Cinta Nathan

Cinta Nathan
Episode 37


__ADS_3

Malam itu Nathan dan Dani makan bersama di warung kaki lima. Kesedihan Dani kini terobati sudah. Nathan sang pengawal suaminya, telah menghibur duka laranya.


“Non mau pesan apa?” tanya Nathan yang duduk di hadapan Dani.


“Terserah kamu saja Nathan, sama seperti kamu, tapi jangan pakai nasi..”


“Kenapa nggak pakai nasi, Non? Kalau boleh Nathan memberi saran, jangan lah non melakukan diet atau apalah itu, tar takutnya lambung non sakit..?”


“Aku enggak diet kok..”


“Pakai nasi dikit yach...?” Bujuk Nathan dan Dani mengangguk.


Nathan memesan satu porsi kepiting saus asam manis ukuran besar dan dua piring nasi. Tak berapa lama pesanan pun datang.


Dani menatap hidangan yang ada di depanya. Lalu mulai akan mengambil bagian capitnya untuk di ambil dagingnya.


“Tunggu dulu non, biar Nathan saja yang mengupaskan buat non..”


Nathan dengan cekatan mengupaskan kepiting untuk Dani.


Andai suami aku sepertimu Nathan, pasti aku akan sangat bahagia sekali.


Gumam Dani dalam hati, saat melihat Nathan dengan sabar mengambilkan daging kepiting tersebut.


“Silahkan di makan, non?”


“Terima kasih Nathan..”


Dani dengan pelan kemudian menyantap makanan yang ada di depanya. Nathan yang melihat Dani makan, tersenyum karena majikan mudanya kini bisa membuang sedikit kesedihanya.


Makan malam pun selesai. Kini saatnya mereka berdua pergi dari tempat itu setelah Nathan membayarnya.


“Nathan, terima kasih untuk malam ini, kamu telah traktir aku makan, lain kali aku akn traktir kamu ganti..”


“Sudah lah non, anggap saja ini sebagai perayaan karena kita telah sahabatan, oke..?”


Dani tersenyum. “Kamu lucu ih, masa sahabatan aja harus di rayakan? Hehe...” ucap Dani dan tanpa sadar ia tersenyum lepas di hadapan Nathan. Sejenak Nathan berhenti dan menatap Dani.


“Saat non tersenyum begini, non terlihat sangat cantik sekali..” ucap Nathan yang membuat Dani terdiam.


“Mulai saat ini, non harus menegakan badan, hadapi Anyelir dan mas Daniel non, non berhak bahagia, jangan lemah, non gak boleh kalah, non mengerti..?”


“Tapi Nathan, apa aku sanggup..?”


“Nathan yakin, non pasti bisa. Non harus bisa membuat mas Daniel suatu saat menyadarinya, bahwa non adalah mutiara berharga, Nathan akan selalu mendukung non Dani..”

__ADS_1


Mendengar perkataan sang pengawal suaminya, hati Dani meras tenang, merasa kuat.


“Baiklah Nathan, mulai sekarang, aku tidak akan mengalah lagi, aku akan lawan mereka..?”


“Nah begitu non, harus kuat...!!”


“Iya Nathan...” jawab Dani dan mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tak berapa lama, sampailah mereka di rumah. Dani memutuskan tidur di kamar belakang, yang sebenarnya itu kamar yang di sediakan untuk pembantu. It's okay, kamarnya juga nggak terlalu jelek kok.


Nathan dan bi Marta membantu membersihkanya.


“Selamat malam dan selamat tidur non Dani..?”


“Iya Nathan, sekali lagi terima kasih...”


“Sama-sama Nathan..”


Dani segera merebahkan badan dan Nathan pergi ke kamarnya.


Ohhh Tuhan, jangan biarkan non Dani menderita, lindungilah dia, suatu saat nanti, kamu pasti akan bertemu dengan orang yang tepat, Non.


Gumam Nathan saat ia merbahkan tubuhnya. Malam kian larut. Suara jangkrik yang mengerik semakin jelas saat malam semakin sunyi. Sang malam dengan setia menemani tidur hingga semua insan di muka bumi ini lelap dalam tidurnya.


***


“Pagi bi Marta, apakah non Dani sudah bangun..?” tanya Nathan yang baru saja kembali dari lari pagi dan melewati dapur.


“Nathan? Sepagi ini udah lari pagi?”


“Iya bi, biar badan sehat..”


“Non Dani belum bangun, tuh pintu kamarnya masih tertutup rapat...”


Pintu kamar yang di tempati Dani masih tertutup dengan rapat. Sang majikan masih terbuai oleh mimpi sesaat yang membuatnya lupa sejenak akan masalah duniawi.


Daniel dan Anyelir terlihat berjalan menuju dapur, di mana bi Marta dan Nathan tengah berbincang.


“Selamat pagi mas Daniel..?” sapa Nathan yang masih berpeluh karena habis lari pagi.


“Pagi Nathan, bi Marta. Oh ya, di mana gadis kampung itu?” tanya Daniel yang berdiri di hadapan mereka.


“Non Dani masih tidur mas Daniel, dan ada di kamar itu..?” jawab bi Marta dan menunjuk kamar kecil di sebelah kamarnya.


“Masih enak-enakan tidur rupanya...!!”


Dengan segera Daniel melangkah menuju kamar yang di tunjukan bi Marta. Nathan dan bi Marta saling berpandangan cemas, mereka khawatir dengan perlakuan yang akan di berikan Daniel kepada Dani.

__ADS_1


Braaakkkkk


Pintu kamar di buka dengan keras dan membentur tembok hingga menimbulkan suara yang mengagetkan Dani. Gadis itu terperanjat dan seketika bangun dari tidurnya.


“Bangun!! Kenapa masih enak-enakan tidur di sini!! Cepat siapin sarapan buat aku, aku nggak mau kalau bibi yang nyiapin, harus dari tangan kamu sendiri..!! Paham..!!”


Dani masih duduk terdiam. Jantungnya masih berdetak dengan cepat karena suara pintu tadi, dan kini harus mendengar perkataan Daniel yang membentak.


“Baik mas Daniel, mas mau sarapan apa?” tanya Dani dengan halus dan itu membuat Daniel heran. Karena dengan tenang Dani menjawab.


“Aku mau omelet, yang enak..!!”


“Baiklah, saya akan membuatnya..” Dani berdiri dan akan beranjak, dari tempat tidurnya.


“Eits, buatkan juga untuk kekasihku, Anyelir..”


“Jangan khawatir, saya akan membuatkanya juga..” jawab Dani di sertai senyuman.


“Kita pergi dari sini sayang..?” Ajak Anyelir dan Daniel mengangguk.


Dani segera membasuh wajahnya terlebih dahulu, lalu segera membuatkan apa yang di mau oleh Daniel. Nathan dan bi Marta saling berpandangan. mereka tak percaya dengan apa yang di lakukan Dani.


N**on Dani, kamu wanita yang tegar, wanita yang kuat. Salahkah jika hati ini mulai menyukai non Dani, entah kapan perasaan itu muncul, tapi yang pasti, mulai saat ini saya akan selalu di samping non Dani, walau perasaan ini tak akan pernah bisa saya ungkapkan.


Dalam sekejap saja, dua porsi omelet telah tersaji di atas meja makan.


“Mas Daniel, omeletnya sudah siap..” kata Dani yang menghampiri Daniel di runag tengah.


“Ayo sayang, kita makan omelet buatan gadis kampung ini, enak atau tidak..” Anyelir tersenyum mengikuti langkah Daniel. Dani mengikuti mereka.


Daniel dan Anyelir melangkah menuju meja makan. Daniel menggeserkan kursi untuk Anyelir. Lalu berdua mereka mulai makan.


Waoooww..!! Ini omelet yang sangat lezat yang pernah aku makan. Kenapa masakan gadis bodoh ini begitu lezat.


Gumam Daniel yang baru menikmati dua potongan omelet, dan lidahnya serasa di manjakan oleh cita rasa dan kelezatanya.


“Ahhh, masakan yang kurang enak!! Menurutku biasa saja, nggak ada istimewanya..!” ucap Daniel dengan ketus. Namun sebenarnya itu bertolak belakang dengan apa yang ada di benaknya. Ia gengsi kalau harus memuji Dani di depan Anyelir.


“Maaf, jika masakan saya tak enak, besok-besok, mas Daniel bisa menyuruh Anyelir untuk memasaknya, tentunya akan lebih enak..”


“Enakan kamu dong? Cuma tidur dan ongkang-ongkang kaki di rumah ini. Mulai pagi ini dan seterusnya, kamu harus membuatkan sarapan omelet buat saya. Wajib..!! Mengerti..!!?” Dani mengangguk. Setelah Daniel dan Anyelir selesai sarapan, Dani mengambil tiga porsi omelet yang ia sisihkan untuknya, bi Marta dan juga Nathan.


“Bibi, Nathan, ini buat kalian, cobain omelet Dani...”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2