
" Dalam rumus matematika, satu tambah satu adalah dua, namun dalam kehidupan dan percintaan, satu tambah satu tetaplah satu, tidak ada lagi kamu atau aku, yang ada hanyalah kita, itulah arti cinta yang sesungguhnya "
*****
Dengan sangat kasar sekali, Anyelir mengusir Daniel. Ia berteriak hingga suaranya terdengar melengking. Bukanya malu atau apa, di teriaki oleh Anyelir seperti itu, justru membuat Daniel memeluknya dengan erat. Awalnya Anyelir meronta, dan memukul dada Daniel berulang kali. Emang tenaga pria dan wanita itu berbeda. Setelah beberapa pukulan, dan tak berhasil melepaskan diri dari Daniel, akhirnya ia pasrah dan menangis.
“Kamu jahat Daniel!! Kamu jahat..!! Huu...hhuu...hiks...hiks...” Anyelir menangis seperti anak kecil. Meraung dan sesekali masih mengarahkan kepalan tanganya ke dada Daniel.
“Enggak sayang, bukan begitu. Wajar dong setiap orang melakukan kesalahan? Aku ini manusia lo, bukan dewa, yang setiap saat tak pernah melakukan kesalahan. Di dalam drama korea, seorang dewa pun bisa melakukan keslaahan..”
Cuuuupppp
Daniel mengecup pucuk kepala Anyelir. Gadis itu perlahan mereda tangis dan amarahnya. Dengan erat sekali, Daniel memberikan pelukan kepada Anyelir, mencoba membuatnya tenang.
“Hanya kamu wanita yang aku cintai Anye.., hanya kamu seorang..” Jurus kata-kata rayuan yang Daniel keluarkan.
Kamu itu jauh lebih bodoh dari Dani. Aku hanya ingin menikmati tubuh kamu saja. Karena aku tau kelakuan kamu di belakang aku, Anyelir.
Sungguh munafik. Batin Daniel bertolak belakang dengan apa yang di ucapkanya. Karena pernah satu waktu, ia tahu Anyelir sedang jalan bersama Ega, temanya. Dan itu membuat Daniel hilang mood denganya, dan sejak saat itu cintanya mulai memudar, cuma ingin sekadar menikmati tubuhnya saja.
“Aku mau bukti kalau kamu memang benar mencintaiku, dan hanya aku satu-satunya wanita dalam hati kamu..” Pinta Anyelir dengan sok kalau ia adalah wanita yang benar-benar Daniel butuhkan.
“Bukti? Bukti yang bagaimana lagi Anye sayang..?”
“Buktikan di depan semua orang bahwa kamu hanya miliku seorang..” Desakan Anyelir membuat Daniel bertambah pusing saja.
Ini wanita satu banyak maunya. Kalau bukan lu yang muasin gua tiap saat gua mau, ogah gua.
“Baiklah, tar kalau pas ulang tahun aku, akan aku buktikan ke semua orang sayang, kamu puas..?”
__ADS_1
Anyelir memgangguk. Senyum puas terkembang di bibirnya, menyangka Daniel seutuhnya takluk kepadanya dan ada dalam genggamanya. Karena sudah jinak, oleh sang pawang, kembali Daniel melakukan adegan mesum pagi itu, bodohnya, Anyelir menyambut kemauan Daniel yang tak dapat ia tolak itu, karena gairahnya juga meledak-ledak, dan terjadilah kembali adegan tersebut beberapa kali sampai akhirnya keduanya terkulai lemas dan tertidur karena kelelahan. Sementara Dani dan Evan yan berada di rumah sakit, sudah tertidur karena kelelahan.
_
_
Menjelang pagi hari, Ken di kejutkan dengan tuan Wijaya yang sudah membuka matanya. Namun ia tak dapat menggerakan anggota tubuhnya, dan bicara. Hanya bisa mengedipkan matanya.
“Tuan? Oh syukurlah anda sudah siuman. Tuan haus? Mau minum?” ucap Ken yang begitu senang melihat tuanya sudah sadar kini.
Respon mata yang berkedip, itulah jawaban dari tuan Wijaya. Seolah mengerti dan paham, Ken segera mengambil satu botol air mineral, mengambil sedotan dan perlahan mengarahkan sedotan itu ke bibir tuan Wijaya. Perlahan tapi pasti, air itu masuk ke dalam mulut tuan Wijaya sebagai pelepas dahaga. Dengan tatapan penuh prihatin, Ken mamandang tuan Wjaya. Laki-laki yang telah baik hati dan memperkerjakanya, setelah ia menjadi yatim piatu. Sosok ayah yang telah lama pergi meninggalkanya, kini ia dapatkan kembali pada diri tuan Wijaya. Kini beliau terbaring lemah tak berdaya di hadapanya. Tak terasa cairan bening mulai menggenangi kedua kelopak mata Ken. Sadar akan hal itu, ia cepat menyeka dengan sapu tangan yang ada di dalam saku celananya, agar tak terlihat oleh tuanya. Tuan Wijaya memberikan isyarat tanda ia sudah selesai minum dengan menghentikan menyedot air mineral tersebut. Ken paham, dan segera menyingkirkan botol air minum yang ia pegang. Dengan inisiatif tak ingin mengganggu istirahat anak majikanya, ia tak menelfon, hanya mengirim pesan keda Evan, Daniel, Dani dan juga tante Ema, mengabarkan kalau tuan Wijaya sudah sadarkan diri.
***
Pagi di rumah sakit
Dani yang tengah duduk di sampingnya, tertidur pulas sambil tanganya memegang erat tangan Nathan. Gadis itu terlihat sangat lelah sekali. Tampak dari kedua matanya yang cekung dan kini nampak lingkar hitam di bawah kedua matanya.
Perlahan, Nathan melepaskan tanganya. Lalu mengusap lembut kepala Dani. Gadis itu menggeliat, dan hanya mengubah posisi tidurnya. Kini wajahnya dapat dengan jelas di lihat oleh Nathan, karena kini ia 100% menghadap ke arahnya.
“Gadis bodoh, bisa-bisanya kamu memeluku untuk melindungi aku dari bodyguard-bodyguard itu..?”
Nathan masih tak habis fikir sekaligus kagum dengan sikap dan sifat yang di miliki oleh gadis pujaanya itu. Tak bosan ia menatap wajah Dani yang sedang tidur nyenyak itu.
“Ehhhmmmmmm...” Suara Evan yang menggeliat mengejutkan Nathan, karena tadi, Evan belum terlihat olehnya. Di kiranya cuma Dani seorang yang menungguinya.
“Mas evan? Kenapa dia ada di sini?” Nathan menghentikan mengelus kepala Dani. Gadis itu masih lelap dengan tidurnya, yang terlihat sangat nyaman sekali.
Tok tok tok
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu dan ternyata adalah suster jaga yang masuk sambil membawa nampan berisi makanan untuk pasien. Evan yang nyenyak tidur, terjaga karena mendengar ketukan pintu tadi.
“Rupanya sudah pagi ya..?” gumamnya sambil menengok arloji di tanganya.
“Permisi mas, mbak, ini sarapan utuk pasien dan jangan lupa untuk minum obatnya...?” ucap sang suster yang begitu ramah lalu meletakan nampan di meja. Sesaat ia mengecek infus Nathan, lalu kembali meninggalkan kamar tersebut. Hal itu membuat Dani jadi terbangun.
“Ohh, sudah pagi rupanya..?” ucap Dani dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ia megucek kedua matanya. Setelah sempurna membuka matanya, ia melihat Nathan tersenyum kepadanya.
“Selamat pagi, Rani..?” Sadar dengan apa yang di ucapkan Nathan, Dani segera mengode kalau ada Evan, dan spontan Nathan menutup bibirnya sendiri.
Karena tahu dengan apa yang di lakukan kakak ipar dan pengawalnya, Evan pura-pura tak tahu saja. Ia melihat ponsel dan membaca satu pesan dari Ken. Wajahnya begitu berbinar mengetahui papanya sudah siuman. Senyum lebar terkembang di bibirnya.
“Kak Dani, karena Nathan sudah sadar, saya permisi pulang dulu, karena papa juga sudah siuman, Evan mau jenguk papa ke rumah sakit. Apa kak Dani masih mau di sini?” ucap Evan yang sudah berdiri di samping Dani.
“Papa udah siuman?” ucap Dani yang terlihat bahagia. Evan mengangguk.
“Emm, Evan pulang aja dulu, nanti kakak menyusul, yang pasti kakak bahagia mendengar papa udah sadar. Nanti agak siangan kakak ke sana..”
“Baiklah kalau begitu. Oh ya Nathan, kalau kamu butuh pekerjaan, kamu datang saja ke hotel saya, karena saya sedang membutuhkan seorang asisten pribadi.” ujar Evan kemudian tersenyum kepada Nathan.
“Baiklah mas Evan, saya akan datang ke tempat mas Evan, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih..”
“Iya Nathan, sama-sama..” Evan menepuk bahu Dani pelan, lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua.
“Tadi Evan denger gak ya?” ucap Dani dengan wajah khawatirnya. Nathan tersenyum dan meraih tangan Dani untuk di genggamnya.
“Kalau mas Evan dengar kenapa, Ran..? Toh dia juga tau kelakuan mas Daniel, tak mungkin ia akan menghalanginya. Secara kamu sejak awal menikah sudah menderita..”
BERSAMBUNG
__ADS_1