
Tanpa di duga Dani dan neneknya, Nathan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya, dan kotak tersebut berisi sebiah cincin berlian. Begitu berkilaunya saat Nathan mengeluarkanya hingga membuat Dani nganga karena terkejut.
“Na...Nathan...?”
Nathan tersenyum, lalu meraih tangan Dani.
“Dengan ini saya melamar kamu, sebagai tanda bahwa kamu udah aku ikat, dan aku sematkan cincin ini di jari manis kamu Rani...”
Dengan penuh kebahagian, Nathan menyematkan cincinya di jari manis Dani. hal itu di saksikan oleh nenek Eliza. Begitu sangat bahagianya nenek Eliza melihat cucunya di perlakukan sangat istimewa oleh Nathan. Bagitu pula hal yang sama di rasakan oleh Dani. Ia tak mengira akan begini dengan mantan pengawal suaminya dan juga pengawalnya. Matanya berkaca-kaca, saat Nathan menggenggam tanganya.
“Kamu bahagia..?” tanya Nathan yang spontan menghapus bulir air mata Dani yang menetes di pipinya. Dani hanya mengangguk, sedangkan Nathan masih berjongkok di depan Dani yang duduk di kursi.
“Rencana Tuhan begitu indah. Dengan caranya, kita telah di pertemukan. Dengan awal dan akhir yang begitu sangat mengesankan. Aku sangat bahagia sekai, bisa melamarmu hari ini. Aku tidak mau melihatmu bersedih dan meneteskan air mata lagi. Karena itu sangat menyakiti hatiku. Mulai hari ini aku akan berusaha membuat hidup kamu menjadi lebih berwarna dan hari-hari kamu penuh dengan pelangi kebahagiaan...”
Kembali Dani mengangguk lalu tersenyum. Kali ini, tak terbendung lagi. Nathan spontan memeluk Dani di depan nenek Eliza. Begitu juga dengan Dani, yang juga menyambut pelukan Nathan dengan tak kalah eratnya. Moment tersebut tak berlangsung lama. Nathan segera melepaskan pelukanya.
“Nenek, Dani, saat ini, saya hanya bisa menyematkan cincin ini dulu. Untuk lebih resminya, besok saya akan mengajak mama dan papa saya kemari...”
“Iya nak, terserah nak Nathan saja gimana-gimananya...” ucap nenek tersenyum bahagia.
Hari itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Dani. Setelah menyematkan cincin kepada Dani, walaupun sebagai simbol terlebih dahulu, Nathan segera pamit untuk pulang. Berjuta rencana telah memenuhi benaknya. Setelah pulang dari rumah Dani, ia berencana menemui mama dan papanya. Dan itu tak ia tunda-tunda lagi. Ia mengarahkan mobilnya ke kantor papanya. Dengan wajah berseri, dan bersemangat sekali, Nathan melajukan mobilnya. Sepanjang jalan, sesekali bibirnya mengembangkan sebuah senyuman dan sesekali juga terdengar suara siulan yang keluar dari bibirnya.
“ Akhirnya engkau persatukan aku dengan Rani ya Tuhan. Hamba sangat bersyukur bertemu dengan gadis sebaik dia ya Tuhan.”
Akhirnya mobil Nathan sampai di depan sebuah gedung perkantoran yang megah. Itulah gedung megah milik papanya. Diamond Grup. Nathan segera turu. Dengan ramahnya, Nathan menyapa setiap karyawan yang berpapasan denganya.
“Aduuuhh, ganteng banget sih anaknya pak direktur, andai saja ia jadi suamiku, pastiii.....”
“Heeehhh, jangan berkhayal...”
Itulah sekelumit percakapan yang terdengar saat Nathan melewati dua karyawan cewek papanya. Nathan menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul. Ia berjalan dengan tegapnya, dan sampai juga di depan pintu ruangan yang berbeda dari ruangan lainya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang di timbulkan dari jari Nathan.
“ Masuuk..”
Suara yang sangat berwibawa sekali menjawab dari dalam. Itulah tuan Felix, papanya Nathan.
Perlahan Nathan membuka pintu dan segera masuk. Dari jauh, tuan Felix menyambut putranya dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
“ Ada apakah gerangan, sehingga putra papa sampai nyasar ke kantor ini..? Dari aromanya, papa idah mencium bau ada maunya niih..” ucap sang papa sembari berdiri dari duduknya.
“ Hehe.., tau aja Pah..” jawab Nathan yang langsung memeluk papanya.
“ Gimana kabar kantor hari ini pah..? Apakah semuanya lancar..?” tanya Nathan setelah melepas pelukanya.
“ Seperti yang kamu lihat, semuanya lancar, daaan...”
“Dan apa pah...?”
“ Dan tambah makin maju...”
“ Itu sih Nathan nggak ragu lagi pah, kalau papa yang menjadi direkturnya, hehe...”
Tuan Felix berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Nathan mengikutinya dari belakang lalu duduk di samping papanya. Hembusan nafas yang berat namun lembut terdengar dari hidung tuan Felix.
“Juna, semakin hari umur papa semakin bertambah. Perusahaan sebesar ini, yang papa bangun dari nol, nantinya kamu yang akan mengurusnya. Papa harap, mulai sekarang, kamu belajar untuk memahami situasi di perusahaan ini, dengan kata lain, kamu bekerja di kantor papa ini. Kalu nggak kamu, mau siapa lagi Jun, adik kamu sudah bekerja di luar negri, papa yakin, dia nggak akan mau meninggalkan pekerjaanya..” ungkap tuan Felix sambil menatap putra sulungnya. Bukan langsung di jawab, Nathan membalas papanya dengan senyuman.
“Jika itu yang papa inginkan, baiklah, Juna akan menurutinya, tapi dengan satu syarat...” jawab Nathan sambil manggut-manggut manja.
“Waah rupanya sekarang syarat berlaku ya...”
“Ehehehehe...., iya pah, karena ini menyangkut hidup Juna..”
“Emmmm...” Nathan diam sejenak.
“Syaratnya, papa lamarin Dani buat Juna, gadis yang Juna cintai...”
“Kalau kamu benar-benar mencintainya, jangankan melamar, langsung deh papa nikahin...”
“Whaattt...? Beneran pah...?” Juna terkejut sampai matanya melotot.
“Iya bener, buat apa papa bohong. Papa juga pernah kaya kamu, pernah ngalamin masa muda dan bagaimana merasakan jatuh cinta sama mama kamu..”
“Ohhh, Juna like it papah, papah is the best...!!” ucap Juna penuh semangat sambil mengacungkan du jari jempolnya.
“Tapi jangan lupa, kamu harus secepatnya mengurus perusahaan ini, papa rasanya sudah capek Jun, mau beristirahat dan melihat cucu papa bermain, alangkah bahgianya nanti...”
“Iya pah, siaaaap. Sekarang Juna mau pulang dulu pah, mau bilang ke mama tentan hal ini, mama di rumah kan pah...?”
“Iya, mama kamu di rumah, mungkin lagi kumpul sama temen-temeny...”
__ADS_1
“Ooo..., kalau begitu Juna pamit dulu pah, sekali lagi makasi papa...” ucap Juna yang sudah berdiri dan memeluk papanya.
“Iya nak, hati-hati, jangan ngebut, oke...?”
“Siiippp pah...”
Tuan Felix tersenyum melihat putranya. sekaran ia sudah tenang, karena putra sulungnya mau meneruskan perusahaanya. Tuan Felix ikut merasakan kebahgiaan yang di rasakan oleh Nathan.
Nathan berjalan keluar dari ruangan papanya. Dengan lngkah yang tenang tapi pasti dan sangat kharismtik sekali, ia menyapa semua karyawan papanya yang berpapsan denganya. Tak heran jika semua karyawan papanya segan dan sangat menghormatinya, bahkan banyak yang mengaguminya. Selain tampan, ia juga sangat sopan, lebih-lebih kepada orang yang lebih tua darinya. Pokoknya banyak nilai plusnya deh dari seorang Nathan.
Nathan segera mengendarai mobilnya yang sudah disiapkan di depan pintu keluar. Dengan pelan ia melajukanya. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada petugas yang sudah menyiapkan mobilnya sebelum ia melajukanya tadi.
Sepanjang perjalanan, is senyum-senyum tipis. Bayangan wajan Dani selalu melintasi fikiranya. terbayang sebentar lagi, ia akan hidup bersama orang yang sangat ia cintai.
“Rani, my love. You are my only one in my life..”
Tak terasa, mobil yang di kendarai Nathan sudah sampai di rumah papanya. Pak satpam segera membukakan pintu pagar besi yang di kendalikan dengan remot kontrol. Tak perlu repot berlaris cukup dengan pencet tombol, pintu sudah terbuka sendiri.
“Terima kasih pak..”
Kata sederhana namun sangat menyentuh hati banyak orang. Itulah yang selalu di ucapkan Nathan kepada orang yang berbuat baik kepadanya.
Mobil segera di parkir dengan rapi. Sesaat ia pun keluar dan segera masuk ke dalam rumah.
“Maaahhh....”
Suara lembut Nathan memanggil mamanya.
“Iya Juna. Tumben kamu ke sini sayang, ada apa niihh...?” sambut mamanya yang keluar dari ruang tengah, dan nampak rapi sekali.
“Katanya mama ngumpul sama temen mama, mana kok gak ada mah..?”
“Baru saja pulang. Kok kamu tau mama ngumpul sama temen mama..?”
“Papa yang ngasih tau mah, sebelum ke sini tadi, Juna mampir ke kantor papa dulu...”
“Waah, mama makin penasaran nih, ada maksut apa kamu nyamperin mama sama papa, hayooo...?”
“Juna akan katakan, tapi Juna mbok ya di suruh duduk dulu to maaah...”
“Alaaahhh Junaa, kayak di rumah siapa to, ini juga rumah kamu, duduk tinggal duduk aja kok nunggu di suruh, kamu jangan aneh-aneh ahhh...” ucap nyonya Felix sambil mengacak rambut putranya.
__ADS_1
BERSAMBUNG