Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 62


__ADS_3

“Ah, jangan di fikirkan omongan saya tadi non, anggap saja bicara saya tadi ngelantur, maafkan kelancangan saya non dan sebaiknya kita cepat pulang, saya nggak mau kalau nanti mas Daniel marah-marah sama non Dani lagi..” Dani mengangguk. Perlahan ia turun dari ranjang, dan berjalan beriringan bersama Nathan. Terlebih dahulu Nathan membayar administrasi lalu menebuskan obat untuk gadis yang sangat ia sukai itu.


Beberapa saat, setelah Nathan menyelesaikan administrasi, keduanya segera pulang. Selama dalam perjalanan, hati kecil Dani selalu bertanya tentang benar atau tidak ucapan Nathan barusan di klinik tadi.


Benarkah Nathan menyukaiku? Kalau benar, aku akan menerima perasaanya. Aku juga tak bisa berbohong kepada hati kecilku, aku juga mulai menyukaimu Nathan. Entah kegilaan atau apakah ini, semua perhatian dari kamu, membuatku kuat dan nyaman setiap berada di dekatmu. Sungguh aku benar-benar bingung di buatnya, dengan situasi ini.


Pikiran Dani melayang-layang. Mengembara ke awang-awang.


“Nathan, tolong berhenti sebentar..” Pinta Dani dan tiba-tiba kepada Nathan.


“Iya non, ada apa? Apa non mau makan sesuatu? Biar Nathan yang belikan..”


“Tidak Nathan, aku hanya ingin menayakan sesuatu..”


“Apa itu, non..?” Dani mengubah posisi duduknya, dan menghadap ke arah Nathan.


“Benarkah yang kamu ucapkan tadi Nathan? Benarkah kamu menyukai aku, walau kamu tau aku sudah bersuami..?” Kini gantian Nathan yang menghadap Dani. Keduanya saling berhadapan, dan masih dengan posisi di dalam mobil.


“Entah sejak kapan, rasa itu mulai ada, saya juga tidak tahu non. Tiba-tiba datang begitu saja. Sejak pertama saya melihat non di perlakukan tidak adil oleh suami non, yaitu mas Daniel yang tak lain dan tak bukan adalah majikan saya. Sejak saat itu saya merasa kasihan sama non, dan lama-kelamaan, rasa kasihan itu berubah menjadi sayang. Sungguh non, bukan maksud saya lancang kepada non Dani, maafkan saya non..?”


“Sejujurnya, saya ingin menyudahi pernikahan ini Nathan. Pernikahn yang sangat melelahkan dan tak ada rasa cinta di dalamnya. Saya ingin berpisah dan membiarkan mas Daniel hidup bahagia dengan Anyelir.” ucap Dani lalu menghela nafas dengan berat.


Kali ini, Nathan lebih dekat lagi posisinya dengan Dani. Ia menatap lekat kedua bola mata gadis yang kini juga menatapnya itu.


“Kalau memang itu keputusan non Dani, Nathan akan selalu berada di samping non, karena saya tidak rela jika non di sakiti terus menerus. Jangan karena tak enak hati, non harus mengabaikan kebahagiaan non sendiri.” ucap Nathan yang memegang wajah Dani dengan kedua tanganya. Dani mengangguk. Ia membenarkan ucapan Nathan.


“Saya menyayangi non Dani melebihi diri saya, rela melakukan apa pun demi kebahagiaan non Dani..” Bahagia dan haru menyelimuti hati seorang Andani Putri. Inilah cinta yang sesungguhnya. Walaupun tanpa bergelimang harta, ia merasa bahagia di cintai dengan sesederhana itu oleh seorang Nathan. Orang yang selalu ada saat dia di rundung duka. Kedua sudut kelopak mata Dani kini mulai di genangi air mata, dan jatuhlah bulir demi bulir membasahi pipinya. Perlahan Nathan mengusapnya.


“Non Dani, sekali lagi, saya tanya, apakah non Dani bersedia menerima cinta saya.? Walaupun non sekarang berstatus istri mas Daniel, namun biarkanlah saya mencintai non dengan cara saya sendiri..” Dani menganggukan kepala.


“Iya Nathan, saya menerima rasa cinta kamu..” Spontan Nathan memeluk Dani dengan erat dan penuh kehangatan. Dani pun merasa nyaman berada di pelukan Nathan.

__ADS_1


“Bagaimana kalau mas Daniel tau dan ia akan menghajar kamu Nathan..?”


“Saya tidak takut dengan seribu Daniel, saya akan menghadapinya demi non, karena non, bintang di hati saya, tak kan ada yang bisa dan mampu menggoyahkan rasa cinta saya kepada non Andani Putri..” Bagai terkena tetesan embun di pagi hari, ucapan Nathan begitu menyejukan sanubari Dani. Seakan tak ingin waktu yang singkat itu cepat berlalu.


“Sudah malam, mari kita pulang mmmm....” Nathan menghentikan ucapanya.


“Kalau saat seperti ini, bolehkah saya memanggil non dengan sebutan saya sendiri..?”


“Memangnya kamu mau panggil aku apa Nathan..?”


“Mmm..bolehkan saya panggil dengan Rani..?”


“Kenapa Rani..?” tanya Dani dengan heran.


“Ya kan nama non ada Maharaninya, dan itu panggilan khusus saya kepada non, boleh nggak..?” Dani berfikir sebentar, lalau menatap Nathan. Di tatap seperti itu, membuat Nathan harap-harap cemas menanti jawaban dari non mudanya, yang bari saja ia nyatakan cinta.


“Boleh kok..”


“Teima kasih, non Rani...” Keduanya tersenyum bahagia.


“Janji...” jawab Dani dengan mantap hati. Dewi cinta telah menyambangi keduanya. Menumbuhkan benih sayang yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kekuatan cinta yang maha dahsyatnya. Mobil kembali melaju menuju rumah Daniel. Senyum tak lepas dari bibir keduanya yang tengah di liputi perasaan bahagia, walaupun hanya mereka berdua dan Tuhan yang tau.


Tak berapa lama, mobil yang di kendarai Nathan mulai memasuki halaman rumah Daniel yang cukup luas tersebut. Malam kian larut, dan suara binatang malam mulai nampak jelas terdengar. Semakin sunyi dan hening.


“Nathan terima kasih untuk hari ini..”


“Iya non, sama-sama..” Kembali mereka berbuat seperti biasa, antara pengawal dan majikan. Dani langsung memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya, yang berada di belakang.


“Bagus ya, malam-malam keluar sama pengawal..!?” celetuk Daniel yang sengaja menunggu kedatangan keduanya.


“Ma..mas Daniel..? jawab Dani gugup. Tiba-tiba saja Daniel muncul di hadapan Dani.

__ADS_1


“Apa..!? Ga bisa jawab..?” Daniel begitu berkobar-kobar menginterogasi Dani yang baru saja masuk rumah.


“Apa mau mas? Katakan saja..!” Kini gantian Dani dengan suara meninggi.


“Kamu jangan macam-macam! Atau nggak, kamu akan tau akibatnya..!!” Dengan sedikit kasar, Daniel mencengkeram lengan Dani, membuatnya meringis kesakitan. Nathan yang kebetulan melewati tempat di mana Dani dan Daniel berada menghentikan langkahnya.


“Mas Daniel, non Dani? Ada apa ini?” ucap Nathan yang bermaksud menghentikan perlakuan Daniel yang kasar itu.


“Jangan ikut campur urusan saya!! Kamu masih ingat kan, perjanjian kita barusan? Sedikit saja kamuuuu, bisa berakibat buruk untuknya..!”


“Mas Daniel sudah melanggar kesepakatan kita!”


“Maksud kamu..!?”


“Lepaskan tamgan non Dani! Ia sangat kesakitan..!” Nathan dengan tatapan tajam memandang Daniel. Daniel melepaskan tanganya yang mencengkeram lengan Dani. Dan kini, kedua lelaki itu berdiri berhadapan.


“Kamu lupa dengan kesepakatan kita?” ucap Daniel dengan penuh amarah.


“Bukanya lupa, tapi saya tidak mau mengingatnya..!”


“Berani sekali kamu Nathan! Kamu tau kan resiko yang kamu tanggung? Karena lancang melawan seorang Daniel Permana?”


“Saya tau! Saya juga sudah muak menjadi pengawal kamu Daniel Permana!” Tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari mulut Nathan, mbuat Dani yang sejak tadi berdiri di tempat itu membelalakan kedua matanya.


Plakkk plaakkk


Dua tamparan telak mengenai kedua pipi Nathan. Tak berselang lama, Daniel menepukan kedua tanganya, dan tiba-tiba muncul dua orang lelaki berbadan tegap dan kekar masuk. Dengan satu kode Dari Daniel, keduanya memegangi lengan Nathan.


“Bawa dia ke tempat yang aku katakan tadi..!” Perintah Daniel, dan langsung di laksanakan oleh kedua lelaki tersebut. Dengan sekuat tenaga, Nathan berusaha melepaskan diri, namun usahnya sia-sia.


“Nathan..! Mas, jangan libatkan dia, kalau mas mau marah, lampiaskan saja kepada Dani, tapi jangan Nathan.., Dani mohon..?” Dani memohon kepada Daniel agar melepaskan Nathan. Namun sedikitpun Daniel tak mempedulikanya.

__ADS_1


“Baiklah..!! Dani akan meminta tolong sama Evan, dan akan mengatakan semuanya...!!” ucap Dani yang di barengi dengan mengambil ponsel di saku bajunya.


BERSAMBUNG


__ADS_2