Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 20


__ADS_3

Manusia yang merencanakan, tapi Tuhan lah yang menentukan. Apa yang kita mau atau inginkan, belum tentu di kabulkan oleh Tuhan. Seperti kesombongan Daniel saat ini. Yang begitu angkuh dan memandang remeh kepada Dani. Gadis yang menurutnya licik dalam mendapatkan simpati dari papanya.


Namun jauh di dalam hati sanubari seorang Dani, ia hanyalah berfikir tentang berbuat baik kepada sesama, tak memandang itu siapa, selama ia mampu dan bisa, ia dengan sukarela akan memberikanya. Itulah sifat yang di tanamkan kedua orang tua Dani sejak ia masih kecil.


Daniel sampai di salon Anyelir. Dengan bersemangat ia melangkah memasuki salon milik kekasihnya itu.


“Sayang..”


Anyelir begitu girang mendengar suara sapaan dan melihat siapa yang datang.


“Sengaja buat surprise yach..?”


Sambut Anyelir sembari berdiri dan menghampiri Daniel. Tanpa merasa risih di lihat pelanggan salonya, Anyelir mencium bibir Daniel sejenak, seperti kebiasaan orang-orang negara barat.


Cuuupppp


“Kita masuk ke ruanganku..?” Daniel mengangguk dan merangkul bahu Anyelir ke ruangan yang di maksud Anyelir.


“Itu pacarnya ya..?” tanya seorang ibu-ibu pelanggan kepada kapster salon Anyelir yang tengah malakukan hair spa.


“Iya bu..”


“Ooouuhhh...” jawab si ibu lalu kembali menikmati perawatan yang di lakukan sang kapster tersebut.


Setelah berada di dalam ruangan, Anyelir sengaja mengunci pintu teesebut. Tanpa babibu, Anyelir dengan agresif mencium bibir Daniel, membuat pria itu semakin bernafsu saja. Tak elak, meja kerja Anyelir menjadi saksi keganasana nafsu birahi mereka.


Aksi keduanya terhenti karena terkejut oleh suara ketukan pintu. Keduanya buru-buru merapikan baju yang acak-acakan karena aksi sesaat tadi.


Daniel mendengus kesal. Perlahan melangkah mendekat ke pintu.


“Kenapa Nathan..? Kamu ketuk pintu di saat yang tidak tepat..” ucap Daniel kepada Nathan yang tengah berdiri di hadapanya.


“Maaf mas, ponsel mas Daniel yang ketinggalan di mobil berdering terus, karena takut ada yang penting, saya bawa ke sini..” ucap Nathan yang menyodorkan ponsel Daniel. Dan benar saja, ponsel Daniel terus saja mengeluarkan notifikasi panggilan, dan itu dari papanya, tuan Wijaya.


“Papa..?” Buru-buru Daniel menyambungkan dengan papanya.


“Hallo, iya pah..” jawab Daniel.


“Udah selesai fitting bajunya..?”


“Udah pah, baru saja..”


“Sekarang papa minta kamu bawa Dani ke sini, papa tunggu di hotel..”


“Apa pah? Sekarang?” jawab Daniel yang menelan salivanya karena kaget. Soalnya, baru saja ia menyuruh Nathan mengantar gadis itu kembali ke tokonya.


“Iya. Sekarang.., papa tunggu..!” ucap tuan Wijaya yang kemudian menutup telfonya.

__ADS_1


“Ah sial....!”


Daniel mendengus kasar. Anyelir yang sudah merapikan rambut dan bajunya menhampiri dan memeluk Daniel dari belakang.


“Kenapa sih uring-uringan..?”


Nathan yang masih berdiri di depan mereka memilih menundukan kepala di banding melihat adegan yang menurutnya over itu.


“Aku harus kembali sayang, lain kali aku akan ke sini lagi, Cuuppppp...”


Anyelir tersenyum dan mengedipkan matanya. Sesaat matanya melirik ke arah Nathan.


Daniel dan Nathan segera pergi dari salon Anyelir. Rasa jengkel kini menyelimuti hatinya. Dengan terpaksa ia kembali menghubungi nomor Dani.


“Hallooo...” Suara Daniel agak ketus kepada Dani.


“Iya, kenapa lagi?”


“Kamu masih di toko kan..?”


“Masih...”


“Bersiaplah aku akan jemput kamu, menemui papa sekarang juga..”


“Apaaa....?”


Suara telefon yang di tutup oleh Daniel nun jauh di sana.


“Hiihhh, lagi-lagi main tutup telfon seenaknya saja..! Dasar...!” ucap Dani yang mengumpat sendiri.


Dengan muka di tekuk, Daniel yang duduk di belakang mengedarkan pandanganya ke luar jendela. Untuk sedikit mengurangi kekesalan di hatinya, iseng-iseng ia bertanya kepada Nathan, pengawal sekaligus supir pribadinya.


“Nathan, aku mau tanya sama kamu, aku ingin mendengar apa jawaban kamu..” Hal bodoh yang di lakukan oleh Daniel.


“Silakan mas Daniel..”


“Seandainya kamu di suruh memilih, kamu akan memilih siapa diantara Anyelir dan Dani..?”


Ini si tuan muda songong lagi nguji gua apa? Pertanyaan yang males banget buat ngejawabnya. Dasar.


“Maaf, apa nggak salah mas Daniel bertanya kepada saya..?”


“Jawab saja jujur, aku hanya ingin itu..”


“Baiklah. Saya akan jawab jujur. Saya akan pilih Dani..”


“Apa...? Alasanya..?” tanya Daniel yang melebarkan matanya karena heran. Ia tak mengerti dengan jawaban yang di berikan Nathan.

__ADS_1


“Ya filling aja mas..”


Mobil pun sampai di depan toko. Daniel turun dan akan melangkah memasuki toko. Namun sebelum ia menjangkau lantai toko tersebut, Dani sudah muncul dan berjalan ke arahnya.


“Aku dah siap..” ucap Dani sambil berjalan dengan tenang ke mobil Daniel.


“Baguslah. Jadi aku nggak perlu capek berbasa-basi..”


Hm, sombong sekali.


Di dalam mobil, Dani duduk di belakang sendiri, sedang Daniel memilih duduk di depan. Kini ponsel menjadi semua pusat perhatian Dani. Begitu juga dengan Daniel. Laki-laki itu lebih suka mengutak-atik ponselnya di banding sekedar menyapa Dani. Suasana hening.


Tak lama, sampai juga mereka di hotel milik keluarga wijaya, yang di pegang langsung oleh tuan Wijaya. Beverly Hils hotel. Hotel berbintang yang terdiri dari tujuh lantai. Dengan fasilitas yang bisa di bilang sangat mewah sekali, membuat hotel itu terkenal di penjuru nusantara.


Nathan memarkirkan mobil setelah tuan muda dan calon istrinya turun.


“Jangan berjalan bersama denganku, jaga jarak, agak ke belakang..”


“Uuhh, tenang saja, aku juga nggak mau berjalan beriringan apalagi bersama kamu..”


“Terserah! Aku nggak peduli.”


Keduanya berjalan menuju ruangan tuan Wijaya. Seorang Presdir di hotel tersebut. Setiap mereka berpapasan dengan karyawan hotel tersebut, selalu sang karyawan membungkuk dengan hormat kepada Daniel. Dan mereka menatap Dani dengan tatapan aneh. Mungkin karena penampilan Dani yang sangat jauh berbeda dengan Daniel. Dani yang biasa, sedangkan Daniel lebih ke yang mewah. Ada satu orang yang menyapa Dani dengan hangat. Ia adalah salah satu karyawan yang memegang jabatan penting di hotel tersebut.


“Selamat siang Mas, Mbak...?” sapa karyawan yang bernama Ariana.


“Siang..” jawab Dani tersenyum tak kalah ramah.


Setelah melewati dua lantai, akhirnya sampai juga mereka di ruangan presdir. Ruangan yang terlihat berbeda dan agak luas.


Tok tok tok


“Masuk.”


Suara tuan Wijaya yang begitu berwibawa. Dani yang berjalan di belakang Daniel, tersentak ketika tanganya di tarik dan di gandeng oleh Daniel.


Eh kenapa dia? Berani-beraninya pegang tanganku. Dasar manusia plin plan. Tadi marah-marah, nggak mau kalau terlihat jalan berdua. Sekarang....


“Selamat datang di kantor papa, Dani...”


Papa..? A...apa aku gak salah dengar?


Dani masih terbengong dengan ucapan tuan Wijaya barusan yang menyebutkan dirinya papa, dan itu membuatnya kaget.


“Kenapa bengong? Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri dengan panggilan itu, toh dua hari lagi, kamu akan menjadi anak menantu papa....” ucap tuan Wijaya yan berdiri dan mengajak keduanya duduk di sofa yang berada di ruangan itu. Dani masih dalam kebingungan. Ia harus merasa bagaimana, dia sendiri tidak tahu. Semuanya begitu saja terjadi.


“Daniel, Dani, sengaja papa suruh kalian datang kemari, karena papa akan memberikan ini..”

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2