
Dua minggu kemudian
Perhelatan besar akan segera diadakan antara dua keluarga. Acara sakral yang akan mengikat hubungan dua anak manusia dengan janji suci di hadapan Tuhan. Persiapan ini dan itu, mulai dari konsumsi, gedung dan dekorasi, semuanya sudah siap. Masing-masing menyewa WO, untuk mempermudah dan memeperlancar jalanya acara resepsi pernikahan Dani dan Nathan.
Akhirnya kebahagiaan Dani menjadi nyata. Seseorang yang sangat mencintainya dengan tulus dan menerima dia apa adanya, dalam hitungan beberapa jam akan segera menjadi imamnya yang sah. Rupanya inilah yang banyak dan benar apa yang di katakan oleh orang. Akan ada masanya indah pada waktunya. Walaupun pada awalnya penuh dengan onak dan duri yang mewarnainya.
Malam sebelum acara, rumah Nathan sangat ramai dengan sanak dan saudaranya. Baik dari saudara papa dan mamanya, sebagian sudah berkumpul untuk menghadiri acara pesta pernikahanya besok. Namanya juga anak konglomerat. Acara akan di adakan gedung yang paling terbesar di kota itu. Selain besar, bisa di bilang sangat mewah sekali. Di tilik dari dekorasinya saja, sudah dapat di tebak menghabiskan dana milyaran.
"Kenapa terlihat gugup gitu....?" celetuk Edward yang sudah membuka pintu kamar kakaknya dan melihatnya sedang gelisah. Mondar-mandir gak jelas.
"Siapa yang gugup, enggak kok..." jawab Nathan mengelak. Edward tersenyum tipis. Lalu menghampiri kakaknya.
"Kakak nggak bisa membohongi Edward, kakak pengen telfon atau sekedar vidio call kak Dani...?" ucap Edward yang tau isi hati kakaknya. Memang benar, selama satu minggu sebelum pernikahan di langsungkan, Dani dan Nathan menjalani prosesi adat yaitu pingitan. Kedua calon memepelai tidak boleh saling bertemu, sekedar vidio call bahakan telefon. Hal itu membuat Nathan semakin bertambah rindu kepada Dani.
"Iya, kakak nggak bisa bohong sama kamu, kakak Rindu sekali dengan Dani..."
"Tahan dulu kak, besok juga udah ketemu kok..."
Tok tok tok
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Lalu tak lama pintu kamar Nathan terbuka. Terlihat nyonya felix berdiri di ambang pintu.
"Juna, ayo keluar, acara siraman sudah akan di mulai..." kata nyonya Felix yang ternyum bahagia.
__ADS_1
"Iya mah..." jawab Nathan lalu merapikan bajunya dan berjalan mengikuti mamanya keluar. Di belakangnya, Edwar berjalan mengekor inya. Di teras belakang rumah, yang sangat begitu luas, sudah menanti pemandu acara jalanya siraman dan tentunya banyak sanak saudara yang akan menyaksikan jalanya prosesi tersebut. Pertama-tama, Nathan di haruskan meminta doa restu kepada mama dan papanya dan tetua dari mama dan papanya. Lalu barulah acara yang di sebut siraman di mulai. Pertama Nathan di suruh melepas bajunya, memakai kemben yang menutupi setengah badan ke bawah, sedangkan atas tidak tertutupi, dan nampak jelas sekali dada bidangnya. Lalu satu persatu anggota keluarga memulai menyiramkan air ke badan Nathan yang duduk di kursi dan di depanya terdapat pengaron yang berisi air yang di taburi bunga mawar. Di sekelilingnya di dekorasi sedemikian rupa yang terbuat dari janur, dan banyak daun-daun lainya. Setelah selesai, tuan Felix di haruskan menggendong putranya. Acara itupun sedikit menguras air mata, karena rasa hari bercampur bahagia. Terlebih Nathan, ia merasakan hatinya campur aduk gak karuan saat papanya dengan gagah menggendongnya. Tubuh yang berumur setengah abad lebih itu masih kuat menopang tubuh gagahnya. Semua terbawa suasana. Rasa harus dan termehek-mehek mewarnai Acara siraman Nathan. Acara siraman berlangsung hingga 2 jam. Karena di selingi acara lain.
Sementara itu di rumah Dani, acara yang sama pun di gelar, yaitu siraman. Dani tengah bersiap-siap di dalam kamarnya. Ia sedang di ruas tipis-tipis dengan rambut di gerai dan memakai bando yang terbuat dari rangkaian bunga melati. Sungguh cantik sekali ia malam ini, dengan kemben yang menempel di tubuhnya.
"Cantik sekali cucu nenek...." suara nenek tiba-tiba yang muncul di kamarnya, dan berdiri dengan tongkat yang selalu menemaninya.
"Ahh, nenek bisa saja..." jawab Dani yang masih duduk di depan cermin dan tengah di sempurnakan riasnya oleh juru rias.
"Nonton Dani memang sangat cantik, pantas saja mas Nathan sampai tergila-gila, walaupun tau status non Dani, jadi baper deehh..." celwtuk Risa yang tadinya berdiri di samping nenek kini berjalan mendekati Dani dan mengamati rasanya.
"Mb Risa, jangan memuji Dani terus, Dani jadi susah bernafas niihh..." jawab Dani sambil senyum-senyum. Ia mengamati bayangan dirinya di depan cermin. Memang sangat cantik. Dalam hati ia mengagumi dirinya sendiri.
"Maaf, apakah acaranya bisa di mulai sekarang...?" tanya pemandu acara siraman yang berpakaian adat Jawa dengan memakai konde di rambutnya.
"Bisa jenk, Dani ayo keluar sekarang.." ucap nenek Eliza yang di iyakan oleh Dani. Risa berjalan menggandeng tangan Dani. Membantunya berjalan ke teras belakang rumah yang rupanya di sana sudah menunggu sanak saudara dan tetangga dekat yang di undang nenek Eliza untuk menyaksikan acara cucunya. Saatnya tiba. Pertama, Dani meminta doa restu kepada sang nenek, dan sesepuh saudara dari nenek yang datang. Dani sudah duduk di kursi tepatnya di depan pengaron besar yang berisi air dan bertaburkan bunga mawar dan melati. Acara pun di mulai, siraman demi siraman air yang mengguyur tubuh Dani dengan pelan di laksanakan. Semua sanak saudara ikut menyiramkan air ke tubuh Dani. Nenek Eliza beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampiri tamu yang baru saja datang. Ia terlihat sangat menghormati tamu tersebut. Dani yang sedang melangsungkan acara, tidak tahu kalau ada tamu spesial yang di undang nenek Eliza ke rumah. Sang tamu di persilahkan duduk. Namun dengan halus ia menolak dan ingin sekali ikut menyiram tubuh Dani. Acara hampir selesai dan di tutup.
"Papa....?" ucap Dani saat melihat tuan Wijaya berjalan menghampirinya.
"Iya Dani, papa datang dan ingin turut serta menyaksikan kebahagiaanmu nak, maaf kalau kamu tidak berkenan..." ucap tuan Wijaya yang tersenyum kepada Dani.
"Dani sangat bahagia pa, papa mau datang ke sini..." jawab Dani berkaca-kaca.
"Ssstt, nggak boleh sedih, ini acara bahagia kamu nak, papa bahagia melihat kamu bahagia..."
__ADS_1
Perkataan tuan Wijaya semakin menambah sesak di dada Dani. Haru biru mewarnai acara malam itu. Air mata tak dapat di bendung lagi. Dani sesenggukan. Tuan Wijaya mengelus kepala Dani dengan lembut, karena beliau sudah menganggap Dani sebagai putri kandungnya sendiri.
"Jangan bersedih sayang, tante nggak like looh...?" sahut seseorang yang berdiri tak jauh dari Dani dan tuan Wijaya. Dani mendongakak kepala yang tadinya menunduj dan meneteskan air mata, kini beralih memandang tiga empat orang yang sudah berdiri di hadapannya.
Orang tersebut tak lain adalah tante Ema, Evan, Ken dan tentunya sudah dapat di tebak siapa orangnya. Ya, dia adalah Daniel, mantan suami Dani.
"Tante, Evan, kak Ken, ma... mass Daniel...?" suara Dani tercekat melihat siapa yang tengah berdiri di hadapannya.
"Perlahan tante Ema mendekat dan meminta ijin untuk ikut menyiram air keberkahan di tubuh Dani. Tuan Wijaya duluan, lalu di susul tante Ema, Evan, Daniel dan Ken. Lengkap sudah rasa bahagia Dani di malam menjelang hari spesialnya. Acara selesai. Kini tiba saatnya acara mengendong Dani. Sang pemandu bertanya kepada nenek siapa yang akan menggendong Dani.
"Jenk, siapa wali yang akan menggendong calon pengantinya...?" tanya Sang pemandu.
"Saya sendiri jenk, karena anak dan menantu saya sudah tidak ada, sayalah wakiinya..." jawab nenek dengan tersenyum.
"Tidak nyonya, saya yang akan menggendong putri saya..." jawab tuan Wijaya. Lalu berjalan dan berhenti di depan Dani seraya merendahkan punggunya di hadapan gadis itu.
"Ayo nak, papa akan gendong kamu. Sekarang anggaplah papa sebagai pengganti papa kamu, dan kamu adalah putri papa..."
"Tapi... tapiii...." suara Dani tertahan. Sebelum Dani melanjutkan kata-katanya, nenek Eliza memberi kode kepada Dani, supaya ia mengiyakan permintaan tuan Wijaya. Dani mengangguk lalu perlahan ia di gendong tuan Wijaya.
"Pesan papa, jika kamu sudah berumah tangga nanti, patuhilah semua nasihat dan perintah suami nak, jangan sekaki-kali mengeluarkan kata-kata yang kasar, karena ia adalah imam kamu dan berhak atas kamu..."
Dani tak sanggup menjawab, Dadanya serasa sesak. Semua nasehat tuan Wijaya membuatnya Rindu yang teramat berat kepada almarhum papanya yang sudah tiada.
__ADS_1
"Jika suatu saat nanti kamu bertengkar, jangan sekaki-kali meninggalkan rumah suami kamu, karena sekali kamu keluar dalam keadaan marah, ridho suamimu akan hilang, dan Tuhan sangat tidak suka..."
BERSAMBUNG