Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 106


__ADS_3

Dani tak menghiraukan larangan Daniel. Di dalam benaknya, keselamatan Danielah yang terpenting saat ini. Ia tak peduli walau harus mengemis keibaan Anyelir agar cepat membawa Daniel ke rumah sakit. Dani meletakan tubuh Daniel di lantai dengan perlahan. Ia sendiri segera merangkak ke arah Anyelir.


“Sayaanggg.., jang...ngan lakukan....” suara Daniel semakin melemah.


Di saat yang bersamaan, Nathan dan Evan datang tepat pada waktunya.


“Berhenti...!!!”


Suara lantang Nathan mengagetkan semua yang berada di kamar itu. Anyelir menoleh ke belakang, ia melihat Nathan dan juga Evan sudah berdiri di belakangnya.


“Jangan ikut campur apa lagi mendekat, atau aku akan nekat...!!” teriak Anyelir dan dengan cepat merangkul Dani seraya menodongkan pistolnya ke kepala gadis itu.


“Oke, oke, saya nggak akan mendekat, tolong jauhkan pistol kamu dari Dani, please....” kilah Nathan yang sangat khawatir dengan Dani.


“Anye, kenapa kamu melakukan semua ini..? Kalau di bicarakan baik-baik kan nggak perlu sampai begini..” sahut Evan yang muncul dari belakang Nathan. Perlahan ia melangkah maju dengan pelan.


“Okee, walaupun usiaku lebih muda, tapi aku paham perasaan kamu. Aku mengerti, kamu sangat mencintai kak Daniel. Dan semua kemarahan kamu, tapi tidak harus dengan cara seperti ini..”


“Stopp Van, jangan maju lagi...!!” sergah Anyelir yang gantian menodongkan pistol ke arah Evan.


Momen itu tak di siakan Ramon. Saat Anyelir lengah dan tengah fokus kepada Evan, dengan sigap ia meringkus Anyelir.


“Ramon..!!! Kamu..!! Lepaskan....!!”


Ramon berhasil meringkus Anyelir dan berusaha merebut pistol dari tanganya. Sedangkan Dani, jatuh tersungkur di lantai. Nathan segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat.


“Rani sayang, maafkan aku yang datang terlambat....”


“Iya Nath, tapi tolong, cepat segera bawa mas Daniel dari sini, ia banyak sekali kehilangan darah...” ucap Dani sambil menunjuk ke arah Daniel.


“Mas Daniel.. ?” teriak Evan lalu segera menghampirinya. Nathan segera mengambil tinndakan. Ia menelfon


sebuah rumah sakit untuk mengirimkan mobil ambulance. Dan pihak rumah sakit segera bertindak cepat. Dan ia juga menghubungi polisi.


“Ramon masih dengan susah payah merebut pistol dari tangan Anyelir. Setelah pistol berhasil ia kuasai, ia menaembakan peluru yang masih masih tersisa ke atas. Sehingga menimbulkan bunyi letupan yang sangat nyaring dan keras.


“Kamu pengkhianat Ramon..!!" ucap Anyelir yang berhasil lepas dari ringkusan Ramon.


“Aku lebih memilih jadi pengkhianat, aku tak ingin kamu terjerumus terlalu jauh Anye..?”

__ADS_1


“Ah persetan dengan semua omong kosong kamu..!!”


“Anye, aku ingin kamu menjadi seperti yang dulu lagi, Anye yang aku kenal. Anye yang baik. Kenapa hanya karena cinta dan cemburu bisa membuat kamu menjadi berubah seperti ini?”


“Diam kamu, Mon..!!! Diam..!!”


“Baiklah, aku akan diam, tapi satu yang harus kamu tau, aku sangat mencintai kamu Anyelir. Bahkan sejak kita masih sama-sama memakai seragam putih biru, aku sudah menyukaimu sampai sekarang dan sampai detik ini. Tapi, alangkah kasihan diriku ini, karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Dengan begini, sekarang aku sudah lega, sudah mengungkapkan semua apa yang ingin aku ungkapkan.”


”Ramoon...? Ka...kamuu...?” ucap Anyelir terbata setelah mendengar pengakuan dari sahabatnya sejak kecil itu.


“Iya Anyelir, itulah yang aku rasakan sampai saat ini, tapi kamu tak pernah tau kan..? Bahkan untuk menoleh ke arahku saja kamu tak bisa walau sedikit saja. Kamu terus menatap Daniel. Sekarang, aku sudah tidak ada beban apa pun. Uneg-uneg yang ingin ku utarakan sudah kamu dengar...” sambung Ramon lagi seraya tersenyum.


Anyelir tertegun. Pistol yang ada di tanganya jatuh begitu saja ke lantai. Ia tak menyangka Ramon akan berkata seperti itu. Baru kali ini hatinya tersentuh dengan ucapan tulus dari seorang Ramon. Dari sekian banyak lelaki yang ia kenal, rata-rata hanya menginginkan tubuh sexynya.


“Van, mas sudah tak kuat lagi, rasanya mas sudah tak sanggup...”


“Bertahanlah mas, bentar lagi ambulance akan datang..” jawab Evan yang memangku kepala kakaknya.


Beberapa saat kemudian, polisi datang bersamaan dengan ambulance. Anyelir di tangkap karena tindak kejahatan dan kriminal yang ia lakukan. Begitu juga dengan Ramon. Ia bersama Anyelir di bawa ke kantor polisi. Sedangkan Daniel dan Dani, segera di larikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Daniel kehilangan banyak darah. Nathan menemani Dani ke rumah sakit sekaligus menjaga Daniel selama dalam perjalanan ke rumah sakit. Evan mengikuti mobil ambulance dari belakang.


“Mas Daniel, mas harus kuat. Bentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit, oke..?”


“Iya...i...iya Dani...”


Tak lama, sampailah ambulance yang membawa Daniel ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, Daniel sudah tak sadarkan diri. Perawat segera membawanya ke ruang IGD. Dokter segera menyuruh beberap suster menyiapkan operasi. Karena kondisi Daniel sudah sangat menghkhawatirkan. Ia kehilangan banyak darah. Tindakan dokter sangat cepat. Namun ada satu kendala. Karena kehilangan banyak darah, Daniel membutuhkan transfusi darah. Sedangkan stok darah yang sama dengan Daniel sedang habis.


“Maaf, apakah di antara keluarga pasien ada yang sama golongan darahnya...? karena stok darah yang sama dengan pasien saat ini sedang kosong. Kami sudah menghibungi PMI, mereka juga tak punya stok golongan darah tersebut...”


Mendengar hal itu, Dani yang sedang duduk bersama Nathan segera berdiri dan menghampiri dokter yang tengah berbicara dengan Evan.


“Maaf dok, kalau boleh tau golongan darah pasien apa..?”


“AB, apakah nona sama golongan darahnya dengan pasien. ?”


“Oohhh, suatu kebetulan, saya juga AB dok, saya akan mendonorkan darah saya untuk pasien. Cepat ambil darah saya dok, agar pasien bisa di selamatkan..”


“Baiklah nona. Sus, bawa nona ini ke ruang donor darah..”


Seorang suster membawa Dani ke sebuah ruangan. Di sana ia segera di periksa kesehatanya, barulah suster itu menancapkan jarum di tanganya. Tak lama berselang, darah mulai mengalir melewati selang yang bermuara di kantong plastik penampung darah.

__ADS_1


Tak berapa lama, stok dua kantong darah sudah siap. Badan Dani terasa lemas. Nathan segera memberikan segelas susu yang telah di sediakan khusus untuk Dani sehabis donor darah.


Suster segera membawa dua kantong darah tersebut ke ruang operasi.


“Rani sayang, ini di minum dulu...”


Dani segera bangkit lalu meneguk segelas susu tersebut. Nathan menatap wajah gadisnya yang agak bengkak di sekitar bibirnya, karena mendapat tamparan beberapa kali dari Anyelir.


“Sakit yach...?” usap Nathan pada sudut bibir Dani dengan lembut.


“Sedikit Nath, tapi nggak papa kok..” Senyum Dani menghiasi wajahnya yang tampak begitu lelah. Nathan begitu sedih, kenapa dia harus datang terlambat.


“Nathan, kita ke depan ruang operasi saja, menunggu operasi mas Daniel selesai, karena saya berhutang nyawa kepadanya...”


Cuuuuuppp


Nathan mencium kening Dani begitu lama sekali. Penuh kehangatan dan kasih sayang. Ungkapan yang mendalam dari dalam hatinya yang tak dapat ia sampaikan dengan kata-kata. Dani memejamkan mata. Hangat bibir Nathan menempel di keningnya. Sesaat Nathan melepaskanya.


“Ayo, kita ke sana sekarang...?” Dani menganggukkan kepala.


Keduanya segera menuju ke ruang operasi. Dari kejauhan terlihat tante Ema, tuan Wijaya, Ken dan Evan sudah duduk menunggu di depan ruang operasi.


“Tante, papa...?” sapa Dani yang datang bersama Nathan.


“Dani sayang....” Tante Ema menghambur memeluk Dani. Bagaikan memeluk putrinya sendiri, begitu hangat dan erat. Lalu mengusap kepala Dani dengan lembut.


“Evan sudah menceritakan semuanya sayang, sekarang kamu tak perlu khawatir, karena wanita gila itu sudah meringkuk di dalam penjara. Sekarang kita banyak berdoa buat kesembuhan Daniel...” Tak kuasa menahan air mata, Dani hanya menganggukan kepala dalam pelukan tante Ema.


“Paah...” gantian Dani memeluk mantan papa mertuanya. Tuan Wijaya menepuk-nepuk punggung Dani pelan.


“Semua akan baik-baik saja nak..”


Kembali Dani menganggukan kepala. Dari jauh, nenek Eliza dan Risa berjalan dengan agak tergesa menghampiri mereka.


“Nenek...?”


Nenek Eliza merentangkan tanganya menyambut cucunya.


“Nenek...." ucap Dani memeluk neneknya begitu erat sekali.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2