
“Iya, iya Nye.., sabar.., aku tau aku harus apa dan bagaimana....”
“Bagus!! Kalau begitu, aku kan nggak perlu mengancamu, dan melempar vas bunga itu, Mon..”
Anyelir menjauhkan pistolnya dari kepala Ramon. Dengan sedikit menenangkan hatinya, Ramon berbalik ke arah Anyelir.
“Sekarang, lebih baik kamu beristirahat, apa kamu nggak capek apa, marah-marah dan mengancam mereka...?”
“Istirahat..? Ide bagus juga, tapi dengan catatan, kamu harus jaga mereka, dan jangan berbuat baik kepada mereka, paham..!!”
“Iya, iya.., aku paham...” jawab Ramon menenangkan hati Anyelir.
“Baiklah, aku akan istirahat sejenak. Ingat, aku percaya sama kamu, jangan sampai kepercayaan itu hilang dan aku akan berbuat yang tidak-tidak padamu..!!”
“Okeee...!!”
Setelah Ramon menjawab dengan pasti, Anyelir berjalan menuju kamar yang merupakan tempat ia beristirahat. Tak lupa ia memasukan pistolnya ke dalam saku baju yang berada dalam bajunya. Antisipasi kalau terjadi hal-hal yang tak di inginkanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang super empuk, dengan kedua tangan yang di gunakanya sebagai penyangga kepala. Ia menatap langit-langit kamarnya. Anganya menerawang jauh. Dalam benaknya, terlintas jutaan kalimat yang di tujukan kepada dirinya sendiri.
Apakah aku sudah keterlaluan..? Mungkin ia, karena ada alasan aku melakukanya. Ya, karena aku cinta kamu Daniel, aku tak ingin kehilangan kamu, karena semua yang ada padaku telah ku serahkan untukmu, tapi mengapa kini seolah kamu ingin menjauh dari aku, dan seakan akan mencampakan aku. Aku tak rela, benar-benar tak rela jika gadis sialan itu bahagia berada di sisimu, dan bisa membuatmu tertawa.
“Haaaahhhhh....!!!! Dani...!!! Kamu sungguh gadis sialan..!!” Dengus Anyelir seraya memukul kasur dengan kepalan tanganya.
Sementara Ramon, ia tak benar-benar menepati ucapanya. Diam-diam, ia berjalan mengendap-endap menuju dapur. Ia berniat mengambil air minum untuk di berikan kepada Daniel dan juga Dani. Dalam hati kecil Ramon, kini ia tak tega kepada keduanya. Setelah ia menuang air ke dalam gelas, ia kembali berjalan dengan sangat hati-hati agar tak mengeluarkan suara menuju kamar di mana Daniel dan juga Dani berada.
Cekkleeekkkk
Daniel akan mengeluarkan suara ketika melihat Ramon masuk. Namun dengan cepat Ramon menghentikanya dengan mengode menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Ssssttttt, jangan berkata apa pun, lebih baik kalian minum ini, mumpung Anyelir di kamar dan baru beristirahat...”
Daniel mengangguk. Ia menerima gelas tersebut dari tangan Ramon. Naas. Gelas tersebut tidak sengaja lepas dari genggaman Daniel.
Pyyaaaaaarrrr....!!!
“Suara apa itu...?!” Dahi Anyelir mengeryit. Dengan cepat ia bangun dari tiduranya, filingnya langsung tertuju ke kamar Daniel. Dengan cepat ia berjalan keluar dari kamar dan menuju sumber suara.
“Mati gua. Pasti Anyelir denger...” ucap Ramon memegang kepalanya sendiri. Namun ia tak mau ketahuan. Dengan sigap sebelum Anyelir mengetahuinya, ia mengambil sarung bantal untuk mengumpulkan pecahan kaca tersebut serta mengeringkan air yang tumpah di lantai.
“Kamu denger suara gelas pecah, Nath..?”
“Iya mas, saya makin curiga mas. Sebaiknya kita lebih intens memeriksa ke dalam...”
“Ok, kita cari celah supaya kita dapat masuk ke dalam..”
Evan dan Nathan segera mencari celah agar bisa masuk ke dalam. Setelah beberapa saat, beruntung keduanya menemukan pintu garasi yang lupa atau memang sengaja nggak di kunci. Dengan hati-hati, Evan membukanya, dan mereka segera masuk. Evan dan Nathan mulai berjalan mengendap-endap, menyisir setiap sudut ruangan yang membuat mereka membuka mulutnya karena kagum. Betapa tidak, dari luar terlihat sekilas rumah tersebut tak berpenghuni, dan terlihat sangat tidak terawat, namun setelah masuk, mereka benar-benar tak percaya karena di dalam rumah tersebut sangat bersih dan terawat sekali. Semua perabotnya juga sangat mewah.
“Saya gak nyangka mas, rumah ini begitu mewah...” bisik Nathan kepada Evan.
“Sama, saya juga nggak nyangka Nath, sebaiknya kita memeriksa seluruh ruangan, siapa tau kita dapat petunjuk..” ajak Evan dan Nathan menganggukan kepala. Keduanya melanjutkan misi detektif mereka.
Braaakkkkkk
Pintu ruangan terbuka.
“Mon, apa yang kamu lakukan di sini..?” tanya Anyelir yang sudah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
“Saya memeriksa keadaan mereka Nye...”
“Tadi saya juga denger suara benda kaca pecah...”
“Oh, itu..., tadi saya nggak sengaja memecahkan vas di depan, maaf.., Nye...?”
Anyelir menatap Ramon. Walaupun Ramon berkata seperti itu, ia tak percaya. Karena Anyelir melihat lantai sedikit basah tepat di bawah Daniel dan Dani duduk. Anyelir perlahan berjalan ke arah mereka.
“Kenapa kamu bangun Anye, sebaiknya kamu kembali istirahat, ayo...?” ajak Ramon berusaha mengalihkan kecurigaan Anyelir. Ramon berusaha memegang lengan Anyelir, namun Anyelir menepisnya.
“Kamu bohong Ramon!! Kenapa kamu memberi minum mereka..?!”
“Ma...maaf Nye, ini salahku, aku bener-bener nggak tega, sejahat-jahatnya aku, aku nggak akan membuat mereka mati secara perlahan, kamu paham kan..?”
Plaaaaaakkkkkk
“Kamu pantas menerima tamparanku, karena kamu berkhianat...!!”
Akibat tamparan Anyelir, wajah Ramon sampai menghadap ke kiri.
“Anye, cukup..!! Kamu dendam dan sakit hati denganku kan..?? Sekarang, aku sudah di hadapan kamu, dan aku sudah tidak berdaya untuk melawan kamu, aku pasrah jika kamu akan melampiskan kepadaku, jika itu bisa membuatmu puas...!!”
Plok plok plok....
“Waaaooww...!!! Kata-kata yang sangat manis sekali. Aku sampai terharu mendengarnya..., tapi bo'ong...!!!” ucap Anyelir yang kini berjongkok di hadapan Dani sambil mencengkeram dagunya.
“Jangan sentuh dia...!!” teriak Daniel yang tak rela Dani kesakitan.
“Diam kamu Daniel. Karena gadis ini aku jadi begini...!!!”
“Kamu juga diam...!!”
Plaaaakkkk plakkk
“Sayangg..!! Dasar Wanita gila..!!” teriak Daniel memeluk Dani.
Dua kali tamparan mendarat di pipi Dani.
“Aku akan sering menyiksanya jika ada yang membela atau melindunginya..!!” ucap Anyelir menyeringai sadis.
“Kalian juga paham...!!”
“Kamuu....??!!!”
Daniel masih erat memeluk Dani yang mengeluarkan darah di ujung bibirnya. Hal itu semakin membuat Anyelir di bakar api cemburu.
“Lepaskan pelukanmu dari dia Daniel..!!” teriak Anyelir.
“Tak akan...!!”
“Aku hitung sampai 3, kalau tidak kamu akan tau akibatnya..!! 1...!!”
Daniel sama sekali tidak menghiraukan ancaman Anyelir.
“2..!!”
__ADS_1
Daniel malah semakin erat memeluk Dani..
“Mas, tolong lepaskan pelukan mas, aku nggak mau terjadi apa-apa sama mas Daniel...?”
“Tidak sayang, aku tak gentar dengan ancaman wanita gila ini. Aku akan melindungimu, walau nyawa sebagai taruhanya...”
“3...!!! Kamu tidak menuruti perintahku, lihat saja, ancamanku tidak main-main..!!”
Anyelir mengarahkan pistolnya ke arah Dani, dan kemudian menarik pelatuknya.
Doooorrrrrr
“Aaaaagggrrrhhhhh....!!!”
Tubuh Daniel roboh, karena peluru yang meluncur dari pistol Anyelir menembus punggung Daniel.
“Mas Daniiiiiieeelll....!!”
“Nath, kamu dengar suara letupan pistol..?”
“Iya mas, suaranya dari kamar itu...!!”
“Kita ke sana...!!”
Evan dan Nathan berlari ke arah sumber suara.
“Daniieell...!! Kenapa kamu rela mengorbankan nyawa demi dia...!! Kenapa...!!?”
Anyelir kaget bukan main, karena niat hati ingin menembak Dani, malah Daniel pasang badan untuk melindunginya.
“Masss...., tahan mas, Dani akan sekuat tenaga membawa mas dari sini, ya...?”
“Da...da.. Dani...., ma..maafkan masss..”
“Iya, iya, mas nggak punya salah kok...” ucap Dani sambil terisak melihat Daniel di pangkuanya dan bersimbah darah.
“Cukup Nye..!!” teriak Ramon yang akan menghampiri Anyelir.
“Diam di tempat atau aku akan menembakmu juga, Mon..!!”
“Oke, oke..!” Ramon menghentikan langkahnya.
“Anye, di mana hati nurani kamu, tolong bawa mas Daniel ke rumah sakit, untuk kali ini aku mohon kepadamu, Anyelir..”
Dalam benak Anyelir muncul ide gila. Ia tersenyum penuh kepuasan, seraya melihat ke arah Dani dengan pandangan menghina.
“Kalau kamu ingin aku menyelamatkan Daniel, kamu harus merangkak ke arahku dan mencium kakiku sebanyak tiga kali, baru aku akan membawa Daniel ke rumah sakit...”
Dani terdiam. Ia berfikir, dalam keadaan begini, tak ada jalan lain kecuali menuruti semua kata-kata Anyelir demi menyelamatkan Daniel.
“Baik, aku akan melakukanya, demi mas Daniel...”
“Baguss...!! Cepat lakukan sekarang...!!”
“Ja...jangan Dani, mas nggak rela kamu melakukan...nya..”
__ADS_1
BERSAMBUNG