
“Maaf sayang, mama nggak tau...” ucap nyonya Felix dengan sangat merasa bersalah. Akhirnya, semua puding kacang merah itu pun segera di singkirkan tanpa tersisa di atas meja. Dan akhirnya, acara malam itu berada di puncaknya, yaitu Dani, Nenek dan Risa segera pamit. Kedua keluarga itu saling berjabat dengan hangat. Lain halnya dengan Nathan. Saat berjabat tangan dengan Dani, ia tak mau melepasnya dan menggenggamnya dengan erat.
“Naaaattthh....” lirih Dani dengan lembut. Dengan pelan ia melepas tangan Nathan. Lelaki itu berekspresi manja sekali, seperti anak kecil yang tak mau di tinggal oleh ibunya.
“Kamu hati-hati ya...” ucap Nathan setelah tanganya melepas tangan Dani. Semua melambaikan tangan. Dan akhirnya Dani, Nenek dan juga Risa masuk ke mobil, lalu segera meluncur sebelum akhirnya hilang dari pandangan Nathan, mama dan papanya.
Mobil yang membawa Dani beserta neneknya melaju di tengah malam yang bertabur bintang di langit. Dani sangat bahagia, begitu pula dengan nenek. Karena impian terakhirnya adalah melihat Dani bahagia. Masing-masing terbenam dalam pikiran bahagia masing-masing. Tak berapa lama, sampailah Dani dan Nenek di rumah. Sedang Risa, segera pulang dengan membawa mobil nenek. Kini, tempat tidur menjadi tujuan utama Dani. Setelah pamit kepada neneknya, ia segera menuju ke kamar, tempat paling nyamanya, lalu segera membersihkan tubuhnya lalu merebahkan dirinya di ranjang setelah melewati sederet proses perawatan wajah.
Triiiiiiiiiiiigg..... triiiiiiiinnggg
Segera ia meraih telfonya karena itu dari Nathan.
“Hallluuuuu, apakah saya bicara dengan nyonya Nathan...?” ucap lembut Nathan setelah tersambung dengan Dani.
“Situ Siapa ya, saya nggak kenal, lagian di sini nggak ada nyonya Nathan, yang ada non D-a-n-i..." jawab Dani sambil nyengir sendiri.
“Iya iya, bisa bicara dengan nona Dani cantik mewangi harum sepanjang hari...? ” ucap Nathan yang membuat Dani tertawa.
“Hahahaha, apaan sih, panjang amat namaku...”
“Biarin weeeek...”
“Ada apa Nathan ku, kan tadi abis ketemu, kok sekarang udah telfon lagi....?” ucap Dani.
“Emmm, besok aku akan jemput kamu jam 09.00 WIB. Aku akan ajak kamu ke suatu tempat untuk foto prewedding yank, oke..?” kilah Nathan menjelaskan.
“Pakai foto prewedding ya...?” tanya Dani.
“Iya dong yank, buat kenangan dan cerita anak cucu kita nanti. Pokoknya, kamu tinggal aku jemput saja, nggak boleh bertanya ini itu, sekarang sudah malam, kamu harus bobok...”
“Iya, besok jemputnya di toko aja yank, soalnya pagi-pagi aku ke sana, bantuin nenek, lagian kangen juga dah lama gak ke sana..”
“Baik tuan putri, pangeranmu ini siap menjemput ke sana...”
“Iiiihhhhh, malu ihhh...”
__ADS_1
“Iya iya, cepetan bobok, udah malam, ga baik bobok malem-maem...”
“Iya yank, good night...”
“Night to, nice a dream...”
Dani segera mematikan telefon dan menaruhnya. Dengan bibir tersenyum ia memejamkan mata, mengikuti perintah dari calon suaminya, yaitu tidur. Sementara di jauh seberang sana, tak kalah jauh dengan Nathan, ia juga sangat bahagia, karena hari pernikahannya tinggal menghitung hari saja. Malam pun kian larut, dan semua orang terlela, terbuai dalam mimpi masing-masing.
…
Pagi yang cerah. Hari ini pagi-pagi sekali Dani sudah bangun. Ia begitu bersemangat pergi ke toko roti neneknya. Setelah selesai mandi, dan memoles wajahnya tipis-tipis, ia keluar dari kamarnya. Ia mendapati nenek sedang menyiapkan sarapan.
“Pagi, Nek...?” sapa Dani dengan manjanya.
“Pagi sayang, sudah rapi amat...?” jawab nenek yang memperhatikan cucu satu-satunya itu tampak bahagia di pagi ini.
“Iya nek, soalnya abis sarapan, Dani mau ke toko dulu, bantu mb Risa buka toko, terus nanti agak siangan Dani mau di jemput sama Nathan nek, rencananya, hari ini dia mau ngajak Dani foto prewedding..” ucap Dani.
“Ow begitu rupanya. Baiklah, sekarang kamu cepet sarapan gih, untuk amunisi memulai sesuatu hari ini...”
“Pagi mb Ris...?” sapa Dani dengan ramah.
“Eh kamu Dan, kok pagi-pagi udah ke sini? Ada apa...?” tanya Risa heran.
“Bolehkan, Dani bantuin mb Risa...”
“Boleh saja, ayo....?” Keduanya segera membuka toko. Membersihkan dan merapikan barang-barang yang berantakan. Menata letak kue yang tidak teratur. Setelah sekian menit menata ini dan itu, akhirnya selesai juga. Semua sudah rapi, dan saatnya kini Dani akan di jemput oleh Nathan.
Ndreeeeetttt ndreeetttt
Ponsel Dani bergetar. Ia segera mengambil dan melihatnya.
“Aku sudah dekat toko roti nenek, sebentar lagi sampai...” sebuah pesan singkat dari Nathan.
“Tar kamu di seberang jalan saja, aku yang akan samperin kamu, yank...” jawab Dani. Segera setelah mengirim pesan kepada Nathan, Dani buru-buru pamit kepada Risa, asisten neneknya. Dani begitu bahagia. Ia berdiri di depan toko sambil melihat arah munculnya Nathan. Tak berapa lama, yang di tunggu datang. Saking girangnya, dan kurang hati-hati, ia hampir saja terserempet motor yang tiba-tiba saja lewat.
__ADS_1
“Awas yank....!!” teriak Nathan yang melihat dari seberang jalan. Spontan ia langsung keluar dari mobil dan berlari ke arah Dani. Wajah Dani begitu pucat karena terkejut.
“Sayank, kamu ga papa kan....?” ucap Nathan yang memeluk Dani dengan erat. Dani hanya menggelengkan kepala. Ia masih syok dengan kejadian barusan. Tanggap dengan suasana, Nathan menenangkan Dani dengan membelsi kepala gadis itu.
“Jangan khawatir yank, ada aku di samping kamu, oke...?” ucap Nathan yang melepas pelukanya dan menatap wajah kekasihnya.
Akhirnya, setelah tenang, berangkatlah keduanya ke studio foto. Studio milik teman Nathan yang akan melangsungkan foto prewedding sesuai permintaan Nathan. Selama perjalanan, tak henti Nathan selalu memegang tangan Dani, memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada gadis itu, karena Nathan tau, Dani masih sedikit syok. Tak berapa lama, mereka sampai di tempat yang di tuju. Sebuah studio foto yang agak besar dengan halaman yang sangat luas dan di sekitarnya banyak di tumbuh pepohonan yang sangat estetic sebagai pandangan mata.
“Ini studio foto atau taman, yank...?” ucap Dani ketika mobil mereka memasuki halaman studio tersebut.
“Bagus ya...?” ucap Nathan yang tau sedari tadi kekasihnya terpana dengan semua yang di lihatnya.
“Banget yank, baru kali ini aku ke studio yang bagus seperti ini....” imbuh Dani lagi dengan mata yang tak henti menyapukan pandangan ke kanan dan ke kiri. Nathan segera memarkirkan mobilnya dan mengajak Dani turun. Dengan masih terkagum, Dani diajak masuk oleh Nathan.
“Selamat Datang bos besar...?” sambut seorang pria yang tak lain adalah pemilik studio tersebut, Arka, teman Nathan.
“Ahhhh, apaan sih.” jawab Nathan lalu di persilahkan duduk oleh sang pemilik studio. Dua cangkir teh hangat telah di suguhkan untuk keduanya.
“Kenalkan Ka, ini Andani, calon istri aku...” ucap Nathan. Arka dan Dani saling berjabat tangan.
“Cantik, secantik namanya. Jadi bagaimana, kalian mau konsep outdoor atau indoor..?” tanya Arka.
“Bagaimana yank, kamu maunya yang gimana?” tanya Nathan.
“Kalau aku sih pribadi seneng yang menyatu dengan alam, tapi semua terserah kamu yank, aku ngikut...” jawab Dani.
“Baiklah Ka, outdoor saja, apa kata calon istri aku, aku akan melakukannya...” jawab Nathan sambil tersenyum simpul. Mendengar Nathan berkata seperti itu, membuat Dani sangat malu dan spontan ia mencubit kecil pinggang Nathan.
“Aaahhhh...” desah Nathan pelan dan menatap gadisnya. Dani hanya tertunduk menahan malu, sedangkan Arka yang pahan situasi hanya ikut tersenyum. Arka segera berkata kepada anak buahnya untuk menyiapkan segala sesuatunya.
Seorang cewek muncul dari dalam, dan mengajak Dani untuk ganti baju. Sederet gaun telah di perlihatkan kepada Dani, dan ia memilih salah satu yang modelnya pas dengan seleranya. Ia memakainya dan mematut dirinya di depan cermin. Tak ketinggalan rambut Dani juga di sanggul modern. Kini sempurnalah sudah. Nathan juga tak kalah. Ia juga memakai setelan jas yang senada dengan warna gaun yang di pakai oleh Dani.
“Cantiknya calon istri aku...” celetuk Nathan ketika Dani keluar dari ruang make up. Gadis itu hanya tersipu. Pemotretan segera di mulai. Mereka berjalan menuju halaman belakang. Sekali lagi, mata Dani di buat terbelalak. Pemandanganya tak kalah bagus dengan yang ia lihat pertama tadi.
BERSAMBUNG
__ADS_1