
Daniel merampas ponsel yang di pegang oleh Dani, lalu membantingnya dengan keras hingga membentur tembok, dan terpisah menjadi beberapa bagian. Kini ponsel tersebut hancur sudah. Melihat ponselnya, Dani hanya bisa menangis. Kesempatanya untuk meminta tolong kepada Evan, tak ada lagi. Dani hanya bisa berjongkok dan memunguti kepinganya.
“Kamu mau hubungi Evan kan? Hhaah..!! Lihat, lihat apa yang akan saya lakukan ke kamu..!!” Dani semakin bernafsu saja menyakiti Dani.
Kedua lelaki yang membawa Nathan dengan paksa tersebut, rupa-rupanya bodyguard Daniel yang baru. Ia merekrutnya tanpa sepengetahuan Nathan. Karena Daniel sudah sangat benci kepada Nathan, kini ia tak melihat kebaikan Nathan yan dulu pernah menyelamatkan nyawanya.
“Lepaskan aku..!!! Kalian mau bawa aku ke mana..!”
Nathan terus berontak, namun sia-sia saja. Kedua lelaki itu kini telah mengikat kaki dan tangan Nathan, membuatnya tak bisa untuk bergerak. Mulutnya pun di tutup dengan plaster warna hitam. Dengan mudah, kedua lelaki tersebut membawa Nathan ke suatu tempat, dan menutup wajahnya dengan kain hitam. Mobil yang membawa Nathan terus melaju, meninggalkan kota tempat di mana Dani tinggal.
“Mas Daniel, Dani mohon, jangan sakiti Nathan, dia tak tahu apa-apa..” ucap Dani menghiba di hadapan Daniel. Melihat Dani seperti itu, bibirnya tersenyum sinis.
“Kamu tahu, kenapa aku berbuat demikian? Haaahhh....!!” Bentak Daniel kini dengan seenaknya. Tubuh Dani bergetar, ketakutan mendengar suara bentakan Daniel yang begitu keras, dan terdengar oleh bi Marta.
“Kenapa lagi dengan non Dani dan juga mas Daniel..? Pakai ngancurin ponsel non Dani segala...? Dan tadi Nathan di bawa oleh lelaki yang tak di kenal..?” gumam bi Marta yang mengintip dari dapur.
“Semakin ke sini, semakin nggak bisa di biarin kelakuanya mas Daniel. Sebaiknya saya beri tahu aja mas Evan..!” Bibi segera pergi ke kamarnya. Dengan pelan, ia mengambil ponselnya dan segera memencet telefon rumah utama, yakni rumah tuan Wijaya.
Tit tut tut tut tit tit tuuuutt
Bunyi keeped yang di pencet oleh bi Marta.
Tuuuuuuuutttt ttuuuuuuuutttt
Sesaat telefon tersambung dan berdering, namun belum juga diangkat.
“Siapa sih malem-malem telefon?” ujar Evan yang tengah duduk di ruang tengah karena sedang menyelesaikan pekerjaanya. Karena si bibi udah tidur, Evan berdiri kearah telefon rumah yang terus saja berdering.
“Hallo selamat malam? Dengan siapa ini?” ucap evan dengan begitu sopanya.
“Syukurlah, ini bi Marta mas. Gawat mas Evan, non Dani bertengkar dengan mas Daniel, kali ini bibi kasihan dan tak tega, tadi bibi melihat Nathan pengawalnya mas Daniel, di bawa dua orang lelaki suruhanya mas Daniel, entah apa yang terjadi, bibi kurang tau mas. Bibi mohon, sebaiknya mas cepat datang ke sini, tolong...?” ucap bibi memohon dengan sangat.
__ADS_1
“Sebenarnya apa sih maunya mas Daniel? Baiklah, Evan akan ke sana sekarang bi, bibi tenang saja, semua akn baik-baik saja kok, sekarang bibi tutup telfonya, Evan akan segera meluncur ke sana, oke..?”
Setelah menjawab, bibi mematikan telefonya.
“Mas Daniel, mas Daniel.., kamu mau berulah apa lagi sih..?” ucap Evan yang merapikan laptopnya dan meletakan kembali ke kamarnya. Ia menyambar jaketnya dan setelah itu segera pergi meninggalkan rumah utama menuju rumah Daniel. Sedangkan tante Ema sudah lelap di kamarnya.
Kembali bibi mengintai Dani dan Daniel yang masih berada di tempat tadi.
“E..nggak mas..” jawab Dani takut-takut.
“Karena dia berani mencintai kamu..!!” Dani kaget, namun itu hanya sesaat.
Kali ini aku tidak boleh takut, aku harus berani. Karena di luar sana, orang yang telah berusaha membuat aku bahagia telah kamu sakiti mas Daniel.
“Dani tahu, dan Dani secara sadar menerima rasa cintanya. Toh selama ini kita tidak saling cinta, jadi kita akhiri saja semuanya, mas bisa bahagia dengan Anyelir.” Perkataan tegas Dani membuat Daniel semakin bersemangat saja mempermainkanya.
Daniel bertepuk tangan mendengar ucapan Dani. Sambil memutari Dani yang tengah berdiri, ia berkata kepadanya.
“Kalau aku tidak mau bagiamana? Aku mau kau tetap di sampingku dan menderita, istriku tersayang..!” Daniel memegang dagu Dani yang terlihat sangat marah kepadanya.
“Silakan..!! Jika itu membuat mas puas! Tapi yang perlu mas ketahui, kali ini Dani tidak akan lemah lagi..!!”
“Hahahahaa.....!!!! Sungguh yang berdiri di hadapanku ini Dani si gadis bodoh itu? Atau sekarang telah berubah menjadi Dani si gadis pemberontak..?”
“Cukuupp..!!! Sekarang katakan mas, kemana kedua lelaki suruhan mas itu membawa Nathan..!?”
Ketakutan sudah tak menghinggapi Dani lagi. Kini yang ada berani dan berani untuk menolong Nathan, sang pengawal suaminya yang telah mencintainya. Entah karena dorongan apa, yang jelas sekarang keinginan Dani sangatlah kuat, untuk mencari tau keberadaan Nathan.
“Begitu ingin tahunya kamu..?” tanya Daniel dengan ekspresi wajah seolah sedang meledek Dani.
“Iya. Cepat katakan mas..”
__ADS_1
“Bagaimana kalau ada syaratnya..?” Lagi-lagi Daniel mengajukan syarat. Dan sudah dapat di tebak oleh Dani, pasti itu pilihan yang sangat sulit.
“Katakan saja apa syaratnya, sebisa mungkin akan saya turuti..”
“Ckckck..., sungguh pengorbanan yang sangat luar biasa sekali. Baiklah, saya akan bawa kamu sekarang juga, dan saya akan katakan syaratnya di hadapan orang yang ingin kamu lindungi itu..”
Dengan kesepakatan yang telah di setujui oleh Dani, malam itu juga, berangkatlah keduanya menuju tempat di mana Nathan kini di sekap oleh kedua lelaki tadi.
“Itu kan mas Daniel? Mau ke mana malam-malam begini dengan kak Dani? Aku ikuti saja..” Tindakan Evan kali ini bisa di bilang tepat. Saat ia sampai di jalan di depan rumah Daniel, ia melihat mobil Daniel keluar dari rumah tersebut. Dengan inisiatif yang sangat cerdas, ia mengikuti mobil kakaknya, dengan jarak yang di buat cukup agak jauh, agar ia tak tahu kalau sedang di ikuti.
Mobil yang di bawa oleh Daniel melaju menyusuri jalan dan perlahan tapi pasti meninggalkan kota tempat mereka tinggal. Tanpa ia menyadari bahwa Evan telah mengikutinya sejak dari tadi.
“Luar kota? Mau ke mana kamu mas Daniel..?” gumam Evan sambilenyetir.
Dani yang duduk di sebelah Daniel, terlihat sangat gelisah. Ia takut terjadi apa-apa dengan Nathan. Daniel yang sesekali melirik ke arah Dani, tersenyum sinis sekali.
Sebentar lagi, permainan akan segera di mulai gadis bodoh, Hahaha...
Dalam hati, Daniel menertawakan Dani. Ia begitu gampang sekali di perdaya. Setelah menempuh satu jam perjalanan, sampailah mereka di satu rumah, dengan bangunan yang sangat kokoh sekali, dan terlihat sangat terawat. Namun aneh, tak ada satupun penjaga atau pembantu yang membukakan pintu pagar di rumah itu. Semuanya serba otomatis.
“Ini kan rumah papa yang tak boleh di kunjungi? Kenapa mas Daniel masuk ke sini secara diam-diam..?” gumam Evan yang masih tak mengerti.
“I..ini rumah siapa, mas?” tanya Dani saat masih berada di dalam mobil.
“Jangan banyak tanya..! Ayo cepat turun..!!”
Dani segera turun. Ia melangkah mengikuti Daniel memasuki rumah tersebut. Suasana begitu sepi. Dengan penerangan yang agak redup, menambah suasana berkesan horor.
“Ini rumah siapa, mas?” tanya Dani sambil mengedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan itu. Ruangan bergaya Eropa, dan sudah lama tak di huni, namun teyap terjaga kebersihan dan kerapianya.
“Aku bilang diam! Jangan banyak tanya..!” ucap Daniel yang kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu tersebut.
__ADS_1
“Di mana Nathan mas Daniel..?” Daniel menatap Dani. Ia sangat terganggu saat Dani mengucapkan nama Nathan.
BERSAMBUNG