
Hari itu, untuk pertama kalinya, Dani pulang ke rumah mertuanya. Karena setelah menikah, ia langsung pulang ke rumah Daniel, suaminya. Lebih tepatnya, suami bayanganya saja.
“Kalian pasti capek kan? Sebaiknya kalian istirahat dahulu. Hari ini, papa ngga bisa ngobrol panjang lebar dengan kalian, karena papa ada klien penting dari Dubai. Ajak Dani ke kamar kamu Daniel, atau berkeliling rumah ini, biar dia mengenal penghuni rumah ini..” ucap tuan Wijaya dengan senyum wibawanya. Lelaki paruh baya itu begitu menyayangi Dani, sebagai menantu pertamanya. Karena dia lah, ia masih bisa menghirup udara bebas sampai saat ini.
“Iya pah. Ayo sayang, kita ke kamar..?” ucap Daniel yang membuatnya membelalakan kedua matanya.
A...apa..? Sayang..? Apa aku nggak salah dengar..?
Gumam Dani dalam hati dan menatap Daniel dengan pandangan penuh teka-teki. Tuan Wijaya tersenyum melihat anak dan menantunya itu. Dengan segera, beliau berangkat ke hotel karena ada janji dengan klien.
Daniel mengetahui bahasa isyarat yang di sampaikan lewat mata Dani. Ia pun segera menggandeng tangan Dani menuju kamar yang ia tempati dahulu. Agar tak ketahuan oleh papanya.
“Huhh...!! Kalau nggak karena papa, ogah aku gandeng tangan kamu..!” ucap daniel yang menghempaskan tangan Dani.
“Sakit, Mas..!” teriak Dani karena tanganya sedikit terbentur meja.
“Rasain...!!” umpat Daniel menyumpahi Dani.
Dalam hati, sangat dongkol sekali. Ingin rasanya ia gampar wajah suaminya, namun ia tak berani. Ia pun segera mengambil handphonenya dan berinisiatif menelfon nenek tercintanya.
“Hallooo.., neneek..?” ucap Dani yng telefonya sudah tersambung dengan neneknya.
“Hallo.., cucu nenek apa kabar? Kok gak telefon nenek?” sahut nenek Eliza di seberang sana.
“Kabar Dani baik dan sehat nek, nenek sehat kan..?” jawab Dani sambil memposisikan tubuhnya di sofa malas yang ada di kamar Daniel.
Hem, lagaknya udah kaya tuan putri saja.
Gumam Daniel yang melirik ke arah Dani, saat ia akan masuk ke kamar mandi. Dani tahu akan hal itu
“Iya sayang, nenek baik dan sehat juga, nenek kangen sama kamu Dani..”
“Sama nek, Dani juga sangat kangen sama nenek. Sekarang Dani berada di rumah papa, besok Dani berencana akan mengunjungi nenek.” ucap Dani dengan girangnya.
“Benarkah?”
“Iya nenek...”
“Baiklah, kalau begitu, besok nenek tunggu kedatangan kamu, sayang..”
“Iya nek...” jawab Dani yang sangat bahagia banget. Lalu tak lama keduanya berhenti menelefon.
Dani kembali meletakan handphonenya. Pandanganya kini ia alihkan untuk menyapu ke seluruh sudut di kamar itu. Ornamen dan semua pernak-pernik di kamar itu menyita perhatianya. Kini kedua matanya tertuju pada sebuah figura foto yang sudah lama, namun tetap terawat dengan baik. Sebuah foto yang di situ terdapat gambar tuan Wijaya, seorang wanita yang sangat cantik dan dua orang anak laki-laki. Sudah dapat ia tebak kalau salah satu anak lelaki yang ada di dalam bingkai foto tersebut adalah Daniel.
“Ehhemm..!!! Kamu tidak di perbolehkan sembarangan menyentuh benda di kamar ini. Mengerti..!?”
__ADS_1
“Aku cuma lihat saja, nggak akan menyentuhnya.”
“Bagus..!”
“Mas, aku mau minta ijin, besok aku mau ke rumah nenek..”
“Silahkan pergi ke mana saja kamu mau, asal kembali tepat pada waktunya. Kalau papa pulang kamu harus sudah ada di rumah..”
“Baik, Mas..”
Dani menjawab sambil menganggukan kepalanya.
“Oh ya mas, kalau boleh tau, itu foto ibu mas Daniel ya...?” tanya Dani yang masih tertarik pada foto tersebut.
“Iya. Sudah..! Jangan banyak tanya. Cepat kamu bersihkan badan kamu. Aku nggak mau kamarku tercemar oleh bau keringat kamu..!”
Dani tak menjawab.
Dasar, manusia galak, judes, menyebalkan..! Kalau saja...
Dani bergumam dalam hati sambil mengepalkan kedua tanganya. Lalu ia pun segera beranjak dan menuju kamar mandi.
Busyeeettt...!! Ini kamar mandi atau kamar spa. Komplit banget.
Tak henti Dani di buat terkagum. Itu baru kamar Daniel saja. Belum kamar yang lain. Ia pun segera menyalakan kran dan mengisi bathtub dengan air untuk ia berendam.
Hingga 1 jam, Dani baru keluar dari kamar mandi. Ia memakai piyama handuk, dan dengan pelan membuka pintu kamar mandi.
“Ke mana mas Daniel ya..?” gumamnya yang celangak-celinguk memastikan keberadaan Daniel.
“Aman, dia tak ada..”
Dani pun keluar dari kamar mandi. Karena kurang yakin, ia memeriksa seluruh sudut kamar tersebut, lalu segera mengunci pintunya, karena ia akan ganti baju.
Dani melangkah keluar kamar, dan mencari keberadaan dapur. Karena rumah itu begitu besar sekali, ia agak kesulitan menemukan di mana dapurnya.
“Non Dani..?” sapa Ken dengan hormat.
“Ka Ken..?” jawab Dani.
“Mau ke mana? Mari saya antar..?”
“A...anu kak, Dani....haus, dari tadi nyari dapur belum ketemu..” jawab Dani dengan malu.
Ken menahan tawa, lalu lalu berkata, “Mari saya tunjukan di mana dapurnya..” ucap Ken, dan Dani dengan malu mengikutinya.
__ADS_1
Ken berjalan melewati beberapa ruangan yang cukup besar dan megah, sekaligus Ken menjelaskan ruangan apa saja yang ia lewati bersama Dani.
Pantas saja aku tak berhasil menemukanya, menuju dapur saja, harus melewati beberpa ruangan yang besar kaya gini. Apa nggak capek bersihinya..?
Dani bergumam dalam hati sambil matanya tak bosan memandang setiap ruangan yang di laluinya bersama Ken.
“Nona, kita sudah sampai. Ini dapurnya. Perkenalkan, ini kepala dapur di sini, namanya bi Sena..”
”Dani..” ucap Dani yang membungkukan kepalanya dengan sopan.
“Bi Sena..” jawab bi Sena tak kalah ramahnya.
“Bi, tolong ambilkan minum untuk nona muda kita..”
“Baik Ken..”
Bi Sena segera bergegas dan mengambilkan minum nona mudanya. Setelah berkenalan dan menyapa bebrapa asisten rumah tangga lainya, Dani di antar Ken berkeliling rumah tersebut. Dari mulai di dalam rumah, sampai di luar rumah, dan mengelilingi taman yang sangat luas sekali.
Benar-benar orang tajir melintir. Rumah sultan ini mah. Aku jadi minder menjadi menantu di keluarga ini, rumahku saja hanya seper berapanya saja di bandingkan dengan rumah ini.
Dani terus saja berkata dalam hati. Kakinya serasa pegal.
“Kak Ken..?” pangggil Dani.
“Iya Non, ada apa..?”
“Dari tadi Dani gak lihat mas Daniel, di mana dia..?”
“Saya kurang tau nona, mungkin di ruang baca..”
“Ruang baca?” ucap Dani heran.
“Iya non, mas Daniel suka baca kalau lagi suntuk..”
“Kalau boleh, tolong antar Dani ke sana, Kak..”
“Mari non..”
Ken berjalan dan menunjukan di mana letak ruang bacanya. Sebuah ruangan yang berada di lantai bawah, dan orang lain tak akan tahu kalau di bawah lantai tersebut ada ruangan yang tersembunyi.
Ken menuruni anak tangga yang langsung terhubung dengan ruang baca tersebut.
“Itu mas Daniel non, silahkan non masuk sendiri..” ucap Ken yang menunjuk sesosok yang tengah asik membaca dengan mengunakan sebuah kacamata. Dani mengangguk, lalu perlahan dengan hati-hati mendekati Daniel.
Daniel yang mengetahui kedatangan Dani, segera menutup bukunya, dan berdiri untuk meletakan kembali ke tempatnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG