
Malam seakan tau apa yang tengah di rasakan oleh Daniel. Lelaki itu masih terdiam seribu bahasa dan belum menjawab pertanyaan Evan. Ingin rasanya ia protes kepada Tuhan. Mengapa jalan hidupnya harus seperti ini. Kenapa ia tak di pertemukan dengan Dani terlebih dahulu sebelum ia bertemu dengan Anyelir. Namun ia sadar sepenuhnya, bahwa Tuhan adalah penguasa segalanya. Manusia hanya bisa bisa menerima takdir dari-Nya, entah itu pahit atau manis, skenario itu sudah di rancang oleh Tuhan.
Hembusan nafas yang begitu berat terdengar dari mulut Daniel. Ia merubah posisi duduknya dan kini berhadapan dengan adiknya.
“Kalau kamu tanya soal cinta, jujur, saat ini kakak benar-benar cinta sama kak Dani. Semakin hari dan seiring waktu dan seringnya kakak bertemu denganya setiap hari, walau tak jarang malah bisa di bilang tiap hari menyakiti dia, justru itu merubah kakak menjadi mencintainya, Van. Namun semua itu sudah terlambat. Untuk sekarang, kakak hanya bisa merelakanya bahagia dengan lelaki lain. Cinta tak harus memiliki kan..? Yang di namakan cinta sejati, ialah dia yang rela melihat orang yang di cintainya bahagia dan bisa tersenyum. Benar nggak ucapan kakak..?”
Sebelum menjawab, Evan mengacungkan dua jari jempol tanganya kepada Daniel dan tersenyum penuh kebanggaan.
“Ucapan kakak sangat bijaksana sekali. Evan bangga dan salut sama kak Daniel. Dari mana kakak belajar bisa berkata seperti itu, padahal kemarin-kemarin kakak sangat kasar sekali terhadap kak Dani.”
“Dani..! Kakak belajar sabar dari dia, belajar cara mencintai dengan tulus dari dia, dan kakak berubah juga karena dia. Sungguh, dia bidadari tak bersayap yang berwujud manusia.”
“Apakah kakak akan kembali mengejar cinta kakak..?”
“Tidak. Sebaliknya. Kakak akan mendukung hubungan Dani bersama Nathan. Kakak ingin yang terbaik buat Dani.”
“The best deh kakaku ini. Evan doain, kakak putus dari Anyelir dan mendapatkan wanita yang lebih baik dari dia, yang menjadi pendamping hidup kakak kelak..”
“Aamiin. Makasih Van...”
Obrolan dua kakak beradik itu semakin asik saja. Sejenak Daniel melupakan kegalauan hatinya yang dapat ia atasi sendiri. Ketulusan serta keikhlasanlah yang bisa membuat hati kita menjadi bahagia. Bukan memaksakan kehendak kepada orang lain.
Di kamar Dani, Nathan tengah duduk di kursi dan letaknya di pinggir ranjang tempat Dani bersandar.
“Ran, aku harap kejadian ini jangan sampai terulang lagi. Jangan sampai menyakiti dirimu sendiri..”
__ADS_1
“Aku juga nggak tau Nathan, kalau itu adalah puding kacang merah. Melihat bentuknya saja sudah membuatku ingin segera menyantapnya..”
“Hemm, gadis badung, susah di bilanginya..” ucap Nathan lembut.
“Iya iya.., lain kali aku akan hati-hati kok..”
“Ya sudah, kamu istirahat yach, jangan lupa minum obat, istirahat cukup, biar cepet sembuh..”
“Iya komandan, hehe....”
“Nah gitu kan cakep. Ran, aku permisi dulu, nggak enak sama mas Daniel dan keluarganya, yang penting kamu sudah tidak kenapa-kenapa..”
“Iya Nathan, terima kasih ya...”
Nathan tersenyum. Lalu pergi meninggalkan Dani sendirian. Dani hanya tersenyum melihat punggung Nathan yang perlahan mulai menghilang di balik pintu kamarnya.
“Oh tante, Nathan permisi dulu tante, oh iya terima kasih juga atas jamuan makanya tante, masakan tante benar-benar enak.”
“Iya Nathan, lain kali tante akan undang kamu secara khusus ke sini..”
“Nathan sih selalu siap tante. Kalau begitu Evan permisi dulu tante. Oh iya, di mana mas Daniel tante, saya mau pamit juga kepada mas Daniel dan kepada tuan Wijaya juga..”
“Kalau sama om Wijaya, nanti tante sampaikan, soalnya beliau baru saja tidur. Kalau Daniel, tuh dia orangnya..” ucap tante Ema yang menunjuk ke arah Daniel dan Evan yang baru saja masuk lewat pintu samping.
“Nathan, ada apa..? Kamu mau ke mana..?” tanya Daniel yang menghampiri Nathan.
__ADS_1
“Mas Daniel, karena udah malem, Nathan mau pamit dulu, terima kasih mas atas undanganya..” jawab Nathan.
“Sama-sama Nathan, maaf ya karena jamuan makanya agak sedikit ada gangguan..”
“Ga papa kok mas Daniel, ya sudah saya pamit dulu, masi tante, mas Daniel dan mas Evan..”
“Iya Nathan, ati-ati..” jawab ketiganya hampir bersamaan.
Setelah membungkukan kepalanya, Nathan membalikan badan dan melangkah meninggalkan mereka berdua. Dengan mobilnya, Nathan meluncur menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia tak hentinya memikirkan sikap Daniel. Benarkah ia sudah berubah. Karena tingkah dan sikapnya menunjukan bahwa ia mendukung hubunganya dengan Dani. Di satu sisi, ia sangat bahagia, di sisi lain, ia juga kasihan dengan Daniel. Namun cintanya kepada Dani juga sangat besar, melebihi ia mencintai dirinya sendiri. Mobil terus melaju dan akhirnya sampai di rumah yang merupakan fasilitas dari perusahaan tempat ia bekerja sekarang.
Setelah memasukan mobil ke garasi, Nathan segera masuk dan langsung menuju kamarnya. Kamar mandi adalah tujuan pertamanya. Karena gerah yang ia rasakan, ia ingin segera berendam untuk menghilangkan sedikit lelahnya.
Di rumah utama, sesudah meminum obat, Dani segera tertidur. Saat Daniel memasuki kamar untuk memriksa keadaan Dani, ia melihat selimut yang di pakai Dani agak sedikit tersibak. Dengan niat yang tulus, Daniel membenarkan kembali posisi selimut tersebut, sehingga kini menutupi tubuh Dani. Daniel menyempatkan duduk sebentar di tepi ranjang Dani. Karena melihat kening Dani basah oleh keringat, Daniel berinisiatif mengeringkanya dengan handuk kecil yang ia ambil di laci. Sambil mengusap keringat di kening Dani, Daniel berkata dengan lirih.
“Dan andai kamu tau perasaanku saat ini, betapa aku kini sangat mencintai kamu. Ingin rasanya mengulang masa-masa di mana pertama kali aku mengenalmu, andai saja aku tak menyia-nyiakan waktu yang berharga itu, dan andai saja, andaaaaaai saja aku bertemu kamu terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Anyelir, hidupku tak akan seperti saat ini. Namun semua tinggal angan yang kosong. Mungkin tak berarti lagi buat kamu, tapi ketahuilah Dani, mas saat ini benar-benar jatuh hati padamu, namun lagi-lagi mas sadar, mas tak pantas buat kamu. Mas akan segera mengurus surat perceraian kita, supaya kamu bebas dan segera bahagia dengan orang yang kamu sayangi...”
Selesai berkata, dan keringat Dani juga sudah mulai kering, Daniel meletakakan handuk kecil itu di kamar mandi. Lalu kembali mendekati ranjang Dani.
“Selamat malam Dani sayang, tidur nyenyak dan mimpi indah..” gumam Daniel pelan. Sejenak ia masih berdiri. Ada perasaan ragu ketika ia ingin mencium kening Dani. Namun ia memberanikan diri maju walau ia kurang yakin. Akhirnya ia mendekat juga dan sedikit menundukan wajahnya tepat di atas kening Dani. Dengan hati-hati, Daniel mengecup kening istrinya untuk pertama kali.
Cuuuuuuuuppppp
Kecupan itu pelan, lembut dan penuh dengan perasaan. Ia tak ingin kalau sampai Dani terbangun. Sambil memejamkan mata, Daniel merasakan getaran aneh yang ia rasakan. Damai, sejuk dan penuh ketentraman. Tak ingin Dani bangun dan tahu, Daniel segera melepaskan kecupanya. Lalu tersenyum dan segera merebahkan tubuhnya di sofa, karena ia tahu, Dani tak mau tidur seranjang denganya.
Daniel tak tahu bahwa saat ia berkata dan mengecup kening Dani, gadis itu sebenarnya terjaga kembali. Namun ia tak membuka matanya, karena mendengar ucapan Daniel dan sengaja membiarkan Daniel mengiranya kalau masih terlelap. Dani membuka mata dan menoleh ke arah Daniel. Di lihatnya lelaki itu sudah pulas di sofa tanpa selimut yang menutupinya. Dengan hati-hati, Dani bangun dan beranjak dari tempat tidur. Langkahnya pelaan sekali dan tak bersuara. Ia menghampiri Daniel sebelum ke kamar mandi, karena memang ia ingin buang air kecil. Ia mendekati Daniel dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Sejenak ia berjongkok, menatap wajah yang terlihat sangat lelah itu. Guratan-guratan halus yang sedikit samar, terlihat di wajahnya. Ada sedikit kesedihan menggelayutinya. Dani menghela nafas dalam dan pelan.
__ADS_1
BERSAMBUNG