
Masih dalam suasana kebingungan, namun Daniel membalas erat pelukan papanya. Jauh di dalam lubuk hati Daniel, ada rasa nyaman, merasa tidak sendirian. Ternyata papanya selama ini sangat sayang kepadanya.
“Papa bangga sama kamu nak. Sungguh kamu sangat berbesar hati. Papa tak menyangka. Selama ini papa sudah berlaku tak adil kepadamu. Itu semata-mata karena papa ingin kamu menjadi orang yang sukses dan bisa mandiri kalau sewaktu-waktu ayah pergi meninggalkan kamu dan kamu menjadi kakak yang baik buat Evan, bisa menjadi panutanya, walau dia bukan adik kandungmu. Papa harap, kamu bisa menghilangkan kata yang bisa menjadi pembatas persaudaraan di antara kalian, dan membuangnya jauh-jauh..”
“Papa bicara apa? Daniel tidak seperti yang papa kira. Daniel sangat menyayangi Evan. Dia bukanlah adik angkat, tetapi adik kandung Daniel pah. Walaupun Daniel sering berkata kasar kepadanya, dan sering memukulnya, di balik itu semua ada kasih sayang yang sulit Daniel ungkapkan. Papa jangan khawatir, Daniel akan menjadi kakak yang baik buat dia. Dan papa tak boleh berkata suatu saat akan pergi, papa harus selalu sehat, bisa melihat Daniel kecil lahir, cucu papa, dan meneruskan silsilah keluarga Wijaya Permana..”
“Hiks...hiks...!! Sudah.., kalian jangan seperti ini terus, tante jadi nangis tau..!”
Daniel dan tuan Wijaya serta merta menoleh ke arah tante Ema yang sesenggukan sambil mengusap air matanya. Wanita itu tak kuasa membendung air matanya, tatkala melihat keharuan ayah dan anak itu.
“Iya tante. Tante jangan bersedih lagi...”
Keduanya saling berpandangan dan tak lama tersenyum. Dani yang sejak tadi di tempat itu dan menyaksikan semuanya, tak terasa ikut melelehkan air mata. Dengan memalingkan wajahnya, ia mengusap air matanya, agar tak terlihat oleh Daniel dan papa mertuanya.
Daniel dan papanya kembali duduk, setelah momen termehek-mehek mereka sudahi.
“Karena perceraian ini sudah kalian kehendaki, papa bisa bilang apa. Papa hanya bisa mendoakan supaya semua berjalan lancar, dan masing-masing mendapatkan kebahagiaan kelak. Ini saat yang tepat papa akan mengatakan sesuatu. Sudah berpuluh tahun papa memendamnya, dan rasanya papa sudah tidak sanggup lagi. Dada tua ini serasa sesak. Terhimpit beban di masa lalu yang setiap saat bisa menjadi bom waktu buat papa..”
“Maasss.....” sergah tante Ema yang berusaha menghalangi niat kakaknya, karena menurutnya saat ini belum tepat waktunya.
“Tidak Ema, aku harus mengatakan semuanya, walau menyakitkan, dan itu bisa membuat Dani benci kepada saya, dan sekalipun harus berurusan dengan hukum, saya siap menerimanya..”
“Maksud papa...?” tanya Dani mengerutkan dahinya.
“Daniel makin nggak ngerti deh pah, dengan arah pembicaraan papa..”
Tuan Wijaya berdiri. Berjalan beberapa langkah meninggalkan tempat duduknya. Lalu menghela nafas agak panjang dan terdengar begitu berat.
“Sebelumnya papa minta maaf Dani, dan kamu boleh melakukan apa saja kepada papa setelah mengetahui kebenaranya..”
Karena semakin di buat penasaran, Dani berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri papa mertuanya yang berdiri menghadap jendela kaca dan menatap pemandangan di luar.
“Jangan buat Dani makin penasaran pah? Sebenarnya apa yang mau papa sampaikan..?”
Tuan Wijaya membalikan badanya. Pandangan matanya sayu. Kesedihan jelas tergambar di sana. Dengan perlahan. ia mulai membuka suara.
“Dani, maafkan papa. Maafkan papa yang telah bersalah kepadamu...” ucap tuan Wijaya yang memegang bahu Dani.
“Maaf kenapa pah, papa nggak punya salah sama Dani kok..”
“Iya pah, papa kenapa minta maaf..” Daniel menyela.
__ADS_1
Tuan Wijaya mendadak berlutut di hadapan Dani. Gadis itu semakin bingung. Ia berusaha membantu papa mertuanya untuk bangun dan berdiri.
“Papa.., jangan begini, Dani mohon, papa berdiri yach...?”
Namun tuan Wijaya bersikukuh masih tetap berlutut.
“Papa, sebenarnya ini ada apa...?” ucap Daniel yang semakin penasaran dan bingung saja.
“Mas, Ema mohon...?”
“Nak, maafkan papa atas kesalahan di masa lalu, papa telah melakukan kesalahan yang sangat besar sekali...”
“Kesalahan di masa lalu..? Dani nggak ngerti pah. Udah pah, Dani mohon, papa berdiri, jangan seperti ini..”
“Tidak Dani, sebelum papa mengatakan semuanya, papa tidak akan berdiri..”
“Iya, iya pah, katakan saja, dan papa cepat berdiri yach..?” ucap Dani yang kini ikut berjongkok di hadapan papanya.
“Dani, kamu ingat peristiwa yang menimpa mama dan papa kamu belasan tahun silam..?”
“Iya pah, Dani ingat. Masih membekas dengan jelas di hati Dani. Beliau berdua meninggal karena kasus tabrak lari, dan si penabrak tidak bertanggung jawab. Kalau saja si penabarak itu membawa mama sama papa Dani ke rumah sakit, tentu nyawa mereka masih bisa tertolong. Tapi kenapa papa membicarakan peristiwa itu lagi...?”
“'Iya pah, sebenarnya apa...?”
“Sebenarnya yang menabrak mama sama papa kamu adalah papa...”
“Apa pahh....?” teriak Dani terkejut.
“Iya Dani, maafkan papa. Papa bersalah...”
Dani terdiam. Ia masih belum percaya dengan apa yang di katakan papa mertuanya barusan. Tubuhnya serasa bergetar.
“Apa yang papa katakan...? Dani harap, Dani salah dengar paah...?”
“Tidak nak, kamu tidak salah dengar. Semua yang papa katakan benar adanya..”
Tubuh Dani lemas dan tersungkur di lantai. Daniel seakan tidak percaya mendengar pengakuan papanya. Ia berlari menghampiri Dani, sebelum ia benar-benar jatuh ke lantai.
“Dani...Dani....” tariak Daniel menangkap tubuh Dani, seraya mengguncangnya. Tatapan Dani kosong. Antara percaya dan tidak, namun itulah pengakuan yang ia dengar.
“Katakan semuanya bohong pah, katakan paah.....” tekan Daniel.
__ADS_1
“Tidak nak, papa tidak bohong, papa sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan ini semua dari Dani, papa ingin kebenaran terungakap, dan inilah saatnya. Dani, papa ikhlas jika kamu akan membawa kasus ini ke polisi, papa rela...”
“Mas Wijayaaaa....” teriak tante Ema yang berlari memeluk kakaknya.
“Mas Daniel....” ucap Dani bergetar.
“Iya Dani...”
“Tolong bantu Dani berdiri...”
“Iya..iya...”
Daniel perlahan membantu Dani berdiri.
“Nak, jangan diam saja, katakan sesuatu, agar hati papa bisa tenang...”
“Situasi ini sangat membuat hati Dani syock pah...”
Setelah berdiri dan di bantu oleh Daniel, Dani perlahan mundur beberapa langkah, dan akhirnya membalikan badan. Ia berjalan tertatih, dan tak menghiraukan panggilan papa mertuanya.
“Dani..., jangan diam saja nak, katakanlah sesuatu kepada papa, makilah papa sepuas hati kamu...”
Namun Dani tetap tak menghiraukan. Bayangan almarhum papa dan mamanya kembali memenuhi benaknya.
“Paaah, Daniel permisi dulu...”
Tanpa ba bi bu, Daniel mengejar Dani yang sudah di luar rumah. Air matanya menetes. Membasahi pipinya. Ia tak menyangka, bahwa orang yang menyebabkan kematian papa dan mamanya tak lain dan tak bukan adalah mertuanya sendiri. Orang yang telah menyebabkan ia menjadi yatim piatu.
Setelah berada di luar rumah, ia berlari dengan sangat cepat sekali. Dan kebetulan ada taksi yang melintas di depan rumah mertuanya. Tak di sia-siakan, ia segera menyetop taksi tersebut, dan menaikinya. Daniel tak mau kehilangan jejak, ia langsung mengendarai mobilnya, dan mengejar taksi yang di tumpangi oleh Dani.
Taksi terus melaju. Melewati jalan raya yang sangat ramai dan akhirnya berhenti di sebuah TPU yang jauh dari kota tempat mereka tinggal. Setelah keluar dari taksi, Dani buru-buru masuk. Daniel memberhentikan mobilnya dan mengikuti gadis itu. Dari jauh, terlihat sesekali Dani menyeka air matanya. Dan akhirnya berhenti di depan dua buah pusara. Dan itu milik papa dan mamanya. Dani terduduk di depan pusara kedua orang tuanya.
“Papa, mama..., apa kabar kalian di sana? Dani kangen sama kalian. Dani ingin di peluk, Dani ingin berkeluh kesah, tapi tidak bisa, karen di pisahkan dunia yang berbeda. Mama.., papa...., Dani harus bagaimana, kenyataan ini begitu menyakitkan hati Dani...”
Daniel yang mendengar semua ucapan lirih Dani, merasakan dadanya serasa sesak, perih.
Kenapa semua ini harus terjadi. Kenapa harus keluargaku yang menyebabkan penderitaan hidupmu Dani...?
Daniel bergumam dalam hati. Ia benar-benar merasa bersalah, dan tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan gadis itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1