Syukur kalau mas Daniel sadar..!!” Balas Dani lalu pergi ke kamar mandi.


“Hiiiihhhh...!! Dasar...!!”

__ADS_1


Hari itu menjadi hari pertama tuan Wijaya di rawat di rumahnya. Sesudah di mandikan oleh sang suster, makan serta minum obat, tante Ema membawa kakaknya jalan-jalan di taman di halaman rumah.


“Mas liat, pagi ini begitu cerah kan?” Tuan Wijaya hanya tersenyum. Terlihat jelas di wajahnya kalau ia begitu bahagia bisa pulang ke rumahnya.


“Hehhh.., nanti malam ada pesta. Hari ulang tahun aku. Kamu pakai ini. Ingat, kamu harus datang..!!” ucap Daniel sambil melempar kotak berisi gaun yang ia pesan ke hadapan Dani. Gadis itu tak langsung segera mengambilnya. Ia hanya memandangnya.


“Ayo ambil..!! Kenapa diam saja? Belum pernah mendapat hadiah, ya...?” Dengan sombongnya sambil memakai dasi di depan cermin, Daniel tersenyum nyinyir.


“Apakah sopan, memberi hadiah dengan cara di lempar. Bahkan pengemis saja tak akan mengambilnya. Mas anggap aku ini apa? Pengemis..? Gelandangan yang numpang di rumah ini..?”


“Bicara apa kamu? Aku bilang cepat ambi..!! Apa kamu mau aku berteriak, supaya papa dengar..? Iya..!?”


“Tak perlu...!!” jawab Dani lalu mengambil kotak itu dan membuka isinya. Ia hanya melihat sekilas, lalu menutupnya kembali. Membuat Daniel semakin jengkel di buatnya. Tak mau berlama-lama di kamar bersama Daniel, Dani melangkah keluar kamar meninggalkan Daniel. Ia segera ke dapur membantu bibi menyiapkan sarapan pagi.


“Papa udah bangun, Bi...?” tanya Dani saat di dapur bersama bibi.


“Udah non, sekarang lagi jalan-jalan di halaman bersama nyonya Ema, non mau ke sana..?”


“Nggak papa kalau Dani tinggal, Bi?”


“Silakan non, ini sudah kerjaan bibi, non nggak usah repot-repot bantuin..?” ucap bibi sambil tersenyum.


“Baiklah bi, Dani permisi dulu..?”


“Iya, non...”


“Selamat pagi tante, selamat pagi papa..?” sapa Dani dengan ramahnya.


“Dani? Kamu udah bangun sayang? Selamat pagi juga..?”


“Apa kabar papa? Tentu papa lebih senang di rumah kan..? Dani akan tinggal beberapa hari di sini untuk menemani papa...”


Sungguh nak? Papa akan senang sekali jika kamu mau tinggal beberapa hari di sini.


Tuan Wijaya berkata dalam hati. Sungguh rasanya sesuatu banget melihat menantunya pagi itu.


“Sini tante, biar Dani yang ajak jalan-jalan papa, tante sarapan dulu aja..”


“Enggak sayang, kita sarapan dulu aja, abis itu, kita ajak papa kamu jalan-jalan lagi..”


“Baiklah tante, biar Dani saja yang dorong papa....”


“It's okay...”


Ketiganya segera berjalan menuju rumah. Dengan mengajak papanya ngobrol, walaupun tuan Wijaya belum bisa menjawabnya, namun Dani tak henti berbincang tentang ini itu. Hal itu semakin membuat tuan Wijaya bersemangat untuk segera sembuh.


Begitu berada di dalam rumah, suster membawa tuan Wijaya ke dalam kamarnya, untuk istirahat. Sedangkan tante Ema, dan Dani menuju ruang makan.

__ADS_1


“Apa suamimu belum bangun, sayang?”


“Daniel di sini tante..” sahut Daniel yang muncul sambil membenarkan lengan bajunya. Tas kerja serta jas di tentengnya.


“Oh kebetulan sekali, Dani nggak usah manggil kamu, ayo kita sarapan bareng..?”


Daniel menempatkan dirinya duduk di sebelah Dani.


“Pagi semua....” sapa Evan dengan wajah ceria dan segera duduk untuk sarapan bareng.


“Pagi, Van..?” sambut Dani dan tante Ema bersamaan.


“Papa udah bangun tante..?”


“Udah, tadi abis jalan-jalan sama tante dan juga Dani.”


Sarapan pagi di mulai. Daniel mengambil sepotong roti tawar dan mengolesnya dengan selai kacang.


Tiiiiiiinngg


Bunyi notifikasi pesan masuk ke hp Dani. Ia meletakan roti tawarnya, dan melihat pesan tersebut.


Nathan...??


Dani sedikit mengembangkan senyum. Hal itu membuat Daniel melirik ke arahnya. Dengan tatapan penuh kekesalan ia mengoles rotinya dengan kasar.


“Taruh hp kamu..!” ucap Daniel dengan gusar.


Dani yang sadar, dan hampir membacanya kaget. Lalu menoleh ke arah Daniel sambil menaruh ponselnya. Tante Ema dan Evan hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya. Setelah menaruh ponselnya, Dani kembali melanjutkan sarapanya, hingga selesai.


“Tante, kak Dani, kak Daniel, Evan duluan, ada kerjaan penting solanya..”


“Iya Van, hati-hati..” jawab tante Ema. Sedangkan Dani hanya mengangguk dan Daniel hanya diam. Sebelum berangkat ke hotel, Evan ke kamar papanya untuk pamit. Daniel pun begitu, setelah sarapan, ia pamit kepada tante dan papanya. Tanpa pamit kepada Dani, ia langsung saja tancap gas ke hotelnya. Dani segera membuka pesan dari Nathan.


- Selamat pagi Rani? Kenapa pesanku tak kamu balas? Kamu lagi sibuk ya? Cuma mau ingetin, jangan lupa bersyukur pagi ini, jangan lupa makan yach..?


Dani tersenyum. Seolah mendapat amunisi semangat pagi itu. Ia membalas pesan dari Nathan.


- Selamat pagi juga Nathan, maaf.., tadi malam aku sudah tidur, maklum seharian di rumah sakit, capek banget. Kalau kerja hati-hati, jangan lupa makan juga yach.


Tiiiiinnggggg


Pesan dari Dani langsung saja masuk ke ponsel Nathan. Ia yang sedang bersiap akan berangkat kerja, tersenyum melihat nama pengirim pesan tersebut. Dengan tak sabar ia segera membuka dan membacanya. Senyum lebar menghiasi bibirnya. Cowok ganteng yang semakin ganteng memakai jas itu, kini semakin melebarkan senyumnya, tanda bahagia, dan bergegas menuju dapur.


“Imah, tolong siapkan sandwitch saja, saya mau sarapan di mobil..”


“Iya, mas Nathan..”

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2