
“Maafkan aku mas, aku tak bisa mencintaimu lagi, karena hati ini sudah milik orang lain. Dani tau, Dani sangatlah kejam atau egois, tapi itulah yang Dani rasakan. Walau di paksakan, untuk waktu sekarang, perasaan Dani tetaplah tak bisa berubah mas. Mas boleh anggap Dani kejam atau apalah, Dani bisa menerimanya. Dani berharap, setelah kita berpisah, mas akan menemukan kebahagian dengan yang lain. Sekali lagi maafkan Dani mas, selamat malam, dan tidur yang nyenyak, mas Daniel..” gumam Dani pelan. Dani berdiri dan segera menuju kamar mandi untuk melaksanakan hajatnya.
Air mata menetes di pipi Daniel. Rupanya ia tak tidur. Perih rasanya mendengar ucapan itu keluar dari mulut Dani. Namun ia bisa apa. Dengan segera ia mengusap air matanya dan kembali memejamkan mata supaya di kira tidur.
3 Bulan kemudian
Kesehatan tuan Wijaya bisa di katakan kini sudah pulih. Ia dapat berjalan sendiri tanpa kursi roda dan bantuan dari siapa pun. Suster yang ada di rumahnya dan sekaligus bertugas merawatnya, kini juga sudah di berhentikan, karena pasienya sudah sembuh. Bicaranya juga sudah lancar seperti dulu lagi. Dan kini tuan Wijaya sudah bisa melakukan aktifitasnya. Kadang ia pergi ke kantor dan tentu saja bersma Ken yang selalu setia menemaninya.
Kini pelangi telah mewarnai langit yang berwarna biru setelah hujan berhenti mengguyurnya. Kebahagiaan telah menghampiri kembali keluarga tuan Wijaya. Seiring berjalanya waktu, Daniel berniat mengutarakan soal perceraianya kepada papanya, yang kini sudah mencapai tahap tinggal ketuk palu.
Hubungan Daniel dan Anyelir, kini semakin runyam. Seperti benang yang sudah bertali simpul. Sulit bagi Daniel untuk lepas darinya. Semakin ke sini, kelakuan dan sikap Anyelir sulit untuk di kendalikan. Bahkan pernah satu ketika, Daniel sampai terluka tanganya, akibat kena pecahan gelas yang di lempar oleh Anyelir. Daniel semakin yakin, bahwa ia harus segera lepas dari Anyelir.
Sebaliknya, hubungan Nathan dan Dani, telah di restui oleh nenek Dani. Awalnya nenek Eliza terkejut dan sempat berat hati, namun karena Daniel menjelaskan semuanya secara gamblang, akhirnya nenek Eliza merestui hubungan mereka, dan itu atas keikhlasan dan kebesaran hati Daniel melepaskan Dani.
Pagi yang sangat cerah. Langit berwarna sangat biru sekali. Tiada awan mendung menghiasinya walau sedikit. Matahari bersinar dengan congkaknya, menghiasi cakrawala dan memberikan sinar kehidupan untuk berjuta makhluk hidup yang ada di muka bumi ini.
Di rumah Daniel
“Waduh, di mana tasku yang berwarna krem si...?” gumam Dani yang mengacak isi lemari tasnya, sambil sesekali mengacak rambutnya, karena mengingat-ingat keberadaan tasnya.
Kini Dani tidak menempati kamar di belakang lagi. Ia di perintahkan menempati kamar yang berhadapan dengan kamar Daniel. Dan tentunya itu atas perintah sang suami yang sebentar lagi menyandang status mantan.
“Ini yang kamu cari...?” ujar Daniel yang sudah berdiri di depan pintu dan memperlihatkan tas yang di cari oleh Dani.
“Ya ampun mas, ketemu di mana? Dari tadi aku kebingungan, sampai mengacak seisi almari ini..” sergah Dani yang begitu senang melihat tasnya udah di depan matanya.
“Kemarin kamu lupa naruhnya, dan kamu geletakin begitu aja di bufet. Em, dasar gadis ceroboh...” ujar Daniel memberikan tas tersebut.
“Hehe.., maaf mas. Kita berangkat sekarang..?”
“Ayooo...”
Hari ini Daniel dan Dani akan mengatakan semuanya kepada tuan Wijaya. Entah nanti apa yang akan di katakan papanya, Daniel akan menerima dan tetap akan menceraikan Dani. Ia tak mau lebih lama lagi mengekang Dani, dan membuatnya menderita. Cukup sudah dan sampai di sini saja. Keduanya duduk di jok belakang mobik Daniel. Masing-masing saling terdiam, dengan sejuta isi pikiran yang memenuhi benak mereka.
“Dan...”
“Iya mas, kenapa...?”
__ADS_1
“Bolehkah aku minta satu permintaan...?”
“Apa itu mas? Katakan saja...”
“Emm, bolehkah aku memegang tangan kamu..?” Belum sempat Dani menjawab, Daniel sudah berkata lagi.
“Tidak jadi, maaf..”
Dani heran di buatnya. Lelaki yang duduk di sebelahnya, di lihatnya sangat gelisah sekali. Dani tersenyum, lalu tanpa di duga oleh Daniel, Dani menggenggam tangan kiri Daniel.
“Aaahh...”
Daniel kaget dan melihat Dani. Senyum yang terkembang di bibir Dani membuat hati Daniel terasa sejuk sekali. Serasa menghirup udara segar di pegunungan.
“Dani...?”
“Enggak papa mas. Dani tau mas sedang gugup. Mas sebenarnya agak takut kan ngasih tau papa..?”
“Kamu kok tau Dan..?”
Daniel menghela nafas, setelah mengaturnya sehingga tak gelisah atau gugup lagi. Tak terasa, sampailah keduanya di rumah utama. Suasana dari luar, rumah itu tampak megah. Dengan dinding yang kokoh mengesankan tegas terhadap di pemiliknya. Dengan langkah pasti, Daniel berjalan di ikuti oleh Dani. Karena hari ini jadwal tuan Wijaya tidak pergi ke kantornya, dan Daniel menggunakan kesempatan ini untuk menemui papanya. Setelah memasuki rumah, ia langsung masuk ke dalam dan mendapati papanya tengah ngobrol santai bersama tante Ema.
“Daniel, tumben kamu ke sini? Nggak pergi ke hotel...?” sapa tante Ema yang melihatnya.
“Enggak tante, Daniel sengaja libur kok...”
“Dani sayang...” ucap tante Ema dan serta merta memeluk Dani. Begitu juga dengan Dani, langsung menghambur menyambut pelukan tante Ema.
“Apa kabar pah..?” ucap Daniel yang juga memeluk papanya.
“Seperti yang kamu lihat, papa sehat. Tumben kamu kemari, pasti ada apa-apa nih..?” ucap tuan Wijaya.
Daneil duduk di hadapan papanya. Di ikuti oleh Dani yang duduk di sebelahnya. Dsn tante Ema menemani tuan Wijaya kakaknya. Agak ragu juga Daniel mengutarakan maksud kedatanganya. Namun melihat wajah Dani, ia memantapkan niatnya.
“Paah, maksud kedatangan Daniel ke sini, ada yang mau Daniel sampaikan ke papa..”
“Apa itu Daniel, katakan saja, papa akan mendengarkanya..”
__ADS_1
Sejenak Daniel menghela nafas. Terdengar begitu berat. Namun sesaat kemudian, ia mulai melanjutkan kata-katanya lagi.
“Paahh, Daniel akan bercerai dengan Dani...”
Bagaikan di sambar petir, tante Ema dan tuan Wijaya sangat kaget. Keduanya sama-sama saling berpandangan.
“Apa maksud ucapan kamu Daniel, papa nggak ngerti..”
“Daniel dan Dani akan berpidah pah. Kami sudah mengajukan ke pengadilan agama, dan prosesnya tinggal ketok palu. Maaf paah, Daniel baru mengatakanya..”
“Tidak...!!! Batalkan..!! Papa tidak setuju..!!”
“Iya Daniel, lagian kenapa...?”
“Papa, tante, tolong..., jangan persulit kami. Daniel ingin yang terbaik buat Dani..”
“Sekarang papa mau tanya sama kamu Dani, apa kamu juga setuju dengan perceraian ini...?” ucap tuan Wijaya dengan sorot mata penuh pendesakan.
“Daniii....”
“Katakan saja Dani, jujur itu lebih baik walaupun menyakiti, dsn jangan ada yang di tutupi...” ucap Daniel sambil memegang tangan Dani, meyakinkanya dan menguatkanya.
“Dani stuju pah, Dani sudah sepakat drngan mas Daniel..”
“Gila...!! Kalian benar-benar sudah gial..!! Apa yang ada dalam fikiran kalian...? Apa kalian lupa kalau keluarga ini membutuhkan penerus silsilah keluarga..!!”
“Daniel tau pah, tapi Daniel yak bisa memaksakan kehendak dan memaksakan perasaan hanya sepihak saja. Semua ini karena kesalahan Daniel. Jangan menyalahkan Dani juga pah, selama ini Daniel hanya bisa memberijan penderitaan buat Dani, dan tanpa Daniel sadari, sikap itu membuat dia pergi dari kehidupan Daniel. Menyesal pun tak akan bisa merubah segalanya. Daniel ikhlas dia bahagia bersama orang yang di cintainya pah...”
Aneh. Sungguh di luar dugaan. Bukanya berkobar, kali ini sorot mata tuan Wijaya mendadak menjadi iba, melihat Dani yang duduk tertunduk di hadapanya.
“Maafkan Dani pah. Dani tak bisa membohongi perasaan Dani sendiri. Dani tak bisa lagi mencintai anak papa, mas Daniel. Walau ucapan Dani ini menyakiti hati papa, tapi itulah yang sebenarnya. Dani tak ingin ada kebohongan di dalam rumah tangga Dani.”
Tuan Wijaya berdiri, tanpa di duga, ia memeluk Daniel dengan eratnya.
“Pa..papa...?” ucap Daniel karena terkejut.
BERSAMBUNG
__ADS_1