Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 22


__ADS_3

Menjadi istri Daniel yang sah, adalah status yang sebentar lagi, bahkan terhitung beberapa jam lagi, akan Dani sandang. Impian setiap wanita yang ingin sempurna di dalam hidupnya, dan kodrat sebagai wanita, menjadi istri, ibu dan nenek. Namun itu, hanyalah sebatas kata atau ucapan bagi Dani. Karena dalam pernikahanya, tak ada cinta sama sekali. Hanyalah kepalsuan.


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan rumah Dani. Gadis itu terlihat sudah selesai di rias dan sedang dududk di ruang tamu bersama nenek, mbak Risa dan semua karyawanya yang bertugas sebagai pengiring pengantin wanita.


Dani terlihat gelisah. Hari ini, tepat di mana ia akan melepas masa lajangnya, dan menjadi seorang istri.


“Permisi, maaf saya di tugas kan menjemput nona Dani, apakah sudah siap..?” ucap laki-laki yang saat ini tengah berdiri dan berbicara kepada Risa, dia lah Ken.


“Tuan Ken? Kebetulan kami sudah siap, dan calon mempelai wanita juga sudah siap..” jawab Risa.


“Nak Ken, kami semua sudah siap...” Nenek Eliza Menimpaliny.


“Baiklah, mari kita segera berangkat..”


Dani berjalan dengan di bantu Ken dan Risa. Karena gaun pengantinya harus di pegangi bagian belakangnya saat memasuki mobil agar tidak tersangkut.


Rombongan mulai perlahan mengiringi mobil pengantin dari belakang menuju Beverly Hil's hotel.


Iring-iringan pengantin wanita tiba di hotel tepat pada waktunya. Semua rombongan memasuki hotel dan menempati ruangan di mana akan di langsungkanya pesta pernikahan Dani dan Daniel. Suasana di ruangan yang cukup besar dan sangat mewah itu terlihat meriah. Para tamu yang menghadiri acara itu sudah menantikan acara pernikahan anak sulung dari pewaris Wijaya Grup itu segera di langsungkan.


Danil sudah berdiri di depan para tamu. Ia menunggu pengantin wanitanya datang. Di antara para tamu undangan, sepasang mata menatap ke arah Daniel. Sepasang mata yang tampak sedikit kesal, namun ia hanya bisa menatapnya mengucapkan janji suci bersama gadis pilihan orang tuanya.


Saatnya tiba. Dani berjalan di gandeng oleh Ken menuju ke arah Daniel.


Gak salah liat nih? Ternyata gadis itu cantik juga, tapi masih kalah sama Anyelir. Tetep Anyelir yang nomor satu.


Dani berdiri di samping Daniel. Suasana begitu khidmat. Para tamu undangan begitu antusias mengikuti jalanya proses pernikahan tersebut. Dan akhirnya kata ' Sah ' telah di ucapkan oleh saksi dari kedua belah pihak pengantin.


Para tamu undangan satu persatu mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Karena tak hentinya tamu memberi ucapan selamat, tangan serta pipi Dani sampai capek tersenyum basa-basi menjawab ucapan selamat dari mereka. Hingga akhirnya acara selesai pada sore harinya.


“Kamu hati-hati di rumah suamimu ya nak, patuhilah segala perintahnya, cuuuppp...” Agak sedih nenek berkata kepada Dani. Namun, hanya itulah kata yang ia ucapkan kepada cucunya agar menjadi istri idaman bagi suaminya.


“Neneeeekk.....” ucap Dani yang memeluk neneknya sambil menangis.

__ADS_1


“Jangan khawatir nek, Daniel akan menjaga istri Daniel buat nenek..”


“Oh terima kasih nak Daniel, nenek merasa lega, karena Dani berada di tangan orang yang tepat...”


Setelah berpamitan, semua rombongan nenek Eliza segera pulang. Kini Dani dan Daniel satu mobil menuju rumah kaca, rumah tempat tinggal Daniel.


“Kita langsung ke rumah kaca..?” tanya Nathan yang sudah siap di belakang setir mobil pengantin.


“Iya. Saya mau cepat istirahat, capek..!”


Dani hanya diam. Mobil pun melaju. Sepanjang perjalanan Dani melihat pemandangan dari kaca jendela.


Nanti apa yang harus aku lakukan sesampainya di sana? Langsung istirahat atau bagaimana..? Ahh, kenapa tadi aku nggak tanya nenek dahulu sih..? Aaahhh....


Dani terus saja memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk pertama kalinya pulang ke rumah suaminya.


Tak lama mobil memasuki sebuah halaman yang luas. Sebuah rumah yang begitu besar dan mewah, menjadi pusat perhatianya.


“Jangan bengong saja! Apa kamu akan terus melihatnya..?” ucapan Daniel membuyarkan lamunan Dani.


“Maaf, kalau anda tidak keberatan, boleh saya bantu memegang gaun anda?” suara Nathan terdengar di telinganya, dan membuat Dani terkejut sekaligus malu.


“Eh..., A...anu.., saya bisa sendiri kok, ga papa...” ucap Dani yang kemudian berjalan memasuki rumah tersebut. Nathan hanya tersenyum tipis melihat nona mudanya yang bersikap malu-malu kepadanya.


“Di mana kamarku?” tanya Dani dan bergumam sendiri. Ia kebingungan berada di rumah yang sangat besar dan sangat asing baginya.


“Non Dani..?” sapa seseorang yang mengejutkanya.


“I..iya.., bibi siapa..?” tanya Dani.


“Saya bi Marta, pembantu mas Daniel, cantik sekali non Dani..”


“Terima kasih bibi. Boleh Dani bertanya kepada bibi..?”

__ADS_1


“Si enon mah lucu, ya boleh banget non, silahkan mau tanya apa..?”


“Bibi.., kamar saya di mana? Tolong bibi anterin saya..”


“Oh mari non...?” Dengan segera bibi mengantarkan majikan mudanya ke kamar dan membantunya membawakan koper yang berisi bajunya.


“Silakan masuk nona, mas Daniel ada di dalam, mungkin sudah menunggu nona..”


“Iya bi, terima kasih..”


“Sama-sama non...”


Si bibi pergi dari hadapan Dani dan kembali melanjutkan kerjaanya. Agak ragu Dani memberanikan diri mengetuk pintu.


Tok tok tok


“Daniel..., apa kamu ada di dalam? Bolehkah saya masuk?” Sesaat tidak ada jawaban. Lalu kembali Dani mengetuk pintu dan mengulanginya beberapa kali. Akhirnya ia memberanikan diri membuka handel pintu tersebut.


Dari tadi di panggil malah enak-enakan main ponsel. Apa telinganya udah tuli apa.


Gumam Dani mengumpat dalam hatinya sendiri.


“Nanti kamu tidur di sofa. Aku nggak mau tidur seranjang sama kamu. Nih bantal sama selimutnya..!” Daniel melempar satu bantal dan selimut ke arah Dani, tanpa peduli apakah Dani sudah berganti baju atau belum.


“Nggak usah kamu bilang begitu, aku pun sudah tau diri. Aku juga tak ingin tidur seranjang sama kamu..” Dani meletakan kopernya dan mengambil peralatan make upnya. Ia mulai membersihkan make-up yang masih menempel di wajahnya. Setelah selesai ia masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut, dan mulai membersihkan badanya. Dengan guyuran air kran yang mengalir di atas kepalanya, membuatnya sedikit mengurangi rasa jengkel kepada Daniel. Hingga setengah jam, ia baru keluar dari kamar mandi tersebut.


“Mandi apa tidur sich? Lama banget..!” umpat Daniel yang kemudian masuk ke kamar mandi. Dani duduk di sofa. Area kecil yang di berikan Daniel untuk ia istirahat. Lalu mengambil handphone dan memainkanya.


Tok tok tok


“Mas Daniel, non Dani, makan malam sudah siap...” Suara bibi terdengar dari balik pintu.


“Iya bibi, bentar lagi kami akan ke meja makan..” jawab Dani yang membuka pintu kamarnya. Bibi mengangguk dan tersenyum, lalu kembali ke dapur.

__ADS_1


Dani kembali masuk. Kebetulan Daniel sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk dan setengah bertelanjang dada. Spontan Dani membalikan badan melihat Daniel seperti itu.


BERSAMBUNG


__ADS_2